Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Adaptasi


__ADS_3

***



Pesawat Jet pribadi Mathews mendarat dengan sempurna di Bandara, tampak satu keluarga kecil turun bersama dan segera naik mobil ke terminal kedatangan. Mereka tidak perlu repot lagi mengenai bagasi karena sudah diatur langsung oleh pengawal pribadi Dave.


" Wellcome To Banjarmasin! " Kata Daffa menghirup udara dengan bahagianya.


Suasana bandara tidak jauh berbeda dengan bandara lainnya, ramai dengan calon penumpang pesawat. Dave sekalian membawa seorang pengasuh bayi yang pernah mengasuhnya dan mengasuh Daffa di Amerika dulu. Ibu Tua itu sangat berpengalaman dan menyayangi keluarga itu selayaknya keluarganya sendiri.


Perjalanan dari Jakarta memakan waktu 2 jam dalam pesawat terbang dan sejam menuju rumah kediaman mereka. Rumah yang dipilih Dave tidak terlalu besar, ada 6 kamar yang dilengkapi dengan kamar mandi. Rumah itu dilengkapi dengan satu buah mobil yang terparkir manis daam garasi.


Rumah itu sendiri tidak kelihatan seperti rumah pada umumnya hanya saja dengan taman belakang yang luas. Keluarga kecil itu sangat menyukai rumah yang dilengkapi dengan taman belakang yang luas. Karena itu mereka langsung menjatuhkan pilihan pada rumah ini saat pertama kali melihatnya. Daffa sendiri mendapatkan kamar diloteng.



Anak itu langsung menyukai suasana kamarnya yang serba biru untuk tempat tidurnya dan oleh Dave dan Elina, kamar Daffa dilengkapi dengan perpustakaan mini tempat anak itu berekplorasi sesuai dengan mimpinya.



" Kau suka? " Tanya Daffa.


" Perfect Dad! I love so much! " Kata Daffa kegirangan.


Dave dan Elina tersenyum, mereka membiarkan putra sulungnya menikmati kamar barunya. Dilantai dua hanya ada dua kamar, Elina dan Dave menempati salah satunya dan kamar lainnya diberikan pada Bibi Andrea sang pengasuh Dave saat kecil.


Bibi Andrea juga terlihat menyukai suasana baru dirumah itu. Agar tidak kesulitan Dave juga mempekerjakan tiga orang pembantu rumah tangga. Dua orang ( Wanita )  bertugas dalam rumah dan seorang lagi  (Pria) bertugas untuk menjadi tukang kebun. Ketiganya adalah penduduk lokal yang dengan senang hati bekerja demi gaji yang ditawarkan oleh asisten Dave saat itu.


Sebelum Dave dan Elina menempati rumah itu telah direnovasi agar sesuai dan nyaman untuk pemiliknya dan para pembantu telah diajari tentang kebiasaan para majikan mereka. Tukang kebun Dave bernama Pak Rumbun, orangnya pendiam dan jarang bicara. Pria itu telah berusia setengah abad dan telah ditinggal mati istrinya. Anak perempuannya telah menikah dan merantau ke kuala lumpur bersama suami.


Sedangkan dua pembantu yang wanita adalah sepasang ibu dan anak gadisnya. Keduanya memang merupakan pembantu yang telah bekerja dirumah itu sejak rumah itu masih dipemilik lama. Keduanya bernama Ibu Danum dan Sanja.


Kedua ibu dan anak itu tinggal dirumah itu, pak Rumbun kembali ke rumahnya jika waktu telah menunjukkan pukul 22.00.


" Tehnya Bu, Pak!" Kata Ibu Danum membawa senampan teh dan kue tradisional.


Dave tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Elina dikamar sedang menyusui Kiara. Disamping tempat tidur ada sebuah kulkas mini yang berisi stok ASI untuk Kiara.


Besok mereka akan memulai aktivitas mereka ditempat yang baru. Dave akan mengantar Daffa ke sekolah untuk pertama kalinya agar bisa sekalian melihat sekolah Daffa. Selanjutnya Daffa akan bersepeda setiap hari.


Elina akan lebih banyak berada dirumah, bulan pertamanya di Banjarmasin ia hanya dirumah membuat rancangan penelitian awal dan berkomunikasi dengan sesama peneliti dengan menggunakan sambungan komunikasi internet sembari mengasuh Kiara.


Sanja gadis yang baik, terkadang ia bersama Bi Andrea mengasuh Kiara. Ia juga menyesuaikan diri dengan Daffa walaupun sedikit banyak kaget dengan kemampuan Daffa.


***


Sebuah mobil berhenti didepan sekolah dan terparkir rapi agar tidak menggangu kenderaan lain. Daffa turun bersama ayahnya menuju ruang kepala sekolah. Mulai hari itu Daffa akan bersekolah disebuah sekolah negeri setempat yang terkenal dengan prestasi. Daffa akan kembali mengulang ke kelas dua.


" Ingat jangan terlalu menonjol, putra Daddy ingat pesan mommy kan?" Tanya Dave.


" Ingat Daddy" Kata Daffa tersenyum.


Dave membelai kepala sang anak. Kepala sekolah mengantar langsung anak itu ke kelasnya. Dave pamit pulang dan melanjutkan perjalanan ke rumah sakit tempatnya bekerja sekarang.

__ADS_1


Daffa diperkenalkan oleh wali kelasnya. Banyak yang kagum dengan kemunculan Daffa. karena berada dari ibukota banyak hal yang menarik perhatian pada diri anak itu.


" Huh! apa hebatnya dari Jakarta? aku tiap liburan juga ke sana" Kata salah satu anak lelaki iri dengan kepopuleran Daffa.


Daffa memilih cuek bebek dan duduk ditempatnya. Setelah istirahat banyak anak yang mengerumuninya dan bertanya soal ibukota.


" Aku tidak mengenal Jakarta karena baru sebentar juga disana, cuma satu yang bisa kukatakan disana macet " Jawab Daffa.


" Memang sebelumnya kamu dimana? " tanya salah satu teman tertarik.


" Di Amerika, Mommy kuliah disana" Jawab Daffa biasa saja namun perkataannya ini malah terdengar sombong oleh beberapa orang.


" Woow! Pasti disana seperti di film-film" yang lainnya berseru kagum.


" Kalian udik sekali sich! kampungan!" hina Nara ( Nama teman yang sedari tadi tidak suka Daffa)


Semuanya menengok ke arah Nara,


" Iri? bilang boooss! " Celetuk salah satu dari teman disamping Daffa.


Semuanya tertawa melihat wajah Nara berubah ungu.


Waktu istirahat telah berlalu, wali kelas masuk kembali mengajar. Kali ini mereka belajar mengenai Alam sekitar kita dalam kemasan buku Thema. ( Ganti menteri ganti kurikulum 🤦😓 )


Wali kelas mengajar dengan menggunakan alat peraga, Daffa hanya memperhatikan situasi dikelas. Anak-anak belajar dengan riang. Hal itu sangat disukainya walaupun pelajaran itu sudah diketahuinya.


Hal ini tidak seperti Nara yang mengeluh jika pelajaran itu membosankan karena sudah diajari oleh guru lesnya. Nara berasal dari keluarga berada, ayahnya punya jabatan penting dalam pemerintahan. Hal itu terkadang membuat Nara anak satu-satunya menjadi besar kepala.


Daffa memutuskan untuk pulang bersama temannya. Dave tidak menjemputnya, Daffa juga tidak membawa sepedanya. Praktis ia harus jalan kaki pulang atau mencari ojek untuk sampai dirumahnya. Jarak dari rumahnya hanya sekitar 4KM saja, kalau ditempuh dengan jalan kaki ia harus berjalan 30 Menit.


" Kamu tidak dijemput?" Tanya Inayya terheran heran melihat Daffa didepan sekolah.


" Tidak " Jawab Daffa.


Anak itu janjian dengan Budi akan pulang bersama. Budi datang dengan terburu-buru sambil membawa nampan jualan yang dititipkan di kantin. Setiap hari Budi membawa nampan jualan yang berisi gorengan yang dibuat ibunya.


" Ayo kita pulang!" Kata Budi.


Daffa tersenyum gembira, ikut membawa nampan jualan itu. Penampilan Daffa cukup kontras dengan Budi. Daffa terlihat "bersih" seperti tampilan anak Korea sedangkan Budi dekil dan lusuh. Namun keduanya tidak terlalu peduli dengan penampilan. Inayya pulang dijemput dengan motor oleh ibunya.


Daffa cepat akrab dengan Budi, anak itu ramah dan suka sekali bercerita tentang keadaan sekitarnya. Perjalanan terasa menyenangkan. Budi tahu rumah Daffa berkat sedikit petunjuk dari anak itu. perjalanan keduanya banyak melewati sawah dan sebuah pasar, Budi banyak dikenal oleh orang dilaluinya.


Rumah Budi tidak jauh dari Daffa, hanya sekitar 500meter saja.


" Besok kita bisa ke sekolah sama-sama kalau kau mau" Kata Budi didepan pintu rumah Daffa.


" Masuk dulu yuk!" Ajak Daffa.


Bi Andrea keluar dan terkejut dengan Daffa yang terdapat noda dipakaiannya. Budi terkejut dengan bahasa Bi Andrea yang masih fasih berbahasa Inggris menegur Daffa.


" Sorry " Ujar Daffa.


" Ajak temanmu masuk, your mommy masak enak!" ajak Bi Andrea ramah.

__ADS_1


" Bibimu galak sekali yaakk " Kata Budi sebenarnya akan menolak tapi syok dengan Bi Andrea akhirnya masuk karena takut dimarahi jika menolak.


Dimatanya Bi Andrea itu sangat menonjol, wanita berperawakan asing, putih dan berambut pirang putih. Budi masuk ke dalam disambut ramah oleh Elina dan Kiara.


" Masuk nak, kita makan siang dulu" Ajak Elina ramah.


Budi lega melihat Elina, ia mengira mama Daffa juga bule seperti Bibi Andrea. Budi cepat beradaptasi dengan situasi rumah Daffa. Mereka makan siang bersama. Elina juga meminta pak Rumbun untuk mengantar makan siang suaminya dirumah sakit.


" Terimakasih Tante atas makanannya!Budi pamit pulang nanti ibu mencari Budi" Kata Budi dengan sopan, Bi Andrea memaksanya untuk makan banyak dan membungkus makanan pulang.


Elina tersenyum, Bi Andrea hanya mengangguk. Daffa meminta izin untuk mengantar Budi dengan sepedanya sekalian ingin mengetahui dimana rumah Budi.


" Hati-hati dijalan dan jangan bikin repot" Kata Bu Andrea.


Daffa tertawa membonceng Budi. Rumah Budi juga tidak jauh dari Daffa. Keduanya riang gembira.


" Kamu ngerti ga pe-er yang dikasih ibu guru tadi" Tanya Budi.


" Ngerti, kenapa?"


Budi menggaruk kepalanya padahal tidak gatal. Ia mengantuk saat diajari guru tadi. Daffa paham akhirnya ia menjelaskan secara singkat apa yang diajarkan ibu guru tadi tetapi memakai versinya.


" Kok aneh ya, aku kok ngerti pas kamu yang ngajarin? tadi susah banget masuknya .. wah Pe-erku akan selesai nih" Budi tertawa riang.


Budi mengajak Daffa masuk, rumah Budi lebih kecil dari Daffa dan tidak ada orang saat mereka datang. Ibu Budi berdagang dipasar sedangkan ayah Budi sudah pergi bersama istri keduanya yang lebih muda. Budi ditinggalkan bersama ibu dan adiknya yang masih kecil-kecil yang berjumlah 2 orang. Saat berdagang, adik-adik Budi dititipkan pada tetangga yang baik hati.


" Sebentar ya!" Budi pamit ke rumah sebelah.


Tidak lama Budi telah kembali bersama adik-adiknya. Mereka senang menyambut kakaknya. Budi membuka bungkusan makanan yang dibawanya pulang. Keduanya makan dengan riang.


" Enak kak!" Sahut salah satu adik Budi.


Daffa terharu melihat kedua adik Budi. ia menjadi bersyukur dengan kondisinya yang mempunyai orangtua lengkap dan berkecukupan. Daffa menyesal tidak membawa apapun untuk diberikan.


Budi membiarkan adik-adiknya makan dan ia sendiri bersih bersih rumah. Daffa ikut membantu, walaupun kikuk.


" Boleh aku sering main ke sini" Kata Daffa.


Budi mengangguk, " Asal kamunya tidak jijik "


" Ngomong apa sich.. disini aku bisa main denganmu dan adik-adik, dirumah Adikku masih kecil sekali belum bisa diajak main" Jawab Daffa.


Budi mengangguk saja.


" Esok kita ke sekolah sama-sama, Kubonceng deh! " tawar Daffa.


" Oke! "


Daffa pamit, ia sudah lama berada dirumah Budi. Bibi Andrea bisa menceramahi nya jika terlalu lama. Ia mengayuh sepeda menuju rumahnya.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2