
***
Daffa bersiul gembira, hari ini ia akan pindah ke kelas 4 dan yang membuatnya gembira adalah wali kelas 4 adalah guru favoritnya. Berkali-kali ia mematut diri dicermin berlatih mengenalkan diri.
" Putra Daddy tampan sekali" Kata Dave memuji.
" Masih lebih tampan Daddy, aku berangkat yah dad! nanti telat" Kata Daffa.
Dave melihat jam tangannya, ini masih terlalu pagi untuk terlambat ke sekolah.
" Sarapan dulu " Tegur Elina.
" Buru-buru Mom!" Kata Daffa langsung mencium tangan dan perut ibunya untuk pamit pada adiknya.
Elina menyisipkan bekal dan minuman pada tas sekolah Daffa. Anak itu terlalu gembira hari ini pindah kelas.
Daffa mengayuh sepeda dengan riang, suasana pagi masih segar tetapi sudah padat dengan kenderaan yang lalu lalang untuk mengantar anak ke sekolah. Anak itu sesekali menyapa penyapu jalan yang ditemuinya.
" Haduh gerimis" Keluh Daffa.
Ia menekan tombol yang ada disepedanya sehingga muncul semacam pelindung diri dari hujan. Sepeda Daffa kini terlindungi dari hujan.
Daffa bermaksud membeli cemilan kacang yang dijual nenek tua dipinggir jalan.
" Makasih nak!" Kata sang nenek kaget jualannya diborong Daffa.
Daffa tersenyum dan melanjutkan perjalanan, jarak rumah Daffa ke sekolah berjarak 5KM biasa ditempuh dalam 20Menit.
CHIIIIIT!
Bunyi rem berdecit,
Daffa terkejut melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya menangkap masuk dua orang anak kecil yang sedang bersepeda sepertinya menuju sekolah mereka.
" Hei! " Teriak Daffa melempar botol minuman yang terpasang disepedanya.
Lemparan itu mengenai kaca mobil
" Sial! Angkut dia juga! jangan sampai ada saksi!" kata gerombolan penculik.
Daffa sengaja membiarkan dirinya tertangkap dan masuk ke dalam mobil bersama dua anak yang sedang menangis ketakutan. Ia mengenali kedua anak yang diculik itu.
" Kak Dean? Karina? "
Kedua anak itu langsung terdiam menangis saat melihat Daffa. Mereka mengenali Daffa sebagai anak Elina bekas anak panti asuhan. Elina sering membawa Daffa bermain bersama mereka dengan tujuan agar Daffa tidak terlena dengan kemewahan yang didapatkannya terutama dari kakek dan neneknya.
" Kita akan dibawa kemana?" Tanya Karina masih menangis.
Daffa tidak bisa menggerakkan tangannya karena diikat, ponselnya ada dalam tasnya.
Sinyal darurat ditinggalkan disepedanya agar penjaganya tahu jika Daffa sedang dalam bahaya. Entah sudah berapa lama mereka disekap dalam mobil hingga tiba ditujuan disekap bersama anak yang lain dalam gudang yang telah di culik lebih dahulu.
" Aku lapar kak Dean" kata Karina
Daffa memeriksa tasnya, ada bekal dari ibunya dan langsung diberikan pada Karina. Karina kelihatannya memang kelaparan hingga dengan cepat menghabiskan bekal Daffa.
" Terimakasih" kata Karina.
Daffa sibuk memperhatikan situasi disekitarnya, ada sekitar 5 anak dalam gudang yang disekap sebelumnya. Tidak lama dua orang anak berwajah pucat dilempar begitu saja bergabung dengan mereka. Daffa memeriksa kondisi anak-anak yang didorong begitu saja dengan kasar. Rata-rata mereka mengalami trauma dan terdapat tanda-tanda bekas suntikan dibeberapa bagian tubuh.
Daffa meraih ponselnya,
" Tidak ada sinyal, sekarang tinggal berharap mereka segera mendapatkan sinyal bahaya dari sepedaku." Kata Daffa.
Ia teringat pesan Elina jika terjadi saat- saat darurat padanya misalnya penculikan atau kejahatan lainnya maka Daffa diajari untuk tenang dan melihat situasi. Dave keberatan jika putranya diajari hal itu.
" Terlalu dini lama-lama anak itu tidak akan percaya jika masih ada orang baik" Kata Dave.
" Daffa justru harus belajar sejak dini, kita tidak bisa melindunginya setiap waktu" Kata Elina.
Daffa mengangguk dengan ajaran ibunya, Daffa melihat sekitar tidak ada pintu ataupun jendela, hanya ada dua ekshause yang berputar sebagai pengganti kipas angin. Hanya dari situ udara berganti. Suasana diluar masih terang.
" Aku harus berpikir bagaimana cara melarikan diri." Kata Daffa.
Tiba-tiba pintu dibuka, seorang penjaga datang melempar tas plastik hitam, isinya ada makanan yang terbungkus kertas dan air mineral.
__ADS_1
Daffa mengambil dan berinisiatif membaginya. Terlintas ide dipikirannya. Ia mencari spidol warna yang tersimpan dalam tas.
" Kak Dean bisa akting sakit perut?" tanyanya antusias.
" Tidak tahu, tapi akan kucoba seperti ini? ukh, aduh..sakit" kata Dean memperlihatkan caranya memerankan adegan sakit perut.
" Bagus! tunggu sebentar biar meyakinkan " Daffa menambahkan bintik merah di badan Dean. Agar menyakinkan Daffa mencipratkan air memberi kesan keringat dingin
" Kenapa bukan mereka saja? tuh mereka lebih pucat " tanya Karina.
Daffa menengok dua anak yang ditunjuk tadi
" Mereka tidak bisa diajak kerjasama karena terlalu ketakutan, Ayo kak semua tergantung aktingmu sisanya serahkan padaku " Kata Daffa.
Dean mengangguk, Daffa menengok ke arah 5 anak yang masih sehat seperti mereka
" Jika kalian ingin kembali pada orangtua kalian maka ikut dengan kami, disini kita dalam bahaya mungkin bisa dibunuh" jelas Daffa membuat anak-anak itu bergidik ngeri.
Daffa menugaskan anak yang berbadan besar untuk memapah dua anak yang tengah diam dan memucat itu.
Anak itu menahan diri untuk tidak menekan tombol darurat dijam tangannya, Belum tiba saatnya tombol itu digunakan. Daffa berada dititik buta dengan penghalang sinyal yang kuat.
" Untuk sekarang kita makan dulu buat menambah tenaga" Suruh Daffa.
***
Dok ! Dok ! Dok!
" Tolong! Tolong! om! om! " teriak Daffa memulai aktingnya.
Karina bertugas menggedor pintu, Daffa berteriak sedangkan Dean berpura-pura kesakitan, sekujur tubuhnya basah dan dipenuhi bentol merah.
Tidak lama dua orang lelaki berbadan tegap datang melihat situasi.
" Celaka! apa yang terjadi?" " Tanya salah satu pria itu.
" Tidak tau om! habis makan itu jadi begini" Kata Daffa pura-pura bingung.
" Bos pasti memarahi kita, mungkin alergi! belikan obat alergi ce- Pat!"
BRUK!
BRUK!
Dua pria tadi tumbang dalam sedetik kemudian.
Semua menatap Daffa, bagaimana cara Daffa membuat dua orang pria itu pingsan. Diam-diam Daffa menembakkan jarum kecil yang ada dijam tangannya (inspirasi dari detektif Conan kesayangannya hingga Daffa meminta dibuatkan jam serupa)
Daffa mengajak anak- anak itu kabur. Gudang itu hanya dijaga dua orang tadi, Daffa memantau menggunakan Maps kecil yang tampil dari jam tangan lalu mencari jalan keluar.
" Ayo lewat sini, kita harus cepat! Tidak tau kapan mereka akan kembali!" kata Daffa.
Semuanya ikut dibelakang anak itu. Suasana gudang sangat sunyi, entah ada dimana mereka sekarang. Daffa melihat jam tangannya yang mulai berkurang baterainya. Sinyal belum bisa didapatkan. Pelarian anak-anak berseragam sekolah berbeda-beda itu banyak halangan.
Fisik mereka sangat terbatas, mereka mencari tempat tersembunyi untuk beristirahat. Semuanya masih dalam suasana ketakutan.
" Akh ketemu! " Seru Daffa gembira.
Jam tangannya menemukan sinyal ponsel dan segera ia menekan tombol darurat jam. Tetapi hanya sesaat karena baterai jam habis, jam tangan pun mati.
Daffa mengeluh, ia harus memikirkan cara untuk lari. Hari mulai gelap. Tidak ada yang tahu jalan.
Ia memeriksa tasnya, dirinya masih memiliki ponsel. namun sinyal masih bermasalah, tampaknya tempat itu memang sengaja dipilih oleh penjahat itu karena kondisi lokasi yang merupakan titik buta dari sinyal operator.
" Sekarang apa yang harus kita lakukan? ini ada dimana?" tanya Dean mulai panik.
Anak-anak lain sudah mulai menangis.
" Jangan buat suara! kita bisa ketahuan!" kata Daffa.
Semuanya terdiam, tidak ada yang mau ditangkap lagi.
***
Dave berlari tergesa-gesa dari rumah sakit ketika mendapat pemberitahuan Daffa menjadi korban penculikan, menurut saksi di lokasi seorang penyapu jalan jika Daffa dibawa bersama dua anak.
__ADS_1
Elina cemas hingga merasakan kontraksi diperutnya. Semuanya waspada, koordinat Daffa tidak bisa ditemukan di manapun.
" Bagaimana ini suamiku?" Elina akan menangis.
Kepala pengawal Daffa tampak sibuk menerima telepon,
" Kemungkinan Daffa berada dititik buta yang tidak dijangkau sinyal ponsel, Lokasi diperkirakan ada 3 titik, semua Tim dibagi tiga untuk menolongnya."
" Sebaiknya cepat! " kata Dave emosi.
Bruk! Pintu rumah Elina dibanting oleh seseorang. Tak lama muncul ibu Sekar langsung menampar kepala pengawal dengan wajah marah.
" Ini sudah kedua kalinya kau lalai, setelah Daffa ditemukan serahkan surat pengunduran dirimu!" Sembur wanita paruh baya itu sangat emosi.
Kepala pengawal menunduk lalu mengangguk. Sebagai orang yang ditugaskan untuk menjaga Daffa dirinya ikut merasa bertanggungjawab atas apa yang dialami Daffa.
" Baik" katanya patuh.
Ekspresi wajah ibu Sekar berganti cemas dan ketakutan. Apa yang akan menimpa cucunya?
Edgard juga datang sejam kemudian dengan wajah panik.
" Bagaimana ? sudah ada kabar?" tanya Edgard.
Elina dan Dave menggelengkan kepalanya.
" Ketemu! Tuan muda mengirimkan sinyal darurat !" Kata kepala pengawal.
Seluruh tim dikerahkan menuju lokasi terakhir Daffa mengirimkan sinyal darurat. Sayangnya agak sulit melacak area yang tidak memiliki sinyal. Dua orang pingsan digudang ditemukan dan diintrogasi sebelum polisi datang bertindak. Pengawal pribadi keluarga Mathews yang menemukan orang-orang itu sebelum Intel polisi yang ditugaskan menjaga Daffa datang.
Polisi memutuskan untuk menyisir lokasi untuk mencari pelaku yang diduga bersembunyi.
" Sudah 2kilo dari lokasi anak-anak itu belum juga ditemukan, semoga saja mereka masih bersembunyi dan tidak ditemukan oleh penjahat" kata Polisi.
Dave dan Edgard ikut dalam pencarian. Elina dirumah didampingi oleh Ibu Sekar mengingat kondisinya yang tengah hamil tua.
" Lindungi putraku ya Tuhan" Doa Elina berulang ulang.
***
Daffa menggigil kedinginan, begitu pula anak-anak yang lain. Suasana kian mencekam tidak ada yang berani keluar dari persembunyiannya.
Dut! Ditengah ketegangan Dean malah tidak sengaja kentut.
" Maaf " Kata Dean tertawa kikuk.
Semua menatap Dean dengan wajah kusut, persembunyian sudah pengap ditambah harus menghirup kentut.
" Akh aku tidak tahan" Kata salah satu anak memutuskan untuk keluar.
anak itu diikuti yang lain. Mereka mencari udara segar.
" Apa kita harus bersembunyi disini terus?" tanya Karina.
Salah satu anak yang pucat tadi tiba-tiba pingsan.
" Aduh, pake pingsan lagi!" Keluh Daffa.
Sepintar apapun Daffa, dia baru berusia 6 tahun. Secara teori anak itu telah hapal puluhan buku namun dalam segi praktek, Daffa masih belum berpengalaman hanya berdasarkan imajinasi kartun yang sering dilihatnya.
Daffa terpaksa memimpin rombongan untuk melanjutkan perjalanan, sambil mengendap-endap semuanya berjalan perlahan mencari tempat yang aman.
Tring! Telolet!
Ponsel Daffa berbunyi mengagetkan semuanya. Daffa gembira mereka telah tiba diarea yang bersinyal.
Baru saja akan mengambil ponselnya secara tiba-tiba mereka telah dikepung oleh sejumlah orang yang tidak dikenal dengan mengarahkan senter ke arah wajah anak-anak itu.
" Ketemu!" seru salah satu pria itu dengan gembira.
Daffa dan anak-anak itu panik hanya bisa membeku saja dikepung oleh sekelompok orang yang tidak dikenal itu.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1