Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Berhak Bahagia


__ADS_3

***


Semuanya membeku melihat kemunculan dua makhluk tuhan yang paling menyebalkan.


" Kukira rumah ini sudah tidak ada ternyata kau ( Maksudnya ibu Budi) berhasil menebusnya kembali! Baguslah! Kita bisa tinggal disini dan kau bisa memilih tinggal dikamar manapun yang kau suka sayang" Kata Ayah Budi pada istri mudanya.


Sang istri muda dengan sumringah hendak berdiri melihat rumah Budi yang baru yang telah memiliki 3 kamar. Budi terpaku badannya gemetar karena emosi, anak ini ingin marah namun tubuhnya mengirim sinyal takut karena sering dipukuli sang ayah.


" Kau tidak berhak tinggal disini! Silahkan keluar ! " Terdengar suara Ibu Budi dengan tegas.


Wajah serius wanita itu terlihat jelas, Ibu Budi menyuruh Budi untuk memanggil seseorang yang bernama Rahmat dari luar. Budi mengangguk sedangkan dua adik Budi ketakutan dibelakang Daffa. Bocah itu diam dan telah bersiap untuk tindakan yang diperlukan.


" APA KAU BILANG? " Ayah Budi marah sekali.


" Kau tidak berhak lagi untuk tinggal disini" Tegas Ibu Budi mengulangi perkataannya.


" Kau masih istriku! Dimanapun kau tinggal maka aku juga berhak tinggal! " Kata Ayah Budi.


" Tidak lagi! "


Suara berat muncul dari arah pintu nampak seseorang yang bernama Rahmat didampingi oleh hansip dan pak Kades dan istrinya juga datang. Tetangga sekitar hanya menonton dari luar.


" APA MAKSUDMU? HAH!! DAN KENAPA KALIAN BISA TIDAK SOPAN IKUT CAMPUR DALAM PERSOALAN RUMAH TANGGA KAMI!! " Teriak ayah Budi.


Rahmat dengan berani maju pasang badan. Usianya kurang lebih sama namun terlihat lebih muda dari ayah Budi. Nangsih melirik genit ke arah Rahmat yang lebih tampan.


" Kalian bukan suami istri lagi! Keputusan cerai sudah jatuh sejak 4 bulan lalu, Dia sudah bukan istrimu lagi" Jawab Rahmat.


Budi terkejut tidak menyangka, ibunya serapi ini menyembunyikan perpisahan dengan ayahnya. Anehnya anak ini malah lega karena ayahnya tidak bisa mengganggu mereka lagi.


Ibu Budi telah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama dan menjalani sidang selama 3 kali hingga diputus cerai pengadilan. Akta ceraipun sudah dimiliki, gugatan ini diajukan tanpa setahu ayah Budi dan di sahkan (dalam aturan pengadilan agama istri boleh menggugat suami tanpa sepersetujuan suami dengan alasan yang syar'i atau yang dapat dibenarkan)


Ayah Budi tidak percaya walaupun telah melihat salinan akta cerai itu, ia tidak ingin kehilangan ibu Budi yang sewaktu-waktu bisa dimintainya uang.


" Kalau begitu rumah ini termasuk dalam harta gono gini! Aku juga berhak atas rumah ini " Kata Ayah Budi Keukeuh.


Pak Rahmat tersenyum melirik Daffa. Pak Kades juga paham akan hal itu dan membuka suara.


" Sejak kau menjual sertifikat rumah ini pada orang lain maka rumah ini sudah jatuh ke tangan orang lain dan setahuku tadi pagi saat aku membaca salinan sertifikat rumah dan tanah ini bukan atas nama ibu Budi lagi melainkan pemilik baru yang telah membelinya darimu, kau tidak bisa memiliki rumah ini " Kata Pak Kades.


" Omong kosong! Lalu kenapa mereka masih tinggal disini? " Tanya Ayah Budi.


