Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Nathasa sakit


__ADS_3

***


Mohon maaf semua baru bisa update, si kaka sedang ujian semester ditambah kondisi kurang fit cepat capek 🙏🙏 mohon dimaklumi cerita baru dilanjutkan.


makasih atas perhatian para pembaca semoga tetap suka cerita ini 😊


salam hangat


Nayaka


***


Anggun gelisah ditempat kerjanya, mengingat anaknya sedang demam. Sebagai seorang ibu, ia dapat merasakan tekanan yang dirasakan oleh sang putri. Dalam hatinya, ia berjanji akan bekerja lebih keras agar putrinya bisa bahagia dan tidak kekurangan.


" Ada apa Anggun? Kuperhatikan gelisah terus?" Tanya Judith, ia baru saja kembali mengantarkan minuman ke sebuah ruangan VIP. Pakaiannya terlihat agak kusut dengan gaya berjalan yang agak aneh, Anggun melirik sebentar sudah bisa menebak jika Judith tidak hanya sekedar mengantarkan minuman.


" Shasa sedang sakit" Jawab Anggun.


" Shasa? siapa?" Tanya Judith.


" Anakku" Jawab Anggun menghembuskan napas berat.


Judith agak terkejut, ia tidak tahu jika Anggun memiliki anak. Ia tidak update dengan berita Anggun semenjak ia lepas dari Sean.


[" Iya juga dia pasti sudah menikah dan punya anak setelah kematian Sean" ] kata Judith dalam hatinya.


Flashback On


Seorang gadis menangis tersedu-sedu didepan pusara ibunya yang baru saja dikuburkan. Ia telah kehilangan satu-satunya keluarganya, Ibunya telah pergi, keperawanannya juga telah hilang dan sekarang ia harus kemana karena sudah terusir dari rumah kontrakan.


Gadis itu adalah Judith.


" Kalau bukan gara-gara Anggun mengambil uang itu aku pasti bisa menyelamatkan ibu" Tangis Judith.


Dering telepon memanggil menjedanya. Nampak dilayar sebuah nomor asing namun Judith tahu siapa yang menelponnya. Judith tidak mengangkat telepon itu walaupun sudah berbunyi beberapa kali. Tidak lama sebuah pesan muncul.


Gadis itu sangat terkejut melihat isi pesan yang berupa video yang merekam adegan dirinya dengan jelas bersama pria yang diketahui Judith adalah Sean. Jelas ini memang videonya selain wajah, video itu merekam name tag dan lambang sekolah dibajunya.


Sekali lagi telpon berdering. Judith mengangkat dengan lemas.


" Datang diapartemenku dalam satu jam" Suruh Suara itu.


Judith tidak mempunyai pilihan lain selain datang ke apartemen Sean. Apalah dayanya, jika ia tidak datang video itu pasti akan menyebar dan ia tidak akan bisa melanjutkan sekolahnya. Ia harus lulus SMU sesuai dengan janjinya pada ibunya.


Langkah kaki Judith berjalan menuju Apartemen yang dimaksud. Sesampainya disana, Sean menyambutnya dengan tidak sabar.


" Ada apa ini? mandi dulu sana...aku tidak suka dengan gadis kotor" Kata Sean melihat penampilan Judith yang masih mengenakan pakaian duka dan terdapat tanah di beberapa bagian bajunya.


Judith patuh masuk ke kamar mandi dan Sean nampaknya sudah tidak sabaran ikut masuk dikamar mandi dan langsung mendorong Judith hingga ke dinding lalu menyatukan dirinya dengan gadis itu tanpa peduli gadis itu siap atau tidak.


Setengah jam dikamar mandi pergumulan dilanjutkan diranjang, Judith terus saja diam.

__ADS_1


" Ayolah, aku ini sedang bercinta dengan manusia bukan boneka" Marah Sean.


Judith terus saja diam, Sean bangkit dari ranjang dan meminum sesuatu.


" Baiklah, jika kau masih seperti patung, akan kubuat patung itu merespon! Kita lihat kau akan tahan berapa lama berdiam diri" Kata Sean.


Judith agak ketakutan, setelah meminum obat itu Sean semakin ganas menyerangnya. Ia kesakitan terutama diarea kewanitaannya yang terus bergesekan dengan sesuatu. Air matanya mengalir tidak berhenti. Semalaman Judith kesakitan digempur Sean.


" Ibu, aku ingin menyusulmu" Keluh Judith.


Begitulah Nasib Judith selama seminggu hingga Sean bosan dengan tubuh Judith yang selalu kaku dan diam. Tentu saja ini terjadi tanpa sepengetahuan Anggun, jika ia tahu maka ia tidak akan segan menyingkirkan Judith. Sean memanfaatkan waktu Anggun sedang liburan keluar negeri dengan cara bersenang-senang dengan teman sekolah Anggun.


" Pergi sana dan jangan pernah kesini lagi!" Usir Sean.


Judith sudah mati rasa, ia tidak tahu lagi harus kemana. Langkah kakinya diseret keluar dari apartemen itu. Ia berjalan tanpa tujuan hingga pingsan dipinggir jalan dan ditolong oleh seorang wanita tuna susila.


" Aku dimana?" Tanya Judith.


" Dikontrakkan ku, aku menemukanmu pingsan dijalan dari yang kulihat sepertinya kau korban perkosaan" Kata Wanita itu langsung membuat Judith kaget.


Wanita itu menunjuk tubuh Judith yang penuh bekas memar merah keunguan. Judith diam tapi tidak juga membenarkan.


" Dimana rumahmu? " Tanya wanita itu.


" Aku tidak punya rumah" Kata Judith.


Judith menceritakan secara singkat mengenai kemalangan hidupnya. Wanita itu menatap dengan iba namun tidak ditunjukkan karena Judith harus memahami jika hidup itu keras. Wanita itu menawar Judith tinggal sementara waktu bersama sampai Judit mendapatkan pekerjaan baru dan melanjutkan sekolah. Wanita itu bernama Tina.


" Apa yang harus kulakukan?" Kata Judith panik.


" Jangan gugurkan! kau bisa berhenti sekolah dulu jangan sampai ketahuan hamil oleh pihak sekolah, kau bisa dikeluarkan" kata Tina.


" Lalu anakku? bagaimana dia bisa hidup, aku saja seperti ini!" kata Judith putus asa.


" Ada aku! jangan sampai kau menyesal sepertiku, anak ini bisa kita rawat bersama, aku akan membantumu merawatnya saat kau sekolah" kata Tina.


Judith terharu mendengar perkataan Tina itu, ia mengira semua akan terjadi seperti yang diharapkannya ternyata tanpa sepengetahuannya, Tina sedang merencanakan akan menjual anaknya pada orang kaya yang mencari anak untuk diadopsi. Ketika mengetahui nya ia lari dalam keadaan hamil tua. Ia asal naik mobil angkot manapun membawanya. Sampai akhirnya ia dipinggiran sungai tak tentu arah.


" Apa yang harus aku lakukan? aku harus ke mana?" tanya Judith kebingungan.


Perutnya sakit karena menahan lapar, Jakarta kota metropolitan dikatakan lebih kejam daripada ibu tiri. Judith terlunta-lunta selama beberapa hari hingga ditemukan oleh pengurus panti asuhan. Disana ia ditampung dan diterima tanpa bertanya darimana.


Pemilik panti bernama Nesya dan Garin. Mereka pun tengah kesusahan mencari dana bekerja keras siang dan malam menjual bahan kerajinan anak-anak panti. Ditengah kesusahan mereka masih mau menolong Judit dengan senang hati.


" Kalau boleh setelah melahirkan aku menitipkan anakku disini tapi tolong jangan biarkan dia diadopsi siapapun, aku akan tetap membiayainya" Kata Judith.


Nesya dan Garin menyanggupi, jumlah anak panti yang diasuh keseluruhan tinggal 26 orang, sebagian telah meninggalkan panti ketika lulus SMU . Mantan anak panti terkadang masih menjadi donatur untuk panti sekedar meringankan beban Nesya dan Garin.


" Kami berjanji, tetapi jangan lupa menengok bayimu" Ujar Nesya tersenyum.


Judith melahirkan seorang anak lelaki yang sehat mirip Sean dan bekerja menjadi seorang pelayan di club' malam. Judith sudah biasa mendapatkan pelecehan ataupun harus melayani nafsu tamu tetapi ia menentukan bayarannya.

__ADS_1


Judith juga rutin mengirim dana dan menjenguk anak lelakinya. Putranya tumbuh dengan sehat dan diberi nama Dean.


Siapa sangka yang menolong panti asuhan itu adalah nenek kandung Dean ( Ibu Sekar ). Ibu Sekar sendiri tidak pernah tahu jika cucunya terlahir kedunia, ia menyingkirkan semua video-video yang dibuat anaknya dan berjaga siapapun yang menuntut anaknya atas perlakuan tidak pantas divideo itu.


Flashback end


Anggun masih melamun disamping Judith.


" Sudahlah kalau kau tidak fokus begitu bagaimana mencari uang untuk anakmu! kerja! Kerja! " Kata Judith menyemangati.


Anggun tersenyum


" Makasih Judith, maaf padahal dulu aku jahat sekali padamu! sekarang malah kau satu-satunya yang mau menolongku, Maafkan aku, aku sangat menyesal dulu terlalu angkuh" Kata Anggun menatap Judith sedih.


Judith terpana mendengar ucapan Anggun, entah mengapa rasa dendam dihatinya malah pupus begitu saja. Ia bahkan merasakan kepedihan Anggun yang harus bekerja menanggung kehidupan anak dan ibunya.


Bukankah hidup Anggun tidak lebih baik darinya, lalu untuk apa dendam? Tuhan sudah membalas dengan cara terbaiknya. Judith tidak berhak lagi menghakimi Anggun.


Wanita itu tersenyum menatap Anggun.


" Ya, itu sudah lewat! Tidak usah dibahas lagi" kata Judith.


Anggun merasa bersalah jauh dari yang diperlihatkannya, ia tahu jika Ibu Judith meninggal gara-gara tidak ada biaya pengobatan dan terlebih hidup Judith yang hancur pasca kematian ibunya.


" Hei kalian berdua, disana ada yang pesan minuman!" Bentak manajer Club'.


Judith dan Anggun tertawa dan bergegas mengantarkan minuman ke tempat yang dimaksud. Ditempat lain, Ibu Ningsih semakin panik. Kondisi cucunya semakin parah demamnya semakin tinggi. Mau ke rumah sakit tidak memiliki uang, ia tidak punya kartu jaminan kesehatan. Selama ini Keluarga Bumiwardoyo terbiasa dilayani dengan kelas VIP.


" Anggun ... bagaimana ini!" Kata Ibu Ningsih.


Matanya tertumpu pada kalung emasnya. Dengan segera ia mencari pinjaman ke tetangga rumah dengan jaminan kalung emas tersebut.


Tetangga Ibu Ningsih menolak dengan alasan tidak memiliki uang. Ibu Ningsih berjalan putus asa, tidak ada satupun yang mau menolong.


" Ya Tuhan, Shasa!" Jerit ibu Ningsih melihat cucunya kejang-kejang saat masuk ke rumah.


Dalam keadaan panik, ibu Ningsih berlari menggendong sang cucu ke rumah sakit terdekat. Beruntung ada ojek online yang baik hati menolong mengantar dan menolak dibayar dengan kalung emas itu.


" Tidak usah Bu" Tolak Ojek itu dan pergi.


Ibu Ningsih menelpon Anggun namun tidak diangkat. Natasha masuk UGD dan mendapatkan penanganan.


" Ibu silahkan mendaftar dibagian administrasi agar pasien mendapatkan penanganan" Kata Perawat.


Ibu Ningsih kebingungan, akhirnya menelpon ibu Widya berharap sang nenek mau menolong tetapi Ibu Widya malah memarahi Ibu Ningsih karena membuat Nathan menanggung hukuman Anggun.


" Apa yang harus kulakukan lagi? kepada siapa harus kumintai tolong"


Ibu Ningsih menangis didepan UGD, Tidak berapa lama Silvia muncul terburu-buru. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan mertuanya jika Shasa tengah sakit.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2