Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Mantan Gubernur


__ADS_3

***


Tak ada orang istimewa di penjara, karena mereka hanyalah narapidana. Walau pernah jadi pejabat, tetap saja statusnya penjahat.


Najwa Shihab


***


Nathan termenung dalam sel tahanan, ia sangat merindukan Nikita dan anak-anaknya. Lelaki ini ingin sekali dijenguk oleh orang-orang yang dikasihinya.


Berita ibunya masuk keluar rumah sakit membuatnya turut merasa bersalah. Tidak ada pilihan yang bisa dipikirkannya selain menjadi kambing hitam pengganti Anggun. Ia mengakui jika dirinyalah yang menyuruh Anggun untuk membuang Embu saat itu. Anggun terpaksa melakukannya hal itu karena Nathan menjanjikan pernikahan padanya.


" Maafkan aku ibu, ini kulakukan demi Natasha" Kata Nathan melamun didepan jeruji besi.


Stephan dan keluarganya memilih membawa kedua orangtuanya ke rumahnya. Kakek nenek itu dihibur oleh cucu-cucunya. Ibu Widya jadi membenci Nathasa karena peristiwa itu.


" Nenek dan kakek disini saja soalnya ayah sering sekali pergi, kalau tidak ada ayah tidak ada Ibu sangat galak" Kata Raya.


" Ibumu galak karena kebaikan kalian, dia tidak akan marah kalau tidak peduli pada kalian" Jawab Kakek Wijaya.


Sosok ayah Stephan dan Nathan sangat tenang, hal ini dulunya membuat lawan politiknya gentar. Tidak ada yang bisa membaca pikiran lelaki tua itu. Setelah selesai masa jabatan wakil presiden, beliau memilih pensiun dan menikmati masa tuanya bersama anak dan cucu.


Nathan yang sudah dipersiapkan oleh tim ayahnya berhasil menduduki posisi gubernur Jakarta. Sayangnya Nathan tersandung kasus kriminal yang menjadikannya tersangka.


" Ayah, ibu , mari kita ke ruang makan" Ajak Silvia dengan sopan.


Silvia memilih tidak bekerja setelah lulus kuliah, ia dulunya adalah mahasiswa Stephan. Mereka menikah setelah Silvia lulus dan wanita itu menjalani kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Stephan tidak mengizinkannya bekerja, lelaki itu pernah memutuskan tunangannya ( wanita yang dipilihkan ibunya) karena sang tunangan tetap keras kepala akan bekerja setelah menikah.


" Aku bahagia ketika kembali ke rumah disambut wajah gembira istriku bukan wajah lelahnya karena turut bekerja membantuku mencari nafkah" Kata Stephan saat masih menjadi kekasih Silvia.


Untungnya Silvia adalah wanita patuh, ia menerima permintaan sang suami. Kehidupan mereka sangat harmonis walaupun belum memiliki momongan hingga tahun ke 6 pernikahan mereka.


" Ibu Ingin menjenguk Nathan" Kata Ibu Widya saat memulai makan malamnya.


" Ibu bisa kesana kalau sudah sehat " Jawab Silvia


" Ibu sudah sehat kok! " Jawab Ibu Widya keras kepala.


" Tunggu Ayah Radhi kembali dari luar kota ya Bu, biar nanti diantar bersama-sama " Kata Silvia masih membujuk.

__ADS_1


Ayah Nathan juga turut membenarkan menantunya. Ibu Widya hanya bisa menurut saja. Silvia meminta anak-anaknya untuk menghibur nenek mereka.


***


Suasana penjara terasa berisik, para narapidana sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang mengobrol mengenai masa lalu mereka bahkan ada yang saling membanggakan 'prestasi' mereka dalam kejahatan. Nathan tersenyum melihat kegembiraan yang muncul dari hal yang sederhana bahkan berbagi rokok saja sudah membuat persahabatan semakin erat.


" Pak Gubernur kita ini masih suka melamun, hahaha...tenang pak gub! kalau sudah terbiasa pasti akan betah juga" Ejek salah satu Napi, ia terlibat kasus pencucian uang.


Semuanya tertawa mendengar ejekan itu, Nathan tidak lagi sakit hati mendengar suara sumbang mengenai dirinya. Kebanyakan Napi memanggilnya dengan sebutan pak Gub sebagai bahan olokan.


Sebagai pendatang baru, Nathan juga merasakan situasi adaptasi sejenis ospek, paling ringan membersihkan kamar mandi. Ia juga sering dimintai uang oleh napi senior kadang juga mendapat intimidasi dari napi lain karena kasus asusila yang dilakukannya.


Nathan merindukan orang-orang terkasihnya, dalam dingin lantai penjara ia baru sadar jika dirinya telah banyak melakukan hal yang sia-sia.


" Kalian sedang apa" katanya meratap melihat langit malam.


Nathan baru 13 hari dipenjara namun rasanya seperti 3 tahun, komunikasi dengan dunia luar terputus. Keluarga Wijaya melakukan banding atas hukuman yang diterima Nathan. Mereka tidak menerima jika Nathan dihukum 8 Tahun penjara, mereka menganggap terlalu berat mengingat Embun juga sudah hidup bahagia.


" Kalian pikir Nathan bisa keluar? sewa seluruh pengacara mahal didunia ini tidak ada yang bisa melawan Kami" Kata Pengacara keluarga Gunadya berkolaborasi dengan pengacara ibu Sekar dan Mathews.


Keluarga Wijaya tidak peduli latar belakang Embun, Ibu Widya paling ngotot maju serta mengajukan hak asuh Daffa. Membuat Dave tertawa ngakak.


Daffa bersekolah seperti biasa, tidak ada yang berani mengejeknya karena Ibu Sekar akan langsung menghukum siapapun yang membuli cucunya. Ejekan beralih pada Nathasa yang juga masih sekolah disitu. Anak itu yang mendapatkan bullyng dari teman-temannya. Hingga gadis kecil itu meminta neneknya untuk memindahkan sekolahnya.


***


" Hei Gubernur mesum, gantikan aku hari ini bersih-bersih!" kata salah seorang napi melempar pel lantai didepan Nathan yang kebetulan sedang makan.


" Sebentar, setelah selesai makan!" Jawab Nathan.


" Aku bilang sekarang ya sekarang! Cepat! sebelum diperiksa sipir! " kata Napi itu merampas makanan Nathan dan membuangnya ditempat sampah.


Nathan hendak akan melawan malah kena bogem mentah dipelipisnya.


" Makan itu sampai kenyang! Cepat bersihkan!" marah napi senior itu.


Kepala Nathan berkunang-kunang tidak siap kena pukulan, ia bangkit dan mengambil alat pel segera melakukan hal yang disuruh. Pipinya memar dan terasa panas.


Pernah satu kali melawan malah dikeroyok 8 orang sekaligus hingga seluruh tubuhnya babak belur. Hal ini pernah ditanyakan sipir saat melihat kondisinya namun napi lain beralasan jika Nathanlah yang cari masalah.

__ADS_1


Ketika baru sebentar membersihkan kamar mandi, terdengar panggilan untuknya. Nathan bergegas menuju ruangan kunjungan. Ini kali pertama ia menerima kunjungan.


Tampak Nikita membawa Arka didampingi oleh seorang pria berpakaian jas rapi.


" Arka" Nathan memeluk putra kecilnya itu. Nampak sang putra gembira melihat nya.


Nikita membisu lalu memberikan surat panggilan dari pengadilan agama mengenai gugatan cerai.


" Apa tidak bisa dipikirkan kembali Niki? Aku sedang berjuang dipenjara" Kata Nathan.


" Tidak! keputusanku sudah bulat, aku bodoh bertahan denganmu sekian lama... mungkin ini pertemuan kita yang terakhir kali" Kata Niki berkaca-kaca.


Hampir saja ia goyah melihat sang suami, terdapat lebam di pipinya menandakan jika Nathan tidak hidup nyaman di penjara.


" Kau juga akan meninggalkanku?" Tanya Nathan sedih.


Nikita berusaha menahan perasaannya, sudah cukup penderitaan yang dilewatinya sekian lama bersama Nathan.


Nikita membawa anaknya kembali bersama pengacara, ia hanya setengah jam memberi waktu Nathan untuk pamitan. Nikita akan keluar negeri menjalani hidup barunya.


***


Nathan menatap kepergian sang istri dengan pedih, terbayang kebersamaan bersama Niki dan kegembiraan bersama putra angkatnya Arka. Tanpa terasa bulir air matanya jatuh langsung dihapusnya.


" Nikita berhak bahagia" Katanya dalam hati.


Nathan kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel kamar mandi tanpa peduli jika ada yang lewat membuat kotor kembali.


Kini sang mantan gubernur sibuk dengan pekerjaan barunya mengosrek WC umum para napi penjara.


***


Anggun bersiap pergi kerja, Nathasa kurang sehat belakangan ini mungkin pengaruh cuaca atau perubahan lingkungan sekitar yang membuatnya stress. Anak sekecil itu tidak mampu menerima apa yang tengah terjadi padanya.


" Titip Shasa Bu, Badannya panas, esok kita ke dokter" Kata Anggun.


Ibunya mengangguk. Anggun berangkat keluar dari rumah dengan hati-hati tanpa mengetahui jika gerak geriknya dipantau dari jauh oleh seseorang dari mobil.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2