
***
Dave dan Elina buru-buru ke UGD saat dihubungi oleh pengawal anaknya. Daffa segera dilarikan ke rumah sakit oleh pengawalnya yang menyamar menjadi oarng biasa disekitar kejadian.
Wajah Elina sangat puat saat mengetahui putranya mengalami kecelakaan. Alangkah leganya mereka saat mendapati putranya baik-baik saja walaupun terdapat lecet dibeberapa bagian. untungnya Daffa menggunakan peralatan standar perlindungan diri hingga kecelakaan parah berhasil terhindarkan. Pada saat ditabrak, Daffa menggunakan Airbag Hoving yang terpasang dilehernya sehingga melindungi kepalanya dari benturan.
Airbag Hivung sendiri memiliki sensor membaca pola pengendara sepeda 200 kali per detik, sehingga kemungkinan penyebarannya secara kebetulan sangat kecil. Airbag dilengkapi dengan konektivitas Bluetooth dan sekarang dapat menghubungi nomor darurat atau kontak yang dipilih jika terjadi kecelakaan. Hanya dengan memasangkannya dengan smartphone dan menggunakan aplikasi khusus, pengendara dapat memonitor rute di mana kecelakaan terjadi (dan melaporkannya sendiri).
Daffa tersenyum melihat kedua orangtuanya,
" Aku baik-baik saja Mom" Katanya sambil memeluk ibunya.
Elina tidak sanggup membayangkan jika terjadi sesuatu dengan putranya. Ibu Sekar juga datang terburu-buru meninggalkan rapatnya karena mendapat pemberitahuan dari asistennya jika Daffa sedang berada di UGD.
" Cucuku, syukurlah kau baik-baik saja! Nenek hampir mati berdiri mendengar kau di UGD, bagaimana bisa seperti ini? " Tanya Ibu Sekar langsung gantian memeluk Daffa. Ia memeriksa "cucunya" itu dengan seksama.
Dave membaca hasil pemeriksaan putranya.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Daffa tidak mengalami luka dalam"
" Siapa yang berani melakukan hal ini? " Tanya Ibu Sekar marah.
Dave dan Elina mengatakan jika informasi yang ada jika ada mobil hitam jenis SUV melaju dengan kecepatan tinggi menabrak semua yang ada disekitarnya. Ibu Sekar memerintahkan asistennya untuk menyelidiki dan memarahi kepala pengawal Daffa karena lalai menjaga cucunya.
" Ini tidak akan terjadi lagi !" Kata kepala pengawal itu menunduk.
" Bagus! kalau tidak bahkan nyawamu tidak kan bisa menggantikannya! " Kata Ibu Sekar.
Ia mengajak Daffa menginap dirumahnya dan membatalkan semua acaranya selama beberapa hari ke depan. Elina dan Dave menggeleng-gelengkan kepala, Ibu Sekar sangat memanjakan Daffa.
" Di Singapura ada ayah ibu ( Orangtua Elina) dan di Amerika ada Mommy dan Daddy ( Orangtua Dave), disini (Indonesia) ada Nyonya Sekar, Nampaknya Daffa akan mempunyai nenek yang melindunginya bahkan dari kita " Kata Dave dengan nada cemburu.
" Jangan cemburu Daddy, aku tetap sayang Daddy kok! " Kata Daffa.
Dave tersenyum kecut, kadang sifat keduanya terbalik. Dave terlihat anak-anak dan Daffa terlihat dewasa.
(Ilustrasi airbag Hovding 3 sendiri dapat mengembang dalam 0,1 detik dari sensor saat mendeteksi gerakan abnormal. Seperti bisa dilihat pada gambar, karet yang mengembang akan membentuk pola layaknya sebuah helm yang mengelilingi leher dan kepala dalam airbag pelindung hanya saja lebih lembut karena ini adalah karet yang mengembang)
***
Nathan mendapatkan teguran keras via telepon dari kepala BIN karena lalai menempatkan anak buah yang tidak kompoten untuk menjaga anak kecil.
Nathan terkejut mendengar Daffa kecelakaan. Ia khawatir bukan karena ditegur melainkan ingin segera mengetahui kondisi putranya. Sayangnya Daffa telah keluar dari UGD dan dirawat dirumah ibu Sekar dengan pengawasan penuh. Siapapun tidak bisa menemuinya.
Ibu Sekar berencana membawa Daffa ikut dengannya ke Jerman karena disana ia akan menandatangani kontrak bisnis alat kesehatan. Daffa kebetulan menyukai negara itu karena pesepak bola andalannya berasal dari negera itu. Ibu Sekar menjanjikan akan membuat pesepak bola kesayangan Daffa itu bertemu secara langsung dengan sang cucu.
Elina dan Dave tidak bisa melarang hanya berpesan untuk berhati-hati.
__ADS_1
" Kalian bisa tenang jika cucuku bersamaku "Kata Ibu Sekar.
Elina tahu jika ibu Sekar tidak menyukai Daffa dididik menjadi anak biasa. Menurut ibu Sekar bakat Daffa harus diasah sesuai dengan kemampuannya sejak dini. Elina harus belajar menerima jika anaknya jenius. Dave setuju dengan Ibu Sekar namun tidak berani membuat Elina sedih.
Kedua orangtua dari Elina dan Dave pun mempunyai pandangan yang berbeda, satu pihak mereka menginginkan cucu yang manis dan imut sedang disisi lain menginginkan cucu cerdas dan berprestasi.
Nathan seperti kehilangan akal mencari disetiap ruangan rumah sakit dan mendapati jika anak yang ia cari telah pulang. Ia berjalan dengan lunglai menyusuri koridor rumah sakit sampai akhirnya berpapasan dengan sosok yang ia cari selama ini.
EMBUN!
Elina ( Embun ) Baru saja keluar dari sebuah ruangan sepupunya. Dave sedang berkonsultasi membahas mengenai Daffa dalam ruangan. Wanita itu memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Kini keduanya berhadapan, bertatapan beberapa detik.
[" Kau bertambah cantik, sayangku"] Kata Nathan dalam hatinya.
Embun yang ada didepannya tidak lagi bermata palsu, tidak ada lagi bekas luka yang tertinggal ditubuhnya. Elina mencoba menahan perasaannya, sekian lama tidak bertemu dengan Nathan hatinya tetap saja berdetak saat melihatnya kembali. Perasaannya lebih ke arah takut bukan lagi cinta.
" Kita bisa bicara? " Tanya Nathan.
Elina mengangguk menunjuk bangku tempat duduk dikoridor yang biasa digunakan untuk beristrahat sejenak.
Nathan memperhatikan wanita yang dicintainya itu dengan tatapan kasih, matanya membulat melihat perut sang mantan tengah mengandung anak dari pria lain. Elina duduk dan memberi jarak antaranya dengan Nathan.
" Embun" Panggil Nathan.
" Aku Elina, Embun bukan namaku" Kata Elina tegas.
" Kenapa kau tidak mengatakan jika kau hamil saat itu? Kenapa kau memilih untuk menghindar dariku? " Tanya Nathan tanpa basa basi jika tidak mengatakannya sekarang kemungkinan bertemu bisa jadi tidak mungkin lagi.
Nathan kehilangan kata-kata yang telah disusunnya sebelum bertemu dengan Embun. Elina berdiri, Nathan langsung menahan lengannya, tidak lama Dave keluar dari ruangan langsung mencari istrinya.
Dave tidak menyembunyikan emosi diwajahnya, secara defensif ia membelakangi sang istri.
" Dia mau apa? " Tanyanya melirik Elina.
Nathan melepaskan tangannya, Dave teralih pada telepon yang masuk. Ia mengangkat sambil menatap Nathan dengan tajam.
" Penabrak teridentifikasi suruhan Ningsih Bumiwardoyo, ia sakit hati atas nama cucu satu-satunya Nathasa Wijaya, ada perselisihan kecil antara Daffa dan cucu wanita itu" Kata penelpon menjelaskan pada Dave.
Bak gunung merapi, emosi Dave langsung meluap memukul Nathan tanpa ampun tidak peduli ia langsung dihampiri para ajudannya Nathan.
" Damn! Kubunuh kau! " Marah Dave masih juga mencoba menyarangkan pukulannya pada Nathan.
Para Ajudan kewalahan dengan ledakan emosi Dave, Elina hanya melihat dengan tatapan cemas tidak mengerti asal muasal amukan sang suami.
