Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Kejadian tidak terduga


__ADS_3

***


Dave memasuki hotel dan check in disebuah kamar yang khusus dipesan untuk mereka berempat.


" Apa rencana kita setelah ini Dad? " Tanya Daffa.


Kiara tampak pulas ditempat tidur.



Elina memanfaatkan waktu untuk ke kamar mandi membersihkan peralatan makan putrinya tadi. Dave melihat-lihat referensi yang bisa mereka lakukan selama berada diBanjarmasin.


" Kita wisata kuliner aja dulu, jalan-jalan menikmati kota dimalam hari setelah itu baru kita putuskan akan kemana" Jawab Dave.


Daffa mengangguk gembira.


" Mandilah dulu, setelah itu istrahat dan sebentar sore kita akan memulai petualangan kita " Kata Elina.


Daffa mengangguk gembira. Dave didekati sang istri " Capek tidak? " Tanyanya.


" Sedikit nih " Kata Dave menyodorkan tangannya.


Elina tersenyum memulai pijitannya. Dave seharian menggendong Kiara. Lengannya mungkin pegal ( Biasalah bapak-bapak beberapa jam jaga anak kebanyakan pegelnya)


Dave memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mesra-mesraan dengan sang istri. " Ada Daffa" Desis Elina.


Dave menepuk dahinya sendiri karena melupakan hal itu.


" Ups sorry, apa perlu kubuka(Pesan)  kamar sebelah ya biar kita bisa pindah ke situ saat anak-anak sudah tidur" Kata Dave.


" Mhhm ide bagus suamiku " Kata Elina mengerling nakal.


Dave meraih telepon dengan segera mengecek ketersediaan kamar yang ada lalu memesannya.


***


Daffa memanfaakan waktu istrahat siangnya dengan menghubungi kakek dan neneknya secara konferensi bersama nenek Sekar, dan kakek nenek Gunadya. Daffa melaporkan sedang liburannya dengan gembira.


" Ayo ke sini, disini sedang musim salju sayang! Kau kan sangat menyukai salju " Kata Nenek Mathews


( Mereka bicara dalam bahasa Inggris, berhubung Nayya ga fasih bahasa itu jadi pake bahasa indonesia dan hanya seolah-olah mereka berkomunikasi menggunakan bahasa mereka ya :) )


" Diindonesia belum masa liburan sekolah nenek, Daffa belum bisa ke sana " Kata Daffa.


" Ke Jakarta saja, Nenek Sekar juga menunggumu kalau tidak bisa ke Amerika " Sela Ibu Sekar.


" Habis itu ke singapur, Nenek dah kangen sekali dengan cucu-cucu nenek " Pinta Nenek Gunadya.


" Siap! Daffa akan ke sana setelah liburan bergantian akan berkunjung " Kata Daffa akhirnya.


Para kakek dan nenek hanya bisa tersenyum dengan kepolosan anak didepan mereka itu.


 


***


Disaat Dave sekeluarga tengah menikmati indahnya Kota Banjarmasin dimalam hari, Dilain tempat Tatia mendapatkan celah untuk melarikan diri dari Arga. Para Penjaga kebingungan bukan main ketika tidak menemukan Tatia dikamarnya. Arga langsung panik ketika mendapat kabar tersebut. Semua anak buah dikerahkan untuk mencari keberadaan Tatia.


" Tatia sedang hamil besar, tidak mungkin akan lari jauh " Kata Arga.


Tempat pertama yang didatangi adalah kediaman paman Tatia. Disana Paman Tatia tidak mengetahui peristiwa kaburnya Tatia. Tempat berikut yang didatangi adalah rumah Dave. Kediaman itu tampak sunyi dan lengang. Dari warga sekitar, Anak buah Arga mendapatkan informasi jika Dave sekeluarga sedang liburan dan akan pulang beberapa hari lagi.


" Ugh kemana kau Tatia ! " Keluh Arga.


Mobil meninggalkan depan rumah Dave. Dari balik semak tampak Tatia tengah mengintip. Ia juga telah mendengar jika Dave sedang berliburan sekeluarga.


" Sialan! Ternyata mereka malah bersenang-senang disaat aku kesusahan begini! Aku harus kemana sekarang " Kata Tatia.


Perutnya merasa lapar, ia lelah secara fisik. Gadis itu hanya bisa berjalan tanpa tujuan menembus malam. Pandangannya menggelap dan dirinya tidak lagi sadarkan diri.


Pada saat bangun, dirinya telah berada disuatu tempat asing. Disebuah kamar yang sederhana, berdinding semi permanen setengahnya adalah kayu.


" sudah sadar neng? " Sapa seorang ibu dengan pakaian sederhana muncul dari kamar.


Tatia menengok, " Ini dimana?" Tanya gadis itu.


" Dirumah ibu, tadi anak ibu menemukanmu pingsan, nah tetangga - tetangga dekat sini yang mengangkatmu ke rumah ibu"

__ADS_1


Tempat pingsan Tatia tidak jauh dari rumah ibu itu. Tatia megucapkan terima kasih setelah meminum teh hangat. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya.


" Bagaimana keadaan kakak itu bu? " Seorang anak kecil datang langsung menanyakan kondisi Tatia.


" Baik! Kamu jangan berisik! Jaga adik-adik sana biar kakak itu bisa istrhat" Tegur sang Ibu.


" Andai Daddynya Daffa ada, mungkin bisa diperiksa" Kata Anak itu.


Tatia heran karena anak kecil itu mengenal Dave dan keluarganya.


" Kamu kenal dokter Dave? " Tanya Tatia.


" Kenal, Daffa sahabat saya! Daddynya dokter cuma mereka sedang liburan" Jawab anak itu.


" Siapa namamu? "


" Budi" Jawab Anak itu sambil menyodorkan makanan yang dibawanya dari luar.


Tatia memakan makanan dengan lahap, ia harus mengisi perutnya yang lapar. Bayi dalam perutnya terus saja aktif bergerak namun tidak dipedulikannya. Menurut hasil USG terakhir jika Tatia mengandung anak lelaki. Arga sangat gembira mendengarkannya, ini adalah berita yang menggembirakan ditengah kegalauannya karena kedua orangtuanya sedang gencar mencarikan jodoh untuknya sebelum anaknya lahir.


Kedua orangtua Arga menginginkan Arga menikah sebelum anaknya lahir (Tetapi tidak dengan Tatia). Ada beberapa kandidat yang telah dipilih oleh sang mama namun belum mendapat persetujuan dari Arga.


***


Dering ponsel Daffa mengalun ditengah malam. Dave terbangun untuk mematikan ponsel tersebut.


" Siapa? " Tanya Elina ikut terbangun dengan dering ponsel tersebut.


" Budi " Jawab Dave singkat.


Dave memutuskan untuk mengangkat ponsel anaknya, mengingat Budi bukan anak tipe iseng yang suka telepon tengah malam.


" Ya Budi? Daffa sedang tidur " Jawab Dave.


" Pak dokter... Eh (Terdengar suara budi berganti dengan seorang wanita) Dokter Dave.. " Panggil suara itu dibuat selembut mungkin agar menarik didengarkan.


Ekpresi bingung terlihat dari pasutri tersebut. Bagaimana mungkin Tatia bisa memegang ponsel Budi? Ini sudah tengah malam. Elina dan Dave tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran gadis itu.


" Tatia? Bukannya kau sedang berada dirumah pacarmu? " Kata Dave.


" Oh jadi dokter tahu jika saya sedang disekap disana? " Tatia malah berbalik emosi.


" Dokter tolong saya! Arga bukan pria yang baik, Tolong saya! Demi anak yang sedang saya kandung ini" Pinta Tatia memelas.


Dave menghela napas. Elina melihat wajah Dave mengeras akibat menahan emosi.


"Memangnya kau siapa? Untuk apa aku harus peduli padamu? " Tanya Dave Tajam.


" Pasti istri dokter sedang disamping dokter kan? Dokter sebenarnya peduli sama saya tapi karena istri dokter yang melarang, pasti dia! Pasti! " Tatia semakin tidak jelas.


" Heh Nona! Aku tidak mengenalmu! Berhenti menjadikan aku sebagai objek dari obsesi gilamu! " Dave segera mematikan ponsel milik anaknya.


" Semakin dibiarkan semakin menjadi nih perempuan! " Marah Dave.


" Kenapa bisa ditempat Budi? Mungkin lebih baik kita tanyakan esok saja, istrahatlah! " Bisik Elina.


Dave memeluk Elina dan mengecup leher sang istri. Perhatiannya teralih ke leher jenjang milik istrinya.


" Pindah kamar yuuk " bisik Dave.


Elina mengangguk mengikuti sang suami. Mereka pindah ke kamar sebelah agar tidak mengganggu tidur anak mereka.


***


" UGH! Dimatikan! Apa tidak tahu jika aku sedang kesulitan! " Marah Tatia nyaris membanting ponsel jam tangan milik Budi. Nyaris saja, Untung saja Budi segera berteriak mengingatkan untuk tidak merusak jam tangannya.


Budi sendiri tidak mengerti dengan kemarahan perempuan muda didepannya, mengapa perempuan ini bisa semarah itu pada daddy Daffa.


Dasar anak polos, bocah itu memilih tidur kembali menyusul adik-adiknya. Ia tadi dimintai tolong Tatia untuk menghubungi Dave namun tidak aktif, kebetulan ponsel Daffa aktif. Sebenarnya anak itu terbangun untuk buang air kecil dan menemukan Tatia sedang mengendap mencari sesuatu dikamarnya. Budi tidak curiga jika Tatia ingin menelpon Daddy Daffa mengingat profesi Dave sebagai dokter, pria itu selalu menolong tetangga yang membutuhkan bantuannya jika sedang dalam keadaan darurat tanpa peduli kondisi tengah malam.


***


Tidak seperti biasanya, Elina bangun pagi dengan perasaan tidak enak. Setelah semalaman kelelahan olahraga fisik bersama sang suami, Elina dan Dave pindah ke kamar mereka untuk tidur bersama kedua anak mereka.


" Ada apa? " Tanya Dave ikut terbangun dengan gerakan sang istri


" Entahlah, perasaanku tidak enak" Jawab Elina.

__ADS_1


Dave memeluk sang istri dari belakang, Elina jarang sekali terlihat gelisah kecuali ada sesuatu yang mengganggunya.


" Mimpi Buruk? " Tanya Dave.


" Tidak, ada sesuatu yang buruk! seperti firasat " Elina tidak bisa menggambarkan perasaannya.


" Tenanglah, selama kita bersama apapun akan kita hadapi bersama " Kata Dave.


Elina diam dalam pelukan sang suami, tidak lama Kiara juga terbangun bersama Daffa. Kiara pun terlihat gelisah. Daffa melihat situasi diluar dengan tatapan kosong.


" Kalian ini ada apa sich? Mungkin belum biasa dengan suasana kamar baru " Dave kebingungan.


" Go Ho-me " Kiara mengucapkan dua kata dengan terpatah-patah.


Elina mengangguk walaupun sama gelisahnya, ia tidak boleh memperlihatkan pada kedua anaknya.


" Mom cuaca diluar tidak seperti biasanya, Kita bisa kembali sekarang? Aku benar-benar tidak ingin disini " Kata Daffa sambil melihat cuaca diluar jendela.


Suasana pagi mendung, Mereka menginap disebuah hotel yang view pemandangannya menghadap ke sungai besar. Sungai itu terhubung dengan laut namun tidak merubah warna coklat dan rasa tawarnya. ( Salah satu bukti nyata kekuasaan Tuhan karena Pertemuan sungai dan laut tidak merubah atau mempengaruhi warna dan rasa dari sungai atau laut itu sendiri).


Kiara semakin gelisah, Elina mempercepat packingnya. Dave terpaksa ikut saja, mereka segera mandi dan pergi k bawah untuk Check Out.


Daffa dan Kiara duduk dikursi belakang dalam car seatnya masing-masing. Walaupun di Indonesia, anak kecil dan bayi tidak dilarang duduk dipangku oleh orangtuanya namun Elina dan Dave tetap merasa aman jika anak-anak mereka duduk manis dikursi belakang dengan car seat masing-masing yang terpasang sabuk pengaman. Daffa sesekali menengok ke belakang dan melihat sesuatu dalam Tabletnya.


" Ayolah, jangan terus muram dipagi hari, sekarang kita sarapan dimana nih? Tidak kah kalian lapar? " Tanya Dave berupaya mengalihkan pikiran orang-orang yang ada dimobilnya.


Mereka singgah disebuah swalayan kecil, dimana Elina bisa memperoleh air panas untuk menyeduh susu Kiara. Daffa membeli air mineral dan cemilan yang kemudian ditaruh dalam ranselnya. Entah apa saja yang sudah dibeli bocah itu hingga ranselnya terlihat sangat penuh.Dave menyeruput tehnya yang dibuat diwarung makan terdekat. Elina dan Daffa makan dengan cepat.


Dave tertawa melihat ketiga orang didepannya seperti akan menghadapi sesuatu.


" Ayolah, Daffa! Kiara! Kalian membuat Daddy takut! Mommy kalian juga ikut-ikutan nih! " Dave menggelengkan kepala.


Elina dan Daffa saling melirik namun masih berlomba menghabiskan makanan mereka. Kiara sibuk menyedot susunya hingga habis.


Setelah selesai makan, Elina bicara dengan Daffa menggunakan bahasa asing sepertinya ada sesuatu yang tengah mereka konsultasikan. Kedua ibu dan anak itu terlihat serius membahas sesuatu.


" Okey mom! " Kata Daffa.


Daffa sedang mengoperasikan Tabletnya dan melihat sesuatu yang diminta ibunya.


" Cuaca memang sedang tidak bagus, Kita harus segera pergi dari sini " Kata Daffa.


Dave mengangguk, ia sudah terbiasa dengan bahasa tingkat tinggi yang digunakan dalam keluarga kecilnya itu. Dave baru memperhatikan suasana memang sedikit mendung tetapi memang Banjarmasin sedang musim hujan bukankah wajar jika mendung?


Ketika akan berdiri, Dave merasakan tempat berpijaknya bergetar. Pria itu terhenti sejenak. Elina memperketat gendongan Kiara.



( Anggap saja ini Kiara ya)


" Ayo Mom! Dad! " Seru Daffa.


Dave dan Elina masuk dalam mobil mereka dan meninggalkan warung makan ditepi jalan tersebut.


" Hanya Gempa kecil kok" Cetus Dave.


" Tidak Dad! Kita harus mencari tempat tinggi tetapi kalau bisa tidak melewati daerah yang memiliki struktur tanah lembek " Kata Daffa.


" Ada-ada saja, Tidak ada tsunami dengan gempa sekecil itu nak! " Tawa Dave.


" Bukan gempanya Dad! Nah kita ikuti jalur yang mapnya kukirim ke Map Mobilnya Daddy " Kata Daffa.


Dave menggeleng-gelengkan kepala saja. Elina dan Kiara terdiam tidak bicara sama sekali.


Selama dalam mobil, keluarga kecil itu tidak merasakan getaran gempa terus menerus datang. Dave ikut saja jalur yang dipilihkan Daffa walaupun memutar cukup jauh untuk sampai ke rumah.


Mobil berjalan dengan kecepatan biasa namun terhenti begitu karena didepan terjadi keramaian didepan.


" Terjadi sesuatu? " Dave memutuskan untuk melihat situasi didepan.


" Daddy cepat! Kita sedang terburu waktu, Disini tidak aman! kita sedang berada didaerah yang kemungkinan akan terkena dampak" Seru Dave.


" Dampak apa? Sejak tadi kalian semakin aneh aja deh"


Baru akan menjawab seketika mereka dikejutkan dengan suara gemuruh yang datang dari arah belakang. Teriakan demi teriakan orang dari luar membuat situasi menjadi tidak terkendali.


Dave menekan tombol otomatis untuk mengunci kaca mobil dan berusaha mencari tempat yang bisa membuat mobilnya aman.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2