
“Nanti acara aqiqah nya di rumah mama aja, ya?”
“Syukuran yang kedua di rumah bunda, ya?”
“Kinza jangan capek-capek, kalau perlu tinggal di rumah mama aja gimana?”
“Iya sayang, nanti bunda sering-sering jenguk kamu juga.”
“Kalau butuh apa-apa langsung kabari kami, ya?”
Oke baiklah, sambutan yang cukup luar biasa untuk aku yang baru saja melahirkan! Baru juga brojol, eh, sudah banyak wacana-wacana yang sudah disiapkan.
Mereka justru sibuk memikirkan acara syukuran, aqiqah, dan acara-acara lainnya. Iya sih aku tau acara itu memang perlu dan sangat penting. Tapi tulung, aku masih lemes ini, lho! Butuh asupan, hiks! Tolong mengerti aku Mama, Bunda!
Tapi, ada untungnya juga sih, biarin ajalah Mama dan Bunda mertua sibuk mengurusi acara yang bejibun. Jadi kan aku nggak perlu repot-repot, tinggal duduk manis pada saat acara syukuran bayi ku nanti. He he he enak juga ya? Punya Mama dan Bunda mertua yang sangat peduli pada ku. Terlebih lagi pada Alief.
Oh iya, Alhamdulillah, telah lahir anak pertamaku bersama Mas Al. Dia bayi laki-laki dengan berat 3,5 kg dan tinggi 55cm. Alhamdulillah, tidak ada yang kurang suatu apapun. Bayi ini sehat, begitu lucu dan menggemaskan.
Setelah selesai di azani, mas Al mendekat ke arah ku sambil menggendong bayi mungil tersebut. Jujur aku tersentuh, dia rupanya begitu antusias dan senang dengan kehadiran baby boy di hidupnya. Aku ikutan senang, apalagi mendengar suara tangisan bayi ku. Sungguh menyentuh hati.
“Alief Arzanta Dirgantara.” ujar Mas Al saat tiba di dekat ku. Eh apa tadi? Maksudnya itu nama bayi ku gitu? Wow, bagus juga ya?
“Namanya itu, Mas?” tanyaku terdengar lemas. Mas Al mengangguk singkat dan tersenyum tipis.
“Iya sayang, bagus kan?”
Aku mengangguk pelan, iya memang bagus. Aku suka dan cocok dengan nama itu. Hum, semoga sehat-sehat ya, anak Mama. Jadilah anak yang berbakti dan selalu sayang Mama dan Papa.
“Mas, aku kepingin gendong Alief.” ujar ku manja. Mas Al lantas menyerahkan Alief padaku. Si bayi masih terlihat merem, sedang apa, ya, dia di dunia bayi?
Ya Tuhan, begitu sempurna ciptaan Mu. Alief begitu tampan dan lucu. Sungguh, aku tak bisa menahan tangis haru ku. Alief begitu sempurna.
“Mas, dia lucu banget. Anak kita lucu banget, Mas. Dia tampan kayak kamu.” ujar ku sembari terisak kecil. Ih, dasar Kinza cengeng!
Mas Al duduk di kursi dekat brangkar, dia mengusap kepala Alief dan sesekali mencium puncak kepala ku. Eh siapa sangka, dia juga ikutan nangis lho itu.
“Mama kepingin gendong, sini-sini nak.” buyar Mama meminta Alief untuk digendong nya. Mas Al lantas menyerahkan Alief pada Mama. Yaudahlah aku serahin aja, lagi pula masih lemes sih. Kayaknya aku butuh istirahat deh! Udah gitu kasian juga sama Mas Al, dia kelihatan capek juga kayaknya. Apalagi matanya yang terlihat memerah dan sedikit bengkak. Ya jelas bengkak, Mas Al langsung nangis saat Alief lahir. Nggak ngerti lagi sama manusia satu ini.
Alief sudah dibawa ngacir oleh Mama. Kini tinggallah aku dan Mas Al. Sementara Papa, Ayah, Bunda dan Kenzo ikutan ajakin bayi yang di gendong Mama. Huuum, lega sekali aku. Kedatangan Alief ke dunia di sambut baik dan hangat. Seluruh keluarga ku nampak bahagia dengan kelahiran Alief. Sungguh terharu, aku bersyukur pakai banget deh ini!
“Sayang, kok nangis, kenapa? Ada yang sakit, ya?” tanya Mas Al cemas. Bukan, bukan itu yang ku tangisi. Aku nggak kesakitan sama sekali, kok. Justru aku bahagia banget! batin ku.
“Mas, aku nggak pernah merasa sebahagia ini. Aku nangis bukan karena sakit, tapi merasa begitu bahagia. Beruntung sekali berada di tengah keluarga yang begitu harmonis, apalagi saat Alief lahir. Rasanya aku kepingin pingsan saking bahagianya.” ujar ku sedikit alay dan masih terus terisak kecil.
Tiba-tiba Mas Al beranjak dari tempat nya. Setelah itu memeluk tubuh ku lembut, sesekali bibir hangat nya mencium puncak kepala ku. “Ya Tuhan, jangan biarkan kebahagiaan ini cepat berlalu. Sungguh, aku begitu merasa bersyukur atas semua nikmat yang Engkau beri. Terima kasih Tuhan, terimakasih!”
...---...
“Oek..oek..oek” huft, sudah kesekian kali Alief terus menangis. Ada apa gerangan? Dia kesakitan kah? Lapar kah? Atau apa sih, aku nggak ngerti sumpah.
Pukul sebelas malam aku belum tertidur. Sebab, Alief terus-menerus menangis. Reda dikit, eh nangis lagi. Aku pusing, sumpah! Mana Mas Al belum pulang karena lembur. Mama dan Bunda mertua nggak ada di sini. Huh, aku harus apa ini? Help me please!
Aku sudah berada di rumah. Setelah dua hari berada di rumah sakit, akhirnya dokter membolehkan aku untuk pulang ke rumah. Sudah seminggu usia Alief, sudah seminggu juga aku jarang tidur dan sekedar santai-santai.
__ADS_1
Sekarang tugas ku bukan cuma beberes rumah, siapin kebutuhan suami, ikut kegiatan persit, dan ngetik cerita untuk pembuatan novel. Aku mempunyai tanggung jawab dan tugas lain yakni, menjaga dan membesarkan Alief dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Maka, tak jarang aku merelakan tidur siang ku demi mengganti popok bayi Alief, menyusui nya, menunggu Alief tidur dan meredakan dia mengoceh alias nangis sepanjang waktu. Aku juga lebih sering terbangun malam bahkan tak tidur semalaman. Ya, ini semua demi Alief. Buah cinta ku dengan Mas Al.
“oek..oek..oek” oke, si bayi nangis lagi! Aku lantas menggendong tubuh mungil Alief, tangis nya belum juga mereda. Di kasih susu nggak mau, popok nya masih bersih, dan sudah aku gendong pun masih saja menangis. Aku harus apalagi ini? Pusing sumpah!
“Alief kenapa sayang? Mama harus gimana dong? Alief ada yang sakit, atau lapar, nak?” tanya ku pada Alief yang terus menangis. Iya, aku tau Alief nggak akan bales ucapan ku. Paling nggak dia merasa terhibur gitu, sebab aku ajak beliau mengobrol.
Perlahan tangis nya rada, kayaknya dia jenuh deh. Buktinya langsung diem pas aku tanya demikian. Oke Alief, bobok ya sayang? Mama sudah lelah ini. Batin ku menggebu dan gregetan.
Aku lantas melantunkan shalawat, semoga membuat Alief cepat tidur.
Feeling aku sih, Alief tadi kesepian. Butuh teman bicara, makanya dia terus menangis. Huuu, maafkan Mama mu ini yang tidak peka ya, nak?
“tok..tok..tok” suara ketukan pintu membuyarkan ku. Sepertinya itu Mas Al!
Lantas langkah kaki ku menuju pintu depan, membukakan pintu untuk orang yang mengetuk nya. Semoga dia Mas Al!
“Assalamualaikum..” nah kah, itu suara mas Al! Asiiik, penolong ku datang!
“Wa'alaikum sallam..” balas ku spontan. Satu tangan ku menggendong Alief dan tangan lainnya membuka pintu.
“Hallo, cinta!” sapa Mas Al lembut. Dengan wajah yang terlihat capek dan sedikit kusam, dia masih sempat-sempatnya berbuat manis.
Aku mencium tangan kekar Mas Al, setelah itu Mas Al mencium kening ku dan juga pipi Alief yang mulai tidur. “Aih, giliran papa nya pulang malah tidur ini bayi.” ujar ku lesu. Mas Al langsung mengambil alih Alief dari tangan ku.
“Emang nya Alief kenapa, sayang? Dia rewel terus, ya?” tanya mas Al lembut sembari berjalan masuk. Dia duduk di sofa tanpa melepas baju nya terlebih dahulu. Hiii, malah kangen-kangenan sama Alief.
“Iya Mas, dia nangis terus. Tadi baru aja reda. Sekarang ada kamu malah makin adem ayem aja dia.” balas ku lesu.
“Oke mas, kalau gitu aku siapin perlengkapan mandi kamu, ya?”
“Siap, makasih sayang!”
Mumpung Alief nggak rewel, aku buru-buru ngacir ke dapur. Membuatkan Mas Al minuman dan menyiapkan air hangat untuk beliau mandi. Bukan hanya itu, aku juga menghangatkan makanan untuk Mas Al makan. Pasti dia lapar habis rapat dengan anggota dan para tetua.
“Mas mandi dulu sana, Alief biar tidur di kamar nya. Kasian dari tadi dia nangis terus.“ ujar ku lembut sambil menyuguhkan secangkir teh manis hangat di atas meja.
“Siaap sayang, tapi bentar dulu deh. Aku masih capek, masih panas, nggak enak kalau langsung mandi.” balas Mas Al sekenanya.
Biarin ajalah. Kasian juga dia, kayaknya kangen berat sama Alief.
“Kamu lembur ngapain aja? Ada tugas apa?” tanya ku pelan.
“Rapat sama komandan, sebentar lagi mau ada kunjungan KASAD. Aku di tunjuk jadi bagian penerimaan, bagian depan.” balas Mas Al tanpa mengalihkan pandangannya pada Alief.
“Lha, terus aku gimana? Ini Alief masih kecil banget, nggak mungkin aku tinggal atau bawa-bawa dia ke acara gituan.” bubuh ku cemas.
“Sayang, ya, kamu nggak akan di tugaskan macem-macem. Lagi pula kamu kan masih masa nifas, masa pemulihan. Belum saatnya ikut gituan, ibu komandan juga ngerti.” tutur Mas Al lembut. Fyuh! Lega deh kalau kayak gitu. Kasian Alief dong kalo musti aku tinggal-tinggal. Mau di ajak pun repot, hello!! Bayi masih merah gini mana tega aku ngajak nya!
“Syukurlah kalau gitu, Mas. Lega aku dengernya.”
“Oh iya sayang, besok bapak dan ibu komandan sama jajaran nya mau datang kesini. Mau lihat adek bayi katanya.” ujar mas Al renyah. Oh no! Kudu siapin suguhan yang spesial inimah!
__ADS_1
“Mas di rumah kita nggak ada makanan apa-apa, gimana dong? Aku juga nggak sempet bikin-bikin kue macam dulu, Alief rewel terus soalnya.” ujar ku lesu dan sedikit tertekuk-tekuk.
“Besok aku beli, setelah ambil apel pagi, nanti aku sendiri yang cari kuenya, ya? Kamu nggak perlu khawatir, nggak usah repot-repot!” bubuh mas Al lembut. Auw, so sweet banget sih suami ku ini! Selalu bisa jadi pahlawanku!
“Mas bawa Alief ke kamar ya, mau mandi ini. Udah lumayan enak badan nya. Biarin Alief istirahat aja di kamar.” ujar Mas Al kalem sambil mengangkat bokong nya dari sofa. Aku langsung menahan nya dengan tangan ku.
“Biar aku aja, Mas. Mas mandi aja sana.” tawar ku lembut. Mas Al langsung mengiyakan dan menyerahkan Alief padaku.
Dengan hati-hati aku meraih tubuh merah dan mungil milik Alief dari tangan Mas Al. Dia rupanya sudah tidur lelap. Buktinya nggak kebangun saat dipindahkan. Uh, dasar Alief. Setiap digendong sama Mas Al dia selalu adem ayem, tenang, damai dan nggak rewel. Lha giliran sama aku? Beuh, nangis seharian yang ada! Wk wk wk
...---...
“Izin, mari Ibu silahkan masuk, maaf rumahnya masih berantakan, mohon dimaklumi.” sapa ku ramah pada Ibu Danyon dan Wadanyon. Sementara para Bapak-bapak di sambut oleh Mas Al.
Dia tersenyum lembut, “Ah, tidak apa-apa, Dek. Saya juga ngerti kok, sudah pernah mengalami soalnya.” balas nya ramah. Oke, aku sangat suka dengan beliau. Tutur kata nya lembut dan selalu berwibawa. Dia juga pengertian, dan begitu peduli dengan anggota-anggotanya.
Danyon, Wadanyon, dan ajudan-ajudan nya berkumpul di rumah dinas Mas Al. Suasana harmonis dan penuh kekeluargaan tercipta jelas di sana. Apalagi saat Mas Al menggendong Alief, membawa bayi itu ke hadapan para tetua Bataliyon. Mereka kelihatan begitu akrab, aku yang lagi siapin makanan di dapur aja ikutan seneng liatnya. Harmonis bener seeeh!
“Mari Bapak, Ibu, silahkan dinikmati.” ujar ku seraya menyajikan kue lapis, bolu talas dan bolu ketan, serta ada beberapa cemilan kering lengkap dengan minumannya.
“Aduh, nggak usah repot-repot, Dek. Adek kan masih masa pemulihan, jangan terlalu banyak gerak juga.” balas ibu komandan sungkan. Aku lantas tersenyum tipis.
“Izin, tidak apa-apa, Bu. Yuk, mari silahkan dinikmati.” tawarku sekali lagi.
“Oh iya, Dek, adek nggak perlu ikutan siapin acara kunjungan. Saya tau Adek masih dalam masa pemulihan, maka dari itu saya sarankan Adek tidak ikut nimbrung di kegiatan tersebut. Apalagi sampai ikutan dalam persiapan, pokoknya nggak usah, ya Dek?” bubuh ibu komandan. Aku langsung terkesiap mendengar ucapan beliau. Yeay, lumayan lah nggak ikut capek-capek, ha ha ha.
“Izin, siap Ibu, baiklah kalau seperti itu.” ujar ku sungkan.
“Nama bayi nya siapa ini? Uh, lucu sekali, ya, jagoan nya Mayor Al?” pecah suara berat milik bapak komandan. Semua pandangan langsung tertuju padanya yang sedang menggendong Alief.
“Izin, Alief Arzanta Dirgantara, Ndan.” balas mas Al tegas.
“Walah, Alief tok namanya. Bagus sekali.” imbuh bapak komandan.
“Ngomong-ngomong lahirnya sama seperti anaknya Letda Dian. Bisa nih dijadikan satu letting.” sambung beliau. Gelak tawa langsung memecah.
Mulai deh ngomongin soal Tentara, Alief masih kecil lho ini, hiks!
...---...
“Dek, ini ada sedikit hadiah dari kami untuk Adek dan Alief. Mohon diterima, ya? Yang ini dari pengurus Persit, dan ini dari saya, khusus untuk Alief.” ujar Ibu danyon sesaat sebelum mereka berpamitan.
“Izin, siap Ibu, terima kasih banyak sudah datang, dan terima kasih atas hadiah nya. Sampaikan salam saya untuk para pengurus Persit.” balas ku sungkan. Iyalah jelas sungkan, secara, ibu komandan memberikan hadiah nggak kira-kira.
Aku sudah bisa menebak, satu buah bedcover, peralatan mandi bayi yang lengkap, serta popok dan baju-baju bayi. Uh, banyak sekali kan? Jadi seneng, eh, jadi ga enak maksudnya, wk wk wk.
“Kami pamit, ya, sehat-sehat terus untuk ibu dan bayinya.” pamit ibu komandan.
“Izin siap Ibu, sekali lagi terima kasih banyak. Maaf merepotkan.”
“Ah nggak apa-apa, Dek, kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum!”
“Wa'alaikum sallam.”
__ADS_1
Oke, para pejabat tinggi satuan sudah pergi. Kini tinggallah aku, Mas Al dan Alief. Yuhuuu, waktu nya buka hadiah dan quality time bersama orang terkasih! Wk wk wk