" Jika kau dan keluargamu berani sekali lagi mencoba melukai putraku, seujung kuku saja! Aku bersumpah akan membuat kalian hidup segan mati pun tak mau! " Ancamnya.
Lelaki itu tidak peduli jika ia menjadi tontonan dan objek video orang disekitarnya. Bagaimana tidak, seorang dokter mengamuk memukuli gubenur Jakarta. Ini jelas menghebohkan!
Dengan segera rekaman video langsung menjadi viral dimana-mana, menjadi topik panas. Kediaman Bumiwardoyo heboh mengetahui Nathan dipukuli oleh orang tua Daffa.
Ibu Ningsih tidak dapat menghubungi orang suruhannya, ponsel tidak aktif. Wanita tua ini tidak mengetahui jika orang-orang suruhan telah tertangkap oleh penjaga Daffa. Mereka semua dalam keadaan memprihatikan. Dave datang memotong satu-satu semua tangan orang suruhan Ibu Ningsih.
__ADS_1
" Kumpulkan dan kirim pada Ningsih Bumiwardoyo! Beri peringatan pada wanita tua itu! " Kata Dave dingin.
Sebagai dokter, ia terbiasa dengan darah dan potongan--potongan tubuh manusia. Pengawal Dave mengangguk dan menyiapkan semua sesuai permintaan majikannya.
***
Ningsih begitu terkejut menerima paket yang terasa dingin dan basah. Alangkah terkejutnya ia saat membaca peringatan yang tertempel pada paket itu.
" INI HANYA PERINGATAN! JIKA KAU BERANI MACAM-MACAM CUCUMU AKAN SEPERTI KIRIMAN PAKET INI!"
Ibu Ningsih terkejut saat membuka paket, sebuah potongan tangan terjatuh mengenai kakinya.
KYAAA!!!
Tidak lama ibu Ningsih terkulai pingsan disamping paket itu. Para pelayan berlarian menolong dan menyingkirkan paket yang tidak lazim itu. Anggun terkejut mengetahui ibunya pingsan karena teror langsung pulang ke rumah.
Ibu Ningsih langsung menjerit histeris begitu siuman. Anggun mencoba menenangkan. Ia mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ibu Ningsih masih syok tidak bisa bicara dengan benar.
Sebuah mobil terparkir buru-buru, Nathan keluar dari mobil. Tidak sulit untuknya mengetahui mengapa Dave mengamuk hebat dirumah sakit.
Informasi yang ia dapatkan jika Ibu Ningsih mencoba menyakiti Daffa, putranya. Namun Nathan menduga ini adalah ulah Anggun karena tidak ada yang mengetahui status Daffa selain dirinya dan wanita itu.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Anggun, tamparan itu meninggalkan bekas merah keunguan dipipi wanita itu.
" Daddy!! " Jerit Nathasa terkejut melihat ibunya dikasari.
" Beraninya kau menyakiti putraku! ini hanya tamparan peringatan, jika kau mengulangi perbuatanmu maka akan kupastikan akan membunuhmu! " Maki Nathan.
Anggun menatap tajam, sosok pria kasar didepannya tidak lagi peduli siapa yang salah ataupun benar.
" Apa maksudnya? " Tanya Ibu Ningsih tidak mengerti.
Nathasa menangis didekat Anggun.
" Bagus! Sejak kau tahu dia putramu maka kau lupa dengan putrimu! " Anggun sinis mengejek.
" Tidak ada yang memintamu melahirkan putrimu yang cacat ini! aku tidak akan tinggal diam kau menyakiti putraku!" Kata Nathan pergi menghancurkan apapun yang dilewatinya.
Ibu Ningsih kebingungan, Anggun memberitahukan jika Daffa adalah putra Embun, anak kandung Nathan.
" Embun tidak meninggal, ia masih bisa selamat dan melahirkan seorang putra" Jelas Anggun.
Nathasa mencoba mencerna perkataan ibunya dengan nalarnya. Yang dapat ia tangkap ternyata ayahnya mempunyai anak lain selain dirinya.
" Momm" Nathasa membelai pipi Anggun.
Wanita itu tersenyum menatap putrinya, ia harus kuat demi putri kecilnya ini.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG