
Mohon maaf semuanya, Naya masih kurang sehat tidak fokus untuk mengetik. Padahal novel ini harus segera diselesaikan sayangnya Fisik belum mampu.
terima kasih atas doa yang selalu dikirimkan pembaca semuanya.
***
Anggun menatap pagar tinggi yang tertutup dari dalam. Terdengar suara anak yang bermain dan tertawa riang. Senyuman Anggun melebar saat melihat anak-anak kembar Silvia tengah bermain diteras depan bersama.
" Tangkap Bolanya Raya! " Teriak Radhi sang kembaran menyuruh.
Anggun mencari jalan masuk, tidak ada satupun celah yang bisa dimasuki olehnya. Sementara suara tawa anak-anak itu semakin menggodanya.
" Siapapun tidak masalah hari ini akan kubawa salah satu dari kalian " Desah Anggun.
Pintu depan terbuka, sebuah mobil keluar dari dalam membawa Stephan dan ayahnya. Anggun merasa beruntung karena dirumah tinggal Silvia dan Ibu Widya.
Kriet_
Pintu dibuka dengan perlahan, Anggun mengendap masuk. Wanita ini tahu jika ia hanya memiliki satu kesempatan saja untuk membawa salah satu anak Silvia. Ia menyembunyikan dirinya dari balik pohon rindang, terdengar suara Silvia mengajak Radhi dan Raya untuk masuk.
" Iya Ma " Seru keduanya.
Anggun semakin nekat, dengan secepat yang ia bisa langsung menangkap salah satu anak yang tengah berjalan menuju rumahnya.
" ikh Lepasin! " Teriak Raya.
Radhi terkejut melihat Anggun tengah mengangkat tubuh saudara kembarnya langsung menolong. Kegaduhan itu langsung memancing semua penghuni keluar. Anggun kalap berlari ke gerbang. Sayangnya gerbang itu terkunci padahal Anggun tadi memastikan gerbang itu terbuka agar bisa melarikan diri.
" Tidak untuk kedua kalinya kau mengorbankan anakku, Iblis! " Seru Silvia.
Entah kekuatan dari mana wanita itu berlari secepat yang ia bisa langsung menerjang Anggun. Raya terlepas dan berlari pada kembarannya. Silvia seperti singa betina yang murka terus memukuli Anggun tanpa membiarkan wanita itu membalas.
Ibu Widya mengamankan cucu-cucunya, Stephan dan ayahnya datang bersama polisi. Mereka memang sengaja keluar untuk membiarkan Anggun masuk ke dalam rumah. Edgard telah memberitahukan jika Anggun masih lolos dan kemungkinan besar akan mendatangi rumah keluarga Stephan.
Silvia masih bisa menyarangkan beberapa tamparan pada Anggun,
" Tamparan itu tidak bisa menggantikan rasa sakitku kehilangan Edward! Semoga kau akan merasakan hal yang sama " Sumpah Silvia berteriak marah.
" Tenang saja Silvia, biarlah hukum yang bertindak! " Kata Stephan.
Silvia masih saja tidak puas, Anggun masih mengamuk tidak ingin ditangkap.
" Anakku menunggu! lepaskan aku! Kalau dia bangun dan aku tidak ada disana anakku pasti akan panik" Teriaknya menghiba.
" Anak anda sudah meninggal sejam yang lalu dan sudah berada dikamar jenazah " Jawab polisi.
Anggun terpana, dirinya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tidak mungkin Nathasa tidak menunggunya. Rasa ingin segera melepaskan pegangan pak polisi dan berlari ke rumah sakit. Apa daya dua polisi dengan sekuat tenaga menahan dirinya.
" Lepaskan!" Teriak Anggun.
Mobil polisi meraung-raung menuju kantor polisi. Kedatangan Anggun memang telah diprediksi Edgard, Keberadaan Nathasa juga terlacak polisi berkat Chip GPS yang terpasang dalam tubuh.
__ADS_1
Sayangnya kedatangan polisi dan Edgard hanya mendapati Jenazah Nathasa.
Anggun terus-terusan berteriak ingin bertemu anaknya membuat isi sel tahanan tidak tahan dengan gaduhnya suasana.
" Diam! Berisik ! apa cuma kau yang punya mulut disini!hah! " Bentak salah satu tahanan dikantor polisi.
Anggun tidak peduli, ia lebih mencemaskan kondisi putrinya saat ini. Karena terus saja membuat gaduh dan tidak bisa ditegur, beberapa tahanan mendekati Anggun dan memaksanya untuk diam.
Wanita muda itu berontak diperlakukan kasar dan melawan.
" Berani kau ya?" Marah salah satu tahanan.
Ia mengambil lap kotor, " Pegangi dia!"
Dua wanita berbadan gempal langsung mengunci tubuh Anggun hingga tidak bergerak, mulutnya disumpal pake lap kotor dan diikat pake lakban. Tangan dan kakinya juga diikat menggunakan kain. Dalam sel tahanan tidak diperbolehkan menyimpan benda tajam ataupun yang dianggap berbahaya.
Anggun ditinggalkan teronggok disudut ruangan.
" Diam disana! setidaknya kau tidak akan mengganggu kami disini!" Kata wanita yang menyumpal mulut Anggun.
Airmata mengalir dipelupuk mata Anggun, hatinya tercabik-cabik mengingat nasib anaknya. Tidak ada siksaan berat baginya selain dipisahkan dari sang putri terlebih dalam kondisi seperti ini.
" Bertahanlah Shasa! Mommy akan pulang secepatnya!" Katanya.
***
" Ibu bersyukur Radhi dan Raya baik-baik saja, hampir saja ibu kehilangan cucu ibu, wanita gila itu harus dihukum" Kata Ibu Widya.
Stephan menyempatkan diri untuk menelpon Edgard untuk berterimakasih atas peringatan dini hingga mereka bisa.
" Aku senang semua baik-baik saja! sampaikan salam ku untuk keponakan-keponakanku, aku masih sedikit sibuk disini memeriksa anak Elina" pinta Edgard sebelum menutup teleponnya.
Stephan menutup telponnya.
" Dokter Edgard masih sibuk dengan kelahiran anak Elina"
Semua mengangguk maklum, ibu Widya merenung dalam hatinya.
" Andaikan dulu ibu tidak menghalangi cinta Nathan pada Embun mungkin Nathan sekarang sudah bahagia dan tidak dipenjara seperti ini, Semua salah ibu yang terlalu menginginkan semua serba sempurna"
Wanita tua itu banjir dengan airmata, " Adikmu itu tidak sekeras dirimu, andai saja dia melawan ibu dan memperjuangkan cintanya"
" ibu semuanya telah berlalu, Elina sudah bahagia dengan keluarga barunya. Masa lalu tidak bisa disesali " Kata Stephan.
" ibu ingin menjenguk Nathan" Kata Ibu Widya.
" Iya Bu, asal kondisi ibu sehat" Jawab Silvia.
Ibu Widya menatap wajah anak dan menantunya, keduanya begitu peduli dengannya. Rasa sesalnya semakin dalam, ia betul-betul berharap andai masa lalu bisa diubah maka dirinya akan merestui Embun dan Nathan.
Terbayanglah dulu betapa ternyata ia telah menutup matanya tidak melihat kebaikan hati Embun dan sikapnya yang telah melukai Embun. Kini dalam hatinya untuk pertama kalinya merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf.
__ADS_1
" Antarkan ibu pada Embun, ibu sudah banyak dosa padanya " Kata Ibu Widya.
Silvia dan Stephan saling lirik, Pasalnya ini bukan permintaan yang mudah karena Elina sangat dilindungi oleh orang disekitarnya. Keluarga Bumiwardoyo dan Wijaya sangat terlarang untuk berada didekatnya tanpa sepersetujuannya. Bukan Elina tidak berani bertatap muka langsung namun orang tua Elina tidak menginginkan adanya kesedihan yang dirasa oleh putri mereka.
***
Elina tidak henti-hentinya menciumi sang putra yang kembali padanya dengan selamat. Daffa sudah siuman dan memeluk ibunya sambil menangis.
" Laki laki tidak boleh cengeng!" Tegur Edgard.
" Dia masih anak kecil, biarkan dia seperti anak kecil" Jawab Elina.
Daffa memeluk sang ibu dengan gembiranya. Ia juga melihat sang ayah membawa Adiknya.
Sang adik yang masih begitu kecil, wajahnya mengambil sebagian besar garis wajah ayahnya namun warna matanya mirip dengan mata Elina.
" Hai Adik! " Sapa Daffa.
Semuanya balik ke rumah hari itu juga, banyak kesibukan dalam rumah yang terjadi. Kakek dan nenek Mathews nampak sangat antusias mempersiapkan kepulangan Daffa ke rumah. Mereka senang cucu lelakinya baik-baik saja.
Mereka menyambut dua cucu mereka sekaligus, senyum tak lepas dari wajah mereka.
" Paman dan bibimu ( saudara Dave) terlalu sibuk hingga tidak menikah juga sampai sekarang " Kata Kakek Mathews.
" Ayah mereka sibuk membantu ayah " Kata Dave.
" Makanya kau bantu ayah! Biar mereka bisa menikah juga! " Kakek Mathews langsung menyambung kalimatnya.
Dave tertawa kecil, ia tidak akan mungkin bekerja di perusahaan. Itu bukan panggilan hatinya.
" Biarkan mereka beristirahat dulu, hari- hari kemarin terlalu melelahkan " Ujar sang nenek.
Elina tersenyum mengantarkan putrinya ke kamar untuk dibaringkan. Dave dan Daffa juga mengikuti dari belakang.
" Kondisi Anggun bagaimana?" Tanya Elina.
" Dia seperti orang kehilangan akal, rumah sakit telah melakukan prosedur pemakaman untuk Nathasa. Abunya sudah disimpan ditempatnya" Jawab Dave.
Elina terdiam, memang tidak ada yang bisa dilakukannya. Mendengar Anggun menculik Daffa demi Nathasa saja, Elina sudah tidak sanggup membayangkan jika anaknya yang menjadi korban.
" Hukuman apa yang bisa diterimanya?" Tanya Elina.
" Dia terjerat pasal berlapis, sayangnya kurasa kondisi jiwanya akan membuatnya berakhir dirumah sakit jiwa tapi pengacara sedang berusaha keras untuk membuktikan jika Anggun hanya pura-pura gila" Jawab Dave.
" Aku ada ide Daddy! dia tidak akan terlihat gila lagi didepan polisi " Kata Daffa tersenyum.
Dave dan Elina menatap sang putra, Daffa tersenyum.
" Dia tidak boleh lolos dari hukum!" kata Daffa.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG