EPOCH

EPOCH
Bab 66


__ADS_3

“M - mas a - aku, aku hamil.” ucap Kinza dengan gagap. Tubuh nya langsung lemas begitu melihat dua garis berwarna merah tercetak di testpack. Kinza bingung, ia tidak tau harus senang atau sedih sekarang. Bagi nya, anak adalah rezeki yang paling berharga. Namun tidak bisa di pungkiri, kesiapan nya untuk menambah anak belum begitu mantap.


Al langsung memeluk tubuh istrinya yang bergetar. Air mata bahagia menetes begitu saja. Al benar-benar merasa bahagia mendapat kabar bahwa istri nya sedang mengandung.


Berbeda dengan Kinza, wanita cantik itu justru menangis karena bingung. Hati nya masih belum siap menerima. Tapi, Kinza juga merasa bahagia sebab buah cintanya bersama Al sudah hadir di dalam rahim nya sendiri.


“Sayang, kamu serius?” tanya Al memastikan lagi. Lantas Kinza memberikan ke lima buah testpack yang hasil nya sama, dua garis berwarna merah. Kinza benar-benar sedang mengandung anak kedua dari Al.


“Ya Allah terima kasih, terima kasih sudah menghadirkan buah cinta ku bersama Kinza. Terima kasih banyak, Dek.” ujar Al dengan mata berkaca-kaca. Ia semakin mengeratkan pelukan nya pada tubuh Kinza.


“Mas, aku bingung. Aku belum siap.” ucap Kinza sembari menangis tersedu. Ibu hamil itu lantas menenggelamkan wajahnya di dada Al. Menumpahkan segala perasaan yang membuat hati nya dilema.


“Dek, ini sudah rezeki kita. Bukan kah kamu juga senang, hmm? Mas usahakan untuk selalu ada buat mu. Bila perlu Mas akan cari pembantu untuk mengurus rumah ini. Mas janji, Mas akan lakukan yang terbaik untuk mu dan anak kita.” ujar Al mencoba mencairkan suasana. Ia harus bisa meyakinkan Kinza bahwa, mengandung anak kedua tidak akan semenakut kan itu. Al percaya, Kinza pasti akan menerima dan ia pasti bisa menghadapi semua nya.


“Yakin aku bisa, Mas?” tanya Kinza meragukan diri nya sendiri. Lantas Al mengangguk cepat. “Pasti, Dek! Mas yakin kamu bisa. Percayalah, semua nya akan baik-baik saja. Mas percaya kamu mampu, bahkan sangat mampu.” balas Al dengan teramat sangat manis dan lembut. Tentu hal itu membuat hati Kinza semakin yakin dan percaya bahwa ia bisa melewati semua nya.


“Mas, bantu aku, ya? Kuatkan aku terus. Bagi ku, kamu adalah penyemangat terbaik.” ucap Kinza seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Al.


“Aku akan menjaga buah cinta ku bersamamu, Mas. Seperti aku menjaga Alief, seperti aku menyayangi mu. Akan ku tunggu dan ku jaga ia sampai lahir ke dunia ini. Nak, sehat-sehat ya, sayang. Maafkan Mama karena sempat meragukan mu. Mama sayang kamu cinta. Baik-baik di perut Mama, ya, Nak.”


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Bersyukur, bersyukur, bersyukur itu adalah satu-satunya cara untuk menerima keadaan ku saat ini. Aku bahagia, sangat bahagia. Meskipun awal nya sempat meragukan kehamilan ku ini.

__ADS_1


Lima buah testpack bergaris merah yang artinya positif membuat ku terhuyung sesaat. Aku langsung bingung, pengen nangis, tapi juga bahagia. Nggak nyangka, percintaanku dan Mas Al menghadirkan buah cinta yang sekarang tumbuh di rahim ku. Sempat bingung, kok bisa ada bayinya di rahimku. Bukannya Mas Al memakai pengaman? Aku juga nggak nggak telat minum pil, mungkin, aku lupa. Ah sudahlah, mungkin sudah kehendak Allah. Terima dan syukuri saja. Ini rezeki, jangan di tolak hehe.


Belum ku pastikan berapa usia kandungan nya. Yang pasti, sudah tiga minggu aku tak berhubungan badan dengan Mas Al. Selain takut karena habis di operasi, aku juga takut jahitan nya lepas. Padahal itu suatu ketidakmungkinan. Entahlah, aku kurang paham dengan masalah medis. Harus konsultasi ke dokter bagaimana baiknya nanti.


“Assalamu'alaikum, Mam? Lagi ngapain kamu?” tanya si Babang alias Mas Al sambil menutup pintu. Tubuh tegap nya masih di balut seragam loreng, sementara satu tangan nya membawa tote bag yang entah apa isinya. Mas Al tetap ganteng walau sedikit bau asem. Tapi, aku sangat suka aroma tubuh nya. Sudah menjadi candu, sangat menenangkan he he he.


“Wa'alaikum sallam, Mas. Ini nih, lagi nyuapin jagoan. Ngerengek minta makan,” ucap ku seraya mencium tangan kekar nya yang wangi hand sanitizer aroma lemon. Mas Al lantas mencium kening ku dengan lembut.


“Hallo anak Papa, lagi mam apa sih nak?” tanya Mas Al pada bayi gimbul yang sibuk memakan wortel rebus. Dia nampak girang liat si Papa dengan masih berseragam loreng. Iya, Alief memang suka pada pakaian loreng Papa nya. Bikin bayi gimbul ini pengen nempel-nempel.


“Salim dong, Nak. Itu ada papa lho di depan mu.” ucap ku pada Alief. Namun, dirinya malah tak menggubris sedikit pun. Asik sama makanan, sama Papa nya saja cuek ha ha.


“Pa - pa da - dan mam.” (Papa dedek makan) balas nya sembari mengacungkan tangan yang sedang menggenggam wortel.


Tingkah nya lucu sampai-sampai membuat suami ku geleng-geleng kepala, hi hi. Kelakuan bayi memang beragam, Bun, unik-unik.


“Nak, besok kita periksa, ya. Papa nggak sabar pingin lihat kamu. Lusa 'kan Papa tugas di Bandung, jadi Papa pingin lihat kamu sebelum berangkat.” ucap nya tulus dan lembut. Aku terkesima sesaat. Rupanya Mas Al betul-betul menginginkan anak kedua. Sabar, ya, sayang delapan atau sembilan bulan lagi dia akan lahir.


“Siap, Papa! Semangat tugas nya! Semoga selamat sampai tujuan dan kembali pulang ke pangkuan kami.” balas ku menirukan bahasa bayi. Lantas kami tertawa bersamaan.


“Mas mau mandi atau makan dulu?” tanya ku lembut.


“Mandi ajalah, Dek. Udah gerah, bau asem.”


“Ya udah, kalau gitu aku siapin dulu pakaian nya, ya. Selesai menyuapi Alief makan, aku siapin makanan buat kamu.” bubuh ku yang langsung di balas anggukan oleh Mas Al. Lantas lelaki yang masih berseragam loreng itu ngacir ke kamar mandi.

__ADS_1


“Lief, lanjut makan, yuk. Ini satu suap lagi.” ucap ku sambil menyodorkan suapan terakhir makan sore hari ini.


“Alhamdulillah, selesai juga akhirnya.”


...---...


“Usia nya baru dua minggu lewat tiga hari, Pak, Bu. Alhamdulillah kondisi nya sehat. Nah, ini sudah terbentuk embrio yang berukuran sekitar 0,01–0,02 sentimeter. Bisa di lihat ada kantung sel nya, Bu.”


Aku meneteskan air mata tatkala melihat gumpalan darah kecil di layar monitor. Haru biru menyelimuti hati ku. Aku bahagia, bersyukur dan sangat-sangat merasa terharu.


Mas Al langsung membagikan kabar bahagia di grup WhatsApp keluarga. Semua nya langsung mengucap syukur dan berbondong-bondong mengucapkan selamat. Alhamdulillah, kehamilan kedua ku masih di sambut hangat. Bahkan mereka sangat menantikan layaknya kehamilan pertama.


“Sayang, besok 'kan Mas pergi ke Bandung. Mas sudah telepon Bunda untuk menginap di sini selama satu minggu, nggak apa-apa 'kan” tanya Mas Al.


“Lho, nggak ngerepotin Bunda, Mas? Aku takut bikin Bunda repot, lho.” ucap ku tak enak hati. Lantas Mas Al menggeleng.


“Nggak kok, dia malah senang sekali. Nanti sore dia berangkat dari Yogyakarta ke Jakarta.”


“Oke, Mas.”


“Maaf, ya, Mas nggak bisa temenin kamu. Tapi Mas akan pantau terus kamu dari jauh. Sebisa mungkin Mas menjaga kamu walaupun jarak memisahkan kita.” ucap nya tak enak hati. Lantas, aku memegang erat tangannya.


Aku mengangguk cepat. Sudah bisa ku tebak, Mas Al mulai over protektif sebab kehamilan ini. Pasti dia sangat khawatir dan tidak ingin terjadi sesuatu pada ku dan bayi di dalam kandungan ku.


“Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti. Lakukan saja tugas itu.”

__ADS_1


Maaf baru update, semoga feel nya dapat ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian😊


__ADS_2