Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Amukan Seorang Kakak


__ADS_3

 


 


***


Ibu Widya terlonjak gembira saat dikabari mengenai kehamilan menantunya, ia dilanda kegelisahan yang tidak berkesudahan sejak Nathan dinyatakan mandul oleh dokter. Artinya ia hanya akan memiliki satu cucu saja. Nikita tidak hamil, Nathan menolak dilakukan pengobatan.


Hal ini disembunyikan Ibu Widya dan Nathan dari dunia. Nikita sangat berharap memperoleh anak dari Nathan dengan polosnya terus saja berkonsultasi agar secepatnya bisa hamil.


Kehamilan Silvia tentu saja disambut gembira oleh sang mertua, dengan cerewetnya meminta agar menantunya itu menjaga baik-baik kandungannya. Stephan tidak banyak bicara, ia masih mengingat apa yang dilakukan Nathan membuatnya ikut merasa berdosa.


Stephan membawa Silvia ke rumah orangtuanya karena Ibu Widya sangat ingin bertemu.


" Bagaimana kandunganmu? Berapa bulan? "


Lihatlah betapa cerewetnya ibu Widya menasehati menantunya agar tidak melakukan hal yang melanggar mitos ibu hamil. Wanita paruh baya itu sampai menyuruh keduanya pindah kembali ke rumah karena ingin mengawasi kehamilan sang menantu yang dulu diabaikannya itu.


" Tidak bu, Kami masih harus bolak balik rumah sakit, dari sini jauh, Silvia bisa kelelahan. Dokter Edgard telah membuatkan jadwal kami secara penuh dan tidak boleh ada yang dilewatkan" Kata Stephan.


" Ah..Dokter Edgard? Ibu dengar dokter itu tidak pernah gagal dalam terapi kesuburan, sayangnya dokter itu menolak untuk menjadi dokter pribadi Nathan dan Nikita, mereka juga sedang menjalani program kehamilan" Kata Ibu Widya.


Stephan seperti tersengat mendengar nama itu, emosi muncul diwajahnya.


" Untuk apa Nathan dan Nikita membutuhkan dokter? Apakah Nikita mempunyai masalah dengan kesuburan? " Tanya Stephan menekan nada suaranya agar terdengar datar padahal ia sedang emosi.


" Tidak, Nikita tidak mempunyai masalah tetapi Nathan kecelakaan itu membuatnya mandul " Kata Ibu Widya sedih.


" Kukira itu hanya sementara, apakah itu permanen? " Tanya Stephan. Ia berada dirumah sakit saat dokter menjelaskan kondisi Nathan.


" Akan jadi permanen jika tidak dilakukan pengobatan, Ibu telah mengirimkan surat secara resmi bahkan pemintaan khusus namun dokter Edgard menolaknya, bagaimana kalian bisa menjadi pasiennya? " Tanya Ibu Widya.


Silvia melirik suaminya, sementara pria muda yang dilirik itu terdiam dengan wajah mendingin.


" Nanti akan kami ceritakan bu, bukankah kita harus kembali " Kata Silvia mengalihkan topik.


Stephan mengajak istrinya kembali. Untungnya Ibu Widya tidak menangkap keanehan diwajah putra sulungnya itu. Ketika sampai didepan pintu secara kebetulan mobil Nathan masuk pekarangan dan berhenti didepan mobil Stephan.


Nathan juga diberitahu mengenai kehamilan Silvia sehingga buru-buru pulang mengajak Nikita untuk menyambangi rumah.


" Apa Kabar kak! " Sapa Nathan

__ADS_1


BUG! BUG!


" ********! " Teriak Stephan mengagetkan Nathan.


Tinju melayang berulang kali, beberapanya kena dan yang lain berhasil dihindari. Nathan kebingungan menghadapi kemarahan sang kakak hanya bisa menghindari seadanya. Silvia berdiri mematung. Tidak dengan Nikita yang panik langsung berupaya merelai keduanya.


Alhasil Nikita tersungkur bersama Nathan ditanah.


" Hentikan! Ada apa ini? " Ibu Widya syok hanya mampu berteriak.


Stephan menatap murka, ia masih ingin menghajar adiknya.


" Kakak kenapa? Aku salah apa? " Tanya Nathan membersihkan darah dibibirnya.


Stephan mendelik marah ketika hendak memukul, Silvia sudah menggandeng lengan suaminya dan mengingatkan dengan tatapan mata memohon agar sang suami tidak mengamuk lagi.


" Sungguh aku malu punya adik ******** sepertimu! gara-gara perbuatanmu hampir saja nyawa orang yang tidak bersalah melayang dan kau masih disini hidup bahagia seolah tidak terjadi apapun? " Stephan membuang ludah kelantai.


Nathan semakin tidak mengerti dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh kakaknya, ia tidak merasa melakukan apapun yang dituduhkan padanya.


" Apa ibu tahu jika ia memperkosa gadis yang tidak berdosa? Apa ibu tidak tahu berapa lama gadis itu merenggang nyawa ditengah jalan? dan apa ibu tahu jika ibu mempunyai cucu laki-laki? Bagaimana kehidupan gadis itu? seberapa besar dendam keluarganya pada kita? KALIAN TIDAK TAHU KENYATAANNYA ATAU PURA-PURA TIDAK TAHU? aku sungguh malu, tidak kusangka adikku melakukan hal amoral seperti itu! " Teriak Stephan.


Silvia berusaha menenangkan sang suami. Semuanya terkejut, Nathan tidak kalah kaget. Siapakah gadis yang dimaksud kakaknya? ia hanya mengakui jika pernah melakukan satu kesalahan namun tidak dengan kesalahan yang lain.


" Oh jadi kau mengakuinya? " Stephan menatap marah.


Nathan terdiam, semua mata menatapnya seolah menghakimi.


" Dimana Embun kak? " Tanya Nathan seperti hendak menangis.


" Untuk apa mencarinya? rasanya aku ingin menyeretmu bersujud dikakinya! Setega itu kau menyakiti hati gadis sebaik itu? Dimana hatimu? " Marah Stephan.


Nathan bersujud menghiba meminta kakaknya memberitahukan dimana Embun. Ia tidak mengetahui sama sekali jika Embun hamil anaknya. Stephan pergi mengajak istrinya pulang. Tidak mempedulikan teriakan putus asa dari Nathan.


Nikita terkejut mendengar kenyataan dan penasaran mengenai Embun. Tidak mungkin menuntut Nathan untuk menjelaskannya. Ibu Widya syok tidak menyangka diam--diam penasaran dengan cucu laki-laki yang dikatakan oleh putra sulungnya.


***


" Sayang, seharusnya kau tidak kelepasan seperti tadi. Bagaimana jika Nathan mencari tahu soal Elina? Kasihan Elina dan putranya sudah berbahagia dengan keluarga barunya" Tegur Silvia dalam mobil.


Pikiran Stephan baru terbuka setelah emosinya surut, rasa penyesalan langsung merayapi hatinya.

__ADS_1


" Maafkan aku" Kata Stephan. Karena emosi ia tidak berpikir jernih.


Pria itu tidak memikirkan masalah yang akan timbul jika Nathan telah mengetahui mengenai Elina. Sementara dirumah Wijaya, Nathan gusar ia memikirkan apa yang dikatakan kakaknya.


Nathan mengakui jika ia khilaf pada Embun tetapi Nathan tidak mengetahui Embun hamil akibat perbuatannya dan Embun telah hilang tanpa jejak selama ini. Siapa yang harus menjelaskan padanya soal ini.


" Anggun! Dia pasti tahu" Nathan segera menyambar kunci mobil dan memacu menuju kediaman Bumiwardoyo.


" Mau kemana? " Tanya Ibu Widya.


Nathan tidak menggubris pertanyaan itu dan pergi begitu saja. Lelaki itu memacu mobilnya menuju rumah Anggun. Kemarahan tergambar jelas, ia sudah bisa menebak siapa yang menyakiti Embun.


Begitu tiba ia disambut dengan tingkah lucu putrinya,


" Bawa Shasa ke kamar bi" Suruh Nathan pada pelayan rumah.


Anggun terheran ketika ia diseret suaminya ke ruang kerja dengan kasar.


" Apa yang kau lakukan pada Embun? " Tanya Nathan.


Anggun gelagapan, setelah sekian lama Nathan baru mempertanyakan dimana kakak angkatnya itu berada.


" Apa maksud kakak? " Anggun malah balik bertanya.


Nathan mencekik Anggun hingga nyaris tidak bisa bernapas


" Aku buta memilihmu! " Nathan mencampakkan istrinya ke lantai begitu saja.


Nathan pergi membawa putrinya dan menginap dirumah orangtuanya. Anggun tidak mampu mencegahnya hanya bisa menangis dipisahkan dari putrinya. Shasa menolak untuk ikut, bayi itu menangis keras saat dibawa ke mobil.


" Tolong jangan bawa putriku! " Seru Anggun.


Mobil Nathan meninggalkan pekarangan rumah. Anggun hanya bisa menangisinya. Tidak ada lagi kedamaian dalam rumah tangganya. Nathan sangat membencinya. Perusahaan juga sudah mulai merosot karena tekanan dari pihak ibu Sekar. Anggun sesak hingga tidak bisa bernapas memikirkan kemalangan-kemalangan yang menimpanya setelah ia membuang Embung ditengah jalan.


***


Dirumah kediaman WIjaya, Shasa tidak juga berhenti menangis. Tidak ada yang bisa menenangkannya sama sekali. Ibu Widya panik karena cucunya menangis hingga membiru.


" Ayo ke rumah sakit!" Katanya panik.


 

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2