Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Keputusan


__ADS_3

***


Perkara Anggun mendapat sorotan tersendiri oleh media dimana ia digambarkan menjadi seorang ibu yang rela melakukan apapun demi anaknya walaupun dengan cara yang salah, netizen terbelah dua namun sebagian besar menyayangkan tindakan Anggun yang rela mengorbankan apapun demi kepentingan pribadinya.


Beberapa ahli berdebat mengenai kejiwaan Anggun, Edgard sempat khawatir jika Anggun akan bebas dari hukuman karena dianggap sakit jiwa. Wanita itu sendiri sering sekali mengamuk dalam sel tahanan sehingga menempati ruang isolasi. Daffa memiliki ide untuk memancing kewarasan Anggun didepan semua orang.


" Sidang akan dilaksanakan minggu depan, perkaranya sudah dilimpahkan ke pengadilan" Kata Pengacara Mathews.


" Bagus! Aku harus memastikan dengan mataku jika perempuan itu mendapatkan hukuman yang paling berat" Kata Ibu Sekar antusias.


Walaupun tidak puas dengan penangkapan Anggun, wanita itu masih percaya hukum diIndonesia masih dapat berlaku adil. Ibu Sekar sendiri tengah menikmati keseharianya dengan Judith dan Dean. Seringkali wanita paruh baya itu tercenung dengan cara Judith mendidik putranya untuk mandiri, betapa kerasnya penerapan disiplin dan sikap sederhana untuk putranya.


Terkadang sebagai nenek, Ibu Sekar tidak tega melihat Dean dididik untuk mengelola keuangannya sejak kecil, Judith memberikan jatah pada anaknya sebagai uang bulanan yang harus dikelolanya sampai sebulan bahkan menyediakan tabungan agar sisa uang jajan bisa ditabung. Tidak heran anak sekecil Dean sudah bisa mengatur keuangannya sendiri (dalam skala sederhana karena masih uang jajan) dan tidak seperti Sean ayahnya yang selalu bergelimangan kemewahan.


" Andai aku bisa melakukan hal itu pada Sean mungkin Sean tidak akan meninggal muda, aku bukan ibu yang baik" Kata Ibu Sekar dalam hati.


Wanita itu terkadang merasa tersindir jika melihat cara menantunya dalam mendidik sang cucu. Judith tidak pernah memberikan hadiah secara percuma untuk sang putra, selalu ada moment. Dean pun sangat menghormati ibunya. Awal kebersamaan Judith dan Dean tinggal bersama ibu Sekar memang tidak mudah, banyak teman terutama teman sosialita sang nenek yang selalu mengungkit masa lalu Judith sebagai wanita malam.


Satu hal lagi yang membuat ibu Sekar kagum dengan Judith, wanita muda itu berdiri dengan tegar dan menghadapi penghinaan itu dengan cuek, ia sama sekali tidak pernah menutupi atau berubah kalang kabut ketika dihina ataupun dipermalukan didepan umum. Sebaliknya Judith memberikan contoh padda putranya untuk menjadi manusia tegar tidak mempedulikan perkataan orang lain.


Ibu sekar sendiri tidak terima jika menantunya dihina, ia menghancurkan orang-orang yang menghina menantu dan cucunya dengan membuat bangkrut hingga tidak bisa bangun lagi.


***


Seminggu berlalu


Daffa datang bersama kedua orangtuanya ke persidangan. Desas desus Anggun 'sakit jiwa' semakin kencang. Ia tidak didampingi pengacara sama sekali. Tidak ada yang mau berdiri disamping Anggun untuk membelanya. Ibu Ningsih telah mendapatkan vonis 8 tahun penjara dan menghuni rutan terlebih dahulu. Nathan telah mengetahui kasus Anggun dari ibunya saat berkunjung. Ia hanya bisa diam karena berduka atas kepergian putrinya.


" Baik Sidang kasus perkara no xxx dengan terdakwa Nyonya Anggun Wijaya akan dimulai, harap sebelum dimulai diingatkan kepada hadirin untuk tidak mengaktifkan ponsel ataupun melakukan perekaman selama sidang " Kata Pak Hakim.


Semua mengangguk, Anggun duduk dikursi pesakitan sambil senyum-senyum. Dave sampai bergidik ngeri melihat tingkah Anggun yang demikian. Anggun hanya menjawab sekenanya saat ditanya hakim.


" Mommy, tante itu yang menculik Daffa dulu tapi kok dianya beda ya? sekarang lebih suka tersenyum padahal dulunya serem suruh sana sini " Celetuk Daffa sok polos dengan suara setengah berteriak untuk memastikan jika seluruh hadirin mendengar suaranya.


Anggun menengok, ia menyadari jika Elina sekeluarga ada dibelakangnya sedang menonton sidangnya. Amarahnya kembali memuncak melihat wajah Daffa tersenyum riang sambil memeluk Elina. Anggun berbalik hendak menerjang Elina dengan melewati bangku dan pembatas antara penonton dan terdakwa.


" Kubunuh kau! Kenapa kau masih saja hidup! Aku benci padamu! " Teriak Anggun histeris.

__ADS_1


Dave siaga melindungi anak dan istrinya. Petugas yang berdiri didekat pintu segera mengamankan Anggun. Amukan wanita kurus itu sangat mencengangkan mengingat tadi Anggun masih saja tersenyum-senyum. Sidang ditunda selama satu jam. Dave tidak mau mengambil resiko lagi meminta istri dan anaknya pulang lebih awal dengan supir. Dave menjadi saksi pertama hingga harus menunggu persidangan digelar kembali.


Daffa tertawa sepanjang jalan, Ia tahu jika kehadirannya tadi merusak akting 'gila' Anggun. Para Ahli akan melakukan pemeriksaan jiwa kembali.


" Jangan lakukan hal yang beresiko seperti itu Nak! " Tegur Elina.


" Mommy paling tahu deh, Daffa janji tidak akan begitu lagi kecuali terpaksa." Kata Daffa nyengir.


Elina menggelengkan kepala. Daffa telah merencanakan hal ini dari awal, sejak celetukannya dan provokasi yang dilakukannya, Daffa sengaja meminta wartawan yang telah dibayar untuk melakukan pekerjaan selanjutnya.


Sidang Anggun dilanjutkan kali ini dengan terdakwa yang selalu nampak gelisah. Daffa memang telah meninggalkan ruang sidang, namun anak itu telah mengatur situasi dimana Anggun mengingat Nathasa lewat situasi yang muncul dalam persidangan.


Sidang selesai dilanjutkan dengan pembacaan pembelaan dari Anggun minggu depan. Situasi semakin gaduh karena banyaknya wartawan. Dave langsung kembali ke rumah.


Elina menyambutnya dengan senyuman.


" Daffa dan Kiara ( Anak perempuan Dave-Elina  yang baru lahir) mana? "


" Sedang tidur siang" Jawab Elina.


Dave membaringkan kepalanya pada paha sang istri,


Elina hanya tersenyum saja sambil membelai kepala sang suami.


" Bagaimana dengan rencana kepindahan kita? Apa Daffa sudah diberitahu? " Tanya Dave.


Elina menggeleng, ia mengatakan akan memberitahu Daffa saat makan malam nanti. Mereka berencana untuk pindah ke kalimantan dua minggu depan. Elina mendapatkan projek dari organisasi kesehatan dunia untuk meneliti suatu penyakit dan sampelnya salah satunya disuatu daerah kalimantan. Rencananya mereka akan menetap di sana selama 2 tahun lamanya dan pindah ke daerah selanjutnya.


Dave ikut sebagai bagian dari penelitian itu. Dave memeluk manja sang istri. Rasa kangen melanda namun sayangnya ia masih harus 'puasa' karena Elina baru saja selesai melahirkan. Ia masih harus menunggu.


" Kita tidak akan sampai sidang Anggun selesai" Kata Dave.


" Yah biarkan saja, masih ada kak Edgard yang mengikuti. " Jawab Elina tersenyum.


Keduanya teralihkan dengan suara tangis Kiara yang bangun.


***

__ADS_1


Persidangan kedua dilalui dengan kericuhan karena membawa Silvia sebagai saksi sekaligus pembacaan pembelaan diri Anggun. Elina tidak lagi mengikuti persidangan. Ia dan keluarga telah sibuk berbenah untuk kepindahan mereka. Daffa senang akan mendapatkan lingkungan baru. Ia tidak betah dilingkungan dimana ia dikenali disana.


Menjelang kepindahan mereka mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan dirumah mereka. Elina mengadakan pesta BBQ sederhana ditaman belakang rumah. Semua larut dalam acara sederhana itu.


" Kau harus menelpon nenek ya sayang! Ingat! Tiap hari! " Kata Ibu Sekar pada Daffa.


" Siap nenek! " Jawab Daffa.


Ibu Sekar memeluk Daffa sambil mengusap airmata yang muncul dipelupuk matanya. Ia memberikan banyak hadiah untuk cucunya itu.



Daffa sampai menganga melihat banyak sekali tumpukan kado dari neneknya itu.


" Astaga nenek, Daffa ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi " Kata Daffa melihat tumpukan kado dengan warna dominan biru kesukaannya.


" Ulang tahunmu nenek akan mengirim kado lebih banyak! " Jawab Ibu Sekar.


Daffa tertawa sambil memeluk sang nenek. Daffa sekeluarga akan berangkat esok siang dengan jet pribadi keluarga Mathews. Rumah tempat tinggal mereka juga sudah disediakan. Dave dan Elina bisa sekalian bekerja dirumah sakit umum daerah yang ada disana.


" Kita akan memulai hidup baru ditempat yang baru, istriku sayang" Kata Dave sambil mengecup kening sang istri.


Elina memeluk pinggang sang suami sambil menatap ramainya suasana pesta BBQ.


 


***


BERSAMBUNG


 


Mulai episode depan, Nayya akan fokus pada kehidupan pasutri ini ( Elina dan Dave) :)  Nantinya bagaimana kehidupan baru yang akan mereka jalani dan juga apa yang akan dialami oleh Daffa.


Mood Nayya allhamdulillah semakin membaik meski tepar beberapa lama sampai tidak bisa mengetik. Ngidamnya berhasil diatasi semoga bisa kembali menulis tiap hari lagi, ammin.


Terima kasih selalu Nayya ucapkan pada para pembaca sekalian. Kalian semua selalu menjadi motivasi utama dalam menulis kisah ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2