
***
Anggun menyusuri rumah sakit dengan paniknya, Putrinya menangis karena dipisahkan dengannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit banyak hal yang telah ia pikirkan. Inilah saatnya ia mengambil keputusan.
Didepan UGD ada ibu mertuanya, suaminya dan juga Nikita wanita yang merebut suaminya. Ketiganya ditatap dengan tatapan permusuhan olehnya. Anggun kini tidak peduli sekarang, Jika ia disangka jahat maka ia akan menjadi jahat sekalian.
Anggun telah bertekad untuk tidak membiarkan siapapun menyakitinya. Sudah cukup ia menahan diri selama ini tersiksa dengan semua perlakuan, Ibunya yang selalu menangis diam-diam dimalam hari karena perlakuan ayahnya.
" Aku tidak akan membiarkan kalian lagi demi Nathasa" Kata Anggun dalam hati.
Nathasa harus dirawat selama 3 hari, Anggun telah mengambil tindakan memindahkan anaknya ke rumah sakit lain dan tidak mengizinkan siapapun menengok putrinya tanpa izin darinya.
Anggun juga memanggil pengacara, ia mengatakan jika mulai dari sekarang ia tidak hanya menerima semua hasil kerja ayahnya melainkan akan ikut bekerja sebagai Direktur utama menggantikan Raka. Tidak ada yang bisa menentang hal ini karena semuanya milik Anggun.
Kini Anggun mulai menancapkan kukunya pada setiap properti dan aset Bumiwardoyo yang tersisa, Ia tidak lagi membiarkan ayahnya memberikan hasil kerjanya pada istri kedua dan anak-anaknya.
Ibu Ningsih tersenyum bangga melihat kebangkitan putrinya,
" Aku akan membalas mereka semuanya Mom." Kata Anggun pada ibunya.
Pak Wijaya gigit jari karena semua aset kembali ditangan Anggun.
" Kita harus mendapatkan tanda tangan Embun secepatnya untuk menggeser Anggun" Kata Ibu Gayatri pada sang suami.
" Yah kau benar, hanya masalahnya mendekati Embun itu sangat sulit" Kata Pak Wijaya.
Ibu Gayatri tersenyum, wanita itu tidak mengatakan pada sang suami jika ia punya dukungan lain (Ibu Sekar) untuk menghancurkan Anggun.
Sekarang yang perlu mereka lakukan adalah berhati-hati.
***
Nathan galau tidak bisa menemui putrinya, Anggun membatasi dalam bertemu. Berbulan-bulan lamanya putus kontak, pria itu tidak bisa lagi menggunakan kekerasan untuk mengancam istrinya, ada pengawal yang siap 24 jam meringkusnya dan melemparnya ke luar rumah. Pintu rumah keluarga Bumiwardoyo sudah tertutup rapat untuk orang yang dianggapnya asing.
__ADS_1
Nikita sibuk sendiri mencari alternatif agar segera hamil, tadinya ia mengira akan segera hamil dan menjadikan anaknya sebagai anak "utama" Nathan dari pada Nathasa.
Putri kecil Nathan tumbuh dalam kondisi tidak sehat, salah satu kakinya tidak tumbuh dengan sempurna, untuk menutupi itu, Anggun selalu memakaikan kaos kaki dan sepatu untuk putrinya itu. Putri kecil itu selalu sakit-sakitan. Kondisinya dari hari ke hari semakin memburuk, dokter pribadi Nathasa menyarankan untuk segera mendapatkan donor.
" Donor organ? " Tanya Anggun lemas.
" Ya! Nathasa membutuhkan donor hati sementara mencari pendonor bayi sangatlah sulit " Kata Dokter.
" Berapa lama waktunya? " Tanya Anggun menitikan airmata. Ia merasa akan segera kehilangan anaknya.
" Perkiraan hanyalah dibuat manusia nyonya, Tuhanlah yang menentukan. Jika melihat kondisi Nathasa, ia hanya sanggup bertahan kurang lebih setahun ini tergantung bisa lebih cepat "
Anggun merasa jiwanya nyaris melayang, putrinya dalam bahaya. Usianya baru saja setahun tetapi penderitaannya sudah ia rasakan sejak dalam kandungan.
Berbeda dengan Daffa yang tumbuh sehat dan ceria, Nathasa hidup bergantung pada peralatan yang terpasang pada tubuhnya. Kulitnya dari memucat, mulai menghitam dikarenakan fungsi hatinya bermasalah. Anggun mengerahkan orangnya untuk mencari bayi dipasar gelap yang bisa menjadi donor putrinya sayangnya belum mendapat donor yang cocok.
***
Hari ini tidak terasa menjadi hari kelahiran untuk anak Silvia dan Stephan. Perkiraan Edgard jika Silvia akan mengalami kontraksi sejak minggu lalu tepat dan setelah melakukan pemeriksaan rutin.
" Tenang dan rileks, jangan buat istri anda semakin panik! " Tegurnya pada Stephan.
Pasangan itu telah kebal dengan sikap dokter Edgard, Ibu Widya juga telah standby bersama Stephan diruang persalinan. Silvia sedang diobservasi untuk menunggu pembukaannya lengkap.
Anggun berjalan lesu, ia baru saja keluar dari ruangannya dokter. Nathasa benar- benar sudah diambang batas. Ia harus segera mencari jalan keluar. Kebetulan Anggun berpapasan dengan supir ibu Widya, ia penasaran dan mengikutinya.
" Ibu? " Sapa Anggun.
Ibu Widya meliriknya sekilas sambil mengangguk, wanita itu menyimpan kemarahan pada Anggun karena dilarang untuk menengok Nathasa. Stephan masuk ke dalam dipanggil dokter untuk mendampingi istrinya melahirkan.
Anggun terdiam menatap kepanikan dalam wajah Ibu Widya, Proses kelahiran bayi laki-laki itu tidak memakan waktu lama, sekitar 15 menit Stephan masuk terdengar suara bayi menangis.
Dada Anggun berdetak melihat bayi mungil yang sehat dibawa keluar oleh suster. Bayi itu begitu sehat dan normal tidak ada kekurangan dalam tubuhnya. Anggun menelan ludah teringat anaknya, kini sudah dipastikan perhatian neneknya akan terarah pada bayi kecil yang baru saja dilahirkan itu.
__ADS_1
Anggun meninggalkan tempat itu diam-diam. Ibu Widya tidak peduli, ia telah bahagia mendapatkan cucu lelaki tampan dan dapat ditemuinya setiap saat daripada Nathasa yang selalu dibatasi akses untuk bertemu siapapun.
Bayi kecil itu dinamai Edward Wijaya. Nama itu terdengar agak mirip dengan Dokter Edgard sehingga dokter itu protes dengan nama itu.
" Tidak dokter sebenarnya malah kami akan menamainya seperti nama anda tetapi takut membuat anada tersinggung jadilah kami mengambil nama yang mirip saja, semoga anak kami akan seperti anda! " Kata Silvia tersenyum lemah diamini oleh sang suami.
Edgard lemah dengan pasiennya, menepuk dahinya sendiri.
" Jangan mirip denganku! kalau tidak maka diumurmu sepertiku akan membuat orangtuamu gelisah karena belum menikah" Kata Edgard bicara dengan bayi itu.
Stephan dan Silvia tertawa, Edgard menggendong bayi itu sebentar lalu berselfie ria tidak lupa ia mengirimkan foto itu pada Elina adiknya di Amerika. Elina menatap Foto itu dengan wajah bahagia.
***
Dua minggu kemudian, kondisi Nathasa semakin memburuk lebih cepat dari perkiraan dokter. Anggun meninggalkan semua pekerjaannya demi menjaga sang buah hati. Ia telah menyiapkan semua untuk Nathasa hanya donor saja yang tidak bisa didapatkannya.
Pikirannya terlintas sesuatu yang telah dilewatkannya, seperti mendapatkan ilham wanita muda itu langsung menghubungi seseorang yag ahli dibidang itu.
" Aku punya tugas untukmu" Kata Anggun pada seseorang ditelepon.
Anggun menelpon dokter untuk mempersiapkan operasi Nathasa malam itu juga. Dokter dan teamnya telah siap disebuah klinik. Operasi ini terbilang ilegal karena donor yang didapatan adalah donor hidup. Tentu saja operasi ini dilaksanakan dengan rahasia. Jika ketahuan bukan hanya izin dokter yang dicabut melainkan hukuman mati telah menantinya.
***
Malam terasa sangat mencekam, cuaca diluar hujan deras, malam itu operasi Nathasa dilaksanakan.
Anggun menatap dingin pada jenazah bayi yang keluar dari ruang operasi.
" Makamkan dia dengan layak, anggap saja balas budi padanya karena telah memberikan hatinya pada Nathasa" Kata Anggun pada pengawalnya.
Ditempat yang lain terjadi kepanikan, Silvia histeris rumahnya disatroni pencuri disaat ia hanya berdua dengan bayinya.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG