
***
Edgard hari ini piket, sebenarnya sebagai kepala rumah sakit dirinya bisa saja tidak lagi mempunyai jadwal untuk piket.
" Aku ini dokter, masa kalian membuatku bekerja dibelakang meja seperti direktur biasa, jadwalkan aku dalam piket" Katanya saat melihat jadwalnya pertama kali.
Staff administrasi mengangguk patuh, Edgard tersenyum manis. Ketika sedang menuju ruang piket tidak sengaja pria itu melihat Silvia terburu-buru menuju UGD.
" Apakah terjadi sesuatu dengan anak-anak?" tanya Edgard.
Pria itu tidak sempat bertanya karena tidak bersamaan arah. Edgard meminta salah seorang perawat mencari informasi mengenai siapa yang sedang ditengok Silvia.
" Pasien bernama Nathasa Wijaya" Jawab Perawat itu dengan sopan sambil membaca laporan yang baru saja diambil dari lab.
Kening Edgard berkerut, mengapa Silvia begitu panik padahal yang sedang sakit itu keponakannya. Aneh menurut pandangan matanya apalagi Stephan juga terlihat menyayangi anak yang bahkan jarang mereka temui itu. Kasih sayang keduanya lebih mirip kasih sayang pada orang tua kandung pada anaknya.
" Ah sudahlah, toh keponakannya juga! Wajarlah " Kata Edgard.
Edgard keluar ruangan sekedar mencari kopi, ia melihat temannya sedang kusut tidak tidur semalaman, (pemandangan seperti itu biasa jika dokter sedang bertugas di UGD)
" Hati-hati berkendara, sebaiknya pulangnya naik taxi" Tegur Edgard.
Rekan Edgard yang bernama Fatih itu mengangguk tetapi singgah membeli kopi terlebih dahulu.
" Semalam aku menangani pasien anak-anak yang terus-menerus kejang dan demam walaupun sudah mendapatkan penanganan" Cerita Fatih.
Edgard mengangguk, ia baru tahu jika Fatih membicarakan Nathasa.
" Hasil laboratorium menemukan adanya komplikasi, sepertinya anak itu pernah menjalani transplantasi organ dan mulai menunjukkan masalah" Jawab dokter Fatih memancing keinginan Tahuan Edgard.
" Sore nanti aku akan berkonsultasi dengan Dokter Elina setelah pemberian antibiotik pada anak itu" Lanjut dokter Fatih.
" Organ mana?" Tanya Edgard.
" Hati" Jawab dokter Fatih singkat sambil menyeruput kopinya.
Ia pamit untuk kembali dan berjanji akan kembali pada sore harinya.
Natasha belum mendapatkan ruang perawatan, ia harus berada di UGD karena kondisinya masih belum stabil. Entah mengapa Edgard menjadi tertarik sekedar menengok anak yang membuat pasangan Silvia dan Stephan jatuh hati.
Silvia masih berada ditempat itu sedang menunggui Nathasa. Wajahnya terlihat sedih. Natasha baru saja kejang.
" Mana ibunya?" Tanya Edgard langsung tanpa basa basi.
" Ibunya belum bisa dihubungi, sedang bekerja" Kata Silvia.
Edgard menjadi semakin tidak suka Anggun, bagaimana seorang Ibu bisa membiarkan anaknya dirumah sakit sedang ia sibuk bekerja. Egois!
Tidak lama Anggun muncul dengan wajah panik, Edgard memperhatikannya sejak datang tadi, samar-samar lelaki itu melihat beberapa bekas memar merah keunguan dileher dan pinggang Anggun.
" hmm..anak sedang sakit dianya sibuk bersenang-senang kencan dengan pacarnya " Kata Edgard sinis dalam hati.
__ADS_1
Silvia pamit setelah ada Anggun menjaga anaknya. Ibu Ningsih kembali ke rumah mengambil pakaian untuk Nathasa.
***
Dokter Fatih menemui Elina diruangannya dengan membawa hasil Laboratorium terbaru milik Nathasa. Elina memperhatikan dengan seksama,
" Sepertinya organnya sudah mencapai maksimal, terlalu dipaksakan " komentar Elina melihat hasil CT Scan hati Nathasa.
" Oh ya? tapi riwayat operasinya sudah memasuki tahun ke 5 " Kata dokter Fatih.
Elina mengamati dan sesekali membaca, Edgard datang menengok adiknya. Hanya dirumah sakit inilah kadang keduanya bisa bertemu. Dave sedang shift siang jadi memanfaatkan waktu ayah anak bersama Daffa untuk jalan berdua.
" Seriusnya El? kakak datang kau tidak menyapa" Kata Edgard.
Elina menyambut kedatangan kakaknya. Perutnya kian membesar, kehamilannya telah memasuki bulan ke 7.
" kulihat kalian serius sekali" Kata Edgard.
" Iya, kami sedang membahas tentang pasienku " Jawab Dokter Fatih.
Edgard berkerut, ia heran Elina seolah lupa jika yang diperiksa adalah anak Anggun dan Nathan. Namun ia tidak menjeda adiknya yang sedang memeriksa hasil Nathasa.
" Hatinya bekerja terlalu keras sehingga memicu komplikasi, sepertinya umur hati nya terlalu muda coba perhatikan area sini " Tunjuk Elina.
" Maksudnya dokter Elina bagaimana?" Tanya Dokter Fatih.
" Kemungkinan donor hati ini adalah berasal bayi yang belum berumur sebulan dan dipaksakan ke pasien yang usianya lebih tua" Elina sudah sampai pada kesimpulan akhir.
Edgard dan dokter Fatih mengangguk saja, Dokter Fatih kemudian pamit untuk menemui Anggun. Elina kembali pada aktivitasnya memeriksa hasil CT scan yang ada didepannya.
" Yah " Jawab Elina mengangguk.
Edgard tidak melanjutkan perkataannya, ia sudah tau hati adiknya sedalam lautan dan seluas samudera yang tidak bisa diukur ya.
Dering telepon berbunyi, Elina mengangkat telepon disampingnya. lalu segera berdiri.
" Ada apa El? "
" Kondisi pasien memburuk tetapi " Elina tidak melanjutkan kata-katanya.
" Kenapa El?"
" Anggun memaksa untuk memindahkan anaknya padahal kondisi sudah tidak memungkinkan" Jawab Elina.
Edgard menahan tangan adiknya, ia melarang Elina pergi menemui Anggun. Menurutnya Elina hanya sia-sia membujuk Anggun.
" Kakak ini mengenai nyawa pasien" Jawab Elina
" Aku tahu tapi jika kau yang kesana kemungkinan kau yang akan disalahkan jika terjadi sesuatu pada anaknya, orang seperti itu selalu mencari kambing hitam!" Kata Edgard.
Edgard tetap melarang adiknya. Dokter Fatih menelpon kembali jika Anggun telah menandatangani surat pernyataan pemulangan paksa putrinya. Edgard kesal dan memutuskan dia sendiri yang datang kesana.
__ADS_1
Tidak ada yang mampu menghalangi niatnya. Edgard sempat melihat Nathasa yang mulai menghitam kulitnya akibat komplikasi hatinya. Anak itu sudah tidak sadarkan diri lagi sejak dibawa ke rumah sakit.
Dada Edgard seperti terpukul melihat anak dari musuhnya itu. Ia meraba dadanya sendiri.
" Aku pasti kurang istirahat saja" Kata Edgard.
Pemindahan Nathasa ke rumah sakit lain membuat cemas dokter Fatih yang menangani Nathasa dari awal.
***
Sejak melihat Nathasa tadi, Edgard terus saja terbayang. Pria itu tertidur sejenak diruangannya, dalam mimpinya untuk pertama kalinya ia bermimpi menggendong Bayi Edward yang sedang menangis. Edgard berusaha membujuknya namun bayi itu terus saja menangis sambil memeluknya.
" Ada apa Edward? " Tanya Edgard kewalahan.
Mimpi terputus, Edgard terbangun dari tidurnya. Sekilas ia seperti masih mendengar bayi itu menangis.
" Ah sudah lama sekali aku ternyata masih merindukanmu baby boy" Kata Edgard.
Perhatian Edgard teralih pada berita di televisi yang tengah menyala. Berita penangkapan seorang dokter yang melakukan operasi ilegal di kliniknya. Edgard melihat seorang lelaki yang wajahnya diblur rapi oleh media.
" Dokter Julius?" Edgard mengenali wajah dokter yang ditangkap walaupun diblur.
Penangkapan dokter itu berimbas pada pemeriksaan seluruh dokter dan perawat yang memiliki koneksi dengan Dokter Julius termasuk para dokter yang ada dirumah sakit Harapan.
***
Klinik Dokter Julius diperiksa oleh polisi ternyata selain operasi ilegal, ditempat itu juga menjadi tempat untuk aborsi ilegal. Banyak janin yang ditemukan dikuburkan dibelakang.
Ada hal yang mengejutkan dari hasil rekapan pasien yang pernah ditangani oleh Dokter Julius. Klinik yang sudah berjalan sekitar 10 tahun itu telah banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran berat soal HAM.
Terdapat banyak nama-nama pendonor yang diambil organ tubuhnya dan tempat dimakamkan dalam catatan itu, banyak bayi yang tidak bernama juga tetapi ada catatan mengenai pemakamannya. Ningsih Bumiwardoyo terseret karena namanya muncul sebagai orang yang mencari donor untuk cucunya.
Siang malam ia diperiksa dengan sejumlah pertanyaan dari penyelidik membuat wanita paruh baya itu kelelahan. Anggun tidak bisa bekerja karena fokus pada anaknya. Judith membantu untuk menggantikan shift nya.
" Dokter Edgard" Panggil salah satu perawat.
Edgard menoleh, perawat itu memberikan sepucuk surat yang berisi panggilan dari kepolisian terkait dokter Julius.
Edgard membaca dengan seksama dan melihat tanggalnya adalah tanggal hari ini.
" Maaf dokter, surat panggilan ini terselip dengan surat lainnya " Kata Perawat agak ketakutan, wajar karena ini adalah kelalaiannya memeriksa.
Edgard mengangguk dan langsung menyiapkan mobil menuju kantor polisi, ia pergi bersama dokter Dayyan karena mendapat panggilan yang sama.
***
Sesampainya dikantor polisi Edgard dan Dayyan diperiksa ditempat yang berbeda. Edgard mengahadapi dengan tenang karena dipanggil sebagai saksi.
" Apakah anda mengenali benda ini?" Tanya penyidik menyodorkan sesuatu yang terbungkus dalam kantong plastik.
Edgard melihat benda yang ditunjukkan dan hampir melompat dari kursinya saking kagetnya.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG