
***
Tatia tampak termenung disofa empuk berwarna abu-abu, ia melewatkan semua perkataan Arga sang pacar. Arga baru saja tiba dari Jakarta setelah melakukan perjalanan bisnis.
" Yank? kamu kenapa? kok ga fokus gitu? " Tanya Arga.
Tatia sedikit kaget namun berusaha menutupi rasa kagetnya. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya, Arga malah mendekati.
" Kamu kenapa sich yank? aku kangen banget 🥺🥺🥺" Kata Arga dengan nada manja.
Pria itu membenamkan wajahnya ke leher sang pacar. Tatia menolak dengan halus.
" Jangan sekarang " Tolak Tatia.
" Jangan ditolak dong! sudah lama kita tidak melakukannya, ayolah " Desak Arga.
Tatia mendengus secara tiba-tiba dalam pikirannya terbayang wajah Dave. Senyuman dokter Dave langsung menghiasi ingatannya hingga tubuhnya merileks.
Arga dan Tatia berpindah ke kamar Arga. Rumah itu sunyi sangat mendukung keduanya melakukan kegiatan panas mereka. Arga memang terkenal gonta ganti pasangan setiap kali keluar daerah namun hanya sebatas bersenang senang saja, pemuda itu tidak pernah sampai ranjang, hanya bersama Tatia saja Arga hingga melewati batas.
Disaat tengah penyatuan dirinya, Tatia tersentak kaget tubuhnya memberontak.
" Apa yang kamu lakukan? Stop !" Kata Tatia.
Arga terkekeh menyeringai tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa peduli pemberontakan yang dilakukan Tatia. Ia melepaskan semuanya hingga ke dalam rahim Tatia.
" Aagh.." Arga berbaring puas.
Tatia langsung bangkit,
" Harusnya kau tidak melakukan itu! " Marah Tatia.
" Tidak apa-apa Yank! sesekali ga pake pengaman juga tidak masalah" Kata Arga cuek.
Tatia kesal dengan tanggapan Arga. Ia tidak siap jika harus hamil sekarang. Tatia hendak berdiri,
" Mau kemana?" Tanya Arga menahan tubuh Tatia.
" Kamar mandi " Jawab Tatia singkat.
Arga malah mengencangkan pegangannya.
" Lepas!"
" Memang kenapa kalau hamil? kali ini aku akan menjaga calon anakku dengan baik " Kata Arga secara tiba-tiba emosi.
Tatia ternganga, bagaimana Arga bisa tahu jika ia pernah sempat hamil dan menggugurkan kandungannya yang saat itu masih berusia 4 Minggu.
" Aku tidak mau !" Jerit Tatia.
Arga gelap mata, ia kembali memaksa Tatia untuk mengulangi olahraga panas mereka. Orang suruhan Arga telah menemukan bukti bahwa Tatia pernah menggugurkan kandungannya, Arga lebih emosi saat mengetahui orang suruhannya melaporkan jika Tatia "terlihat" menyukai seorang dokter muda yang baru saja bekerja dirumah sakit paman Tatia.
__ADS_1
Arga tidak lantas marah atau bertanya pada Tatia, Ia memilih menyelesaikan dengan caranya. Pemuda ini sadar jika ia kurang memberikan perhatian pada sang kekasih karena sejauh ini kekasihnya tidak pernah protes ataupun cemburu tentang dirinya yang suka Gonta ganti wanita. Bukan berarti Arga tidak mencintai Tatia, Arga sangat menyayangi kekasih nya itu bahkan cenderung posesif.
Tatia tidak bisa melawan tenaga Arga hingga hanya bisa membiarkan Arga melakukan apapun keinginannya.
Menjelang pukul 20.00, Arga mengajak Tatia keluar untuk makan malam.
Keduanya berboncengan dimotor, alangkah terkejutnya secara tiba-tiba Tatia melompat dari motor.
" Tatia!"
Arga terkejut segera mengerem mendadak, Ia turun dari motor dan segera mendekati sang kekasih yang berjarak 30meter darinya. Namun Tatia langsung melarikan diri dengan naik ojek yang kebetulan lewat.
Arga tidak dapat mengejarnya, Ojek itu langsung membawa Tatia menghilang diujung jalan.
" Sial!" Maki Arga.
Arga kesal memaki-maki dirinya lalu menelpon seseorang untuk mencari tau kemana Tatia.
" Temukan Tatia secepatnya!" Suruhnya.
Arga kembali ke rumah dengan emosi.
***
" Neng ga papa kan?" Tanya tukang ojek agak khawatir.
Penumpang yang diboncengnya ini terlihat luka lecet dibeberapa tempat.
Tukang ojek terdiam, ia mengantar Tatia ke sebuah rumah. Hanya rumah ini yang diingatnya saat menyebutkan alamat pada tukang ojek. Tatia berjalan agak terseok-seok pincang. Kakinya terkilir tadi akibat melompat dari motor.
Dirinya disambut oleh seorang gadis muda didepan pintu. Tatia tersenyum, tubuhnya sudah sangat lelah hingga akhirnya jatuh pingsan.
***
" Ada apa Sanja?" Tanya Dave muncul saat Sanja berteriak.
Dave terkejut bukan main mendapati Sanja sedang memeluk tubuh Tatia yang tengah pingsan. Dengan segera ia menggendongnya ke ruang tamu.
Keningnya berkerut melihat luka yang ada ditubuh Tatia dan sepintas ia melihat bekas kissmark di leher gadis itu namun Dave tidak mau berpikiran negatif dulu. Ia harus menunggu Tatia sadar dan menanyakan apa yang tengah terjadi.
" Bawa dia ke kamar tamu dan ganti pakaiannya" Suruh Dave.
Sanja dan Ibunya ( Tidak lama datang setelah Dave saat mendengar teriakan Sanja), kedua ibu dan anak itu mengurus Tatia dikamar tamu setelah itu Ibu Danum melaporkan apa ya g ditemukan pada tubuh Tatia. Dave hanya mengangguk saja.
" Sebaiknya malam ini ibu dan Sanja tidur bersamanya, jangan biarkan dia sendirian " Kata Dave.
Dave menjawab telepon dan menceritakan secara singkat apa yang terjadi. Elina mengangguk saja.
" Pamannya harus tahu hal ini " Kata Elina.
" Entahlah, kalau dia mau pamannya tahu mungkin dia akan langsung pulang ke rumahnya bukan ke sini, aku akan menanyainya esok" Kata Dave.
__ADS_1
" Fellingku tidak enak " Kata Elina.
Dave tersenyum, " jangan cemas, pikirkan saja Daffa dan Kiara " Kata Dave.
Elina mengangguk walau wajahnya masih sedikit cemas. Sebagai seorang perempuan ia merasakan firasat tidak enak namun dirinya hanya bisa berdoa agar tidak terjadi sesuatu.
***
Tiara agak kecewa saat bangun pagi, tadinya ia mengira Dave akan sedikit lebih perhatian padanya. Sayangnya saat bangun, Dave telah berangkat ke rumah sakit. Gadis ini hanya menemukan Sanja dan ibunya yang tengah sibuk memasak di dapur.
" Dokter Dave kemana?" Tanya Tatia.
" Pak Dokter ke rumah sakit " Jawab Sanja.
Ibu Danum mempersilahkan Tatia untuk duduk, Luka ditubuh Tatia telah diobati semalam, Ibu Danum dan Sanja memilih untuk tidak bertanya hal yang terjadi pada Tatia. Mereka menduga hal yang buruk telah terjadi pada Gadis itu, apalagi sekujur tubuh Tatia ternyata tidak hanya ditemukan luka lecet, ada bekas kissmark bertaburan di mana mana.
Dengan sabar Tatia menunggu Dave pulang ke rumah dan menyambut nya datang. Hal ini membuat Sanja dan ibunya risih. Tatia menyambut seolah yang datang adalah kekasih nya.
Dave menatap dingin saja sambil menolak kontak fisik. Dirumah sakit tadi, Dave sedikit heran karena paman Tatia tidak khawatir sama sekali gadis itu tidak pulang semalaman.
" Dokter mau makan apa?" Tanya Tatia.
" Aku sudah makan, kalian duluan saja masih ada yang harus dikerjakan " Kata Dave langsung naik ke atas.
Dilantai dua hanya ada kamar Dave Elina dan Daffa. Ibu Danum dan Sanja akan naik ke atas membersihkan kamar atas saat pemiliknya tidak berada dikamar saja. Pak Rumbun minta izin beberapa hari untuk menengok cucunya diluar kota.
" Ayo kak kita makan " Ajak Sanja.
Tatia kesal apalagi seharian Dave tidak pernah turun dari kamarnya. Pria itu sibuk terkadang keluar kamar sambil membawa ponselnya menelpon ria sambil tertawa.
" Dokter tidak makan?" Tanya Tatia memberanikan diri.
Dave hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab,
" Bagaimana kondisimu?" Tanya Dave.
Tatia langsung melambung saat mendapat pertanyaan itu.
" Lebih baik " Jawab Tatia tersenyum manis.
" Bagus, setelah lukamu sembuh kau bisa pulang" Kata Dave langsung membuat Tatia seperti terjungkal jatuh.
[" Sial! susah sekali mendapatkan simpati dokter Dave"] gerutu Tatia dalam hati.
Dave pergi naik mobil pamit kembali ke rumah sakit. Tatia semakin bingung mencari cara mendekati pria itu.
[" Sepertinya aku harus nekat, pria normal mana yang tidak tergoda jika ada wanita yang menyerahkan dirinya"]
Tatia masuk ke kamarnya. Dave tadi pamit pada Ibu Danum jika malam ini dia tidak akan pulang karena piket di UGD.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG