EPOCH

EPOCH
Bab 28


__ADS_3

Pagi ini, tepat nya pukul sepuluh kurang lima menit. Para Taruna dari AKMIL, AAU, AAL, dan AKPOL sudah berkumpul di lapangan. Acara Praspa ini dilaksanakan di Istana Negara pukul sepuluh. Itu tandanya acara akan segera di mulai.


Para tamu kehormatan dan tamu undangan macam orang tua, kakak, atau pacar dari para Taruna juga sudah memadati kawasan sekitaran lapangan.


Aku dan Kinza juga sudah hadir di sana. Kami membawa bunga serta hadiah jam tangan mewah untuk Kenzo. Ya, bukan apa-apa sih, itu hanya sedikit hadiah atas kebanggaan yang didapat oleh Kenzo.


Kinza terlihat kegirangan. Mungkin senang, ya, lihat kakak nya berhasil jadi Perwira. Kelihatan banget sedari tadi dia antusias pingin cepet-cepet datang.


“Mas, itu Kenzo, ih dia beda banget, ya, sekarang.” pecah sebuah suara dari bibir tipis Kinza. Aku mesem singkat melihat dia mengembangkan senyumnya sambil menunjuk tempat Kenzo berdiri.


“Nambah ganteng dia, nambah bagus badan nya.” balas ku sekenanya.


Iya sih memang, dia pasti doyan olahraga sama macam aku. Apalagi di sana juga banyak pelatihan. Ya macam kuliah sebenarnya, tapi ada fisik nya juga. Wajarlah para Taruna itu menjadi berotot dan badan nya kekar, otak mereka juga cerdas dengan rata-rata nilainya baik.


Ya jelas saja, masuk ke Akmil itu nggak sembarangan. Super sulit dan benar-benar selektif. Mereka yang masuk kesana benar-benar putra atau putri terbaik. Secara ya, bagus luar dalam. Sempurna fisik dan otak. Kebayang pas aku masuk Akmil dulu-dulu. Ribet sumpah!


...---...


“Kinza, apa kabar sayang ku?” pecah sebuah suara memekik ke pendengaran ku. Nggak aneh sama suara ini, ini kan Claudia, sahabat Kinza sejak dulu.


Gadis itu berbondong memeluk Kinza, sontak istri ku membalas pelukan nya. “Ihh, udah gede aja nih perut.” ujar nya renyah.


“Iyalah dodol, dia kan hidup. Nih, bapak nya aja over protektif banget!” balas Kinza sambil mendelik ke arah ku.


Aku hanya mesem singkat, “Jelas dong, anak pertama gitu!” balas ku tak kalah nyeleneh. Dia cemberut kesal.


“Ya udah bagus dong, yang penting Adek bayi nya sehat-sehat!” tambah Claudia.


“Btw, lo ngapain ada di sini? Ada kenalan lo yang pelantikan juga?” bingung Kinza. Tetiba wajah Claudia berubah, sedikit memerah gitu. Kayaknya ada sesuatu.


“A–anu, itu, gu–gu....”


“Hallo semua!!” potong sebuah suara tiba-tiba. Kami bertiga lantas menengok, melihat ke arah sumber suara.


Dia Kenzo, datang dengan membawa penghargaan Adhi Makayasa, pasti taulah itu apa. Penghargaan untuk lulusan siswa terbaik.


Kenzo tak sendiri, ada Mama juga Papa di sana. Mereka ikutan nimbrung bersama kami.


Senyum mereka mengembang seperti bolu, dengan bangganya Perwira baru ini membawa penghargaan Adhi Makayasa tersebut.


“Widih, hebat banget kamu, Jo. Selamat ya atas keberhasilan yang kamu raih!” ucap ku ikutan bangga sambil memeluk tubuh tegap nya.


“Siap, terima kasih bang! Ini semua juga berkat Abang dan doa-doa Abang. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Bang” balas nya sopan juga tegas. Aku tersenyum bangga, nggak sia-sia dulu pernah ajarin dia latihan olah fisik.


“Eh, ada Claudia juga.” ujar Mama saat Claudia mencium tangan Papa juga Mama. Kinza dan Aku lantas memperhatikan gadis itu.


Claudia tersenyum kikuk, malu mungkin, ya? Atau ada yang di sembunyikan sama gadis ini? Ah, apasih peduli ku!


“He he he iya Tante, kebetulan lagi free jadi sempetin datang ke Jakarta.” balas Claudia sekenanya. Kinza terlihat bingung.


Eh, kayaknya Kenzo dan Claudia ada sesuatu, ya? Mereka pacaran kah? Bagus deh kalau gitu wk wk wk!


“Nggak usah malu-malu gitu, sayang, kalian kan udah resmi pacaran.” ujar Mama usil. Lantas detik berikutnya cewek bernama Claudia itu hanya bisa tergugu. Tuhkan dugaan ku benar. Mereka pacaran guys!


“Jadi Kenzo dan Claudia pacaran? Sejak kapan?” tanya Kinza bingung sembari mengerucutkan bibirnya manja. Lha, ini orang satu kenapa? Kok kelihatan sewot gitu!

__ADS_1


“Errr, itu–itu, udah empat tahun!” jawab Claudia gagap. Kinza juga aku dibuat melongo, asli, mulut kami ternganga!


Bisa ya, mereka menyembunyikan hubungan nya rapat-rapat. Apik bener, sampai Kinza sendiri pun tidak tau. Empat tahun itu bukan waktu sebentar, tapi kok bisa ya mereka diem kayak gitu, asoy bener!


“Ish, nyebelin banget! Selama ini kalian pacaran diem-dieman? Kenapa nggak kasih tau gue, Jo, Cla?” sewot Kinza pada Claudia dan Kenzo. Sedangkan kedua manusia itu hanya mesem singkat.


“Nggak kenapa-kenapa sih, ya, biar jadi surprise aja buat kalian. Dan ternyata kami beneran berhasil membuat kalian terkejut!” balas Kenzo santai, berbeda dengan Claudia yang kelihatan nya takut-takut gitu.


“Nggak gitu juga, Jojo. Tap-”


“Udah yuk pulang, bicaranya di rumah ajalah. Capek berdiri lama-lama. Claudia juga ikut kerumah, ya? Kita makan siang sama-sama.” ajak Mama ramah. Claudia mengangguk pasrah dan kami semua manut padanya.


Okelah, makan siang kali ini bakalan ada debat kusir antara sepasang saudara kembar!


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Terkejut, satu kata yang menggambarkan isi hati ku sekarang.


Eh, bisa-bisanya Claudia dan Kenzo menyembunyikan kabar hubungan mereka rapat-rapat. Nggak ada yang tau kecuali Mama yang baru mengetahui saat hubungan mereka memasuki tahun ke empat.


Asli sebel banget aku tuh! Kenapa sih segala ditutup-tutupi macam sekarang? Nggak etis amat! Plis, kasih aku alasan yang jelas selain hanya untuk dijadikan surprise! Aku butuh kejelasan, meskipun itu hubungan Jojo saudara kembarku, tapi aku berhak tau.


“Sekarang jelasin! Gimana awal mulanya kalian ketemu, deket, terus bisa sampai jadian kayak gini?!” desak ku sewot menghakimi kedua pasangan ini.


Mereka tak langsung menjawab, justru malah saling tatap dengan ekspresi yang entahlah macam apa. “Bisa nggak sih, lo jangan kayak wartawan dadakan. Ini masalah percintaan gue, bukan lo!” balas Kenzo jutek. Si Claudia hanya mesem dan sesekali menatap Kenzo sinis.


“Oh gitu, ya? Terus buat apa lo tanya-tanya soal Mbak Putri, Bang Arjuna dan mas Al ke gue? Emang nya itu hak lo buat tau kehidupan gue?” desak ku tak kalah emosi. Skakmat! Kenzo berhasil aku buat bungkam.


“Kita ke kamar sekarang, aku perlu bicara.” ajak Mas Al tiba-tiba. Tangan kekar nya menarik halus tangan lentik ku. Oke, kayak nya bakal ada sidang dadakan! Hiks, aku mau diapakan ini?


Aku diboyong masuk ke dalam kamar. Dengan perlahan pantat ku mendarat di tepian ranjang. “Sayang, maksud kamu apa sih bilang kayak tadi?” tanya Mas Al lembut. Wajahnya terlihat kalem.


“Nggak ada maksud apa-apa, Mas. Aku cuma pingin Kenzo cerita aja, kok. Nggak ada maksud lain lagi.” balas ku apa adanya. Oke, aku udah jujur. Terserah Mas Al aja deh aku mau diapain. Pasrah ajalah aku.


“Sayang, perkataan mu itu membuat ku tersentil. Sama aja kamu mengorek masalalu ku yang buruk.” vonis nya lesu. Oh My God, kayaknya aku salah. Dosa besar kamu, Kinza!


“Mmmaa–maaf Mas, aku nggak ada maksud ke situ kok. Sumpah, aku nggak berniat membuat Mas gak enak hati. Maaf Mas, maafkan aku.” ucap ku beralasan. Eh tepi memang gituu kok, aku nggak bermaksud mengorek masalalu aku dan dia yang terbilang kecut.


“Udahlah nggak apa-apa sayang, Mas maafin kamu.” balas mas Al lembut. Huhu, kukira aku bakalan di kutuk karena perkataan ku yang sembrono. Maafin aku, ya, Mas? Aku cuma buat mu malu, hiks!


“Mas mau disini aja, apa lanjut makan?” tanya ku mengalihkan, dia lantas ikutan duduk di samping ku.


“Ikutan turun lagi lah, yuk kita ke bawah.” ajak Mas Al lembut. Sumpah, aku jadi makin gak enak hati. Mas Al nggak marah sama tingkah ku yang nyeleneh ini. Dia justru memaafkan aku dengan begitu mudahnya. Uh maaas, aku makin jatuh cinta sama kamu. Dimana pun dan sampai kapanpun!


Aku dituntun Mas Al untuk kembali ke ruang makan. Mas Al memutuskan untuk ikut kembali nimbrung bersama Kenzo, Claudia serta Mama juga Papa. Padahal aku tau, hatinya pasti tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dia pasti sakit hati karena ulah ku barusan. Tapi mau gimana dong? Nasi sudah menjadi bubur. Nggak bisa aku putar pakai mesin waktu Doraemon. Ish, apaan sih aku! Nyebelin banget!


“Kayaknya ada yang habis di semprot, nih.” ujar Kenzo usil. Aku menatap nya dengan tatapan tajam. Ih, pengen rasanya ku uyeng-uyeng mulut nya. Pedes amat sih itu mulut!


“Diem, lo! Keluar pendidikan bukannya makin baik malah makin nyebelin! Lagi pula yang hormat sama senior! Jangan asal, mas Al kan senior lo!” ujar ku tak mau kalah. Dia langsung diam setelah melirik Mas Al. Padahal suami ku diam terus, nggak banyak bicara. Tapi Kenzo langsung takut gitu aja.


Sementara mama dan papa hanya mesem sambil terus mengunyah makan mereka. “Udahlah, jangan rusak acara makan siang kita. Nggak kasian sama Claudia yang sudah datang jauh-jauh! Kalian tega gitu sama dia?” cecar Papa. Aku dan Kenzo langsung bertatapan.


“Eh iya, maaf, Pa.” ujar ku lesu berbarengan dengan Kenzo. Kini malah gantian Mas Al, Mama, Papa dan Claudia yang tertawa. Oke, aku malu sudah merusak acara ini. Di depan sahabat ku pula!

__ADS_1


Helm mana helm?!


...---...


Malam harinya, aku memutuskan untuk menginap di rumah Mama. Capek juga kalau langsung pulang kerumah, lagi pula besok Mas Al free, ya Alhamdulillah bisa rehat sejenak.


Semenjak hamil, aku jadi jarang datang kesini. Mama dan Bunda mertua ku lah yang sering mengunjungi ku ke rumah dinas Mas Al. Mereka terlalu sibuk memikirkan si cabang bayi. Ya udahlah aku bisa apa? Wajar aja mereka kayak gitu, ini kan cucu pertama baik bagi Mama maupun Bunda mertua ku.


Teringat dulu-dulu saat aku mengidam, Mama dan Bunda sering ikut membersamai kami ke Kebun Raya Bogor. Mereka terlalu khawatir, takut aku kenapa-napa katanya. Auw, berasa berharga banget sih aku. Beruntung-tung-tung!


Tapi keberuntungan tak datang hari ini. Pertama, aku justru berdebat dengan Kenzo dan berujung melukai perasaan Mas Al. Kedua, sejak makan siang tadi, perutku malah mules-mules nggak karuan. Sejenak aku berfikir tentang kelahiran si bayi. Tapi masa iya sih? Kan masih ada waktu beberapa hari lagi!


Aku memutuskan untuk tidak cerita pada siapapun. Selain takut mengganggu, aku juga takut mereka panik dan bikin satu rumah heboh. Lebih baik aku tahan.


Seperti malam ini, rasa mulas di perutku kembali lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya, tapi asli, kali ini benar-benar sakiiiit! Duh, aku kenapa ya? Bayi di dalam kandungan ku kenapa? Iiiih, takuuuut!


“Sayang, kamu kenapa? Perut mu sakit?” tanya Mas Al cemas setelah melihat pergerakan ku yang aneh. Iyalah jelas aneh! Sedari tadi aku terus mengusap perut buncit ku, ekspresi wajah ku juga seperti orang yang menahan sakit. Ya emang aku sedang kesakitan!


“Mas kok perut aku sakit, ya? Mules-mules gitu.” balas ku sembari meringis. Mas Al langsung siaga, tubuh tegap nya mendekat ke arah ku dengan cepat. Sementara tangan kekar nya mengusap perut ku.


“Kayaknya kamu mau lahiran deh, sayang. Kita ke rumah sakit sekarang, ya?” ajak Mas Al cemas. Dia memboyong tubuh ku keluar dari kamar.


Mama dan Papa yang sedang asik menonton TV langsung menatap ku cemas. Tuhkan, bikin nggak enak hati ini!


“Kamu kenapa sayang? Perutnya sakit? Mau lahiran kayaknya! Ayo, Al, bawa dia ke mobil.” berondong Mama khawatir. Si Papa juga ikutan panik dan langsung menelpon dokter. Oke lah, dalam waktu kurang dari satu menit rumah ini sudah heboh! Ulah siapa? Ulah aku lah!


Tak menunggu waktu lama, aku sudah berada di rumah sakit. Tubuh ku yang mungil dengan perut yang buncit langsung di boyong masuk ke ruang persalinan. Mama dan Mas Al ikut masuk ke dalam untuk membantu persalinan. Sementara Papa menelepon Bunda dan Ayah mertua ku.


Aku pasrah ajalah, semoga persalinan ini lancar! “Ma, maafkan Kinza kalau banyak bikin mama sakit hati. Tolong doakan Kinza supaya persalinan ini lancar.” ujar ku memohon ampun, tanpa sadar air mata ku luruh begitu saja.


Mama menggenggam tangan ku, mengusap lembut memberikan kekuatan. “Nggak sayang, Iza nggak pernah buat Mama sakit hati. Kamu yang kuat, ya? Mama selalu mendoakan kamu dan calon bayi kamu.” ujar Mama ikutan menangis. Huhuhu, suasana haru ini membuat ku tak tahan untuk tidak menangis.


Aku menarik nafas panjang, peluh sudah membanjiri pelipis dan juga tangan ku. Ih, mana ini dokter? Kenapa belum juga datang? Help me please!


Selang beberapa menit, dokter dan dua suster akhirnya datang. Mereka langsung cekatan menyiapkan alat-alat medis yang aku gak tau apa fungsinya. Pusing amat mikirin alat medis!


“Sudah waktunya, Ibu. Mari ikuti aba-aba saya, ya! Tarik nafas, hitungan ketiga mulai mengejan!” oke aku pasrah!


Ku tarik nafas panjang-panjang, sementara sang dokter menghitung dan tangan nya dengan lihai membantu ku mengeluarkan bayi.


“Satu... Dua... Tiga...! Ayo Bu, kepala nya sudah mulai kelihatan.”


“Huh–huh–huh!”


Nafas ku memburu. Ya Tuhan, ternyata sesakit ini melahirkan! Tolong mudahkan persalinan ku ini, hiks!


“Sayang, yang kuat ya, Mas mendoakan mu! Mas ada di sini sayang!” ucapan Mas Al membuat ku semakin semangat. Wajah tampan nya terlihat cemas dan sesekali mengeluarkan air dari sudut matanya. Ya ampun, dia menangis melihat keadaan ku sekarang!


“Satu..dua..tiga! Ayo Bu, terus mengejan!”


“Arrghhh!!!”


“Oeekkk..oeekk..”


“Plong!” akhirnya sesuatu yang mengganjal di bawah telah lepas. Legah rasanya. Rasa sakit seakan terganti saat suara bayi menggema ke seluruh sudut ruangan. Aku menangis, bersamaan dengan Mas Al yang mencium puncak kepala ku berkali-kali.

__ADS_1


Alhamdulillah, legah sekali aku, sesuatu yang mengganjal di bawah sana sudah tiada. Oke, aku lemas sekarang! Aku tiba-tiba ngantuk dan pingin tidur!


__ADS_2