EPOCH

EPOCH
Bab 35


__ADS_3

Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


Rumah ku seperti terbakar. Demi apa mereka datang cuma buat pamer kemesraan! Bukan terbakar cemburu, tapi terbakar sebab aku tak bisa menjalankan adegan panas ini. Mereka telah mengacaukan semua nya! Semuanya!


Sumpah, nggak ada penting-penting nya! Mau apa sij sebenarnya mereka nih?


“Mas, sabar.” ujar Kinza berbisik sembari mengelus tangan ku dengan lembut. Kalau nggak ada istri ku, pasti mereka sudah ku usir sejak tadi! Gerah mata gerah hati body lihat nya!


“oek-oek..” suara tangisan Alief memecah keadaan. Buru-buru Kinza mendatangi kamar nya.


Tak lama kemudian, istri ku datang sembari membawa anak ku, Alief.


“Wah, sudah besar, ya, Alief. Mbak, boleh gendong nggak, Za?” sambar Putri tiba-tiba. Tanpa di persilahkan, dia langsung merebut Alief begitu saja.


Aku, Kinza dan Arjuna hanya melongo melihat Putri yang bertingkah seperti penculik. Ini orang kenapa sih? Gangguan jiwa atau apa?


“Oek-oek..” Alief kembali menangis. Mungkin dia tau siapa yang menggendong nya sekarang. Ekhm, orang yang sering membuat Mama nya sakit hati.


“Mbak, Alief mau menyusu sepertinya. Tolong serahkan, ya!” ucap Kinza sembari mendekati Putri. Namun, bukan nya di serahkan, Putri justru menolak nya. Wah, benar-benar gangguan jiwa dia!


“Nggak kok, Za, Alief sepertinya hanya butuh udara segar. Iya 'kan Mas?” ujar nya pada Arjuna.


“Oek-oek..” tangisan Alief semakin menjadi. Stop, aku geram. Putri kenapa seperti ini? Dia tidak tahu apa memang pura-pura tidak tahu?


Srek, aku merebut nya secara paksa. “Ini bayi saya! Kamu nggak berhak untuk menyentuhnya sembarangan! Apalagi sampai menghakimi nya. Yang tau Alief, ya, kami! Bukan kamu! Kalau sampai tingkah mu seperti ini lagi, saya nggak akan segan-segan buat laporin kamu, Put!” ancam ku dan langsung membuat Arjuna bergidik ngeri. Sementara Putri, dia diam tak menjawab.


“Kami pamit, ya, Bapak Danramil! Maaf sudah mengganggu kenyamanan nya. Maafkan juga sikap istri saya yang kurang mengenakkan hati, Bapak dan Ibu!” pamit Arjuna tak enak hati. Bagus! pergi sana jauh-jauh!


“Lain kali ajari istri mu tata Krama yang baik, Le! Kau masih baru di sini! Jangan sampai membuat orang-orang asrama risih! Kali ini saya maafkan kalian, tapi jika kedepannya nanti masih seperti ini, saya nggak akan segan-segan bertindak tegas! Paham?” ancam ku dengan tegas.


“Siap, paham!”


“Bagus, sekarang pergilah!”


Sreekk, Arjuna menarik tangan istri nya dengan paksa. Wush, seketika rumah ini menjadi tentram kembali.


“Mas, kenapa Mbak Putri aneh seperti itu? Kok dia seperti seorang psikopat, ya? Haduh serem sekali, Mas!” ucap Kinza sembari meringis. Wajah nya terlihat seperti orang ketakutan.


“Nggak sayang, kamu tenang aja. Selama ada, Mas, semua nya aman. Udah, kamu nggak perlu khawatir, ya! Kalau nanti ada apa-apa dan Mas sedang tidak ada si rumah. kamu langsung teriak dan minta tolong sama tetangga.” ucap ku berusaha menenangkan diri nya. Huh, kelakuan bar-bar Putri memang tak ada habis nya! Bisa nggak sih, itu manusia di hilangkan saja? *ups kejam


“Iya, Mas.” ucap nya paham.


“Tapi aku heran aja, Mas. Kenapa dia bersikap aneh seperti itu. Dia normal 'kan, Mas? Nggak mengalami semacam gangguan jiwa?” tanya Kinza super polos.


“Nggak lah sayang. Sebelum menikah dengan Arjuna, dia pasti di periksa kesehatan nya. Termasuk kesehatan jiwa nya. Udah ah nggak usah ngaco. Mungkin dia kebelet punya bayi, jadi seperti itu!” balas ku dengan gemas.


“Hehe iya juga, ya, Mas. Aku nggak kepikiran ke sana.” kekeh nya pelan.


“Ya udah istirahat aja, Cinta. Atau mau lanjut yang tadi, hm?” goda ku pada nya. Seketika wajah gadis ku merah merona. Ekhm, sudah on seperti nya dia.


“Eh, nggak, Mas. Alief sudah bangun 'lho ini. Aku juga belum masak untuk kita makan siang. Kamu jaga Alief, ya, aku masak dulu.” bubuh Kinza sembari menyerahkan tubuh mungil Alief pada ku.


Aku menerimanya, namun menghalau langkah nya. “Nggak perlu masak, kamu istirahat aja, ya! Mas nggak mau kamu capek-capek. Sini!” ujar ku lembut sambil menarik tangan nya pelan. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung duduk di samping ku lagi dan bersandar di bahu ku.


“Terus nanti siang kita mau makan apa, Mas?” tanya nya cemas.


“Go-food ajalah sayang.”


“Nggak baik lho, sayang, terlalu banyak makan makanan fast food.” bubuh nya.


“Kita pesan salad aja, sehat kan?”

__ADS_1


“Ngaco, masa siang-siang makan salad!” ucap nya mendengus kesal. Aku terkekeh pelan.


“Udah, untuk sekali ini aja sayang. Lagi pula makanan kita di kulkas 'kan banyak, hm?”


“Oh iya, aku lupa. Masih ada semur daging kambing dan sate kambing juga.”


“Nah, itu saja cukup.”


“Oke sayang!”


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Waspada. Adalah hal yang mesti aku tingkatkan sekarang. Ekhm, tentu kalian sudah tau apa yang membuat aku menjadi seperti ini. Yap, Mbak Putri.


Awal datang ke rumah ini, beliau bersikap biasa saja. Kalem, dan tak melakukan hal-hal aneh. Tapi eh tapi, ketika aku membawa Alief keluar dari kamar. Dia langsung merebut nya begitu saja. Sontak aku kaget, tak bisa berbuat banyak selain hanya pasrah pada Tuhan.


Kalian tau apa yang Mbak Putri lakukan? Dia seperti orang yang terkena gangguan jiwa! Tingkah nya aneh. Bahkan, pernah dia hampir mau menyusui anak ku. Hem, ngeri sekali 'kan?


Terlebih setelah dia melakukan hal ‘itu’, sikap nya langsung berubah aneh. Sangat-sangat aneh. Dia langsung diam seribu bahasa. Tak berbicara sepatah dua patah kata pun. Jangan kan berbicara, menatap aku dan Mas Al saja tak berani dia.


Untung saja Bang Arjuna buru-buru mengajak Mbak Putri untuk pergi. Karena kalau tidak, tak tahu apa jadi nya nanti. Mungkin Alief akan di celaka kan oleh dia. Entah lah.


“Nggak sayang, kamu tenang aja. Selama ada, Mas, semua nya aman. Udah, kamu nggak perlu khawatir, ya! Kalau nanti ada apa-apa dan Mas sedang tidak ada di rumah. Kamu langsung teriak dan minta tolong sama tetangga.” ucap Mas Al memperingatkan aku. Beuh, di kira Mbak Putri mau macam-macam kali, ya? Eh tapi beliau ada benar nya juga. Mbak Putri sekarang bertingkah layaknya seorang psikopat. Ngeri banget asli.


“Tapi aku heran aja, Mas. Kenapa dia bersikap aneh seperti itu. Dia normal 'kan, Mas? Nggak mengalami semacam gangguan jiwa?” tutur ku penuh dengan kepolosan. Ups, maaf bicara ku ceplas-ceplos. Ya gimana, ya, sikap nya yang aneh membuat ku berpikiran aneh-aneh pula. Jadi, nggak salah dong aku?


“Nggak lah sayang. Sebelum menikah dengan Arjuna, dia pasti di periksa kesehatan nya. Termasuk kesehatan jiwa nya. Udah ah nggak usah ngaco. Mungkin dia kebelet punya bayi, jadi seperti itu!” ujar Mas Al dengan gemas. He, maafkan istri mu yang terlalu pintar ini, ya, Mas!


Udah lah, ngapain juga aku pusing-pusing memikirkan dia. Sudah cukup! Mendingan tingkatkan saja kewaspadaan pada nya. Beres kan?


Aku tak mengantuk sama sekali. Jadi sekarang harus berbuat apa? Berbenah aja kali, ya? Ah, ide bagus!


Aku keluar dari kamar tidur meninggalkan Mas Al dan Alief yang sedang bobo dengan pulas. Saat aku mengedarkan pandanganku, semuanya sudah terlihat rapi. Tak ada yang perlu aku rapi kan karena semua nya sudah siap.


Eh, mungkin saja di halaman depan berantakan. Pasal nya belum ku sapu sejak kemarin sore. Pasti daun-daun kering berjatuhan. Oke, mari kita sapu bersih!


Dengan telaten dan hati-hati, aku mulai menyapu bagian-bagian yang berserakan karena dedaunan. Wajar banyak daun, sebab banyak pepohonan rindang yang di tanami.


“Izin, Ibu Al. Saya mau mengundang Ibu dan Nak Alief dalam acara syukuran ulang tahun anak saya yang ke dua tahun. Acaranya minggu depan, suatu kehormatan kalau Ibu ikut serta dalam acara kami.” Ucap Bu Joni sembari menyerahkan kertas undangan mini bertema Minions. Owalah, Alief di undang pesta ulang tahun tok!


Aku mengambil undangan tersebut, “terima kasih Bu, iya nanti saja usahakan datang, ya!”


“Izin, siap terima kasih Ibu.”


“Sama-sama, Bu.”


“Izin, mendahului, Bu. Saya mau lanjut bagikan undangannya.” ucap nya berpamitan. Asli, nggak enak banget di panggil Ibu sama orang yang usia nya lebih tua dari kita. Hem, berasa sepuh.


“Iya, Bu, silakan.”


Bu Joni melanjutkan aktivitas nya, begitu juga dengan ku.


Tak lama kemudian, kegiatan sapu menyapu sudah bersih. Tinggal membuang sampah di ujung jalan.


“Gue nggak cinta sama lu, Ar! Gue cuma cinta sama Al!”


“Andai lo tau, beribu-ribu kali gue mencoba buat lupain Al, tetap aja dia selalu muncul di benak gue!”


“Sudah empat tahun gue mencoba lupakan dia, tapi hasil nya apa? Nggak ada! Gue nggak bisa cinta sama lo!”

__ADS_1


“Gue capek, Ar! Gue capek melawan rasa cinta gue sama Al yang makin hari malah semakin besar. Gue nggak bisa cinta sama lo, Ar, nggak bisa!”


“Gue nggak bisa seperti lo, yang diam-diam masih menyimpan rasa sama Kinza! Gue nggak bisa! Gue pengen mengungkapkan semua perasaan gue sama Al, gue cinta sama dia!”


“Tenangin diri lo, Put! Gue yakin lo bisa, gue yakin lo pasti bisa mencintai gue, seperti lo mencintai Al! Gue mohon, jangan pernah lo merusak kebahagiaan Kinza! Biarkan dia bahagia bersama Al, dan biarkan Al bahagia bersama Kinza!”


“Kenapa lo nyuruh gue melakukan hal itu? Lo masih cinta 'kan sama, Kinza? Iyaa kan!”


“Gue tau, lo menikahi gue hanya karena nggak mau melihat Kinza sakit hati. Karena pada kenyataannya, gue bakalan lakuin apapun buat dapetin Al lagi! Sekarang lo udah tau! Gue, akan merebut Al kembali!”


“JANGAN! GUE NGGAK AKAN BIARKAN INI SEMUA TERJADI! DENGARKAN GUE BAIK-BAIK PUT!”


“SEBESAR APAPUN USAHA LO MEREBUT AL DARI KINZA, MAKA SEBESAR ITU PULA GUE AKAN MENGHALANGI SEMUA YANG AKAN LO LAKUIN TERHADAP DIA!”


“GUE NGGAK AKAN MEMBIARKAN LO MENYAKITI KINZA LAGI, NGGAK AKAN PUT!”


“BIADAB! ******** LO, AR! LO MENIKAHI GUE HANYA KARENA INI? GUE BENCI SAMA LO! GUE BENCI!”


“PRANG!!!”


Aku mematung seketika. Percakapan apa yang baru saja aku dengar? Ini mimpi, kah? Kenapa hati ku terasa sakit sekali.


Mbak Putri, jadi, sampai saat ini beliau masih mencintai suami ku? Kenapa dia menyembunyikan semua nya, Tuhan?


Aku buru-buru membuang sampah, sebisa mungkin mempercepat langkah yang pada kenyataannya begitu berat sekali. Bukan hanya pengakuan Mbak Putri yang membuat hati ku teriris, tapi juga pengakuan Bang Arjuna. Sungguh tak pernah ku duga sebelum. Ternyata, Bang Arjuna masih mempunyai perasaan yang sama terhadap ku. Bahkan setelah empat tahun lama nya.


Tuhan, apa aku berdosa?


Nafas ku terasa sesak sekali mengetahui kenyataan ini. Satu sisi hati ku sakit sebab mengetahui bahwa Mbak Putri masih mencintai Mas Al. Satu sisi, hati ku juga teriris karena Bang Arjuna masih memiliki perasaan yang sama terhadap ku. Bukan berarti aku masih mencintai nya, bukan! Aku hanya merasa berdosa pada Bang Arjuna yang ternyata masih menyimpan perasaan untuk ku. Sesak sekali rasa nya, Tuhan.


“Sayang, ngapain di sini?” tanya Mas Al sembari menepuk bahu ku dengan pelan. Ku lihat wajah tampan nya yang khas seperti orang bangun tidur.


“Kok sedih? Kamu nangis?" tanya Mas Al seraya membalikkan tubuh ku yang sekarang menghadap ke arah nya.


“Mas, kita bicarakan ini di rumah.” ucap ku seraya menarik tangan Mas Al.


“Kenapa sayang, ada apa?” tanya mas Al dengan wajah kebingungan. Tanpa banyak bicara, aku langsung memeluk tubuh tegap nya.


“Bang Arjuna dan Mbak Putri, Mas. Mereka bertengkar karena aku. Aku sangat berdosa, Mas.” ucap ku semakin membuat Mas Al bingung. Namun dia tak bicara, Mas Al masih setia mendengarkan penjelasan dari aku.


“Bang Arjuna menikahi Mbak Putri hanya karena aku. Dia tak ingin melihat ku bersedih pada saat Mbak Putri merebut mu dari aku, Mas. Aku berdosa banget, aku salah besar!” ucap ku sembari mengencangkan pelukan ku pada tubuh nya.


“Sayang, istighfar! Tarik nafas mu sebelum berbicara. Sumpah, aku nggak ngerti apa maksud omongan kamu. Kenapa kamu sampai merasa bersalah seperti ini? Kamu buat dosa apa, sayang?” tanya Mas Al semakin kebingungan.


“Mbak Putri masih mencintai mu, begitu juga Bang Arjuna. Dia masih mencintai ku, Mas! Mereka menikah tanpa cinta, Bang Arjuna hanya memanfaatkan Mbak Putri supaya Mbak Putri tidak bisa merebut kamu dari aku, Mas!” ulang ku sekali lagi.


“Sayang, kamu sakit, ya? Mas nggak percaya Arjuna seperti itu. Dia pasti mencintai Putri. Sudahlah sayang, itu urusan rumah tangga mereka. Kita tidak berhak ikut campur.” ucap Mas Al tak percaya pada ku. Ya, Tuhan harus dengan cara apa aku membuktikan nya?


“Mas, aku serius. Bang Arjuna masih mencintai ku!”


“Lalu kamu mau apa, Dek? Kamu mau balikan sama dia, iya?” cecar Mas Al tak suka dengan ucapan ku. Ya Sallam, bukan itu maksudnya.


“Nggak, Mas.”


“Lalu apa, Dek?”


“Aku juga nggak tau. Tapi aku kasihan dengan kedua nya. Mereka mengorbankan cinta nya demi melihat kita bahagia.”


“Udahlah sayang, nggak perlu kita memusingkan ini! Itu rumah tangga mereka, biar mereka yang menjalankan. Ingat pesan Mas, Dek? Jangan begitu percaya dengan ucapan Putri. Kamu pernah terluka karena dia 'kan?”


Aku pasrah, tak bisa berkata-kata lagi. Menuruti perkataan Mas Al ada baiknya juga. Tapi bagaimana dengan kedua manusia itu?

__ADS_1


__ADS_2