
***
Kematian nenek Kumala langsung menyebar ke seluruh relasi bisnis keluarga Bumiwardoyo. Pak Wijaya langsung pulang dari luar negeri saat ditelepon asistennya.
Kesedihan nampak diwajahnya, sekeras apapun ibunya padanya semua adalah demi kebaikannya. Sebagai kepala keluarga baru ia harus memimpin keluarganya. Tampak sepasang lelaki dan perempuan muda berdiri disamping mendampingi Pak Wijaya.
Ibu Ningsih belum sempat menanyakan identitasnya tetapi banyak tamu yang harus dilayani. Wanita itu memilih menunda untuk bertanya.
" Siapkan kamar untuk mereka berdua " Kata Ibu Ningsih.
" Sudah Nyonya, Tuan telah meminta kami menyiapkan kamar tamu" Kata Pelayan.
Ibu Ningsih heran mengapa "asisten" suaminya ditempatkan dikamar tamu namun lagi-lagi ia belum sempat bertanya. Suaminya terlalu sibuk untuk ditanyai.
Anggun duduk mencoba membaur dan nampak sedih akibat kematian neneknya. Padahal dalam hatinya ia lega terlepas dari bayangan sang nenek yang seolah mengutuknya harus selalu bersama Embun.
Nathan juga langsung pulang ketika mendapatkan kabar duku tersebut. Sebagai menantu dari cucu satu-satunya tentu ketidakhadirannya akan menjadi sesuatu yang dipertanyakan.
Ayah dan Ibu Nathan juga datang memberikan penghormatan terakhir, kedatangan mereka menarik banyak perhatian mengingat Ayah Nathan adalah seorang wakil presiden. Ia diminta menyampaikan pidato sebagai perwakilan keluarga.
Semuanya tersihir sejenak dengan kharisma sang wakil presiden yang dengan hangat memberikan sambutan untuk pelayat mewakili sang besan.
Diakhir kata sang wakil presiden mengucapkan permintaan maaf atas sambutan yang kurang berkenan. Semuanya mengangguk-anggukan kepala.
***
Anggun memanfaatkan moment ini untuk dekat dengan sang suami, dengan berpura-pura terguncang dengan kepergian sang nenek, wanita itu mengurung diri dikamar. Nathan terketuk untuk menghibur sang istri.
" Jangan sedih, Nenekmu sudah tenang dialam sana " Kata Nathan menghibur.
Anggun memeluk suaminya, dengan aktingnya ia berhasil membuat Nathan bersimpati padanya. Ia terus saja memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya dibahu suaminya.
Nathan terbawa suasana, sudah lama sejak kejadian dipenginapan dengan Embun adalah terakhir kali dalam ingatannya melakukan hubungan dengan lawan jenis. Anggun pintar memanfaatkan situasi, membuat Nathan tidak menolaknya.
Ia terlarut dalam suasana yang diciptakan Anggun hingga malam ini keduanya melakukan seperti layaknya suami istri umumnya.
Anggun tersenyum penuh kemenangan saat melihat Nathan pulas dalam tidurnya,
"Embun, maafkan aku" Desis Nathan.
Anggun langsung badmood dan turun dari ranjang. Moment romantisnya hilang begitu saja gara-gara Nathan mengigau saat tidur.
" Bahkan disaat tidur saja kau menyebutkan namanya" Anggun mendengus kesal.
Anggun keluar dari kamar sekedar menghilangkan marahnya. Ia melihat Ayahnya sedang berbincang-bincang dengan dua asistennya diruang tengah.
" Ayah " Sapa Anggun datang merajuk dengan manjanya.
Kedua org itu jengah melihat tingkahnya itu langsung menjaga jarak dari Anggun dan ayahnya.
" Ada apa sayang?"
" Ayah, aku ingin mobil baru " kata Anggun.
__ADS_1
Ayahnya terlihat melirik dua orang didepannya, kedua org itu mengerti lalu pamit ke kamar mereka.
