
***
Elina dan Dave dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka larut dalam pemikirannya masing-masing.
" Apa kau menganggap yang dikatakan leona itu betul suamiku?" Tanya Elina.
" Aku tidak tahu El... ini mengagetkan! Bisa saja prof gila itu mengatakannya untuk menurunkan kewaspadaanku padanya, tetapi aku juga tidak ingin hal itu menjadi kenyataan, jika hal itu menjadi nyata aku tetap dirugikan " Jawab Dave.
Elina menatap keseriusan sang suami, dalam hatinya ada rasa senang suaminya mencemburui dirinya.
" Penelitian ini sudah selesai, tahap selanjutnya adalah membuatnya menjadi nyata." Ujar Elina.
Dave lega mendengarnya.
Ketika sampai dirumah, Keduanya menyampaikan pada Daffa jika mereka akan kembali ke singapura dalam waktu dekat. Wajah Daffa berubah sendu. Anak itu tidak ingin meninggalkan lingkungannya yang sudah mulai disukainya.
" Bisakah kita tinggal lebih lama disini? " Tanya Daffa.
Dave tersenyum maklum, Elina menyerahkan tugas untuk membujuk Daffa pada suaminya. Dirinya mengurus Kiara. Bocah kecil itu sudah mulai bisa bicara satu kalimat pendek diusianya ke 9 bulan. Pembicaraan untuk segera kembali ke Singapura membuat Bi Andrea juga sedih. Wanita paruh baya itu terlanjur akrab dengan lingkungan. Pembantu-pembantu rumah tangga juga menjadi sedih ketika tahu akan berpisah dari pemilik rumah mereka.
Bi Andrea meminta izin untuk tinggal menghabiskan masa tuanya dirumah itu bersama dengan pembantu-pembantu yang sudah dianggapnya saudara itu.
" Aku terlalu cinta tempat ini, Dave" Kata Bi Andrea.
Dave dengan berat hati menyetujui keputusan pengasuhnya itu. Keberadaan Bi Andrea itu sangat berarti untuk Dave selama ini.
" aku akan selalu menelponmu bi..." kata Dave.
" Yess Dave.. βΊοΈ" kata Bi Andrea tersenyum lembut.
Daffa juga merasakan kesedihan yang sama namun anak itu tidak ingin menghalangi keinginan bibi yang sudah dianggap sebagai nenek itu.
" Aku akan merindukanmu setiap hari...tapi berbahagialah disini Bi.. siapa tau aku akan diizinkan untuk liburan ke sini dimusim liburan.. ππ" kata Daffa memeluk Bi Andrea.
Sang pengasuh tua itu menitikkan air mata karena haru.
sebelum pulang, Embun memastikan jika Bi Andrea tidak akan kesulitan sepeninggal mereka. Dave menempatkan dua pengawal khusus (pria dan wanita) yang akan menjaga pengasuhnya disamping ada Sanja dan ibunya(pembantu rumah tangga dirumah itu).
Daffa tidak mengemasi mainannya, anak itu berniat membagikan mainannya pada siapapun yang mau.
Budi mendapat tugas untuk membagikan mainan mainan Daffa. anak itu tidak serakah, dirinya mengambil beberapa saja untuknya dan adik adiknya. lalu membagikan pada anak-anak dikampung itu.
__ADS_1
" jangan lupa untuk menelponku ya..jangan lupakan aku" kata Budi sedih.
" siap boss.." jawab Daffa tersenyum.
Budi dan Daffa saling berpelukan. Berat berpisah dengan teman rasa saudara seperti ini. Namun keduanya bertekad tidak menunjukkan perasaannya pada temannya, baik itu Budi ataupun Daffa.
***
Seminggu kemudian.
Elina dan keluarganya telah tiba di Singapura. Mereka disambut oleh orangtua Elina. Kiara menunjukkan hal baru. Anak itu sudah bisa berjalan perlahan. perbendaharaan kata semakin banyak sehingga cara bicara Kiara sudah hampir menyamai anak usia 2 tahun.
Dave dapat bertugas kembali menjadi dokter anak, sedangkan Daffa disekolahkan disebuah sekolah khusus anak jenius. Dimana pelajarannya sudah setingkat mahasiswa. Semua anak jenius dikumpulkan Ditempat itu dan dilatih berdasarkan kemampuannya. kebanyakan dari mereka pandai menghitung, menguasai banyak bahasa dan pintar bereksperimen.
Daffa termasuk yang mendapatkan pengajaran seperti itu. Ada satu kemampuan Daffa yang diminta Elina dan Dave untuk tidak mengeksposnya pada siapapun, Elina telah melatih secara khusus anak itu tanpa melibatkan orang luar. Ada alasan mengapa anak itu tidak boleh mengekspose kemampuannya itu.
