
Duk..
Suara benturan antara pop ice dengan lantai membuat sepasang manusia yang tengah berpelukan itu menoleh. Kedua manusia itu mencari ke sumber suara dan menemukan pelaku nya tengah diam mematung. Pria itu adalah Al, dia datang dengan membawa cup pop ice dengan se-buket bunga dan dua buah coklat si hias pita.
Al, pria itu di buat bungkam saat melihat wanita yang di cintai nya berpelukan dengan pria lain. Al marah. Tentu saja marah. Terlihat jelas urat-urat di leher nya menegang dengan rahang yang mengeras.
Sementara si wanita, dia juga ikut bungkam dengan kehadiran Al yang tiba-tiba. Dia pikir Al tidak akan mengejar nya, dia pikir Al benar-benar marah pada nya. Tapi ternyata? Al menemui nya sekarang.
Wanita itu, lebih tepat nya Putri. Dia melepas pelukan Arjuna dengan segera. Dia lantas berdiri dan menghampiri Al. Tapi entah dorongan dari mana, Arjuna malah mencekal tangan Putri. Pria itu memberi kode supaya Putri tak melanjutkan aksinya.
"Duduk, Put!" perintah Arjuna cepat. Dia menarik Putri untuk kembali duduk di samping nya.
Kini Arjuna lah yang bangkit, pria itu menghampiri Al yang sekarang tengah berapi-api.
"Mau marah sama saya, Bang?!" sinis Arjuna judes dan langsung mendapat tatapan tajam dari Al. Al mendekat satu langkah, mengikis jarak antara dirinya dan Arjuna.
"Nggak usah basa-basi, Jun. Maksud kamu apa peluk-peluk pacar ku macam tadi?!" tanya Al tak kalah judes. Arjuna lantas tertawa hambar.
"Pacar Abang? Oh jadi Putri ini pacar Abang?" ujar Arjuna dengan nada mengejek. Al semakin merasa marah. Wajah nya merah padam dengan tangan yang mengepal. Sementara Putri hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara kedua nya. Dia ingin sekali menyudahi mereka, tapi Arjuna lagi-lagi menyuruh nya diam.
"Nggak usah banyak bicara kamu! Jawab pertanyaan ku soal pelukan itu?!" tanya Al semakin beringsut. Dia tak suka basa-basi.
"Ah itu, bukan apa-apa, Bang. Saya hanya ingin memeluk calon pacar saya." balas Arjuna enteng sambil menatap Putri singkat. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia mengikuti saja apa yang Arjuna suruh.
"Maksud mu apa, Jun? Jelas-jelas Putri itu pacar saya. Jangan mimpi kamu, yaa!" elak Al marah.
"Lho, bukan nya Abang mau menikah sama Kinza? Kok bisa-bisa nya masih punya pacar di luar sana? Masih ingat ucapan saya, Bang?!" sinis Arjuna sambil menekan kata-kata terakhir nya. Al langsung teringat kejadian beberapa bulan lalu di rumah sakit. Al paham betul bagaimana Arjuna, cowok nekat jika dia merasa benar.
"Put bangun, bilang sama dia kalau lo ingin putus!" perintah Arjuna pada Putri. Putri lantas terkejut mendengar ucapan Arjuna barusan. Mengakhiri hubungan dengan Althafariz, apa dia mampu?
"Put, dengerin kata-kata gue!" ujar Arjuna sekali lagi.
"Kamu apa-apaan, Jun. Cari masalah kamu sama saya, hah?!" bentak Al judes seakan meminta penjelasan. Pria itu ikutan terkejut mendengar penuturan Arjuna barusan.
Putri bangkit dengan semua kekuatan yang dia punya. Dia harus mengakhiri ini semua. Dia tidak ingin menjadi orang jahat. Cukup, Putri ingin menyudahi semua nya.
"Mas Al, seperti nya kita memang di takdirkan untuk berpisah. Kita tidak berjodoh, Mas." ucap Putri sambil menatap Al lekat-lekat. Al tak percaya. Dia masih diam meresapi perkataan Putri.
