
Kinza Irsyania Malik POV
Sudah seminggu, aku berada di villa kepunyaan Bang Arjuna. Tepat nya, di kawasan puncak Bogor. Kok jauh banget sih tiba-tiba ada di Bogor? Gimana bisa?!Ceritanya panjang saudara-saudara, aku nggak bisa jelaskan itu!
Aku nggak selingkuh sama Bang Arjuna kok, disini aku tinggal bersama pengurus villa yaitu mbak Ibel dan mang Saswi. Mereka yang sudah dengan sabarnya membantu ku mengurus keperluan, bahkan membantu ku lupa dengan masalah yang sedang aku hadapi.
Perasaan ku cukup membaik, tapi entah kenapa masih belum siap untuk bertemu Kak Al. Kalian pasti sudah tau apa penyebab nya, yang jelas, kali ini aku nggak mau bahas itu.
Bukan aku nggak kangen sama dia, asli nggak gitu, kok! Justru aku kangen berat sama dia. Kangen sifat judes nya, kangen romantis nya, kangen sifat cuek dan dingin nya. Ya pokoknya kangen segala-gala nya deh. Tapi lagi-lagi terhalang oleh rasa sakit yang begitu menyesakkan dada. Ah, kalau di ingat-ingat hanya membuat aku makin sakit. Stres sendiri melihat apa yang ada di hadapan ku satu minggu yang lalu.
Kak Al tak menghubungi ku? Mana aku tau, aku nggak pernah aktif WhatsApp atau sosial media lainnya. SMS dan telepon pun nggak sama sekali. Kenapa? Karena aku memang menonaktifkan ponsel ku sejak mengirim pesan terakhir ku pada kak Al. Sakit hatiku saat mengirim chat itu, sungguh sakit Tuhan! Aku merasa seperti orang yang paling egois sedunia, paling pengecut, atau apalah itu. Maafkan istri mu ini Abang Al, hiks!
"Ini teh nya, Za, udara nya semakin dingin kalau menjelang malam. Kinza bisa pindah saja ke dalam." ujar sebuah suara di belakang ku. Aku menengok sekilas, melihat siapa pelaku nya. Dan, orang itu adalah mbak Ibel. Seorang perempuan yang usia nya lebih tua dariku dua tahun.
Aku mengambil alih gelas yang diletakkan di atas nampan, "Makasih banyak, mbak." balas ku ramah.
"Mbak bisa temenin aku sebentar?" tanya ku pada mbak Ibel yang hendak pergi. Mbak Ibel membalikkan badan nya, serta merta langsung duduk di samping ku.
Mbak Ibel terlihat sungkan, mungkin nggak enak gitu sebab berduaan dengan ku. Padahal aku wellcome aja, kok. Nggak akan gigit dia juga.
"Nggak usah sungkan gitu, mbak, anggap aja aku ini teman mbak Ibel. Atau mau anggap adek juga boleh kok." imbuh ku ceria, mbak Ibel hanya tersenyum kikuk.
"Ada apa ya, Za?" tanya mbak Ibel kepo. Aku menyeruput teh yang ia buatkan untukku, setelah itu menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara.
"Mbak pernah disakiti cowok?" tanya ku gamang. Dan, mbak Ibel sedikit terkejut. Mungkin kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan aku barusan. Mungkin juga dia benar-benar pernah disakiti cowok. Entah lah, aku hanya sabar menunggu penjelasan darinya.
Mbak Ibel menarik nafas nya pelan, "Pernah, waktu SMA dulu." balas nya lirih, air wajahnya berubah menjadi sedih. Duh duh, kayak nya aku salah tanya deh. Nggak pas gitu nanya sama mbak Ibel, liat aja wajahnya muram gegara aku. Maafkan Kinza, ya, mbak?
"Maaf kalau aku lancang, boleh nggak mbak cerita ke aku? Soalnya aku tiba-tiba kepo, he he he. Semisal mbak merasa keberatan, nggak apa-apa, nggak usah cerita juga mbak." balas ku sambil nyengir tanpa dosa.
Dia menatap ku lembut, "Boleh aja, kok. Jadi, langsung aja nih mbak cerita ke kamu?" tanya nya spontan. Aku mengangguk cepat. Antusias ingin mendengar cerita memilukan yang pernah dialami beliau.
Mbak Ibel mulai bercerita, mulai dari pertemuan singkat dengan seorang cowok, kenalan, jadian, hingga akhirnya hubungan mereka kandas karena cowok itu berselingkuh. Asli, sedikit ngeri juga sih. Dia berselingkuh dengan alasan sudah tak cinta lagi. Bikin kesel banget deh itu cowok, padahal kan bisa mutusin mbak Ibel terlebih dahulu tanpa harus berselingkuh. Emang dasar cowok, maunya enak sendirian. Nggak mikirin perasaan cewek nya gitu!
Aku mengusap punggung mbak Ibel, menenangkan dia yang mulai menangis. Ih, asli deh bikin aku nggak enak hati. Kayaknya aku salah tanya ya, saudara-saudara? Hiii, tolong jangan kutuk aku, mbak!
"Mbak yang sabar, ya, maaf sepertinya Kinza salah bertanya." ucap ku merasa bersalah. Tetiba senyum tipis terlihat di wajah cantik mbak Ibel, tangan nya yang putih mengelus tangan ku.
"Ah nggak apa-apa, mbak jadi sedikit lega juga. Sejauh ini hanya Kinza yang tau." aku melongo kaget mendengar penuturan mbak Ibel. Demi what, aku jadi orang pertama yang tau kisah mbak Ibel? Merasa beruntung nggak sih, jadi first pendengar gitu.
"Kalau boleh tau, kenapa Kinza tiba-tiba ingin tau?" tanya beliau sambil mengusap air mata yang tersisa di wajah cantiknya. Aku tergugu seketika, harus juga, ya, aku cerita sama mbak Ibel? Ah, tapi nggak apa-apa deh, hitung-hitung berbagi kesedihan juga, wk wk wk.
"Sebenarnya aku pingin cari solusi, mbak. Gimana caranya supaya kita berani bertemu orang yang sudah melukai hati kita. Jujur aja mbak, cerita kita tuh nggak jauh berbeda. Kita sama-sama pernah di khianati." berondong ku tanpa jeda. Semoga mbak Ibel mengerti apa maksudku.
Aku diam menunduk, kedua tangan ku saling bertaut. Semacam rasa dilema sedang melanda jiwa ku. Iyalah jelas, aku dilema akut, cuy! Dilema mau menemui Kak Al atau tidak.
Mbak Ibel mengusap punggung ku, "Cukup terima dengan lapang dada. Memang nggak gampang, tapi kalau kita terus menghindar, bagaimana bisa selesai?"
"Jleb.." semacam ada pisau yang menusuk hatiku. Kenapa aku baru nyadar sekarang, dan kenapa aku bodoh banget selama ini, sampai meninggalkan kak Al begitu saja. Aku bahkan enggan untuk mendengarkan penjelasan nya sedikit pun. Ya Tuhan, ampuni aku, maafkan aku kak Al, hiks!
"Sudah satu minggu kamu bersembunyi disini, apa nggak rindu sama suami mu? Apa Kinza nggak mau masalah ini cepat selesai?" tanya beliau yang membuat hatiku semakin teriris. Aku semakin menundukkan kepala dalam-dalam. Menyesali perbuatan hina yang sudah aku lakukan. Hingga tanpa sadar, air mata ku menetes. Ya, air mata penuh dosa!
"Sekarang aku harus gimana, mbak?" tanya ku meminta solusi. Mbak Ibel merangkul ku ke dalam pelukan nya. Hangat dan nyaman, seperti pelukan seorang kakak. Heeum, aku jadi kangen sama Kenzo, saudara kembarkuuuu!
"Temuin dia, minta maaf, dan bicarakan semua nya dengan kepala dingin. Dengar semua penjelasan yang beliau lontarkan." bubuh mbak Ibel lembut. Aku terkesima, sungguh itu jawaban yang membuat nyali ku menciut.
__ADS_1
Apa aku sudah sanggup bertemu kak Al? Apa hatiku sudah siap? Apa kenyataan yang sebenarnya akan membuat hatiku semakin hancur? Jujur saja, aku hanya takut kembali merasa sakit hati. Aku takut mendengar bahwa kak Al masih mencintai mbak Putri. Hem, bingung, bingung, bingung!
Tapi aku berfikir kembali, semua masalah nggak akan selesai kalau aku terus mengikuti egoku. Dan benar apa yang dikatakan mbak Ibel, menghindari suatu masalah itu bukanlah solusi. Lantas apa dong yang harus aku lakuin? Menemui kak Al? Berbicara dengan nya? Yaudahlah, aku harus memberanikan diri, mulai sekarang aku bertekad untuk menemui kak Al. Aku harus berani!
...---...
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
Sudah seminggu sejak kepergian Kinza yang entah kemana. Dia tak memberitau dimana dia berada. Aku khawatir? Jelas lah! Aku sangat-sangat khawatir, takut bukan main. Pasalnya, Kinza menonaktifkan ponsel sejak hari itu. Mau nggak mau harus sabar menunggu kabar darinya.
Berdoa adalah cara terbaik yang bisa aku lakukan sekarang. Mendoakan Kinza agar baik-baik saja dimana pun dia berada. Dan, semoga hatinya lekas membaik agar bisa mendengarkan penjelasan ku nanti.
Jujur saja, waktu berada di Magelang, aku sama sekali nggak berbuat hal kotor dengan Putri. Justru aku menyelamatkan dia dari seseorang yang hampir menabrak Putri saat bermain skateboard. Aku nolongin dia? Ya jelas lah, tugas ku sebagai Tentara ya melindungi rakyat. Dari bahaya apapun itu, baik yang kecil hingga yang besar.
Bukan hanya itu, jiwa empati ku terlalu tinggi. Ya kali, aku diam saja saat nyawa seseorang dalam bahaya. Mau tak mau aku harus menolong dia.
Awalnya aku belum menyadari bahwa itu adalah Putri. Karena posisi dia membelakangi aku. Dan, pada saat peristiwa itu terjadi, aku langsung bergegas begitu saja. Menolong Putri yang hendak di tabrak.
Beberapa saat aku masih terdiam, sama seperti Putri. Wajah kami pun tak saling bertatapan sebab posisi kami seperti orang yang berpelukan. Mungkin, orang-orang yang tidak melihat jelas kronologisnya bagaimana, akan beranggapan bahwa aku sedang berpelukan. Dan itu yang dialami oleh Kinza, istriku. Dia sudah salah paham, salah menilai kondisi.
Aku langsung melepas pelukan tangan ku pada tubuh Putri, saat sebuah suara yang sangat aku kenali memanggil ku dengan lirih. Wajah ku langsung pucat pasi bak maling yang tertangkap basah. Aku kaget, ya jelas! Aku hanya takut bahwa Kinza akan salah paham.
Ternyata itu betulan terjadi, Kinza salah paham dengan apa yang terjadi saat itu. Dia bahkan menutup telinga. Tak memberi ruang untuk aku menjelaskan. Karena sekuat apapun aku memaksa, dia tetap keukeuh tak mau mendengarkan aku. Justru dia malah pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku sedih? Jelas sekali. Aku sedih sebab tak bisa menjelaskan apapun pada Kinza. Aku terlalu lemah saat itu hingga membiarkan Kinza pergi.
Rasa menyesal tidak ada, karena menolong orang itu bukanlah suatu kesalahan. Rasa-rasanya aku sedih, sebab aku sangat-sangat merindukan dia, senyum manis nya, tingkah konyol nya, kebodohan nya, dan semua tingkah unik yang mampu membuat ku tertawa lepas. Aku sungguh merindukan dia, ingin sekali rasanya memeluk tubuh mungil Kinza, mendekap dan menangis dipelukannya.
Tapi lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas panjang, membiarkan semua nya terjadi padaku. Mungkin ini hukuman untuk laki-laki berengsek macam aku, laki-laki yang hanya bisa menyakiti hati perempuan. Tapi, hanya satu harapan ku, semoga Kinza cepat-cepat datang dan menemui ku, berharap dia mau mendengarkan penjelasan aku.
"Ah nggak apa-apa suh, masalah keluarga, kamu nggak akan bisa bantu." balas ku apa adanya. Dia mesem, mungkin malu sebab salah bertanya.
Ivan adalah perwira yang masih bujangan, dia satu-satunya anggota yang paling care kepadaku. Bukan yang lainnya tidak, tapi dia sangat-sangat peduli kepada ku. Beda diantara yang lainnya.
"Izin, siap salah danki." imbuh Ivan seraya tersenyum kikuk.
"Nggak apa-apa, Van, santai aja kali. Oh iya, kabar kedekatan mu dengan Intan gimana?" alih ku bertanya soal kisah cinta Ivan. Sejujurnya aku hanya tak ingin kisah rumah tanggaku diketahui orang. Ya kalian tau sendiri, menjaga nama baik adalah keinginan ku.
Ivan tersenyum malu, "Izin, ya gitu bang. Masih belum jelas mau diapakan." tandas nya pasrah. Aku tertawa kencang, biarlah orang berkata apa. Yang jelas aku hanya ingin menutupi kesedihan ku saja.
"Gimana sih jadi laki-laki, ya ajakin pacaran lah. Ajak ngedate gitu biar romantis, lho. Jangan menggantung aja kerjamu." balas ku disertai tawa. Agus dan Wisnu yang juga ada disini ikut tertawa. Ya maklum lah, malam ini aku menemani para bujangan jomblo nongkrong, kecuali si Wisnu, dia kan sudah punya istri.
"Izin, takut kena omel sama abang." ceplos nya polos. Aduh, ini anak benar-benar buat mood ku balik. Polos nya nggak ketulungan.
Drttdrtt
Ponsel ku tiba-tiba bergetar, dengan sigap aku merogoh saku celana ku. Ditatap nya layar ponsel dan notif yang muncul.
My wife❤
Aku terkesiap sesaat, menelisik apakah ini benar dari Kinza atau bukan. Lantas kubuka kunci di ponsel ku dan langsung membuka aplikasi whatsapp.
Benar saudara-saudara, itu adalah Kinza, istrikuuuu! Baiklah, mari kita baca dengan seksama.
My wife❤
__ADS_1
Besok kakak bisa jemput aku nggak di puncak Bogor?
Pesan Kinza barusan membuat ku bingung. Puncak Bogor? Apa maksudnya? Jadi Kinza berdiam diri di Bogor selama satu minggu, dengan siapa?
Berbagai pertanyaan muncul dibenakku. Ada apa gerangan sampai dia bisa berada disana? Dengan siapa? Arjuna kah? Ah, rasa cemburu langsung menyelimuti ku.
Aku buru-buru membalas pesan itu.
Althafariz Ramaditya Dirgantara
Bisa sayang, kamu sharelock aja, dan kasih tau jam berapa.
Beberapa detik kemudian, Kinza langsung membalas pesan ku. Widih, gercep sekali ya. Semoga hatinya sudah membaik, Aamiin.
My wife❤
[]Jam delapan pagi.
Dia memberikan aku lokasi terkini disertai jam penjemputan. Aku langsung semangat tingkat dewa, tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatiku. Jomblo melipir aja dulu, takut gigit jari wk wk wk.
...---...
Al bersiap untuk segera menjemput Kinza. Mobil kesayangan nya sudah dipanaskan terlebih dahulu, biar gesit alasan nya.
Hari ini weekend, ya mau tak mau Al harus bersiap lebih cepat. Supaya tidak terkena macet, apalagi kawasan puncak. Tau sendirilah bagaimana kondisi di sana saat hari libur.
Al keluar dari rumah nya dengan perasaan senang, wajah tampan nya terlihat berseri-seri. Dengan perlahan, mobil yang dikendarai nya melaju dengan kecepatan sedang.
...---...
Sementara dilain tempat, Kinza sibuk merapihkan baju-baju yang menemani Kinza selama satu minggu. Dengan dibantu Ibel alias Nabila, pekerjaan nya menjadi lebih mudah.
"Mbak, makasih banyak ya sudah menemani Kinza selama satu minggu. Mbak juga sudah membantu Kinza mencari solusi, Kinza benar-benar berterima kasih." ujar Kinza seraya memeluk Nabila. Senyum nya merekah, membuat Nabila lega.
"Sama-sama, Za, ingat pesan mbak, ya. Dengar penjelasan beliau, selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin." balas Nabila mengulang perkataan nya semalam.
Kinza mengangguk paham, "Siap mbak!"
Sudah hampir jam sepuluh, namun Al belum juga datang. Kinza langsung merasa cemas, khawatir terjadi apa-apa pada Al. Bukan hanya itu, Kinza juga takut Al berbohong. Dia takut Al tak menepati perkataan nya.
"Mbak, kok kak Al belum datang juga, ya? Aku khawatir, mbak." imbuh Kinza cemas. Wajah nya terlihat ditekuk-tekuk.
"Sabar, berdoa supaya dia baik-baik saja." balas Nabila lembut.
“Drttdrtt”
Ponsel Kinza bergetar, sebuah panggilan dari Sada nampak di layak ponsel nya. Dia langsung menerima, serta merta mendekatkan ponsel ke telinga nya.
"Wa'alaikum sallam, bunda, ada apa telepon Kinza?" tanya Kinza penasaran.
"___"
Raut wajah Kinza langsung berbeda. Gadis itu mundur beberapa langkah, ponsel yang tadi bertengger di telinga langsung terjatuh ke lantai.
"Nggak mungkin, nggak mungkin ini terjadi!" lirih Kinza dengan air mata yang tak terbendung lagi. Gadis itu langsung terduduk dilantai disertai isak tangis yang memecah.
__ADS_1
Apa yang terjadi pada, Al?