Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Cemburu yang tidak wajar


__ADS_3

***


Tatia mengetuk pintu ruangan Dave, ia membawa buah-buahan dan selembar Map (entah apa isinya)


" Kok tumben jam segini dokter tidak ada diruangannya" Kata Tatia.


Salah seorang perawat yang lewat memberitahu jika Dave izin balik ke rumah. Tatia mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Ia tetap berada diruangan Dave sambil melihat meja kerja Dave.


Terdapat beberapa foto yang membuatnya merasa cemburu. Dave ternyata memajang foto sang istri dimeja kerjanya. (Wajarlah ya! kalau Dave majang istri orang itu baru kurang ajar 🤨)



wajah Elina terlihat cantik alami dengan senyuman lepasnya.


" Kau wanita yang beruntung"


ekspresi Tatia makin menampakkan rasa tidak suka kala melihat foto keintiman suami istri ini.



Foto ini merupakan foto yang diambil Daffa diam diam saat kedua orangtuanya sedang asyik bercanda (Foto ini diambil di Amerika dulu).


Tatia memilih membalikkan foto itu menghadap meja. Dave tidak pernah memajang foto dirinya sendiri. Foto Daffa dan Kiara juga ada dimeja itu. Tatia keluar dari ruangan dokter dan memutuskan untuk ke rumah.


Ia mempunyai alasan untuk ke sana, Map dokumen dari pamannya akan menjadi alasan yang tepat. Sambil tersenyum gadis itu pergi ke rumah Dave yang telah dihapalnya.


Suasana rumah begitu sunyi. Pintu diketuk berulang kali namun tidak ada jawaban. Tatia merasa dokumen itu penting harus diserahkan hingga berani membuka pintu.


" Dokter..." Panggil Tatia sambil menengok sana sini.


Suasana rumah sunyi, Bi Andrea tertidur bersama Kiara. Tiara tidak merasa ada gerakan dari tuan rumah memutuskan untuk balik kanan. Namun telinganya menangkap suara dari arah dapur. Suara samar mengundang rasa penasarannya.


Langkah kakinya mendekati arah suara, Alangkah terkejutnya ia melihat Dave sedang bermesraan dengan sang istri didapur.


" Astaga apa yang mereka lakukan disana! " Kata Tatia gugup tanpa sadar menyenggol sesuatu.


Prang !


Piring jatuh dan langsung pecah mengagetkan Tatia.


Dave dan Elina juga terkejut, Amarah tidak dapat disembunyikan Dave melihat aktivitasnya diganggu. Bi Andrea datang mengecek suara.


" Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Dave kesal.


" Maaf dokter, sebenarnya saya " Tatia tidak dapat mengatakan kalimat yang tepat.


Bi Andrea bingung dengan keberadaan Tatia dirumah itu. Ia mengira Dave pulang sendirian tadi (padahal iya memang pulang sendiri) jadi wanita itu membiarkan Dave begitu saja dan fokus pada Kiara.


Tatia seperti kucing basah, ia tahu kali ini Dave akan sangat marah apapun alasannya. Dirinya masuk dalam rumah tanpa seizin pemilik rumah.


" Lancang! " Marah Dave.


Pria itu menelepon direktur rumah sakit dan mengatakan jika ia tidak ingin membimbing Tatia.


" Silahkan cari orang lain! Aku tidak menyukai orang yang tidak memiliki etika sama sekali, aku tidak terbuka untuk negosiasi!" Kata Dave dengan tegas.


" Maafkan saya dokter, Saya tidak sengaja! " kata Tatia merasa kurang enak.


Dave menunjuk arah pintu keluar, Tatia ketakutan dan keluar. Elina hanya menatap suaminya yang sedang marah.


" Kenapa wanita itu bisa kesini?" Tanya Bibi Andrea.

__ADS_1


" Entahlah, ganggu saja!" sungut Dave.


Bibi Andrea memilih meninggalkan Dave, wanita itu membiarkan Elina yang menenangkan sang suami. Elina tersenyum, ia menangkap rasa frustasi suaminya karena diinterupsi saat sedang ingin-inginnya.


Wanita itu memilih berinisiatif duluan mencium lembut bibir sang suami, secara perlahan dan mengulangi setiap dua detik lalu menghentikan kegiatannya.


" lanjutkan dong " Pinta Dave dengan nada manja.


Elina tertawa, emosi Dave telah hilang entah kemana.


" Kamar aja yuuk biar ga ada gangguan" Kata Elina.


" Ayuk!" Kata Dave langsung menggendong sang istri.


Keduanya melanjutkan kemesraan mereka dikamar, Dave sudah menahannya selama hampir dua bulan. Ia tidak menunda lagi untuk melepaskan hasratnya. Kedatangan Tatia tidak lagi dipikirkannya.


***


Tatia menangis diruangan pamannya, ia meminta agar pamannya membantu untuk membujuk Dave. Ia tidak ingin beralih ke dokter lain.


" Janganlah Tatia, mungkin yang lain bisa! paman tidak bisa kehilangan dokter Dave, sejak dia disini, rumah sakit ini mendapatkan bantuan besar dari luar.." kata Paman Tatia.


" Ayolah paman" mohon Tatia.


Pamannya terlihat bingung namun tidak berdaya dengan permintaan keponakannya. Ia memikirkan cara agar Dave tetap mau menerima Tatia.


***


" Apa suamiku tidak kembali ke rumah sakit?" tanya Elina bermanja dipelukan sang suami.


" Tidak kecuali darurat " Jawab Dave.


Pria itu masih ingin memeluk sang istri, lama mereka tidak memiliki waktu bersama seperti ini.


" Apa kamu ingin menghadirinya seperti rencana awal?" tanya Dave.


Elina memang sudah mengutamakan niatnya sebelum berangkat ke Kalimantan bahwa ia ingin melihat sidang putusan Anggun. Daffa juga dan secara otomatis Elina akan membawa Kiara dan Bi Andrea disisinya.


" Berapa lama? jangan tinggalkan aku terlalu lama " Kata Dave.


" Tidak lama sayang, paling hanya seminggu" Elina menggelitik pinggang sang suami.


" Jangan seminggu, 3 hari saja! tidak lebih "


Elina mengangguk saja. Rencana mereka akan berangkat dua hari lagi. Dave memanyukan bibirnya.


" Tapi kalau suamiku keberatan, aku akan membatalkannya " Kata Elina.


Dave menyetujuinya, ia memeluk sang istri.


" Jangan lama-lama pergi, tanpa kalian aku tidak bisa hidup "


Elina tertawa mendengarnya. Ia dan anak-anak hanya pergi sebentar saja.


***


Daffa diberitahu saat makan malam. Anak itu menyambut gembira.


" Mudah-mudahan hukumannya berat ya mom! Oh ya mmhh " Daffa terlihat ragu dan menelan Kata-katanya kembali.


" Ada apa nak?" Tanya Elina.

__ADS_1


Tidak biasanya Daffa ragu dalam bicaranya. Ternyata Daffa meminta izin kedua orangtuanya untuk melihat Nathan (Ayah kandungnya). Dave dan Elina saling berpandangan lalu keduanya tersenyum mengizinkan.


" Daffa hanya ingin melihatnya dalam pandangan yang berbeda " kata Daffa termenung.


Apakah ayahnya sejahat ayah Budi ataukah ayahnya sudah bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dave paham jika Daffa juga tentu ingin mengenal ayah kandungnya, baginya tidak masalah sama sekali. Daffa tetap putranya.


" Nanti sampaikan salam untuknya dari Daddy" Kata Dave tersenyum


Daffa mengangguk dan menghabiskan makan malamnya. Ia dan kedua orangtuanya tidak langsung masuk kamar setelah makan, kebiasaan mereka adalah bercengkrama dihalaman belakang rumah mereka, duduk bercanda sambil menikmati malam.


***


Dave terlihat sibuk diruangannya, Direktur mengetuk pintu masuk ke dalam ruangannya.


" Silahkan masuk pak, harusnya anda menelpon saya untuk ke ruangan anda hingga anda tidak harus repot kesini" Kata Dave.


Maksud kedatangan direktur tidak berhubungan dengan pekerjaan jadi direktur kurang enak membahas diruangan. Lelaki tua itu memilih datang langsung karena ini adalah persoalan pribadi.


" Ini mengenai Tatia" Kata Direktur.


Tidak terjadi perubahan apapun diwajah Dave. Direktur mengira Dave hanya emosi sesaat kemarin.


" Oh kebetulan pak, ini berkasnya! silahkan dilimpahkan pada dokter senior lain, dalam berkas itu saya mencantumkan Beberapa nama sebagai rekomendasi" Kata Dave berdiri mengambil dokumen.


Direktur tidak bisa mengatakan apapun lagi, Dave memang tidak bisa dipaksa.


" Maafkan dia, salah saya terlalu memanjakannya. Dia keponakan saya Satu satunya, kedua orangtuanya telah meninggal sejak ia masih SD. " Kata Direktur.


Dave menatap saja, setiap orang punya kisahnya sendiri. Dave tidak tertarik sama sekali untuk menarik keputusannya, apakah karena yatim piatu dirinya harus ikut mengasihani Tatia. Lagipula gadis itu sudah dewasa, defenisi anak yatim-piatu yang harus diberikan kasih sayang menurut Dave adalah anak-anak yang belum mampu berdiri dikakinya sendiri bukan gadis yang telah hampir menyelesaikan pendidikan dokternya. Tatia juga tidak hidup kekurangan.


Direktur pamit keluar ruangan Dave.


" Dia memang pria yang berbeda " Kata pria itu lalu pergi.


Tatia menunggu diruangan direktur merasa kecewa dengan keputusan Dave, dokter yang disukainya bersikap dingin.


Dering ponselnya berbunyi, ada panggilan dari Rega sang pacar. Ia kemudian pamitan untuk menemui Rega.


***


Elina dan Bi Andrea terlihat kerepotan dengan persiapan mereka ke Jakarta. Memang hanya 3 hari namun dengan dua anak kecil tentu akan membawa banyak persiapan. Mereka akan naik Jet. Setengah mati Daffa membujuk Daddynya untuk naik pesawat komersial namun Dave tidak mengizinkannya.


" Mommy mu akan membawa adikmu, jika dia rewel dipesawat bagaimana? seluruh penumpang akan terganggu dan komplain. lagipula demi keamanan Kiara belum bisa naik pesawat komersial, masih berbahaya untuk telinganya" Kata Dave.


Daffa terpaksa menunda keinginan untuk naik pesawat komersial.


Dia adalah seorang kakak, tidak mungkin dia akan membahayakan adiknya demi kepentingannya.


" Baik Daddy " Jawab Daffa.


Dave tersenyum, " terimakasih putra Daddy sudah mau mengerti" .


Setelah kedua anaknya tertidur, Dave memeluk sang istri. rasanya berat untuk melepaskan sang istri ke Jakarta.


Malam itu ia meminta jatahnya membuat sang istri kewalahan menghadapinya.


" Wkwkwk astaga suamiku, istrimu ini hanya pergi 3 hari, jangan buat dirinya tidak bisa berjalan esok " Kata Elina tertawa.


Dave tidak menjawab, ketika lelah ia akhirnya tertidur sambil memeluk sang istri erat. Keduanya memang belum pernah berpisah jauh semenjak pernikahan mereka. Ini adalah kali pertamanya hingga Dave merasa ada kehilangan.


" Astaga belum pergi saja aku sudah merindukanmu sayang" Kata Dave menciumi istrinya yang tengah lelah tidur.

__ADS_1


****


BERSAMBUNG


__ADS_2