" Bukankah mobilmu belum sebulan? Kenapa harus ganti lagi?" Tanya pak Wijaya.
Anggun berbohong mengaku bosan padahal ia tidak ingin mobil itu lagi karena pernah memuat Embun dalam keadaan berdarah-darah.
Pak Wijaya mempertimbangkan namun akhirnya mengangguk,
" Terimakasih kasih ayah " kata Anggun
" Oh ya ada yang harus ditandatangani oleh putri ayah" kata pak Wijaya.
Anggun terlalu senang hingga tidak mempedulikan lagi apa yang ditandatanganinya.
Pak Wijaya tersenyum lega dan menyimpan berkas yang ditandatangani oleh Anggun itu.
***
Keesokan paginya semua kembali semula seperti tidak pernah terjadi apapun, keluarga ini sarapan pagi dengan menu istimewa dihidangkan dimeja.
Lagi-lagi Ibu Ningsih heran dengan tingkah kedua asisten suaminya, keduanya nampak ikut sarapan bersama padahal seharusnya mereka mengambil tempat lain untuk makan.
" Kenapa kalian ada disini?" tanya Ibu Ningsih.
" Sarapan lah..masa mau nyanyi disini " Jawab yang wanita dengan acuhnya.
" Tidak sopan! kalian hanya asisten..makan sana dengan pembantu! " Marah Anggun.
Nathan muncul melihat pertengkaran dimeja makan namun memilih untuk cuek. Ia harus berangkat keluar daerah melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Pria itu tidak bergeming, Anggun mendorongnya hingga hampir jatuh dari kursinya.
Pria muda itu menatap marah namun Anggun jauh lebih galak. Ia kemudian memutuskan untuk pindah.
Kedua asisten Pak Wijaya makan dengan wajah tidak senang sampai kemudian pak Wijaya datang duduk bersama mereka.
" Ayah suruh mereka pindah! aku tidak Sudi satu meja dengan pembantu ayah" Marah Anggun.
" Mereka bukan pembantu ayah" jawab Pak Wijaya tenang.
Nathan melirik mertuanya, entah mengapa Nathan menangkap kesamaan wajah antara pria muda tadi dengan wajah Anggun.
" Kami..." Gadis muda itu tidak jadi bicara, Pak Wijaya tengah menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
" Sebentar setelah sarapan kita bicarakan, sekarang tenanglah " kata pak Wijaya.
Semuanya diam, Ibu Ningsih merasakan ada sesuatu namun lagi-lagi ia memilih diam.
Nathan pamit setelah sarapan untuk mengejar pesawat.
Sisanya berkumpul diruangan tengah, Anggun tidak suka dengan kehadiran dua asisten ayahnya.
Pak Wijaya duduk,
__ADS_1
" Ini adalah Raka Bumiwardoyo dan Nikita Bumiwardoyo " kata Pak Wijaya.
Ibu Ningsih dan Anggun terkejut mendengar nama belakang kedua asisten ayahnya, bagaimana mungkin?.
Flashback on
Tahun ke 3 pernikahan Pak Wijaya, Ibunya (nenek Kumala) sudah mulai cerewet dengan kehadiran momongan dalam keluarga Bumiwardoyo.
Pak Wijaya dan Ibu Ningsih telah menjalani program kehamilan beberapa kali namun tidak ada hasilnya. Secara diam-diam Pak Wijaya memeriksakan dirinya karena takut sebenarnya jika ia yang bermasalah dalam memperoleh keturunan.
Hasil yang diperoleh dari tiga dokter spesialis kandungan diluar negeri menyatakan ia sangat sehat dan tidak mempunyai masalah dengan kesuburan.
Pada tahun ke Empat desakan punya anak semakin gencar, kandungan ibu Ningsih menunjukkan adanya masalah sehingga menyulitkan untuk pembuahan. Nenek Kumala semakin gencar meminta anaknya untuk menikah lagi.
Pak Wijaya memutar otak, ia bertemu dengan mantan kekasihnya. Keduanya terlibat cinta lama kembali bersemi sehingga memutuskan untuk diam-diam menikah.
Pernikahan ini diketahui oleh nenek Kumala, Pak Wijaya tidak menyembunyikan dari ibunya. Apalagi Istri kedua Wijaya hamil tidak lama berselang setelah pernikahan mereka. Anak itu bernama Raka Bumiwardoyo.
Sejak kelahiran putranya, Wijaya lebih fokus bersama Gayatri, istri keduanya. Pada ibu Ningsih ia beralasan sibuk bekerja agar bisa bersama dengan keluarga barunya.
Nenek Kumala semakin menekan ibu Ningsih agar dengan suka rela meminta cerai, sayangnya Ningsih sangat mencintai suaminya sehingga terus saja bertahan sehingga Nenek Kumala bertemu dengan sang paranormal tujuannya bukan untuk meminta anak tetapi untuk membuat Ningsih menerima anak hasil pernikahan Wijaya-Gayatri.
Paranormal memberikan jalan agar ibu Ningsih merestui pernikahan itu adalah dengan mengambil anak dari sebuah panti asuhan, tujuannya agar ibu Ningsih sadar jika harapannya untuk mempunyai anak sudah tidak ada dan menerima Niki (anak yang seharusnya diasuh, Niki sengaja disusupkan dalam panti) sayangnya malah Ibu Ningsih memilih Embun.
Ibu Kumala kembali meminta saran paranormal tersebut namun jawaban paranormal itu malah mengagetkan ibu Kumala.
" Anak itu membawa keberuntungan untuk kalian, salah satu keberuntungan yang ia punya adalah membuat menantumu memiliki keturunan, bukan cuma itu saja anak itu bukan anak sembarangan" Kata Sang paranormal.
Ibu Kumala berubah pikiran, ia akan memperoleh cucu sah sehingga wanita paruh baya tersebut menerima Embun.
Pada tahun ke sepuluh pernikahan, Ibu Ningsih berhasil melahirkan Anggun. Ibu Gayatri mengkhawatirkan status kedua anaknya namun tidak berani mendesak suaminya.
Apalagi mertuanya lebih memperhatikan Anggun dan mengalihkan seluruh saham dan properti Bumiwardoyo atas nama Anggun. Raka dan Nikita tidak mendapatkan apapun kecuali kehidupan yang sederhana.
Setelah meninggal secara otomatis semuanya menjadi milik Anggun tetapi hal ini hanya diketahui oleh Pak Wijaya sehingga ia meminta Anggun menandatangani surat yang menyatakan jika Raka dan Nikita akan mendapatkan bagian mereka sesuai dengan seharusnya.
Flashback off
Anggun dan Ibunya sangat terkejut. Nikita tersenyum sinis merasa akan menang. Selama ini ia merasa ketidakadilan karena ibunya hanya istri kedua.
Ibu Ningsih syok mengetahui pengkhianatan suaminya, kini pria yang dicintainya itu membawa anak hasil pernikahannya ke rumah. Diam-diam Ibu Ningsih menyesal sempat membenci mertuanya padahal sang mertua justru melindunginya dengan memberikan seluruh Aset ke tangan putrinya. Sayang penyesalan itu sudah terlambat.
" Kapan ibu bisa ke rumah ini ayah?" Tanya Nikita, Usianya hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari Anggun.
" Secepatnya!" Jawab Pak Wijaya seolah tidak peduli dengan perasaan ibu Ningsih dan Anggun.
" TIDAK! " Pekik Anggun berdiri.
Ia menolak ide Nikita.
Ibu Ningsih menatap tajam ke arah Raka dan Nikita tetapi kedua pemuda pemudi itu tidak terlihat takut sama sekali, malah tersenyum kemenangan.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG