
***
Dave tidak dapat menyembunyikan kengerian diwajahnya. Elina pindah ke belakang menjaga Daffa sekaligus Kiara yang sedang digendongnya.
Gelombang Air berwarna coklat kental bercampur dengan material yang terbawa bersamanya datang dengan sangat cepat.
" Daddy ke kanan! Jangan biarkan arus menyeret kita ke kiri! kita bisa terjun bebas di sungai! " Seru Daffa sambil memperhatikan tabletnya.
Entah mengapa disaat genting seperti ini Dave malah berharap mobilnya bisa mengapung dalam air atau berubah menjadi perahu. Ban Mobil sudah hampir tidak bisa menapak lagi, arus air mulai menyeret mobil itu ke arah yang lebih rendah. Dave memutuskan untuk nekat dengan tidak mematikan mesin mobilnya. Pada saat mobilnya bisa menapak dijalan maka dipacunya gas sebisanya ke arah kanan yang ditunjuk Daffa.
Dave berusaha tidak panik dalam situasi seperti ini, ia melihat sebuah gang seukuran mobilnya yang telah terendam hingga ke pinggang orang dewasa. Situasi sudah sangat kacau, orang berlarian dengan kenderaan dan ada yang memutuskan untuk memanjat apapun yang lebih tinggi darinya. Air terus saja bertambah dan semakin deras.
Dave lega, mobilnya dapat bersandar dengan bertahan pada tembok Gang itu.
" Ayo keluar! kemungkinan air ini akan lebih tinggi ! " Kata Dave.
Dalam mobil itu tersedia sebuah tempat tidur (Car matras) yang dapat langsung mengembang jika dibutuhkan. Daffa dan Kiara ditempatkan dalam car matrasĀ tersebut sedangkan Dave dan Elina mengapung diair sambil menjaga keseimbangan car matras dan keamanan kedua anaknya didalamnya.
Beberapa penduduk dapat menyelamatkan dirinya dengan menggunakan perahu, semuanya panik dan sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Suasana begitu ramai dengan permintaan tolong dimana-mana. Beberapa mobil terlihat terjebak dan terbawa arus hingga ditelan dalam banjir bandang yang datang.
" Kita harus bagaimana? " Tanya Elina.
Air semakin meninggi, material yang terbawa ke arah mereka sebisa mungkin disingkirkan Dave. Kaki dave dan Elina hanya bertumpu pada atap mobilnya. Agar tubuh mereka tidak terbawa arus, Dave mengaitkan kakinya pada seat belt ( Sabuk pengaman) yang ada dalam mobil. Elina juga melakukan hal yang sama pada car matras yang ditumpangi anak-anaknya agar tertahan tidak terbawa arus.
Daffa menengok sana sini mencari sesuatu sesuai dengan petunjuk dalam tabletnya. Untungnya peralatan elektronik milik anak itu anti air hingga masih bisa beroperasi walaupun basah.
Daffa telah mengirim sinyal darurat pada kepala pengawalnya,
" Kita hanya bisa bertahan disini sampai bantuan datang mom! " Kata Daffa.
" Apa disini aman? " Tanya Elina.
" Kuharap begitu Mom! Kita tidak bisa ke manapun jika arus air masih seperti ini, perkiraanku jika kita bisa bertahan 10 menit maka semuanya akan bisa dikendalikan"
" Kalau begitu berdoalah " Desis Dave.
__ADS_1
Situasi mencekam melihat apapun yang lewat didepan mereka. Dave melirik Elina sambil memberi kode pada sang istri untuk memastikan kondisi sang istri.
Mereka melihat orang-orang yang hanyut terbawa arus. Entah sudah berapa lama waktu yag mereka lewati. Suara helikopter menderu diatas situasi genting seperti itu. Air sudah tidak sederas yang tadi sudah tidak bisa lagi menyeret materaial berat.
Helikopter terus saja berputar mencari posisi yag tepat. Dave tahu betul jika Heli itu milik keluarganya. Dengan sigap beberapa turun dari heli dan menyelamatkan Dave sekeluarga. Mereka dibawa menuju tempat yang aman untuk mendapatkan perawatan.
" Tolong kami juga! " Teriak orang- orang dibawah.
Kepala pengawal menatap dingin orang dibawah itu.
" Apa mereka tidak bisa dibawa serta? " Tanya Elina.
" Tidak nyonya, kapasistas heli ini tidak bisa memungkinkan untuk menolong mereka. Prioritas kami adalah keselamatan anda sekeluarga " Jawab Kepala pengawal tegas.
" Apa ada yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka? " Tanya Dave iba dengan orang yang sedang mengapung dibawahnya.
Kepala pengawal memberi kode pada salah seorang anak buahnya untuk menjatuhkan beberapa perahu karet yang akan langsung mengembang apabila terkena air dan jaket pelampung.
" Mereka akan selamat, Tim Sar akan segera menemukan mereka " Jawab salah seorang anak buah dari kepala pengawal.
Setelah itu helikopter itu pergi membawa Dave sekeluarga tanpa peduli teriakan meminta tolong untuk diangkut juga. Tidak ada yang bisa dilakukan, kapasitas Heli tidak mampu menampung semua korban banjir bandang. Setelah tiba ditempat yang aman, Dave sekeluarga mendapat pemeriksaan untuk mengobati beberapa luka yang ada. Badan Dave dan Elina mendapat beberapa kali benturan sehigga baru terasa sakit saat timbul memar.
Dave langsung panik teringat dengan pengasuhnya. Bibi Andrea sang pengasuh tua itu tidak bisa berenang. Ia mencari ponselnya yang ternyata tertinggal dalam mobil. Daffa mencoba menghubungi ponsel Bi Andrea namun tidak ada jawaban.
" Bagaimana ini, Dad? " Tanya Daffa ikut khawatir.
Dave memerintahkan kepala pengawal untuk segera menjemput orang-orang dirumahnya sesegera mungkin.
" Semoga kalian baik-baik saja " Doa Elina.
***
Dilain tempat.
Dikediaman keluarga Dave, aktivitas pagi berlangsung seperti biasa. Pak Rumbun mengeluhkan hujan semalam membuat rumput ikut basah dan sampah susah dibakar. Gempa dalam intensitas kecil juga dirasakan namun tidak menghalangi kegiatan mereka dalam rumah. Bi Andrea turun tangan didapaur bersama Sanja dan Ibu Danum. Ketiganya terlibat dalam obrolan seru.
Walaupun belum terlalu fasih berbahasa indonesia, Bi Andrea dapat memahami bahasa Sanja dan Ibu Danum dengan baik.
__ADS_1
Tit Nguing nguing nguing
Suara Sirene berbunyi keras mengagetkan penghuni rumah. Sanja dan Ibunya kebingungan tidak mengetahui asal muasal sirene tersebut.
" Itu bunyi apa?" Tanya Sanja panik.
Bi Andrea mendekati arah suara lalu menekan bel disamping sirene tersebut.
" Jangan panik, ajak ibumu dan pak Rumbun ke teras atas, ayo!" kata Bi Andrea.
Sanja mengangguk melaksanakan perintah. Mereka dengan cepat telah berada di teras atas. Disana mereka melihat gelombang air yang datang menghantam tembok belakang rumah Itu dan semakin lama semakin deras.
" Bagaimana itu apakah tembok rumah itu akan kuat?" tanya Ibu Danum ketakutan.
" Kurasa kuat! karena kemarin sebelum pak dokter dan keluarga tinggal disini, tembok itu dibuat ulang oleh orang suruhan pak Dokter." jawab Pak Rumbun.
Pria tua itu optimis tembok belakang rumah cukup kuat untuk menahan banjir bandang yang tengah datang. Namanya juga air selalu mengalir mencari tempat rendah, rumah Dave yang terpagari tembok dilewati air namun air masih mengalir lewat depan masuk lewat sela-sela pagar rumah.
Jeritan-jeritan warga yang panik terdengar dimana-mana. Tampak diantaranya Budi dan keluarganya. adik-adik Budi menangis ketakutan, satu digendong Budi sedang yang paling kecil digendong ibunya.
Pak Rumbun turun ke bawah melihat kesusahan keluarga kecil itu, jarak mereka tidak jauh dari pagar namun nampaknya mereka memang menuju rumah Dave walaupun melawan arus.
Bi Andrea melemparkan 3 buah pelampung yang diikat disela tiang rumah dan memberikan pada pak Rumbun agar tidak terbawa arus yang semakin deras.
" pegang ini!" suruh Bi Andrea.
Pak Rumbun seolah mengerti, ia kemudian memberikan dua pelampung lainnya pada Budi dan ibunya. Dari atas Bi Andrea, Sanja dan Ibunya bahu membahu menarik orang dalam pelampung agar bisa masuk ke rumah.
" Kak Tatia! Dia masih terjebak tidak bisa bergerak disana! Perutnya sakit dan mengeluarkan darah!" Kata Budi.
Tujuan Budi sebenarnya hendak memanggil Dave ke rumah untuk melihat kondisi Tatia yang secara tiba-tiba memburuk. Namun karena air bah datang Budi dan ibunya terhalangi.
Wajah Bi Andrea terlihat kecut seolah mengatakan biarkan saja dia
" Bi..."
__ADS_1
***
Bersambung