"Maksud mu apa, Put? Kita masih bisa berhubungan walau aku sudah menikah. Tak ingat dengan perkataan mu dulu?" tanya Al dengan suara sayu dan lebih merendah. Pria itu menatap Putri tak kalah lekat. Sementara Arjuna? Hati nya bergejolak mendengar penuturan Al tentang hubungan yang akan di lakukan mereka walaupun Al sudah menikah.
'Brengsek lo, Al!' gumam Arjuna dalam hati. Sungguh ingin sekali rasanya dia berontak. Tapi Arjuna berfikir dua kali. Membuat Al sadar harus dengan cara yang halus.
"Ternyata begini kelakuan bejat seorang Kapten. Mengkhianati dua perempuan yang sama-sama tak berdosa. Abang tidak malu kah sama pangkat dan jabatan? Tidak malu dengan seragam? Saya rasa ini penjahat yang sesungguhnya, mematikan dengan perlahan." vonis Arjuna marah. Hati nya begitu teriris mendengar perkataan busuk dari mulut seorang Al. Arjuna marah. Sungguh marah.
Al diam. Semacam ada sesuatu yang menyentil hati nya. Al di buat bungkam seketika atas penuturan Arjuna barusan.
"Ucapan saya benar, bukan? Baru kali ini saya tau seorang prajurit berkhianat!" cecar Arjuna lagi. Al semakin bungkam dan bungkam. Bibir nya terasa kelu untuk berbicara. Arjuna benar. Al memang mengkhianati Putri. Meskipun bukan keinginan nya, tapi Al memang telah menyakiti banyak hati.
Al sadari itu. Diri nya benar-benar pengecut sekarang. Tak ada yang bisa Al lakukan.
"Mas, mulai sekarang kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku ingin bahagia dengan cara ku sendiri. Tanpa Mas, tanpa kenyataan pahit ini. Aku, memilih mundur sekarang." desak Putri pada Al. Pria itu menatap Putri tidak percaya. Padahal kehadiran nya di sini untuk meminta maaf. Al pikir, Putri akan memaafkan nya. Tapi rupanya Al salah besar.
__ADS_1
"Kenapa, Put? Berikan aku alasan yang logis. Kamu marah soal kejadian di WO tadi? Atau kamu tak terima perjodohan aku dan Kinza...."
"Put, aku minta maaf. Sungguh aku mencintai kamu, bukan Kinza. Kita bisa kan berhubungan di belakang Kinza? Tolong maafkan ak-....."
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Al dengan ganas nya. Ucapan Al langsung terhenti ketika tubuh nya terpental beberapa meter.
Arjuna yang tak tahan mendengar ucapan Al. Pria itu langsung membogem Al. Tubuh pria itu jatuh langsung terhuyung kebelakang. Emosi kedua nya memuncak.
"Sudah cukup, Bang! Selama ini saya menahan emosi untuk tidak bermain kasar pada, Abang! Tapi Abang sendiri lah yang memulai nya!" Vonis Arjuna dengan emosi meletup-letup. Dia maju beberapa langkah dan langsung meremas baju Al.
"Rupanya Abang tak mengindahkan ucapan saya! Ah ya, Abang butuh alasan yang logis mengapa Putri memutuskan, Abang?! Abang ini pura-pura bodoh atau apa Bang? Dua bulan lagi pernikahan Abang dan Kinza di laksanakan. Wanita mana yang tahan melihat orang yang dicintainya menikahi perempuan lain. Saya tau itu bukan keinginan Abang, tapi setidaknya adakah usaha Abang untuk menghentikan perjodohan ini? Atau adakah usaha Abang untuk memilih salah satu dari mereka? Saya rasa Abang cukup pintar untuk memilih. Dan sekarang? Abang malah memilih kedua nya tanpa memikirkan resiko yang akan di hadapi! Abang tau? Banyak pihak yang sudah Abang rugikan dalam masalah ini! Termasuk saya!" sambung Arjuna marah dengan tak melepas cekalan tangan nya pada kaos yang di pakai Al. Arjuna beringsut, meskipun tak membogem Al lagi, tapi dia rasa kata-kata nya barusan mampu membuat Al terhuyung.
Arjuna memang benar. Sangat benar.
"Maaf jika saya lancang. Di sini, tidak ada senioritas! Saya hanya membela Putri dan semua kebenaran yang ada!" imbuh Arjuna seraya melepas cekalan nya dengan kasar. Suasana cafe yang tadi nya hening berubah memanas seketika. Di tambah dengan suara tangisan Putri yang menggema di seluruh ruangan.
Arjuna menarik lengan Putri sedikit kasar. Dia mengajak Putri untuk pergi dari sana. Kini tinggal lah Al sendiri, berdiri mematung dengan pikiran yang melayang-layang. Al terkejut? Tentu saja! Penuturan Arjuna bagai sambaran petir yang mencabik hati nya.
...---...
Kinza merebahkan tubuh mungil nya di atas kasur empuk kesukaan nya. Setelah tiga jam mengunjungi WO membuat tubuh nya sedikit kelelahan.
Dia menatap langit-langit kamar nya. Pikiran gadis itu kemana-mana.
"Dua bulan lagi gue menikah. Tapi gue belum sempat bertemu dengan Bang Juna. Dia tau nggak ya soal perjodohan ini?"
"Sebenarnya dia kemana? Ponsel tidak pernah aktif, instagram juga tak pernah aktif."
Gadis itu mulai bergumam sendiri. Entah kenapa hati nya semakin sakit menyebut nama Arjuna. Kesalahan terbesar apa yang akan dia lakukan pada Arjuna dan hati nya? Kinza tak punya pilihan lain. Dia sudah di ujung, terjebak dengan semua keputusan yang diambil nya sendiri.
"Bang Juna, Kinza minta maaf ya? Kinza tak tau lagi harus berbuat apa. Maafkan Kinza karena menerima perjodohan ini."
"Kinza cinta sama Bang Juna, tapi Kinza tak bisa menolak perjodohan ini. Kinza minta maaf ya? Jangan marah ya, Bang? Kinza mohon jangan menjauhi Kinza."
Gumam Kinza lirih. Kali ini sambil meneteskan air mata. Tubuh nya bergetar hebat saat membaca pesan-pesan dengan Arjuna beberapa bulan lalu. Hati nya sakit, Tuhaaan.
"Kinza cinta sama Bang Juna." gumam nya lagi sebelum akhirnya memejamkan mata.
---
"Adek sudah siap ingin menikah dengan Kapten Althafariz?"
"Berapa lama kalian berpacaran?"
"Berapa gaji calon suami Adek?"
"Sebutkan NRP calon suami Adek!"
"Apa nama jabatan calon suami Adek?"
__ADS_1
"Adek sudah siap menjadi istri dari seorang Prajurit?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan waktu menghadap ke pejabat tinggi satuan. Semua pertanyaan tersebut mampu di jawab Kinza dengan baik. Tutur kata Kinza pun lembut dan luwes. Seakan cinta sekali dengan Al dan pernikahan ini.
Sore ini, mereka berdua sudah selesai menghadap berbagai pejabat tinggi. Beberapa minggu lalu mereka telah selesai melakukan berbagai pengetesan. Mulai dari pemeriksaan penelitian khusus, pemeriksaan kesehatan, pembinaan mental, dan yang terakhir menghadap pejabat satuan yang hari ini sudah di laksanakan.
Semua nya sudah siap. Tinggal menunggu satu minggu untuk melaksanakan hari pernikahan.
Undangan telah tersebar kemana-mana. Berita pernikahan mereka pun telah tersebar di satuan tempat Al dinas.
Seperti sore ini. Setelah selesai menghadap pejabat satuan, mereka berdua bersama lima pasangan lain nya melakukan tradisi naik becak mengelilingi satuan. Gurat senyuman bahagia terpampang jelas di wajah-wajah calon pengantin baru ini. Berbanding terbalik dengan Al dan juga Kinza.
Mereka memang memasang senyum bahagia, tapi itu adalah senyuman palsu untuk menipu beberapa pasang mata lain nya. Al tentu tidak ingin image nya menurun karena perjodohan ini. Di asrama ini, tidak ada seorang pun yang tau kalau mereka menikah karena di jodohkan. Dan, kedua pihak baik Al maupun Kinza sepakat untuk menutupi berita perjodohan ini.
Seusai melakukan tradisi militer. Mereka berdua memilih untuk pergi ke rumah dinas Al yang nanti nya akan di tempati setelah mereka menikah. Rumah itu tampak berdiri kokoh dan terlihat asri. Warna cat hijau mulai dari yang muda sampai yang tua. Dua buah pot berukuran sedang yang di tanami bunga matahari menghiasi lahan kosong di depan rumah tersebut. Pepohonan yang hijau menambah keasrian rumah dinas ini.
Kinza mengikuti langkah Al. Pria itu sibuk membuka kunci pintu rumah nya.
Setelah pintu mulai bisa di buka, barulah mereka berdua masuk.
"Pintu nya jangan di tutup." tutur Al datar seraya melepaskan sepatu PDL yang sejak tadi menemani nya. Kinza langsung mendelik. "Siapa juga yang mau menutup pintu, nggak sudi keleus berduaan sama Kak Al!" gumam Kinza dalam hati.
"Kakak ngapain sih ajak aku ke sini?" tanya Kinza seraya duduk di sofa panjang depan TV.
"Buat beres-beres lah, kamu pikir apalagi selain itu?" imbuh nya datar.
"Bukan nya rumah ini sudah rapih? Lantas apa dong yang perlu di rapihkan?" tanya Kinza polos sambil mengedarkan padangan nya ke seluruh penjuru ruangan.
Kinza memang betul. Rumah ini tampak rapih dan bersih. Dua buah sofa panjang sudah tertata rapih di ruang tamu dengan meja persegi panjang. Dia ruang kedua, ada satu sofa panjang dengan TV di depan nya. Di sudut ruangan terdapat hiasan pot dengan tanaman palsu yang ukuran nya cukup besar. Masuk ke dapur, ada satu set meja makan lengkap dengan kitchen set dan kulkas ukuran sedang. Sementara kamar, Kinza yakin dua ruangan yang tertutup itu adalah kamar Al.
"Itu kamar saya, dan sebelahnya kamar mu. Kita tidur terpisah dan tidak boleh ada kontak fisik!" tutur Al datar sembari menunjuk dua ruangan yang masih tertutup oleh pintu bercat hijau tua. Kinza menganggukan kepala.
"Kamu beresin kamar kamu sendiri, liat-liat apa saja di dalam nya. Kalau butuh apa-apa bilang." sambung nya lagi sembari berjalan ke arah belakang. Mungkin ke dapur atau bisa jadi ke kamar mandi. Entahlah, sekarang Kinza melanjutkan kegiatan nya untuk melihat-lihat isi kamar yang akan di tempati nya nanti.
Perlahan Kinza membuka knop pintu yang kebetulan tak di kunci. Sebuah ranjang berukuran sedang yang dilapisi sprei motif minions langsung menyambut nya pertama kali. Di dalam kamar tersebut ada lemari plastik berwarna biru dengan empat susun, di sebelah ranjang ada meja rias dan bangku berbentuk persegi, jendela kecil serta AC yang terpasang di atas nya. Not bad!
Kinza memperhatikan seisi kamar tersebut. Semua nya sudah rapih. Lantas apa yang musti dia lakukan?
"Apa yang kurang?" tanya Al di ambang pintu.
"Nggak ada, semua nya bagus." balas Kinza cepat.
"Okay!" imbuh Al seraya meninggalkan Kinza. Gadis itu langsung menahan nya.
"Kak?" panggil Kinza pelan. Al lantas menghentikan langkah nya.
"Ini semua Kakak siapin buat aku?" tanya Kinza.
"Mau jawaban jujur atau bohong?" cecar Al berbalik tanya.
"Jujur."
__ADS_1
"Kamar ini saya siapin untuk Putri, dan semua desain nya pilihan dia." balas Al enteng seraya meninggalkan Kinza. Gadis itu langsung mematung seketika.
"Ah lagi-lagi, Mbak Puput. Rasanya hati ini semakin sakit." lirih Kinza sambil menatap punggung Al yang semakin menghilang.