Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Pak Dokter tampan


__ADS_3

***


Dave sedang membaca diruangannya, hari ini ia harus ikut dalam operasi seorang anak penderita kanker dimatanya. Dave menunggu jadwal yang tinggal sejam lagi.


Pintu terbuka, Dave menengok tampak seorang dokter wanita bersama seorang yang baru dilihat Dave ikut masuk bersama.


" Siang dok, maaf mengganggu sebentar waktunya " Kata dokter wanita itu.


" Ya dokter Elsa tidak apa-apa, kenapa dok?" Tanya Dave ramah mengatur posisi duduknya.


Ia mempersilakan kedua tamunya duduk. Dokter Elsa merupakan partner Dave dalam operasi kali ini namun kedatangannya bukan untuk berdiskusi tentang Operasi yang akan dilakukan melainkan mengenalkan dokter residen yang akan dibimbing oleh Dave.


Nama Dokter residen itu adalah Tatia.


" Direktur meminta anda untuk membimbingnya " Kata Dokter Elsa.


Dave menatap dokter Elsa dengan kening berkerut. Ia agak heran, ia bahkan belum sebulan di Rumah sakit ini tetapi sudah mendapatkan anak bimbingan. Dirinya merasa belum ada kemampuan yang membuatnya harus membimbing Dokter residen.


" Dia keponakan direktur " Kata dokter Elsa.


Tatia terlihat malu-malu mencuri pandang ke arah Dave. Sayangnya Dave tidak peduli sama sekali dengan Tatia secantik apapun Tatia yang berdiri didepannya.


Dave maklum Direktur menitipkan keponakannya padanya,


" Yah baiklah silahkan keliling dulu dokter Tatia, Maaf aku tidak bisa menemanimu karena sebentar lagi akan masuk ruang operasi dengan dokter Elsa" Kata Dave.


" Baik Dok" Kata Dokter Tatia hampir tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewanya.


Dave tidak pernah meladeni wanita manapun kecuali urusan pekerjaan. Sikapnya ramah hanya berhadapan dengan pasien anak-anak. Dokter Elsa dan Dokter Tatia pamit keluar ruangan.


" Jangan tersinggung dokter Tatia, Dokter Dave itu terkenal hanya ramah pada pasien anak-anak saja " Kata Dokter Elsa.


" Kenapa bisa begitu?" Tanya dokter Tatia penasaran.


" Belum ada yang mengenal pribadi dokter Dave karena dia baru disini " Jawab Dokter Elsa.


Tatia hanya mengangguk, wanita muda ini tadinya senang karena pamannya mengabulkan keinginannya untuk dibimbing Dave, sejak pertama menginjakkan kaki di rumah sakit yang dipimpin pamannya ia langsung tertarik melihat Dave.


Penyelidikan secara singkat membuatnya tahu jika Dave sudah menikah dan memiliki dua anak.


" Semua lelaki tampan pasti sudah ada yang punya " Keluhnya.


Tatia baru tahu jika Dave cool dengan orang disekitarnya. Kebanyakan perawat melihat Dave tersenyum jika sedang menerima telpon dari istrinya atau anaknya.


Tatia sebenarnya hanya ingin dekat saja tidak bermaksud apa-apa, Dave terlalu tampan untuk dilewatkan. Apalagi Dave sangat mirip dengan dokter- dokter didrakor. Makin cool makin menantang.


" Perjaka memang ganteng, duda memang keren tapi laki orang lebih menantang "


(Bagi yang single ini tidak bisa dipakai jadi referensi, pesan author carilah yang sama sama single biar hidup berkah)


Tatia puas berkeliling sendirian akhirnya masuk ke ruangan pamannya.


" Sudah bertemu dokter Dave?" Tanya paman Tatia.


Tatia mengangguk sambil tersenyum,


" Paman, Tatia bisa melihat data dokter Dave? " Tanya Tatia.


" Kenapa?" Tanya Paman Tatia.


" Tidak kenapa-kenapa paman, masa Tatia tidak boleh tau soal dokter yang membimbing Tatia, Tatia tau kok dokter itu sudah menikah, Tatia juga punya pacar " Kata Tatia tersenyum.


Paman Tatia mengangguk lalu tidak berapa lama memberikan berkas Dave yang ada padanya. Tatia sebenarnya hanya mencari alamat dan nomor telepon Dave saja. Selebihnya hanya numpang lewat dibaca saja.


Tatia memang memiliki pacar yang bernama Rega Aditama. Rega anak seorang pengusaha minyak sawit yang sukses. Sayangnya Rega agak sibuk dengan kegiatannya hingga kadang jarang bersama Tatia. Jika Rega sedang lowong, giliran Tatia yang mempunyai kesibukan.

__ADS_1


***


" Sudah selesai dokter?" Sapa Tatia saat Dave keluar dari ruang operasi.


Dave menengok.


" Dokter Dave ini laporan hasil observasi pasien " Kata Dokter Elsa keluar dari ruang operasi, keningnya terangkat satu melihat Tatia didepan Dave.


" Terimakasih dokter Elsa " Jawab Dave langsung membaca laporan itu.


Ia mengambil ponselnya lalu menelpon sambil berjalan keruangannya, ia lupa Tatia sedang berdiri menyapanya.


Dave berkonsultasi dengan Elina mengenai laporan observasi operasi, kebetulan pasien Dave merupakan salah satu pasien yang menderita penyakit yang diteliti Elina.


***


Seorang anak kecil berlari menuju ruang reseption rumah sakit.


" Ruang dokter Dave?" Tanya anak itu.


Beberapa perawat yang sedang berjaga langsung jatuh hati dengan keimutan anak itu bahkan ada yang mewakili untuk mengantar sang anak.


" Nah itu ruangan dokter Dave, adik ini siapanya ya? mana orang tuanya?" Tanya Perawat itu.


Kebetulan Dave keluar dari ruangannya, Anak itu langsung berseru gembira.


" Daddy "


" Hei myboy, kenapa ada disini?" Tanya Dave langsung menggendong anak yang ternyata Daffa.


Perawat terkejut baru tahu jika Daffa anak Dave. Mereka terlihat mirip dari warna mata dan penampilannya (rada-rada oppa Korea, hanya Daffa versi imutnya).


" Makasih suster " Kata Daffa tak lupa mengucapkan karena sudah dibantu.


Daffa datang ke rumah sakit bersama Budi dan ibunya. Adik Budi panas tinggi hingga kejang. Daffa ikut mengantar.


" Dia harus dirawat disini beberapa hari " Kata Dave.


Budi terlihat agak iri dengan Dave, dirinya tidak memiliki sosok ayah yang sayang padanya namun rasa iri itu ditepis jauh-jauh.


Ibu Budi diberikan penjelasan mengenai kondisi anaknya. Dave beralih pada anaknya dan Budi.


" Kalian kesini naik apa?"


" Angkot Pak dokter " Jawab Budi.


Dave melirik anaknya, berarti Daffa tidak membawa sepeda membuat Dave agak khawatir jika Daffa pulang naik angkot lagi bersama Budi. mereka hanya dua anak kecil yang baru berusia 7 tahun. Budi harus pulang karena adiknya yang lain masih dititipkan dirumah tetangganya.


" Tunggu Daddy diruangan ya, nanti Daddy yang antar kalian pulang " Kata Dave.


Daffa mengajak Budi ke ruangan Daddy-nya sedangkan Dave masih menangani adik Budi.


" Aku tidak tahu ayahmu dokter, pantas kamu bawa P3K kemana-mana"


Daffa tertawa memang ada hubungannya anak dokter dengan P3K? peralatan itu harusnya wajib dibawa jika membawa kenderaan sendiri (sepeda). Kebetulan Tatia akan menuju ruangan Dave, ia membawa rantangan buat dokter itu.


Daffa menatap wanita muda itu dengan tatapan penuh curiga. Budi sendiri asyik dengan situasi diruangan pribadi Dave.


" Siapa anda?" Tanya Daffa.


Tatia langsung menduga jika Daffa memiliki hubungan dengan Dave karena gaya penampilan mereka sangat mirip. Jarang ada anak seperti Daffa.


" Dokter Davenya mana dek?" Sapa Tatia ramah.


" Bukankah lebih sopan jika anda menjawab pertanyaan saya lebih dahulu sebelum mengajukan pertanyaan?"

__ADS_1


Tatia merasa tertampar dengan jawaban Daffa, tadinya ia bermaksud ramah. Rasa kesal muncul namun dapat disembunyikan dengan baik oleh gadis itu.


" Aduh adik manis maaf, namaku Tatia anak bimbingan Dokter Dave " Jawab Tatia.


" Daddy sedang memeriksa pasien, sebentar lagi ke sini" Jawab Daffa.


Daffa tidak peduli dengan keberadaan Tatia, selanjutnya ia sibuk bersama Budi melihat isi ruangan Ayahnya. Tatia bertekad untuk berteman dengan Daffa, untuk dekat dengan Dave tentu harus membuat putra Dave suka padanya walaupun kesan pertama Tatia jika Daffa sangat arogan.


Dave datang, Tatia langsung menyambutnya dengan gembira. Ia mengatakan jika membawa rantangan makanan dari rumah.


" Terimakasih tapi maaf aku akan pulang ke rumah bagikan saja makanan itu ke perawat didepan " Jawab Dave dengan intonasi yang sama dengan Daffa.


Daffa menatap sinis padanya. Dave mengajak anaknya dan Budi keluar ruangan menuju mobilnya.


" Oh ya Daddy, bisakah kita ke Mall? " tanya Daffa naik mobil.


" Okay" Jawab Dave langsung mengiyakan.


Sebenarnya hari ini Daffa dan Budi berencana memang akan ke Mall, Tabungan Budi dirasa hampir mencukupi untuk membeli jam tangan sekaligus ponsel pintar. Daffa mengajak Budi untuk mengecek harganya terlebih dahulu sebelum membeli tetapi adik Budi terlanjur sakit.


" Aku tidak jadi beli, uang itu lebih baik untuk perawatan adikku saja! Jam itu masih bisa terbeli nanti kalau aku mengumpulkan uang " Kata Budi murung.


Anak itu sudah memberikan tabungannya pada sang ibu tadi.


Dave tersenyum, baiknya hati Budi. Pria ini bersyukur anaknya memiliki teman seperti Budi.


Daffa memberi kode dengan mata pada Daddy-nya . Dave menangkap maksud Daffa. Mereka tetap ke Mall dan melihat jam tangan yang dimaksud. Budi baru kali ini masuk Mall, dirinya tegang dan merasa kedinginan dengan AC mall.


Mereka melihat jam tangan sekaligus ponsel yang populer dikalangan anak-anak. Budi terkejut dengan harga-harga barang Dimall yang lebih mahal dari harga pasar.


" Ini seperti milik Nara " Desis Budi menatap jam tangan yang terpampang di etalase toko dan menelan ludah saat melihat harganya.


Budi menolak dibelikan jam serupa dengan Nara selain tidak memiliki uang, dirinya tidak ingin berhutang Budi pada Daffa dan ayahnya.


" Daddy kita singgah minum yuk, haus" Pinta Daffa.


Dave mengangguk saja. Mereka singgah disebuah resto di Mall. Lagi-lagi Budi kaget dengan harga minuman disana 10 kali lipat dari harga gorengannya.


Dave pamit sebentar meninggalkan Daffa dan Budi. Tak lama ia kembali saat minuman Daffa dan Budi hampir habis. Ia membawa satu kantong belanja.


" Apa ini Pak dokter?" Tanya Budi.


Dave memberikan kantong itu pad Budi. Daffa sudah bisa menebak isinya.


" Hadiah menjadi anak baik dan berbakti pada ibu" Jawab Dave tersenyum.


" Saya tidak perlu hadiah pak dokter, berbakti pada ibu sudah merupakan kewajiban " Kata Budi menolak tanpa melihat apa yang ada dikantong itu.


Dave tersenyum, kagum melihat anak sekecil Budi namun sudah memiliki pemikiran seperti itu. Sungguh beruntung Daffa bisa berteman dengan anak itu.


" Jangan menolak, nanti pak dokter sedih " Kata Dave dengan wajah dibuat murung.


Budi merasa tidak enak akhirnya menerima. Ia kaget melihat ada 3 kotak didalam. Sebuah ponsel dan dua jam tangan pintar yang diidamkan Budi.


" Ponselnya buat ibu Budi dan jam tangan itu buat Budi dan adik-adik "


" Makasih banyak pak dokter 🥺🥺 " Budi seperti hampir menangis.


Rasa haru dan bahagia terpancar diwajahnya. Dave mengantar kedua anak itu pulang. Budi dengan gembiranya mencoba ponselnya bersama sang adik. Daffa tersenyum.


" Makasih Daddy " katanya.


" Budi anak Baik, Daddy suka padanya. Ayo kita pulang, Mommy pasti cemas " Kata Dave.


Keduanya pulang ke rumahnya.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2