EPOCH

EPOCH
Bab 51


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Mas Al sudah berangkat ke kantor. Kini hanya tersisa aku yang sedang memandikan Alief. Si gimbul ini sangat senang main air. Jadi, butuh waktu lama untuk memandikan nya.


“Da - da di - di..” (dedek mandi) ucap nya girang sambil memukul-mukul air. Hey, basah semua ini. Ikutan mandi lagi padahal aku sudah mandi, huft. Alief memang seneng kalau main air gini. Betah lama-lama berada di kamar mandi. Ampun!


“Sayang udah, ya, mandi nya. Kita ikut kegiatan Persit dulu, okay!” ucap ku sambil mengangkat dan membungkus tubuh gimbul nya dengan handuk. Dia nangis, nggak mau berhenti.


“Eh eh ko nangis, mandi nya kan udah selesai, Nak. Nanti sore di lanjut lagi, ya.” Alief tetap nangis, dia masih belum puas berendam di bak mandi. Aduh gustiii, bisa telat ini mah.


“Da - da di - diiii..” (Dedek mandiii) ucap nya sambil meronta minta di turunkan.


“Iya, sayang iya. Lima menit saja beres, ya. Lagi pula tumben sekali minta nambah. Mama bisa telat ini, lho.” ucap ku pasrah sembari menurunkan tubuh nya ke dalam bak mandi. Alief girang dan langsung memukul-mukul air.


Lima menit berlalu. Setelah di rasa cukup, aku langsung mengangkat tubuh nya dari bak mandi. Dan benar, dia tidak menangis lagi. Seperti tahu dan nurut dengan ucapan ku. Pintar sekali anak Mama.


Lalu dengan cekatan aku memakaikan pakaian pada Alief. Kaos lengan pendek motif beruang, lengkap dengan celana nya yang senada. Serta topi kupluk rajut kesukaan nya. Alief makin ganteng. Sedep dipandang apalagi di cium. Dia super wangi bayiiii.


Hari ini aku berangkat sendiri, pasalnya Mbak Amira dan Bu Yonathan sudah pergi ke aula. Mereka bukan meninggalkan aku, tapi akulah yang menyuruh mereka berangkat duluan. Sebab, Alief masih belum siap aku mandikan. Dia masih berantakan, sama dengan ku yang kembali basah dan harus mandi dua kali.


“Ma - ma da - da ma - mm..” (Mama Dedek makan) dia terus mengoceh sembari memakan biskuit Promina rasa susu kesukaan nya. Belepotan kemana-mana nggak apa-apa deh, yang penting perut Alief kenyang, hiks.


Kami mulai berangkat. Berjalan menyusuri rumah-rumah prajurit yang sudah menikah. Rumah-rumah serba hijau dan ditumbuhi tanaman-tanaman hijau. Ada yang kecil, ada yang besar. Pokoknya beragam.


“Alief udah mandi, ya, ganteng banget.” sapa seorang gadis berseragam putih abu. Anak dari salah satu prajurit yang ada di asrama ini. Anak Ibu Yonathan.


“Iya kakak Della, terima kasih." ucap ku meniru gaya bahasa bayi. Gadis bernama Della itu mencium dan mencubit pipi Alief dengan gemas.


“Kakak Della baru mau berangkat? Kok siang banget?” tanya ku ramah.


“Iya Tante, hari ini masuk sekolah siang. Tapi mau rapat OSIS jadi berangkat jam segini deh.” balas Della sekenanya. Aku mengangguk paham.


Ah ya, bocoran tentang kedekatan ku dengan warga asrama. Bisa di bilang, aku ini manusia paling ramah di asrama ini. Aku disegani karena sifat ku yang baik hati dan wellcome pada semua orang. Ya gimana sih, Mama dan Bunda mertua selalu mengajarkan untuk rendah hati meski pangkat suami sudah tinggi. Tetap menjalin silaturahmi yang baik pada seluruh warga asrama. Tidak pandang bulu dan status. Sebab, semua nya sama rata.


Tak hanya ramah dan wellcome pada ibu-ibu, aku juga ramah pada anak-anak yang ada di sini. Mulai dari yang bayi, sampai yang sudah kuliah sekali pun. Maka, nggak heran kalau saat melewati rumah-rumah serba hijau ini, aku banyak di sapa oleh orang. *padahal memang asli nya harus saling sapa, ups.

__ADS_1


“Bella berangkat ke sekolah dulu, ya, Tante. Assalamualaikum.. ” pamit Della seraya mencium tanganku dan mencium pipi Alief.


“Wa'alaikum sallam, hati-hati kakak Della!” balas kurama sambil melambaikan tangan Alif.


“Ta - ta.” (Dadah) ucap Alief sambil tersenyum. Uh, lucu sekali anak ini.


Baiklah, mari lanjutkan perjalanan. Sudah telat beberapa menit, pasti kena tegur Ibu Komandan, hiks.


...---...


Kurang lebih tiga puluh lima anak yatim piatu sudah selesai didata. Laporannya sudah aku buat dan sudah aku serahkan pada ibu komandan. Juga, beberapa lembaran proposal, aku serahkan pada bendahara supaya uangnya bisa segera turun.


Pukul satu siang agenda pertemuan Persit kali ini sudah selesai. Tubuhku sudah lelah dan letih, karena lumayan jauh berjalan menyusuri rumah ke rumah warga yang ada di sekitar luaran asrama. Di tambah dengan melihat kedekatan Mas Al dan Mbak Amira. Bukan nya bekerja, mereka malah asyik ngobrol haha hihi di pinggir jalanan. Tanpa mempedulikan aku yang sudah terbakar api cemburu.


Aku masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Ingin cepat-cepat meminum air es untuk meredam emosi. Aku merasa cemburu, hatiku panas terbakar. Rasa-rasanya tidak etis melihat suamiku dan adik letting nya mengobrol dengan asyik. bahkan mereka tidak memperdulikan aku yang sudah memandang mereka dengan perasaan marah.


Aku tahu, Mas Al hanya disuruh komandan untuk menjemput Kami bertiga. Tapi, apa jadinya Mas Al malah mengobrol dengan mbak Amira. Sehingga Mbak Amira lupa akan kewajibannya. Pingin kutegur, tapi Ibu Yonathan melarangku. Dia bilang redam emosi ku dulu, biarlah mereka seperti itu sekarang. Masalah Mbak Amira, biar nanti Ibu komandan sendiri yang menindak nya langsung.


Aku pasrah saja. Lagi pula tak ingin masalah ini terlalu berlarut-larut. Mungkin mereka hanya mengobrol biasa, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tetap saja, hatiku panas terbakar api cemburu. Aku nggak terima suamiku dekat dengan perempuan lain. Sebab, perempuan mana yang rela suami nya dekat dengan wanita lain. Tidak ada 'kan?!


“Dek, Alief nangis itu. Kok diem terus?” tanya Mas Al menghentikan aktivitas ku meminum air es. Bukan maksud ku mendiamkan Alief macam itu. Aku hanya sedang emosi. Aku tak mau emosi ku semakin memuncak dan justru melukai perasaan ku sendiri. Aku nggak mau Alief yang kena batu nya.


Mas Al pergi ke dapur dengan pasrah. Mungkin dia tidak tahu apa yang membuat aku seperti ini. Atau mungkin pura-pura nggak tahu. Entah, aku sendiri bingung.


Cukup lama bergulat dengan aktivitas nya, Mas Al kembali ke kamar ku tanpa membawa Alief. Mungkin Alief sudah tidur sebab terlalu lelah setelah berjalan lumayan jauh. Aku ngerti.


Mas Al duduk di sebelah ku. Dia lalu membuka sepatu PDL nya tanpa menatap ku sama sekali. “Mas tau kamu marah. Mas tau kamu cemburu. Tapi bisakah kamu profesional sedikit, Dek?” ucap Mas Al tanpa menatap ku. Dia tetap fokus pada aktivitas nya melepas sepatu PDL. Aku bingung.


Refleks otak ku di penuhi oleh pertanyaan-pertanyaan. “Maksud kamu apa, Mas?" tanya ku sembari membalikkan badan menatap ke arah Mas Al. Dia menghentikan aktivitas nya.


“Dek, kamu marah kan gara-gara lihat Mas ngobrol dengan Amira? Menurut penglihatan mu, Mas nampak menikmati obrolan itu? Tertawa kesana kemari, haha hihi di pinggir jalan? Mas tau, Dek. Karena Mas juga memperhatikan mu.” tegas Mas Al dingin. Wajah nya terlihat datar saja.


“Berfikir lah positif terlebih dahulu. Mas nggak pernah menikmati obrolan kami. Amira hanya bertanya seputar asrama saja dan acara apa yang biasa di lakukan di batalyon ini. Sumpah, nggak ada bahasan lain!” sambung nya dingin kendati wajah nya terlihat datar. Mungkin kecewa dengan tingkah ku yang seperti ABG.


Namun aku tetap pada pendirian ku, aku nggak suka melihat kedekatan nya baik di sengaja ataupun tidak. Apalagi sambil ketawa-ketawa tanpa menghiraukan orang lain. Sakit bukan main melihat itu terjadi. Aku cemburu pakai banget!

__ADS_1


“Terus kenapa kamu sampai ketawa-ketawa gitu, Mas? Haha hihi di pinggir jalan tanpa memedulikan aku yang menatap tak suka ke arah kalian berdua. Memang nya ada, bahasan soal asrama yang perlu ditertawai? Kamu pikir ini lelucon, Mas? Kamu menikmati obrolan itu 'kan, Mas?! Kamu pikir hati ku terbuat dari apa, hah?! Aku cemburu, Mas, aku sakit hati!” tandas ku sambil menitikkan air mata. Emosi ku meledak dan akhirnya mengeluarkan semua yang ada di dalam hati ku.


Mas Al tetap diam sembari meneguk ludah nya dengan paksa. Dia marah.


“Terus saja menuduh ku sesukamu, Dek! Semua yang terjadi pada aku dan Amira, itu semua bertentangan dengan semua yang ada di benak mu! Aku sama sekali tidak menikmati obrolan itu, aku hanya menjawab dan bersikap layak nya seorang prajurit pada ibu-ibu Persit. Itu cukup! Tidak ada yang lain lagi!" imbuh nya dingin.


“Apa harus sambil ketawa-ketawa gitu?” tanya ku.


“Apa harus kaku? Seperti sedang berbicara pada prajurit ke prajurit gitu? Aku juga punya perkiraan, Dek. Aku tau kondisi, tau harus bagaimana saat berhadapan dengan banyak orang. Nggak mungkin aku judes saat ada orang yang meminta penjelasan dan jawaban. Kamu ini aneh sekali!” balas Mas Al membalikkan perkataan ku dengan cepat. Aku kalah telak.


“Tapi, Mas, obrolan mu dengan Mbak Amira itu nggak wajar. Kamu seperti menikmati nya. Kalian hanyut dalam obrolan itu!” ucap ku kekeuh menyalahkan Mas Al. Aku tetap nggak suka, bagaimana pun itu.


“Kamu hanya larut dalam api kecemburuan. Sumpah demi apapun, aku nggak menikmati obrolan itu. Aku hanya menjawab perkataan Amira. Nggak ada maksud lain apalagi sampai menikmati obrolan itu! Kamu salah besar, Dek! Aku nggak seperti apa yang ada di benak mu!” Mas Al pergi dari hadapan ku. Dia bungkam setelah berkata demikian. Aku salah memang nya? Aku nggak sembarangan nuduh, itu yang aku tangkap berdasarkan hasil pengamatan ku. Aku nggak mungkin salah!


“Mas mau kemana?!” tanya ku sedikit meninggikan suara, dia acuh. Tak menjawab ataupun berbalik arah, menengok pun tidak. Dia benar-benar marah.


“Aku nggak mau menemui mu sampai kamu bisa berfikir jernih dan emosi mu sudah berhasil di redam. Percuma saja kita berbicara kalau ego dan emosi masih menyelimuti hati mu. Nggak akan pernah selesai, Dek! Yang ada justru memperkeruh suasana. Aku nggak mau membuat keretakan dalam rumah tangga kita. Kamu selesaikan emosi mu terlebih dahulu.” ucap Mas Al sembari pergi ke ruang kerja nya. Dia meninggalkan aku sendiri berteman ego dan emosi.


Aku nggak mungkin salah. Aku nggak mungkin nuduh Mas Al sembarangan. Ini berdasarkan pada kenyataan, sesuai dengan apa yang aku lihat. Aku nggak mungkin salah!


“Kamu jahat, Mas! Kamu ngebiarin aku sendiri dengan sejuta pertanyaan di otak ku! Kamu jahat, kamu berubah! Nggak pernah kamu bersikap seperti ini sebelumnya. Kamu berubah Mas, hiks - hiks.." air mata ku tumpah saat itu juga. Aku menangis sembari memeluk lututku sendiri. Aku cemburu! Aku - aku sakit hati! aku nggak suka melihat suamiku dekat-dekat dengan perempuan lain! hatiku sakit sekali hiks hiks.


Tangisku menggema ke seluruh penjuru kamar. Tak peduli dengan keadaan apapun. Sementara itu, mas Al keluar dari ruang kerjanya dan pergi dari rumah ini. Aku tidak tahu dia mau pergi ke mana. Dia tidak mengatakan apapun kepadaku. Mas Al hanya berpakaian seragam doreng tanpa membawa apapun selain ponsel, setelah itu pergi dari rumah ini tanpa bicara sedikit pun pada ku. Tega nya dia berbuat itu.


Tega kamu mau ninggalin aku sendirian dengan keadaan kacau seperti ini! Aku berkata sesuai dengan apa yang aku lihat. Aku melihat kamu menikmati obrolan itu bersama Mbak Amira. Apa aku salah? Apa rasa cemburu ini salah? Wajar 'kan Mas aku bersikap demikian, karena aku sayang padamu! Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan perempuan manapun selain aku! Aku nggak suka! batin ku terus meronta. Aku nggak nyangka akhirnya akan seperti ini. aku nggak nyangka Mas Allah akan meninggalkan aku dalam keadaan kaca seperti ini.


...---...


Langit malam ini terlihat mendung. Tak lama kemudian, hujan turun membasahi jalanan. Seperti tahu keadaan, alam seakan berpihak kepadaku. Mendung, seperti keadaan hati ku. Basah, seperti keadaan mata ku. Aku kacau dengan tangis yang tak kunjung berhenti, diikuti oleh tangisan Alief yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.


Ku sodorkan ASI, namun dia menolak. “Mau nya apa sih, Lief? Please mengerti, Mama. Jangan memperkeruh suasana. Mama mohon.” ujar ku sembari menggendong Alief.


Dengan tangisan aku dan Alief yang masih terus menggema, aku berjalan menuju dapur. Sambil terus menggendong tubuh nya. Aku berniat membuat makanan untuk Alief. Supaya dia diam dan tidak rewel.


Baru ku sadari, Alief belum makan apapun dari tadi sore. Ini semua salah ku. Aku tak memberinya makanan apa-apa. Terlalu fokus pada masalah yang sedang menimpa ku tanpa mempedulikan orang sekitar.

__ADS_1


Rasa sesal menyeruak ke dalam tubuh ku. Aku teramat sangat bersalah karena membiarkan Alief kelaparan. Aku benar-benar ibu yang tidak berguna, hiks.


“Maafkan Mama, ya, Lief. Mama nggak bermaksud menyakiti Alief. Mama nggak bermaksud membuat Alief kelaparan. Ampuni Mama, maafkan semua keegoisan Mama. Mama sayang Alief, sangat!” ucap ku dengan perasaan bersalah. Sambil terus menggendong Alief, aku membuat bubur tim untuk Alief makan. Meskipun dada ku sesak, aku kuatkan agar Alief tidak lagi kelaparan.


__ADS_2