
***
" Eh siapa tuh? ya ampun oppa Korea!! " Seru para perawat heboh melihat Dave lewat didepan mereka.
Dave tidak memperhatikan kehebohan yang ditimbulkannya karena sibuk menelpon Elina. Ia lupa membawa bekalnya. Elina mengirimkan makan siang lewat pak Rumbun.
" Makasih sayang" Kata Dave.
Dave berhenti disebuah ruangan berdasarkan peta rumah sakit yang diingatnya didepannya adalah ruangan Direktur rumah sakit. Ia masuk ke ruangan Direktur untuk memperkenalkan dirinya. Sambutan direktur sangat ramah, Dave tidak lupa diperkenalkan pada seluruh dokter dan staff rumah sakit. Mulai hari ini ia bekerja dipoli anak.
Berita masuknya dokter ganteng secakep oppa Korea langsung menyebar ke seluruh rumah sakit. Ketampanan Dave membuat para perawat dibangsal anak bersyukur.
" Tiap hari akan melihat dokter Dave, pasti akan lebih semangat!" Kata Salah seorang perawat.
" Gila, seperti dokter yang didrakor itu ya ampun! mimpi apa aku semalem? dokter itu single ga ya? mau dong jadi istrinya" Celetuk perawat lainnya.
Dave melihat sekitar ruangan kerjanya. sesuai dengan pekerjaannya sebagai dokter anak, ruangan Dave dibuat senyaman mungkin untuk anak. Ia sangat bersemangat memulai hari dan tidak lupa selfie untuk dikirim pada sang istri tercinta.
" Miss you 😘💝"
begitu tulisnya dalam foto itu.
tidak berapa lama Elina membalasnya dengan emoji 💝💝💝 🤗
Dave senyum dan mulai membaca berkas yang perlu diketahuinya. Dirumah sakit itu ada beberapa anak yang sedang dirawat dengan diagnosa Demam berdarah dan tipes serta beberapa sedang rawat jalan akibat kecelakaan.
" Dokter, ada orang rumah mengantarkan makanan " Kata Perawat dengan wajah dimanis-maniskan.
Dave tersenyum melihat pak Rumbun masuk.
" Masuk pak, terima kasih sudah diantar!" Kata Dave.
Pak Rumbun langsung balik kanan setelah makanan diterima Dave. Pria muda itu membuka rantang yang disiapkan istrinya.
" Istriku memang paling tahu makanan suaminya 🤗😘" Dave tersenyum lalu mulai memakan bekalnya hingga habis.
***
Daffa tampak sibuk dikamar untuk melihat isi kamarnya. Ia teringat Budi.
" Aduh lupa minta nomor HPnya " Kata Daffa.
Anak itu mengeluh karena melupakan hal yang penting. terbesit ide dipikirannya, sambil tersenyum ia mengambil tasnya lalu turun dari kamar.
" Mom aku belajar bareng Budi boleh?" Tanya Daffa.
Bibi Andrea melongo mendengar perkataan anak majikannya. Daffa belajar kelompok? Elina tersenyum mengangguk.
" Jangan pulang terlalu malam ya" Kata Elina.
" Tapi?" Bibi Andrea hendak melarang.
" Tidak apa-apa Aunty, Daffa memang harus memiliki teman seusianya. " Jawab Elina.
Daffa gembira mengambil sepeda. Dikayuhnya sepeda menuju rumah Budi. Tampak ada yang berkerumun didepan rumah Budi. Daffa segera mencari tahu.
" Ada apa Budi?" Tanya Daffa.
Budi dan adik-adiknya menangis dalam keadaan berpelukan. Seorang Wanita yang nampaknya Ibu Budi juga tengah menangis ditenangkan oleh tetangga lainnya yang bersimpati.
Ibu Budi nampak terluka lebam diwajahnya dan berdarah. Daffa langsung terpanggil mengobati ibu Budi. Sebagai anak Dokter ia telah terbiasa membawa kotak P3K kemanapun ia pergi. Dengan cekatan ia mengobati wanita paruh baya tersebut.
" Terimakasih Nak" Ujar ibu Budi.
" Saya Daffa, teman Budi" Kata Daffa memperkenalkan dirinya.
Dari tetangga sekitar, Daffa mengetahui jika ayah Budi tadi datang mengambil sertifikat rumah untuk dijual. Ayah Budi memerlukan uang membelikan motor baru untuk sang istri muda. Ibu Budi mempertahankan namun malah dihajar oleh ayah Budi.
__ADS_1
Walaupun masih kecil, Daffa juga langsung merasa marah.
" Sudah tidak menafkahi sekarang malah mengambil sertifikat rumah, tidak tahu diri!" maki salah satu tetangga.
Daffa mengambil ponsel yang ada di tasnya. Ia menyuruh seseorang untuk membantunya mengambil sertifikat rumah ibu Budi. Budi tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan Daffa ( Daffa memilih menggunakan bahasa asing agar tidak ada yang mengetahui pembicaraannya).
" Dalam satu jam bereskan semua " kata Daffa lalu menutup teleponnya. Ia mengembalikan ponselnya ke dalam tas.
" Tenanglah Budi, kalian tetap bisa tinggal dirumah ini, aku sudah meminta anak buah Daddy untuk mengantar sertifikat rumahmu ke sini" Kata Daffa.
Budi memeluk Daffa, ia memang masih kecil tidak secerdas Daffa namun dirinya tahu jika sahabatnya ini membantunya kesulitannya.
Daffa menelpon ibunya mengabari situasi dirumah temannya secara singkat. Elina mengirimkan Pak Rumbun untuk ke rumah Budi agar Daffa tidak pulang malam sendirian.
Tetangga bubar satu persatu, orang suruhan Daffa datang saat semuanya sudah bubar. Orang itu menyerahkan sertifikat rumah ibu Budi. Bukan main terkejut ibu Budi saat Daffa memberikan sertifikat itu.
" Bagaimana bisa nak?" Tanya ibu Budi.
" Tenang saja Bu, ini sertifikatnya dijaga ya! jangan dikasih lagi" Jawab Daffa.
" Tuan muda, Nyonya mengingatkan untuk tidak terlalu malam pulang dan ini jaket tuan muda" Kata Pak Rumbun.
Daffa mengangguk berterima kasih, sebenarnya ia ingin lebih lama dirumah itu namun sudah malam, ibunya pasti cemas. Ia mengiyakan perkataan pak Rumbun dan pamit pulang.
" Jangan lupa untuk mengerjakan pe-er " Kata Daffa.
Budi mengangguk, Daffa menuntun sepedanya berjalan bersama pak Rumbun. Elina dan Bi Andrea menyambut didepan pintu.
" Makasih pak, maaf merepotkan!" Kata Elina.
Pak Rumbun hanya menunduk sambil mengangguk saja. Ia pamit pulang ke rumahnya.
" Bagaimana disana? tidak boleh ikut campur seperti itu nak, tidak baik!" Kata Elina.
" Lalu apa Daffa harus membiarkan teman Susah? Kasihan mommy" Jawab Daffa.
Daffa mengangguk walaupun hatinya belum paham, secara IQ anak itu memang jenius namun Elina menyadari jika EQ Dan SQ anaknya masih sangatlah muda.
***
Keesokan paginya Dave tidak lagi mengantar anaknya ke sekolah, Daffa berangkat sendiri dengan sepedanya.
Daffa menjemput Budi ke sekolah, anak itu tidak membawa jajanan karena ibunya sedang tidak enak badan. Sepanjang perjalanan keduanya terdiam. Budi kaku tidak tahu harus bicara apa.
Sesampainya disekolah keduanya langsung masuk kelas.
" Jangan sungkan begitu, sebagai teman saling menolong itu wajar kan?" Kata Daffa.
" Tapi aku tidak enak, ibu bilang kamu terlalu baik " jawab Budi.
" Tidak usah dipikirkan teman! Pe-er sudah belum?" Tanya Daffa.
Budi menepuk dahinya lalu segera mengerjakan sebelum masuk. Daffa membantunya dengan segera keduanya bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan rumah Budi.
Nara datang pamer jam tangan miliknya yang bisa sekaligus ponsel, Jam tangan ini dibelikan ayahnya saat tengah kunjungan dinas ke luar daerah. Banyak orang yang mengerubunginya karena penasaran dengan jam tangan itu.
" Ini bisa sekaligus ponsel dan alat pelacak loh, anti air lagi, kan disekolah tidak bisa bawa hape nah jam tangan bisa kan?" promosi Nara.
Budi ngiler ingin lihat tapi Nara tidak mengizinkannya. Daffa cuek bebek, tidak tertarik. Nara agak panas tidak mendapat respon yang diinginkannya.
" Hadeuh anak kecil, ckckck " keluh Daffa dalam hati.
(dia sendiri tidak sadar masih kecil juga 😂😂😂)
" Jam tangan Nara bagus ya, kira-kira menabung berapa lama ya biar bisa beli jam yang begitu" Kata Budi.
" Kamu ga akan mungkin bisa beli walaupun gorenganmu laku tiap hari hahaha menabung sana Sampai tua kecuali beli yang kw" Kata Nara tertawa mengejek.
__ADS_1
Budi menjadi sedih mendengarnya. Daffa tersenyum.
" Bisa kok asal kamu rajin menjual gorengan ibumu, bulan depan bisa terbeli " Kata Daffa.
" Benarkah?" Budi mendadak semangat.
" bisa" kata Daffa.
" Beli yang Kw juga ga papa, biar belinya dua buat aku dan buat adik adik aku dirumah" Kata Budi dengan semangat 45.
Ia bertekad akan menjual gorengan ibunya lebih banyak daripada biasanya. Daffa tersenyum. Betapa bersyukurnya dia hidup serba kecukupan, kalau dia tidak bersyukur maka ia malu pada Budi.
***
Daffa mengikuti pelajaran dengan semangat, mamanya memberikan bekal untuknya agar tidak jajan sembarangan. Daffa selalu meninggalkan uang jajannya dirumah.
Sepulang sekolah ia selalu berkumpul dengan orangtuanya menceritakan kegiatannya sehari-hari.
" Wah betah rupanya Daffa disekolah " kata Dave.
" Yes Daddy! eh Daddy aku boleh bantu temen ga?" tanya Daffa.
" Boleh, asal temen kamu mau dibantu kadang ada yang tidak mau dan tersinggung" Jawab Dave.
" Kok bisa? kan niatnya bantu" Daffa bingung.
" Yah hargai mereka yang ingin berdiri menyelesaikan masalah mereka sendiri, teman yang baik itu ada disaat temannya butuh bantuan tapi usahakan bantuan nya tidak melukai harga diri temanmu itu" Jawab Dave.
Daffa mengangguk,
" Memang mau bantu siapa? Budi?" Tanya Elina.
Daffa mengangguk, Elina dan Dave menunggu anaknya memaparkan rencananya. Daffa rupanya ingin mengembangkan usaha temannya dengan membuat rencana pemasaran sederhana namun efektif.
Dave dan Elina mengangguk angguk seolah mendengarkan seorang CEO sedang mempresentasikan rencana bisnisnya.
" Nampaknya kakek Mathews akan senang mendengar cucunya tertarik pada bisnis " Bisik Dave pada sang istri.
" Sstt kita dengar semuanya dulu sampai habis" Potong Elina.
Daffa membuat perencanaan untuk memasarkan jualan ibu Budi dan menambah menu gorengan dengan menu lain tentunya dengan modal minim dengan hasil maksimal.
Bibi Andrea bertepuk tangan bangga, anak asuhan nya sangat memikirkan nasib orang lain. Ibu Danum dan Sanja terkagum-kagum, anak sekecil itu bicara dengan menggunakan istilah asing yang bahkan baru saja didengarnya.
" Bagus kapan rencananya dimulai?" tanya Dave.
" Mmh esok Daddy " Kata Daffa.
" Good job myson! " Puji Dave.
Elina memeluk anaknya, ada rasa bangga yang masuk dalam hatinya. Sang putra memiliki hati yang baik dan suka menolong.
Daffa pamit ke kamar memulai projek kecilnya. Semalaman sibuk didepan laptop dan memprint beberapa desain logo baru untuk usaha gorengan Budi.
" Anak kita itu kalau sedang semangat mirip denganmu" Kata Dave memeluk sang istri saat keduanya mengintip kesibukan putra mereka.
" Benarkah?"
Dave semakin mengeratkan pelukannya. ia rindu wangi istrinya ini. Elina memberi kode jika ia belum bisa melayani suaminya secara bathin, masa nifas belum selesai. Dave tersenyum kecut saja. Usia Kiara hampir 4 Minggu, Dave tahu masa menunggunya tinggal sebentar lagi. Wanita memang butuh waktu untuk pemulihan pasca melahirkan.
" Yah..mandi air dingin deh " Kata Dave.
Elina tertawa kecil. " Kubantu deh, Darurat aja ya" Katanya sambil tertawa.
Ia menarik sang suami ke kamar mandi, bermesraan disana tanpa melakukan hubungan intim. Dave mencoba menikmati pelayanan sang istri, ia sendiri hampir tidak dapat menahan dirinya untuk tidak memikirkan hal itu. Mengenai apa yang mereka lakukan dikamar mandi dibayangkan saja sendiri suami istri mah bebas 👍😁😁🤭
***
__ADS_1
BERSAMBUNG.