Jika Kiara punya kemampuan untuk meregenerasi sel-sel tubuh dengan cepat, maka Daffa mempunyai mata yang mirip seperti sinar X-ray. Daffa bisa melihat isi anatomi tubuh manusia tanpa alat bantu. Elina khawatir jika Daffa akan menjadi target organisasi yang menginginkan kemampuannya itu. Oleh Dave, Daffa dilatih untuk menyembunyikan ekspresi (tidak mudah untuk anak-anak pelatihan semacam itu).
Kemampuan itu membuat Daffa dapat mengetahui lawan bicaranya sedang berbohong atau tidak. Daffa dapat melihat dari struktur molekul tubuh dan aliran darah ke jantung dan syaraf otak untuk melihat adanya kebohongan.
Jangan heran dengan kemampuan seperti itu, kemampuan ini adalah kemampuan keluarga Gunadi. Banyak rahasia keluarga yang telah terkubur dalam-dalam sehingga tidak ada yang tahu.
***
Daffa terlihat melamun dikantin.
Sejak tadi makanan didepannya hanya diaduk saja. Dirinya rindu dengan sekolah lamanya dikalimantan.
" Makan saja anak baru, makanan itu sudah diaduk 1439 kali, dan apabila kau masih mengaduknya kuperkirakan 215 kali makananmu akan menjadi bubur " tegur salah satu teman baru Daffa.
Daffa menengok, menghela nafas sambil meletakkan sendoknya.
" Kenapa tidak makan? " tanya temannya itu.
" aku tidak lapar.." jawab Daffa.
temannya disamping Daffa tertawa, ini adalah hal biasa untuk anak yang baru. Apalagi seperti Daffa, Pasti belum terbiasa dengan sekolah barunya.
" kau pasti akan terbiasa" katanya pergi setelah selesai makan.
Daffa menatap ke sekelilingnya, semuanya tampak sibuk makan sambil belajar. Jika bisa di bayangkan seperti makan diruangan perpustakaan saja. π
__ADS_1
Daffa akan tinggal diasrama selama sekolahnya. Dave juga sibuk menjadi dokter. Sedangkan Elina mengasuh Kiara sambil membuat sampel penelitiannya.
Penelitian Elina ini didedikasikan untuk penderita penyakit progeria ( info diinternet saja ya π) penyakit itu menyerang anak-anak yang menyebabkan anak tersebut jarang ada yang berusia hingga 15 tahun. Progeria itu membuat bayi lahir dalam kondisi "tua". Elina ingin menemukan metode penyembuhan untuk anak penderita penyakit langka tersebut.
Penelitian ini bukan tidak perlu uji coba, namun Elina tidak ingin melakukan percobaan pada manusia sebelum yakin jika percobaan tidak memiliki resiko. Elina memiliki metode tersendiri untuk mencoba hasilnya.
" Kiara ingin tidur ya?" tanya Elina melihat sang putri terus saja mengusap matanya. Gadis itu itu tidak ingin mengganggu ibunya.
Elina segera membawa putrinya tidur dikamarnya. Elina keluar dari kamar setelah memastikan Kiara tidur. Dave datang langsung memeluk dari belakang.
" Sudah pulang?" tanya Elina.
" Iya..aku kangen jadi pulang lebih cepat..Kiara sudah tidur?"
" sudah..barusan" jawab Elina.
Dave tersenyum senang, dirinya bisa berduaan dengan istrinya.
" Kangen nih.." Ujarnya manja.
Elina tersenyum, memang waktu berdua untuk keduanya sangat jarang. Dave langsung sibuk ketika sampai di Singapura, begitupula dirinya.
Dave langsung menggendong sang istri pindah ke kamar mereka sambil memberikan ciuman- ciuman ke beberapa titik tubuh yang bisa diraihnya.
" Elina..."
Dave tidak bisa Lagi menahan dirinya, langsung mencumbui sang istri. Dirinya lebih bersemangat karena sang istri juga membalasnya.
Ditengah keasyikannya, secara tiba-tiba telepon berdering. Mulanya Dave berusaha tidak mempedulikannya tapi suara telepon tidak kunjung berhenti.
" **** !! siapa sich... " maki Dave.
***
BERSAMBUNG
maaf ya pembaca jika novel ini ditamatkan author , cerita belum tamat tetap akan dilanjutkan tetapi karena lama dan level nanti akan turun jadi terpaksa ditamatkan.
πππ
cerita akan tetap lanjut ya ...
__ADS_1