" Rumah dan tanah ini atas nama Rahmat Mulyawan, orang yang sedang berdiri didepanmu sekarang.Dia membeli rumah ini dari orang yang kau gadaikan sertifikat tanah ini dan ..." Kades sengaja menggantung perkataannya.


Flashback On


Daffa melihat sertifikat rumah yang ada ditangannya, Sertifikat tanah milik ibu Budi yang diambil paksa suaminya untuk digadaikan agar bisa membeli motor untuk istri mudanya, Daffa menyuruh orangnya menyamar menjadi orang yang menerima barang gadaian. Barusan ada seorang pria yang berniat menebus sertifikat rumah itu untuk dikembalikan pada ibu Budi. Daffa melihat ada sesuatu yang memotivasi bujangan tua itu untuk menebus sertifikat tersebut.


Ia memutuskan untuk mencari tahu hubungan pria itu dengan keluarga Budi. Daffa memberikan sertifikat rumah itu pada ibu Budi dan menyerahkan keputusan itu pada wanita itu. Oleh Ibu Budi sertifikat itu dijual pada pria yang bernama Rahmat untuk modal usahanya. Pak Rahmat membiarkan sementara ibu Budi tinggal dalam status mengontrak rumah tersebut.


" Kalau kujual padamu maka aku bisa menebusnya kembali sampai tabunganku cukup, bisakah seperti itu? " Tanya Ibu Budi.


Pak Rahmat menyetujui permintaan wanita pujaannya tersebut. Daffa menjadi saksi betapa pak Rahmat sangat mencintai wanita didepannya itu. Ia merasakan jika prediksinya benar maka Budi dan adik-adiknya akan mendapatkan ayah baru yang lebih baik


Dari kepala Daffa muncul ide untuk merubah sementara pemiilik sertifikat rumah itu karena bocah itu memprediksi jika ayah Budi akan kembali mengganggu ketentraman hidup Budi dan keluarganya. Daffa juga akhirnya mengetahui motivasi Pak Rahmat yang ternyata mencintai ibu Budi namun tidak berani mengungkapkannya karena ibu Budi masih dalam status menikah.


Perceraian Ibu dan Ayah Budi diketahui oleh kepala desa dan jajarannya. Dibantu tetangga yang bersedia menjadi saksi dipengadilan hingga sidang berjalan mulus. Pak Rahmat yang merupakan teman masa kecil Ibu Budi memutuskan untuk maju mengejar cinta ibu Budi.


Ibu Budi belum memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, ia memikirkan anak-anaknya yang tidak mengetahui perpisahan kedua orangtua mereka dan ada kekhawatiran jika anak-anak akan menolak kehadiran orang baru dalam hidup mereka.


Rahmat bukanlah orang asing bagi Budi dan adik-adiknya. Mereka sangat mengenal paman yang selalu menolong mereka saat dalam keadaan sulit sekalipun.


Flashback Off

__ADS_1


Kalimat dari Kades menggantung membuat orang diam menghela napas menunggu kelanjutannya.


" Jangan bertele-tele kades s*ialan! Lanjutkan kalimatmu! " Maki Ayah Budi.


Kades tersenyum bijak, makian sudah biasa didengarnya sejak ia menjadi pemimpin dan itu tidak membuatnya marah.


" Pak Rahmat akan melamar mantan istrimu dan menjadikan rumah ini sebagai maharnya" Kata Kades.


Wajah Ayah Budi merah kuning ungu saking marahnya, ia tidak terima dicerai sang istri dan tidak ingin jika mantan istrinya akan menikah kembali.


" Bagus ya! jadi ceritanya kau membalasku! Bagus tapi aku tidak akan rela, aku akan membawa anak-anak! " Ancam Ayah Budi.


Budi dan adik-adiknya ketakutan. Pak Rahmat dan Hansip sudah siaga jika terjadi tindakan nekat ayah Budi.


" Wah ga bisa tuh! Pengadilan juga sudah memutuskan hak asuh anak ada ditangan ibunya karena kau tidak menafkahi dan menelantarkan mereka bertahun-tahun, sekarang silahkan kau angkat kaki dari sini, kau sangat mengganggu ketentraman wargaku disini" Usir Kades dengan nada berat.


Salut dengan Kades satu ini, Ibu Kades berdiri disamping ibu Budi menenangkan wanita itu sedangkan Nangsih dan ayah Budi hilang akal. Secara tiba-tiba ayah Budi bersujud sambil menangis dikaki ibu Budi. Memohon untuk dibiarkan tinggal dan bisa rujuk lagi.


" Sumpah aku kapok! Tolong! Aku tidak punya apa-apa lagi" pinta Ayah Budi.


Pak Rahmat khawatir ibu Budi  akan luluh lagi, wanita didepannya itu terdiam lama merenung.


" Aku tidak ingin bersamamu lagi, kau bukan contoh yang baik untuk anak-anak kita" Kata Ibu Budi bergetar.


" Tapi aku janji akan berubah! Asal bisa bersamamu, tolong aku tidak bisa pisah dari kalian, jangan biarkan anak-anak kita tidak memilliki ayah " Pinta ayah Budi membujuk.


Semuanya menelan ludah sekali lagi menunggu ketetapan hati ibu Budi.


" Anak-anak sudah lama kehilanganmu! Pergilah, jalani hidupmu dan jangan ganggu kami lagi" kata Ibu Budi.


Tarikan napas lega terdengar disemua ruangan. Daffa tersenyum, Budi juga meliriknya dengan lega. Ibunya juga berhak bahagia, ia dan adik-adiknya akan mendukung apapun yang dipilih ibunya.


" Paman Rahmat juga tidak buruk kok" Kata Budi dalam hati menatap bujang tua didepannya.


" Menyesal aku hidup denganmu! aku pergi saja, diluar sana banyak lelaki yang mau denganku" Kata Nangsih kesal.


Diam-diam ia meninggalkan ayah Budi saat sudah tertidur. Wanita muda itu tidak ingin hidup susah. Tidak peduli lagi dengan pria itu.


" Bukan cuma mantan istrimu yang ingin bahagia, aku juga berhak bahagia tahu! " Nangsih berlalu pergi.


***


Daffa menceritakan peristiwa yang dialaminya pada kedua orangtuanya saat telah berada dirumah. Semuanya mendengarkan dengan seksama.


" Syukurlah endingnya bagus, Mom berharap Budi dan keluarganya mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan" Kata Elina.


" Oh ya kapan kau akan bertemu dengan Prof. Andi? " Tanya Dave.


Elina teringat kembali dengan penelitian yang tengah dilakukannya hal ini harus dilakukannya agar ia mendapatkan lisensi sebagai seorang ilmuan dibidang kedokteran, hal yang ditelitinya adalah suatu zat yang dapat membuat manusia menunda penuaan dini.


Prof Andi sangat tertutup dan sulit ditemui padahal temuannya beberapa tahun lalu bisa membuat Elina selangkah lebih maju lagi dalam penelitiannya. Kiara lahir ditengah Elina tengah melakukan percobaan, ada sesuatu yang membuat Kiara akan berhenti tumbuh dan itu diketahui Elina saat menguji DNA anaknya.


Suami istri itu khawatir dengan Kiara kelak, jika tidak diatasi secepatnya sebelum usianya satu tahun maka Kiara akan berhenti tumbuh saat usianya 15 tahun ( menurut uji DNA ) Kiara tidak akan bertambah tua karena Sel dalam tubuhnya sudah bermutasi walaupun tidak berpengaruh pada kejeniusan bayi itu.


Sekarang Kiara juga sudah mampu memahami 3 bahasa dan sering mengerjai Bi Andrea dengan membuat suara-suara aneh.


Suatu siang saat Dave menemani Elina menemui Prof Andi, Daffa sedang disekolah, Kiara bersama Bi Andrea dirumah. Perjalanan lumayan jauh dengan medan yang curam membuat Elina tidak mengajak bayinya.


" Mom dan Daddy akan kembali malam nanti sayang, maaf kami tidak bisa mengajakmu baby! Cuacanya tidak baik dan perjalanannya jauh" Kata Elina memeluk sang putrinya.


Kiara tersenyum maklum, Ia telah paham dengan pekerjaan kedua orangtuanya. Jika tidak mendesak maka mereka tidak akan meninggalkannya.


Dave juga memeluk sang putri,

__ADS_1


" Kalian ini kenapa? Biasanya juga ditinggal " Tegur Bi Andrea.


" Yah,,,rasanya berat mungkin mom gugup akan bertemu dengan prof Andi" Kata Elina pada Kiara.


Mereka pamit dan naik mobil meninggalkan rumah. Baik Elina ataupun Dave merasakan berat untuk meninggalkan anaknya dirumah.


 


***


Elina masih saja gelisah hingga sampai didepan rumah Prof Andi yang tampak sunyi. Kesan angker memang langsung terasa namun hijau.



Dave dan Elina memperhatikan penataan yang ada dirumah itu. Sungguh bukan rumah biasa.


" Apa hanya aku yang merasa prof ini agak aneh dan nyentrik? " Desis Dave.


" Kau Benar! Semua orang yang datang kesini selalu memiliki kesan begitu " Secara tiba-tiba Elina dan Dave dikagetkan dengan suara yang muncul dari belakang.


Dave ternganga, Setahunya Prof Andi yang diketahuinya berusia 56 tahun dan foto yang dilihatnya lebih tua dari pria muda yang berada didepannya.


" Mungkin anaknya, tidak heran sama anehnya! " Kata Dave dalam hati.



Sosok berkaca mata tebal nampak urakan baru keluar dari laboratorium kacanya. Elina tersenyum. Dave mengikuti saja langkah Pria itu membawa mereka masuk.


" Oh ya dimanaprof Andi, sayang? " Tanya Dave pada Elina.


Elina tidak dapat menahan senyumnya melihat sang suami bingung. Pria muda didepannya menurunkan kaca matanya dan menatap Dave dengan tatapan kurang suka.



" Aku didepanmu kenapa malah tanya dimana aku? Tampaknya kau yang butuh kacamata ini" Tegur Pria itu.


Dave ternganga, bagaimana bisa prof Andi semuda ini.


" Maaf prof, foto anda sangat berbeda" Jawab Dave.


" Yah, aku sengaja mengeditnya lebih tua! usiaku memang segitu tapi aku tidak mengalami penuaan sejak usiaku 25 tahun jadi biar tidak ada yang curiga jadi selalu menyamar " Jawab Prof Andi dengan nada Cuek.


Dave menilai jika Elina tidak terkejut dengan pria didepannya itu. Andai Dave tidak ikut mempelajari penelitian sang istri mungkin Dave akan mengira Prof Andi adalah makhluk dunia lain (misalnya Vampir) karena tidak terlihat tua seperti usianya.


Elina menyodorkan hasil penelitiannya pada prof tersebut, keheningan terjadi disaat seperti itu.


Drttt... Drttt ...


" ASTAGA! Jangan membunyikan dering ponsel kalian disini! itu mengagetkanku " Jerit Prof Andi terkejut luar biasa.


" Maaf Prof, " Dave beranjak keluar menerima panggilan ponsel .


Tidak lama pria itu kembali dengan wajah paniknya.


" KIARA diculik! " Serunya.


Elina berdiri saking kagetnya. Prof Andi menatap keduanya bingung.


***


BERSAMBUNG


 

__ADS_1


 


__ADS_2