
***
Penyelidik memperhatikan keterkejutan Edgard saat melihat benda dalam kantong plastik penyimpanan.
" Anda mengenali benda ini?" Tanya penyelidik.
Edgard mengangguk, ia mengenali gelang kaki yang memiliki lambang Gunadya.
" Iya lambang keluargaku tertera jelas disitu " Jawab Edgard mengakui.
" Benda ini ditemukan bersama jenazah bayi yang dikuburkan diarea klinik dokter Julius" Kata Penyidik.
BRUK!
" APA!"
Tanpa sadar Edgard menggebrak meja, bagaimana mungkin hal ini terjadi pada bayi malang itu. Edgard terduduk kembali membayangkan bayi mungil nan menggemaskan tengah tersenyum berganti dengan gundukan tanah kecil yang tidak terawat.
" My poor Baby..oh Edward" Desis Edgard terduduk lemas menutup matanya dengan tangan kirinya.
Ini pukulan untuknya juga, bayi Edward barulah berusia 2 minggu saat dia hilang.
" Apakah anda yakin gelang kaki ini ditemukan pada salah satu jenazah? bisakah saya ikut memeriksa jenazah bayi itu?" tanya Edgard.
Penyidik menggelengkan kepalanya, jenazah yang ditemukan semuanya telah ditangani oleh tim forensik kepolisian namun Edgard diizinkan untuk melihat foto jenazah yang menggunakan gelang kaki tersebut.
Mata sang dokter yang terkenal dingin itu berkaca-kaca, entah mengapa ia langsung yakin saat melihat jenazah yang menyisakan tulang belulang dengan sedikit kulit yang telah mengering. 5 Tahun lamanya sejak hilangnya Edward kala itu.
" Aku mengenali bayi ini karena kedua orangtuanya adalah pasienku, bayi ini hilang saat usianya 2 Minggu" lalu Edgard memperlihatkan foto Selfi pertama dan terakhir kali bersama bayi itu yang selalu tersimpan dalam memori ponselnya.
Penyidik menanyakan beberapa pertanyaan dan menyudahi penyidikan setelah 15 menit memeriksa Edgard. Dari penyidik dirinya diberitahu jika orangtua Edgard telah dihubungi.
***
Suasana pemakaman diwarnai oleh tangis Silvia dan Ibu Widya. Betapa hancurnya hati kedua wanita itu saat mengetahui bayi yang hilang kembali dalam keadaan tidak bernyawa.
Cuaca mendung juga seolah ikut berduka. Edgard datang membawa sebuket bunga mawar putih dan sebuah boneka pangeran yang mengenakan mahkota. Elina dan Dave juga datang. Stephan juga terlihat goyah namun lebih banyak diam. Hanya sang kakek yang terlihat tabah.
Sekelebat bayangan Edward kecil muncul seolah baru kemarin rasanya bayi itu lahir dan sekarang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.
Hasil penyelidikan keluar. Tim forensik menyimpulkan penyebab kematian bayi malang itu adalah organ hatinya telah hilang. Silvia dan Stephan sangat terpukul, siapa yang tega menyakiti bayi sekecil itu.
" Kak sebentar " Ajak Elina ketika kakaknya melintas didepan ruangannya. Kebetulan Elina sedang mencari kakaknya.
Elina didampingi Dave, keduanya terlihat sangat serius.
__ADS_1
" Apa ada masalah dengan kandunganmu? " Tanya Edgard cemas.
Elina menggeleng, ditangannya sedari tadi memegang sesuatu yang akan ditunjukkan.
" Kak ini baru sebatas dugaan, masih harus dibuktikan dengan tes laboratorium kembali " Kata Elina berwajah cemas.
" Ada apa? jangan bikin kakak makin cemas " Jawab Edgard ikut tegang.
" Edgard " Dave ragu melanjutkan.
" Ada apa dengan kalian ini? boleh aku panik sekarang? " tanya Edgard ikutan tegang.
Elina memberikan kertas yang dipegangnya, Edgard membaca isinya yang berupa hasil pemeriksaan kondisi organ Nathasa yang sedang bermasalah sekarang.
Edgard menahan napas, ia bisa membaca pikiran adiknya.
" Bagaimana mungkin seperti itu? bayi kecil itu keponakannya juga, oh! Astaga! jadi? " Edgard kehabisan kata.
Elina menduga Nathasa menggunakan organ hati milik Edward. Berdasarkan hasil analisa laboratorium mengenai kondisi hati Nathasa ternyata ada indikasi organ yang digunakan adalah organ bayi baru lahir yang memiliki tingkat kecocokan yang tinggi antara pendonor dan calon penerima donor.
Terlebih lagi, Ningsih Bumiwardoyo terseret masuk dalam daftar orang yang pernah menggunakan jasa dokter Julius.
" 5 Tahun lalu Nathasa menjalani operasi transplantasi organ tubuh tepat disaat hilangnya Edward dan Nathasa pulih dari penyakitnya. Ini baru dugaanku jika penculikan bayi itu sudah direncanakan" Dave memulai analisanya merangkai misteri.
Kertas yang dipegang Edgard kusut karena digenggam begitu kuat. Selama ini ia tahu kekejaman keluarga Bumiwardoyo pada adiknya tetapi kali ini terjadi didepan hidungnya membuatnya bergetar karena marah.
" Akh mereka kejam sekali " Edgard terlihat makin emosi.
Elina dan Dave terdiam. Edgard menelpon penyidik dan memberitahukan dugaannya. Tidak lama setelah itu penyidik datang bersama dokter forensik menganalisa hasil laboratorium Nathasa.
" Ini bisa menjadi bukti jika Ningsih Bumiwardoyo menjadi tersangka dalam kasus penculikan dan pembunuhan berencana bukan hanya pada bayi Edward tetapi beberapa bayi lainnya yang akan digunakan untuk operasi cucunya" Kata penyidik kemudian pamit.
Sama halnya dengan Keluarga Wijaya terutama ibu Widya, Wanita tua itu tidak percaya jika ini ide dari Ibu Ningsih.
" Pasti menantu kurang ajar itu! Ia saja bisa tega menjebak Nathan " Kata Ibu Widya marah.
Silvia hanya bisa menangis mengurung diri dikamar, Terbayang kembali bagaimana bayi kecilnya direbut darinya malam itu. Rasanya dirinya ingin menjerit sekeras-kerasnya, Stephan dan anak-anaknya saling bahu membahu membujuk wanita itu. Hati ibu mana yang tidak tercabik mengetahui anak yang didambakannya sekian lama berakhir dimeja operasi diambil organ hatinya.
Terjawab sudah mengapa Silvia dan Stephan merasa adanya ketertarikan bathin yang tidak bisa dijelaskan saat bersama Nathasa. Hati putra mereka dipakai Nathasa untuk bertahan hidup sedangkan putra mereka berkalang tanah.
***
Kasus terus bergulir, Ibu Ningsih mengakui semua dan menanggung semua konsekwensinya, wanita itu bersikukuh jika Anggun sama sekali tidak tahu jika pendonor Nathasa kemarin adalah sepupunya. Hingga Anggun lolos dari jeratan hukum dan menjadi saksi yang siap dipanggil sewaktu waktu. Sedangkan Anggun masih sibuk dengan kondisi Nathasa.
" Kita harus mendapatkan donor hati dalam dua bulan ini" Kata dokter.
__ADS_1
Anggun kebingungan, belum mendapatkan pendonor anaknya dirinya masih harus memikirkan bagaimana cara agar mendapatkan biaya untuk pengobatan anaknya. Uang yang didapatkan kemarin telah habis tidak bersisa.
Anggun menceritakan masalahnya pada Judith mengenai anaknya yang membutuhkan banyak biaya.
" Aku tidak bisa membantumu dalam hal biaya tapi aku punya saran tergantung kau mau atau tidak" Kata Judith.
" Apapun itu asal bisa menolong anakku, akan kulakukan!" Kata Anggun.
"Kau harus merayu bos besar untuk tidur dengannya dan tidur dengannya juga itu sangat menderita tapi bos besar ini tidak sembarang memilih wanita, aku hanya bisa mengenalkanmu padanya selebihnya tergantung usahamu sendiri" kata Judith.
Anggun menelan ludah, tidak ada pilihan lain lagipula ini bukan pertama kalinya ia menjual diri. Demi Nathasa apapun akan dilakukan.
" Baik! Antarkan Aku" kata Anggun.
Judith tersenyum melihat wanita didepannya sama nekatnya dengan dirinya dulu, ia pernah tidur sekali dengan bos besar tersebut saat panti asuhan membutuhkan tambahan dana untuk kontrakan tempat tinggal walaupun membuat bos besar itu puas harus membuat Judith kesakitan.
Apapun akan ia lakukan asal putranya bisa tidur dengan nyaman. Hal yang menggembirakan Judit adalah kabar putranya dan teman-temannya telah mendapatkan donatur yang baik hati bahkan telah tinggal dirumah mewah sekarang. Judith tidak mengetahui jika sekarang panti asuhan putranya pindah ke rumah keluarga Bumiwardoyo. Sudah lama ia tidak menjenguk putranya. mereka hanya berhubungan lewat telepon saja.
Anggun menitipkan putrinya pada salah satu perawat yang dibayarnya. Judith juga berjanji akan menggantikan Anggun untuk menjaga Nathasa jika Anggun sedang "bertransaksi" dengan bos besar itu.
***
Judith bersama Anggun datang pada boss besar yang dimaksud, beruntung bagi Anggun boss besar itu tertarik padanya. Judith pamit langsung ke rumah sakit.
Benar kata Judith, Boss besar membuat Anggun kesakitan semalaman. Boss besar itu memiliki perilaku menyimpang dalam hal hubungan intim, Bayaran yang diterima Anggun sangat besar.
" Kau bisa jadi simpananku jika kau mau! hahaha kau akan mendapatkan apapun yang kau mau hei Wanita!" Kata Boss besar itu menarik rambut Anggun dengan kasar.
Anggun sudah kepalang tanggung tidak mau mundur lagi. Boss besar itu gendut dan jelek, dengan perutnya yang besar agak menyusahkan saat bergerak.
" Aku bersedia asal anda mau membantuku mencarikan pendonor untuk anakku, Apapun walaupun menjadi budakmu sekalipun" Jawab Anggun lemah.
" Itu gampang! Selama aku puas denganmu, Aku punya banyak anak buah yang bisa menolongmu" Jawab Boss besar
Anggun mengangguk berterima kasih saat diberikan kartu nama tangan kanan boss besar itu.
Menjelang pagi, Anggun meninggalkan tempat itu dengan langkah terseok-seok menuju rumah sakit.
" Astaga Anggun!" Pekik Judith melihat Anggun yang pucat dan penuh memar.
Anggun tersenyum lemah sambil memperlihatkan sejumlah uang yang didapatkannya. Anggun meminum air mineral yang diberikan Judith. Tanpa menunda waktu ia menelpon seseorang berdasarkan kartu nama yang diberikan boss besar itu.
Orang yang dihubungi ternyata adalah orang bayaran profesional, Anggun memberi perintah untuk mencari anak yang potensial untuk dijadikan donor putrinya.
" Baik, Tunggu saja kabar gembira dari kami" jawab orang itu ditelepon.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG