EPOCH

EPOCH
Bab 26


__ADS_3

Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


Sudah satu minggu sejak hari dimana aku tersadar. Rasa-rasanya nggak betah berada di sini lama-lama, bosan pakai banget! Asli kepingin pulang dan tidur di kasur kesayangan ku. Huft, tapi kondisi ku belum benar-benar pulih. Terpaksa aku menginap di sini kira-kira sekitaran tiga hari lagi, barulah aku diperbolehkan untuk pulang.


"Ayok buka mulut nya, kak." pinta Kinza sambil menyodorkan sendok berisi makanan khas rumah sakit ke hadapan ku. Please nggak usah nanya apa itu makanan nya! Nggak perlu aku jelasin, yes?


Aku tak menghiraukan ucapan beliau, tangan ku justru asik memainkan ponsel. Sengaja lah aku diamkan, lagi kepingin lihat wajah dia ketika cemberut, wk wk wk.


"Kak, denger aku nggak, sih? Ayok buka mulut nya, nanti keburu dingin lho ini." ulang Kinza bringsut. Bibir tipis gadis itu mengerucut maju. Aish, kalau gini mana tahan sih aku liat nya. Pengen nyosor aja bawaan nya.


Aku menengok sekilas, melihat dengan jelas wajah nya yang cantik jelita.


"Kamu makan aja deh, saya nggak lapar." tolak ku sok-sokan. Sumpah demi apapun, padahal aku sedang menahan lapar lho ini. He he dimana-mana orang sakit tuh susah makan, tapi aku? Lha malah bawaan nya laper terus, keplak!


"Lagi pula kamu ini siapa sih? Berani banget datang ke sini, setiap hari pula!" sambung ku menambahkan. Ish, kejam juga ya aku.


"Heh, udahlah nggak usah bahas itu. Aku mau jawab jujur pun, kakak nggak bakal percaya. Susah deh ngomong sama orang amnesia macam kakak, bikin kesel tingkat dewa!" ceriwis nya macam kereta. Aku hanya mesem singkat. Asli nya pengen ngakak banget, nggak tahan tiap hari liat tingkah nya yang semakin menggemaskan.


"Yaudahlah serah kamu, mana sini makanan nya. Saya bisa kok makan sendiri." ketus ku sembari mengambil alih makanan yang berada di tangan nya. Belum sempat aku raih, tangan lentik nya buru-buru menjauhkan makanan itu dari tangan ku.


"Eits, nggak boleh. Kakak tuh masih lemes, jadi biar aku aja yang menyuapi, ya." tolak nya lembut seraya meyakinkan ku. Oke baiklah, kali ini aku menurut saja.


Lantas gadis itu mulai menyuapi ku pelan-pelan. Tatapan mata kami sempat bertemu saat Kinza menyodorkan sendok berisi makanan. Tapi buru-buru aku membuang ke arah lain, selain takut ketahuan. Aku juga takut tak bisa menahan hasrat jiwa ku.


"Kakak kenapa amnesia segala, sih? Nggak bisa gitu milih mau langsung sehat aja?" imbuh Kinza disela-sela menyuapi ku.


"Heh, kamu ini bicara apa sih. Memang nya saya Tuhan yang bisa dengan mudah nya bertindak? Saya cuma manusia biasa, ya mana bisa memilih mau amnesia atau nggak." ketus ku judes. Iya lah aku tetap judes di waktu tertentu. Apalagi saat oon Kinza tiba-tiba datang. Aih, pengen ku unyeng-unyeng, tapi untung nya aku sayang wk wk wk.


Dia lantas cemberut, nah kan apa aku bilang. Pakai cara ini aja udah berhasil kok bikin wajah cemberut dia mode on. Seneng aku tuh lihat nya, ya cantik, ya gemesin.


"Ayok buka mulutnya, ini suapan terakhir." tukas nya dengan wajah tertekuk-tekuk. Wow, demi apa secepat itu aku menghabiskan makanan. Nggak kerasa sumpah, tau-tau makanan itu sudah masuk ke dalam lambung ku. Ya gimana ya, abis laper banget aku. Ditambah mengunyah makanan sambil lihat kesayangan. Duh duh, makin-makin nafsu kan jadinya.


"Selesai." ujar nya sumringah sembari menyodorkan segelas air minum kepada ku. Lantas aku buru-buru menghabiskan nya.


Kinza geleng-geleng sendiri melihat tingkah ku. Eh-eh, kayaknya aku salah ya?


"Kakak tuh sakit beneran apa bukan sih?"


"...Uhuk - uhukk...." aku langsung terbatuk-batuk. Keselek air minun ini kayaknya, ato keselek dosa sendiri. Aelah, pertanyaan macam apa sih yang di lontarkan Kinza. Kok membuat hati ku tersentil, ya? Iya, tersentil sebab aku berbohong wk wk.


"Heh, kamu pikir aku sakit bohongan? Ya beneran lah, kalau aku sehat ya pasti di suruh pulang." jawab ku sekenanya. Emang bener sih, aku kan beneran sakit. Yang pura-pura itu amnesia nya, ya.


"Kok aku makin nggak yakin, ya. It's okay lah masalah sakit. Tapi nggak dengan amnesia nya, jangan-jangan kakak bohongin aku, ya?" doeng, macam betul saja dugaan anak ini. Iya, aku lagi bohongin kamu, puas? Batin ku protes.


"Nggak denger dokter Ibram bilang apa? Kamu kan sering disini, masa nggak tau infonya sih?" ketus ku memutar balik. Dia mesem, malu kali yak.


"Abis aku ngerasa nya gitu, kakak tuh kayak lagi bohongin aku. Kalau kakak lupa, kenapa bisa bilang 'Aku kamu', sejak kapan kak Al yang judes berubah jadi lembut. Ini sih aku makin nggak yakin. Awas aja ya, kalau kakak bohong. Aku tendang sampai Arab!" ancam nya dan membuat aku merinding disko. Mikir dua kali deh aku kalau begini ceritanya. Harus gitu aku jujur sekarang? Kalau dia tau, bakalan abis aku dibuatnya. Ah, tapi gak papa lah aku kan sakit. Pasti di sayang-sayang dong sama dia?


Oke baiklah, aku harus jujur saja. Tapi tiba-tiba bingung sendiri. Mau mulai dari mana coba? Bisa-bisa beneran di tendang ke Arab nih aku, zzz.


"....Sss-sebenarnya."


"...Drtt..drtt.." ucapan ku langsung terpotong saat sebuah panggilan masuk ke ponsel Kinza. Tangan lentik istriku langsung berkutik, gencar membuka telepon.

__ADS_1


Duh ilaaah, gagal deh ngasih tau. Sapa sih yang ganggu?


"Izin bu, saya masih di rumah sakit temenin mas Al. Ada apa ya, bu?" tanya nya pada seseorang disebrang telepon. Roman-roman nya sih dari ibu komandan. Ada apa ya dia telpon? Wuuuh, kok aku bisa lupa sih. Seminggu lagi kan HUT satuan, mati akuuuu. Alamat gadang terus ini mah.


"Izin siap ibu, nanti malam saya merapat."


"_____"


"Siap, wa'alaikum sallam."


'Klik' sambungan terputus. Gadis ku langsung cemberut.


"Ah iya, tadi kakak mau ngomong apa?" tanya Kinza.


"Nggak, nggak jadi. Ngomong-ngomong siapa yang telepon kamu?" giliran ku berbalik tanya. Tiba-tiba wajah nya langsung menunduk.


"Dari ibu komandan, nanti malam aku harus merapat ke satuan. Katanya datang embel-embel buat HUT satuan sebanyak satu mobil. Sumpah udah kayak mau hajatan aja." ujar nya lesu. Lha, bukannya dia udah biasa ya bantuin mama soal gituan. Macam persiapan HUT satuan, kunjungan Kasad, atau acara-acara besar lain nya. Terus kenapa sekarang nggak semangat gitu?


"Kok lesu?" tanya ku melembut. Dia lantas mendongak.


"Heh, kakak pikir aku tega ninggalin kakak sendirian di sini. Ya nggak lah, kakak itu suami ku. Ya kali aku ninggalin kakak sendirian di sini." ketus nya membuat ku menahan tawa.


"Aku udah sehat kok, tiga hari lagi juga pulang. Tapi aku bakalan minta supaya besok bisa dipulangkan, habis gak betah lama-lama disini."


Kinza langsung melotot, "Big no! Kakak musti istirahat! Lagian siapa sih yang ngebolehin kakak pulang? Dokter bilang masih ada waktu tiga hari buat bedrest!" tekan nya membuat ku bergidik. Gila sih, baru kali ini dia semarah itu sama aku. Cieee, perhatian banget sih istri ku. Bikin gemesss!


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Pertama, kesel karena kak Al sepertinya bohongin aku masalah sakit amnesia yang diderita nya. Kalo di pikir-pikir nggak masuk akal juga tingkah nya. Masa iya kak Al yang dulunya judes sekarang berubah jadi baik. Dia bahkan bersikap lembut sama aku, secara yang aku tau harusnya dia nggak kenal sama aku. Sedikit pun nggak, tapi dia? Aneh tapi nyata.


Kedua, aku kesel karena ibu komandan tiba-tiba nyuruh aku merapat ke kesatuan. Hellow ibu komandan yang terhormat, nggak mikir apa suami ku sedang terbaring lemah di atas brankar? Bukannya dia udah sempat lihat bagaimana kondisi kak Al. Harus gitu nyuruh aku beresin embel-embel buat HUT satuan? Ya nggak lah, aku kan punya tanggung jawab lain. Memang bu-ibu persit yang lain kemana? Ngegosip gitu?!


Ketiga, aku kesel karena kak Al keukeuh kepingin pulang. Dia oon atau gimana sih? Kondisi dia belum pulih banget, ditambah dia amnesia. Syukur-syukur dia amnesia bohongan deh! Tapi mau bohong atau nggak, tetap saja aku merasa cemas. Khawatir bukan main lah, dia tuh harusnya istirahat. Bukan nimbrung ikut acara satuan.


Oke cukup, aku menarik nafas panjang sangat. Rasa-rasanya pingin ku tinju benda apapun. Kepingin lampiasin kekesalan ku, tapi aku bukan jagoan, hiks.


"Kinza dengar, sebenarnya aku nggak amnesia." ujar kak Al tiba-tiba dan membuat aku serasa terhuyung.


Aseliiii, kesel tingkat dewa. Ih pingin aja pingsan rasanya, boleh gak sih?


Aku diam tak merespon. Sumpah ya, nggak habis pikir aku sama dia. Bisa-bisa nya bohongin aku kayak gitu. Kalau dia nggak sakit, rasanya pingin aku cubit sampai bengkak!


"Jangan marah, aku bisa jelasin." ulang nya dan membuat ku mendongak.


Gedek sih denger kata-kata 'Aku bisa jelasin.' rasanya muak aja. Tapi gimana dong, aku kan harus bisa lebih sabar lagi. Belajar dari kesalahan gitu.


Aku menarik nafas pelan, sabar ya, Kinza harus sabar, okay?


"Coba sekarang jelasin, aku mau kakak jujur sejujur-jujurnya!" tekan ku sewot.


"Aku lakuin ini karena pengen kamu lebih baik, bisa mendengarkan penjelasan orang lain termasuk aku. Aku pingin bikin kamu jera dan belajar dari kesalahan yang pernah kamu lakuin. Itu aja, nggak bohong kok. Dan soal masalah Putri, sumpah aku nggak ada niatan gitu. Aku cuma pingin nolongin dia dari tubrukan pemain skateboard. Itu aja ko, aku udah jujur sama kamu, please jangan marah, ya?" balas nya memberikan penjelasan.

__ADS_1


Tuhkan, aku bilang juga apa. Dia tuh lagi akting! Terus gimana sama mama, ayah, bunda dan papa? Dia juga kena prank gitu? Tapi soal mbak Putri? Kayak nya perkataan beliau benar, aku aja yang salah paham. Huft, maafkan aku ya, mbak.


"Tuhkan, sudah aku duga. Soalnya aku nggak yakin kakak bisa selembut ini." tukas ku sambil cemberut.


"Maaf sayang, aku lakuin ini supaya kamu bisa menjadi lebih baik. Supaya rumah tangga kita bisa tetap harmonis. Kamu ngerti kan maksud aku?" ulang nya meyakinkan ku. Okay, aku paham. Paham sangat sayang ku!


"Serah kakak deh, pokoknya aku marah sama kakak!" tukas ku judes. Biarin aja dia mau kek gimana. Yang jelas aku kesel bin sewot!


Dia meraih tangan lentik ku. "Sayang maafin aku, ya? Aku bener-bener minta maaf. Janji nggak akan lakuin hal semacam ini lagi." ujar nya memelas.


"Jangan tinggalin aku lagi, ya? Jujur, hidupku serasa mati saat kamu pergi. Aku hancur Kinza. Nggak ada yang bisa aku lakuin. Sekedar chat kamu pun nggak bisa karena HP mu nggak aktif. Please, jangan pernah lakuin itu lagi." sambung kak Al. Aku tertegun seketika.


Demi apa dia jadi lembut kayak gitu? Kak Al yang judes, jutek, dingin dan nyebelin gitu bisa takut kehilangan aku? Uuuh, berasa berharga banget aku. Buat pelakor, pergi jauh-jauh deh sana!


"Ya terus aku harus apa? Masih kesel lho, ini!" balas ku cuek. Dia mesem singkat. Kenapa pula sih dia?


"Kayaknya kalau aku cium langsung luluh deh hati kamu." ujar nya sengit. Aduhai, aku jadi merinding tingkat dewa sih ini.


"No!" tolak ku sok-sokan gak mau. Asli nya sih pengen banget, udah lama juga nggak gituan, jadi rindu aku tuuh.


"Yakin nggak mau? Nggak kangen sama ini?" ujar nya sambil menunjuk ke bagian bibir nya. Auuuw, mana tahan sih aku.


Okay, kami butuh berduaan. Melepas rindu dan hasrat jiwa kami. Kalian nggak usah kepo. Pasti tau lah apa yang bakal kami lakuin. Yups, kami berciuman.


...---...


Aku melangkahkan kaki ke rumah dinas kak Al. Nggak sendiri kok, aku bersama suami tercinta. Aih, senang nya aku, pasalnya dia sudah sehat. Ya, meskipun mesti banyak rehat. Setidaknya kami bisa berduaan tiap hari di rumah awok awok.


"Rindu banget sama rumah ini." ujar kak Al disela-sela aktivitas kami. Dia langsung duduk-duduk di atas sofa. Wajah nya yang girang kelihatan begitu lucu. Ya udah pasti senang dia, hari ini kan dia bebas dari brangkar rumah sakit. Walaupun tetap harus check up setiap minggu nya.


"Kak, istirahat sana, jangan lakuin apa-apa. Pokoknya nggak boleh capek-capek!" ujar ku memperingati. Dia langsung menekuk wajahnya.


"Heh, aku disini pengen bebas lho. Kalau capek juga istirahat kok. Kamu bawel banget siih." tukas nya sambil mencubit pipi ku dengan gemas. Aku mesem singkat.


"Inget kata dokter lho, sayang, harus banyak-banyak istirahat." tekan ku sekali lagi. Dia manggut-manggut. Oke, kalah deh sama aku.


"Hem, kamu banyak berubah ya, sayang. Sekarang jiwa keibu-ibuan nya udah muncul. Aku kagum sama kamu, jadi makin cinta deh." balas nya sambil menarik ku ke dalam dekapan nya. Aku langsung jatuh terduduk di atas paha mulusnya. Asli, merinding banget aku tuh.


"Maksud kakak aku kayak ibu-ibu gitu? Masih muda gini sih aku." bubuh ku pura-pura tak mengerti.


Dia menggeleng cepat. "Bukan itu sayang, perubahan nya ada pada sifat kamu. Sekarang kamu lebih sabar, lembut, dan perhatian. Semakin hari rasa nya aku semakin jatuh cinta sama kamu." balas nya super lembut. Sementara tangan kekar nya menyentuh anak rambut ku.


"Iya-iya, aku juga makin cinta sama kakak. Soalnya sifat kakak juga berubah, lebih lembut, romantis, walau kadang nyebelin juga sih. Intinya kakak beda dari yang dulu." balas ku sambil mengalungkan tangan lentik ku ke leher nya. Sumpah, posisi intim banget ini. Auw gak tahan sama pesona ganteng nya.


"Jadi boleh dong kita bikin little Dirgantara?" tanya nya usil. Uh, bikin aku merinding tingkat dewa. Tapi aku suka sekaliiii.


"Nggak boleh berhubungan intim dulu, okay? Kakak baru sembuh lho ini." balas ku sambil terkikik. Dia cemberut.


"Ya udah lah aku bisa apa." ujar nya pasrah.


Tanpa babibu, aku langsung nyosor mencium bibir nya. Sejenak dia kaget atas perlakuan ku. Tanpa menunggu lama, dia langsung mengambil alih. Aku hanya pasrah saja lah.


Kasian juga sih dia, tapi gimana dong sama kesehatan nya? Dokter bilang nggak boleh berhubungan sampai dia betulan pulih. Oke, aku mah nurut aja, gak tau sidia.

__ADS_1


Monmaap, kami sedang rindu berat. Walaupun aku sempat dibuat jengkel sebab dibohongi. Tapi alasannya itulah yang membuat aku luluh. Ternyata itu semua demi kebaikan aku, dia dan kami berdua. Huuuh, otak nya memang selalu pandai. Iyalah, dia kan tentara. Pinter juga pastinya.


__ADS_2