Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Dua Cucu Nenek Sekar


__ADS_3

***


Elina dan Ibu Sekar menuju rumah sakit Harapan, Mereka gembira sekaligus khawatir saat mendengar kabar jika Intel polisi berhasil menemukan Daffa dan rombongannya.


Kedua wanita itu tidak putus-putusnya berdoa semoga Daffa dilindungi oleh yang mahakuasa. Alangkah leganya saat melihat Daffa sedang duduk diranjang didampingi Edgard dan Dave. Anak- anak lain juga dalam kondisi baik kecuali Kedua anak yang sempat mendapatkan suntikan. Keduanya dirawat diruangan yang berbeda.


Orangtua/Wali anak-anak yang diculik juga datang, mereka membawa kembali anak mereka setelah meninggalkan data kontak yang bisa dihubungi. Nesya dan Garin juga datang memeluk Dean dan Karina. Mata Nesya yang bengkak menandakan habis menangis. Ia memeluk kedua anak itu dan menangis kembali saking leganya anak asuhnya selamat.


Garin berbicara dengan polisi.


" Kenapa dengan badanmu Dean?" Tanya Nesya.


Bruk! pintu dibuka, seorang wanita muda langsung menghambur memeluk Dean. Tergambar kecemasan yang sama ketika wanita itu datang. Kejadian ini membuat perhatian teralih pada wanita yang tengah menangisi Dean.


" Dean baik-baik saja mama" Kata Dean.


Ia senang mamanya datang menjenguknya sekian lama, Judith muncul dengan pakaian kerjanya hanya terbungkus dengan jaket hitam. Wanita itu terduduk lemas saking leganya melihat anak semata wayangnya baik-baik saja.


" Ini?" Tanya Judith melihat Bentol merah diwajah dan tubuh Dean.


" Ini hanya digambar saja mama, Daffa menggambarnya lalu aku pura pura sakit, kami bisa melarikan diri berkat ide itu" Kata Dean Bangga.


Ibu Sekar memperhatikan Dean, wajah anak itu sama persis dengan Sean anaknya. Hatinya langsung tersentuh dan merasa ada ikatan . Wanita paruh baya itu merasa pernah melihat Judith tetapi tidak bisa memastikan. Diam-diam ia meminta asistennya untuk menyelidiki Dean dan Judith.


" Maafkan kami, Judith! Kami lalai menjaga Dean" Kata Nesya menunduk.


" Tidak! ini musibah, aku bersyukur Dean baik-baik saja, entah apa jadinya mama tanpa kamu nak! Mama minta maaf belum sempat menjengukmu, mama menggantikan tugas teman mama yang anaknya sedang sakit" Kata Judith.


Judith tidak menyalahkan Garin dan Nesya, ia malah menganggap keduanya telah berjasa memberikan kasih sayang yang lengkap layaknya orangtua pada putranya.


" Mama kapan bisa ke panti?" Tanya Dean.


" Secepatnya Dean, mama janji!" Judith memeluk anaknya.


Air matanya masih mengalir dengan deras, anaknya hampir saja hilang darinya. Judith juga tidak lupa berterima kasih pada Daffa dan orangtuanya.


" Elina adalah bekas penghuni panti sekarang menjadi donatur juga dipanti. Oh ya kami sudah pindah alamat" Kata Nesya memberikan alamat pada Judith.


Judith mengangguk mengambil kartu nama dan langsung menyimpan dalam tasnya tanpa melihatnya. Judith berkenalan singkat dengan Elina, Dave dan Edgard serta Daffa.


" Terimakasih ya anak manis, Tante berhutang permintaan padamu. " Kata Judith pada Daffa.


" Ah Tante, Kami lolos juga karena akting kak Dean yang meyakinkan" Jawab Daffa tersenyum.


Judith membelai kepala Daffa dan mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih. Dean protes ingin mendapatkan perlakuan yang sama.


" Ma, aku juga!" punya Dean protes menunjuk keningnya sendiri.


" Anak mama sayang" Judith langsung memeluk putranya lalu mencium gemas.


Daffa menatap geli saat melihat Judith memperlakukan putranya. Elina mendekatinya dan melakukan hal yang sama.


" Mom, aku merinding nih" Bisik Daffa.


" Bisa tidak sekali saja seperti Dean, mommy kadang merasa kau menolak mommy" Kata Elina sedih.


" Tidak mom, aku sayang mom cuma kalau begini aku merinding saja, beneran mom! bukan karena tidak sayang " Kata Daffa.


Dave dan Edgard tertawa serentak, Elina memang selalu menginginkan anaknya bertingkah normal layaknya anak pada umurnya yang manja. Sayangnya Daffa terlalu dewasa untuk umurnya karena kejeniusannya berpikir.


Asisten ibu Sekar datang membisiki sesuatu. Ibu Sekar pamit untuk mengerjakan sesuatu. Ia mencium Daffa dan dengan agak ragu mendekati Dean dan Judith. Ia membelai kepala Dean tanpa berkata apapun. Judith mematung tegang, ia tahu siapa yang sedang membelai putranya.


***


Ibu Sekar duduk diam dikamar Sean, kamar yang sekian lama tidak dimasukinya. Ia melihat barang-barang putranya.

__ADS_1


" Sean " Desisnya.


Hatinya masih seperih dulu saat kehilangan anaknya.


" Nyonya, asisten anda sudah berada diruang tengah" Kata Pelayan masuk ke kamar.


Ibu Sekar berdiri, segera menemui asistennya itu. Wanita itu diam-diam memerintahkan untuk menyelidiki Dean dan Judith.


" Nona Judith memang salah satu wanita yang pernah berhubungan dengan tuan muda Dean namun itu karena membiayai pengobatan ibunya, Sayangnya ketahuan Nyonya Anggun hingga uang itu disita, Nona Judith jadi kehilangan ibunya, akibat hubungan itu Nona Judith hamil dan melahirkan Tuan muda Dean 9 tahun lalu saat masih kelas satu SMU, Tuan muda Dean dititipkan dipanti asuhan tetapi Nona Judith meminta agar anaknya tidak diadopsi siapapun dan rutin mengirimkan biaya hidup untuk anaknya setiap bulannya dari hasil kerjanya..." Sang asisten tidak berani melanjutkan perkataannya.


" Teruskan!" kata Ibu Sekar.


" Nona Judith bekerja sebagai pelayan club' sekaligus wanita penghibur" Jawab Asisten ibu Sekar agak ragu


" Jadi dia membiayai cucuku dari hasil jual diri?" Tanya Ibu Sekar dengan nada emosi tidak bisa dibayangkan betapa kerasnya hidup Judith selama ini dalam membesarkan anaknya.


Ibu Sekar merasa ini adalah jalan dari Tuhan, ternyata ia tidak sendirian didunia ini masih ada seorang cucu yang ditinggalkan untuknya, cucu yang tidak diketahuinya dan ternyata berada dalam panti asuhan yang diselamatkannya. bahkan sebelum hasil tes DNA keluar ibu Sekar sudah yakin jika Dean memang anak Sean.


Ibu Sekar melihat foto Dean dan Judith dengan pandangan teduh. Betapa malangnya hidup wanita ini berjuang menghidupi anaknya mati-matian diusia mudanya harus melahirkan seorang anak mengorbankan masa muda dan bekerja keras siang malam agar anaknya bisa hidup.


" Bawa Judith ke hadapanku sekarang" Suruh ibu Sekar.


Asisten itu mengangguk lalu pergi.


***


Wajah Judith tegang memasuki rumah mewah milik keluarga Sean. Wanita itu dijemput langsung oleh sang asisten ibu Sekar didepan kontrakan. Ini pertama kalinya ia ke rumah mewah itu. Sean memiliki apartemen sendiri. Seorang wanita berwajah tegas telah menunggunya menatap dari atas hingga ke bawah ketika ia memasuki rumah itu.


Judith langsung mengenali wajah ibu Sekar, ia pernah melihat diapartemen Sean terdapat foto ibu Sekar bersama Sean dalam ukuran besar.


" Duduklah" suruh Ibu Sekar.


Judith langsung patuh duduk diam mematung. Keringat sebesar biji jagung terus saja mengalir dari pori-porinya.


" Kau tahu kenapa kau kupanggil ke sini?" Tanya Ibu Sekar.


" Kau mengenaliku?" tanya Ibu Sekar.


Judith mengangguk pucat, tentu saja ia mengenali Ibu Sekar sebagai ibu kandung Sean.


Diluar dugaan Ibu Sekar malah mendekat langsung memeluk erat Judith sambil meluapkan emosinya.


" Kenapa kau tidak pernah memberitahu jika aku memiliki cucu? kenapa harus menyembunyikan diri begitu lama? entah sudah berapa banyak dosaku padamu? kau menanggung semuanya sendirian selama ini, gadis bodoh! maaf atas semua penderitaan yang telah kau alami gara gara Sean, Terimakasih karena sudah berjuang untuk hidup dan untuk cucuku " Ibu Sekar menangis tersedu-sedu.


Judith ikut menangis, tidak pernah ada mengatakan hal itu padanya selama ini. Beban dan sakit hatinya tumpah lewat tangisnya, suara tangisnya bahkan mengundang pelayan berkumpul penasaran. Tidak pernah ada pemandangan seperti ini dirumah itu sejak Sean meninggal. Siapakah gadis yang menangis keras sambil dipeluk sang nyonya rumah.


Mulai saat itu Judith dan Dean dijemput untuk tinggal dirumah ibu Sekar. Dean terkejut mengetahui jika ia memiliki Seorang nenek. Judith menjelaskan sesederhana mungkin sesuai dengan pemahaman anak itu.


" Tapi aku masih bisa ke panti kan?" tanya Dean pada Judith


" Bisa cucuku? kau boleh ke sana tapi bisakah kalian tinggal disini bersama nenek? nenek sendirian disini " Kata ibu Sekar langsung menjawab.


Tidak ada lagi wajah tegas ibu Sekar malah seperti wajah nenek lainnya yang begitu ramah dan sayang cucunya.


" Oh ya nanti nenek kenalkan dengan cucu Nenek yang lain" Kata Ibu Sekar tersenyum.


" Siapa nek?" tanya Dean gembira akan mempunyai teman main, lain halnya dengan Judith ia mengira Ibu Sekar mengenal anak Sean yang lain.


" Namanya Daffa "


" Daffa? Daffa Mathews? anak bibi Elina?" Dean mengingat Daffa, ia gembira sekali mendengarnya.


" Dia bukan anak Sean tetapi anak itu kuanggap seperti cucuku" Kata Ibu Sekar seolah memahami pikiran Judith.


Judith menundukkan kepala. Matanya masih sembab dengan airmata, rasanya seperti mimpi. Ibu Sekar menginginkan Judith untuk tinggal bersamanya dan menjadi putrinya. Bahkan ia meminta asistennya untuk menyiapkan pengumuman jika Judith adalah istri dari Sean. Judith dilarang bekerja diclub malam lagi dan harus menjalani kemewahan seperti yang seharusnya.

__ADS_1


***


Dilain tempat.


Kondisi Nathasa semakin memburuk, Anggun kehilangan akal belum juga mendapatkan donor. Orang-orang suruhannya tidak ada yang kembali ( Semuanya menjadi tahanan Dave dan disembunyikan dari polisi ).


Daffa menjalani operasi kecil secara rahasia, Dave tidak ingin mengambil resiko anaknya hilang tanpa jejak. Ia memasang chip GPS dalam tubuh anaknya agar bisa terlacak dimanapun walaupun tanpa sinyal.


Anggun kesal tidak menemukan Judith dimanapun. Gosip yang beredar jika Judith telah menjadi simpanan orang kaya dan telah berhenti dari club' malam.


" Bahkan ponsel dimatikan! " Anggun kesal sekali.


" Hei lihat, itu Anggun! 😏😏" Tunjuk Chelsea melihat Anggun didepan apotik mengantri obat untuk anaknya.


Anggun menatap mantan sahabatnya dengan jengkel. Namun ia tidak ingin membalas, Anaknya sedang sendirian diruangan.


" Apakah ini karma? Anggun Bumiwardoyo seorang putri menjadi rakyat jelata sedangkan Judith dari rakyat jelata menjadi putri bahkan diakui sebagai istri Sean hihihi 🤭🤭🤭" Ejek Chelsea pada teman disampingnya.


Anggun tertegun mendengar ejekan itu. Bukan karena ia dikatai miskin namun Judith yang diakui sebagai istri Sean.


" Apa maksudmu?" Tanya Anggun.


Chelsea tertawa, ia memperlihatkan berita tentang pengumuman ibu Sekar yang memperkenalkan Judith sebagai menantunya, Judith didampingi anak yang mirip sekali dengan Sean. Anggun terkejut merasa dikhianati, bagaimana bisa Judith menyembunyikan hal sebesar itu?


Sayangnya sekesal apapaun Anggun ia tidak bisa membalas perkataan Chelsea, wanita itu buru-buru balik ke ruangan anaknya. Nathasa koma sejak awal dipindahkan ke rumah sakit. Anggun terus berusaha mencari donor hati untuk putrinya. Apa yang harus ia lakukan? orang suruhan boss besar hilang tanpa jejak. Wanita itu telah menyuap dokter untuk melakukan operasi ilegal tetapi belum mendapatkan donor hati.


Dalam pikirannya terlintas keponakan kembarnya ( anak Silvia dan Stephan) Radhi dan Raya yang telah berusia 4 Tahun.


" Salah satunya pasti cocok, seperti Edward ! Tapi bagaimana cara mendekati anak - anak itu?" Keluh Anggun.


Dirinya yakin jika Silvia dan Stephan juga telah melakukan sejumlah langkah proteksi untuk melindungi putra putri mereka. Anggun semakin kalut melihat putrinya sendiri kian memburuk dari hari ke hari.


" Kau akan hidup nak, apapun itu, mommy akan mengusahakan!" Kata Anggun.


***


Daffa tidak bersekolah hari ini, ia rencananya akan ke rumah nenek Sekar nya untuk bertemu dengan Dean. Ia suprise mendengar kabar jika Dean adalah cucu kandung nenek Sekar. Ada rasa iri namun ditepisnya.


" Aku memiliki banyak nenek dan kakek, kenapa harus iri dengan Kak Dean? dia hanya punya seorang nenek" Katanya dalam hati.


" Hari ini akan menginap?" Tanya Elina.


" Tidak, aku ingin berkunjung saja siapa tahu nenek butuh waktu lebih banyak dengan kak Dean" Kata Daffa sibuk memasukkan mainannya ke dalam tas.


" Nenek Sekar tetap sayang Daffa kok" Kata Elina.


Daffa tertawa " Aku tau Mom"


Sebelum pergi, ritual Daffa adalah mencium perut adiknya. Sebentar lagi adiknya akan lahir, adik perempuan yang manis.


Baru beberapa langkah Daffa mendengar gerakan tiba tiba dibelakangnya, Ia menengok dengan kagetnya.


" Mom?!" Pekiknya.


Elina duduk karena perutnya secara tiba-tiba kontraksi hebat. Daffa berlari Menuju ibunya dan memanggil asisten rumah tangga yang ada dirumah.


" Mom kau baik-baik saja kan? Apanya yang sakit?" Tanya Daffa panik.


" Tenanglah sayang..ukh.. mommy hanya kontraksi saja, Adikmu ini seharusnya bulan depan baru lahir" Jawab Elina.


Daffa tidak mau mengambil resiko, ia meminta supir untuk membawa ibunya ke rumah sakit dan ia menghubungi ayah dan pamannya.


" Daddy, mommy kesakitan aku membawanya ke rumah sakit sekarang" Kata Daffa.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2