
Kinza mencuci piring-piring yang tadi digunakan untuk sarapan bersama Al. Setelah selesai, gadis itu berpindah untuk berbenah kamar dan ruangan-ruangan lain nya.
Kinza masuk ke dalam kamar, dia mendapati sebuah tempat tidur yang dibalut dengan sprei motif minions. Kinza terdiam sesaat, dia teringat kembali perkataan Al beberapa bulan lalu. Dada nya terasa sesak, sakit mengingat ucapan Al yang berisi bahwa, kamar ini adalah kamar pilihan Putri. Bahkan semua dekorasi nya pun, Putri lah yang memilihnya.
Bicara soal Putri? Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Bagaimana hubungan kedekatan nya dengan Arjuna? Apakah mereka saling mencintai? Entahlah, Kinza sendiri merasa bingung. Mereka bahkan sudah lost contacts beberapa bulan lalu.
"Udah cukup, Kinza, mulai sekarang nggak usah memikirkan orang lain. Fokus sama kehidupan lo sendiri, fokus kuliah, dan fokus pada kehidupan pernikahan lo. Itu harus Kinza, harus!" protes Kinza. Kinza memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Cukup lama terdiam, akhirnya Kinza memutuskan untuk merapihkan baju-baju nya. Kinza baru sadar, dia bahkan belum menggubris koper-koper yang berisi baju dan keperluan kuliah nya.
Tumpukan-tumpukan koper besar membuat Kinza merasa pening seketika. Bagaimana mungkin dia bisa menyelesaikan semua pekerjaan ini? Bagaimana Kinza bisa melakukan semua ini sendirian? Karena note band nya, dia adalah gadis manja yang semua nya serba instan.
Kinza menghela nafas nya, "Semangat Kinzaa, lo pasti bisa!" gumam Kinza menyemangati diri nya sendiri. Entah sudah ke berapa kali gadis itu mengatakan hal tersebut, alih-alih untuk menyemangati diri nya sendiri.
Kinza mulai membuka salah satu koper besar yang berwarna pink, dia mengeluarkan isinya yang kebanyakan baju sehari-hari Kinza. Kinza menyusun satu-persatu baju-baju tersebut menjadi bertingkat. Setelah dirasa cukup tinggi, Kinza memindahkan nya ke dalam lemari di dekat tempat tidur dengan telaten dan sangat hati-hati.
Sampai menjelang siang hari, gadis itu sudah berhasil merapihkan dua koper besar, sisanya masih ada tiga koper yang menumpuk di dekat TV. Kinza menghela nafas nya lagi. Dia berniat untuk merebahkan badan sejenak, sebelum memulai untuk berbenah lagi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba langsung menghentikan aktivitas Kinza. Dia beranjak dari tempat duduk nya dan berlari menuju pintu dengan tergesa.
"Iya, sebentar." ujar Kinza setengah berteriak. Dia lantas membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang.
"Selamat siang, ibu Danki. Kami berniat untuk berkunjung, ingin mengenal istri dari Danki kami yang baru merapat ke kesatuan ini." ujar salah satu dari kelima ibu-ibu yang datang. Satu-persatu dari mereka membawa berbagai macam bingkisan, mulai dari buah-buahan sampai jajanan kue-kue pasar. Kinza tersenyum kikuk sambil menerima bingkisan tersebut.
"Mari masuk ibu-ibu." ajak Kinza ramah.
"Silakan duduk, saya siapkan minum dulu ya, maaf rumah nya berantakan. Belum selesai dirapihkan." bubuh Kinza tak enak.
"Siap, ibu."
Kinza buru-buru ngacir ke dapur. Bukan nya membuat minuman, Kinza justru membuka ponsel dan menelepon Al.
"Hallo, Kak, Kakak sibuk nggak?" tanya Kinza saat sambungan telepon nya terhubung.
"Nggak, kok, sebentar lagi pulang buat ishoma, kenapa?" balas Al di seberang telpon.
"Pulang sekarang aja, kak. Rumah kita kedatangan tamu, aku bingung harus apa. Kakak bisa kan pulang sekarang?" tanya Kinza harap-harap cemas.
Tut tut tut
Sambungan telepon terputus.
Bukan nya menjawab, Al justru mematikan sambungan telepon nya.
"Ih, kok malah dimatiin sih. Nggak tau apa orang lagi panik setengah mati!" kesal Kinza, dia lantas mencari bahan minuman apapun yang ada di rumah ini, untuk diberikan pada tamu-tamunya.
Saat membuka lemari box di samping kompor, Kinza menemukan box teh chamomile yang sedang bertengger manja di dalamnya, di samping itu ada gula yang tersimpan di dalam toples kecil. Kinza sedikit legah, dia langsung terburu untuk membuat minuman tersebut.
"Semoga nggak aneh-aneh rasanya!" batin Kinza sambil mengaduk satu-persatu cangkir berisi teh chamomile. Jujur saja, pertama kalinya Kinza terjun ke dapur sendirian. Biasanya, hanya sekedar bantu-bantu Mama nya memasak.
Beberapa menit kemudian, lima buah cangkir berisi teh chamomile sudah siap. Sebagai cemilannya, Kinza menyuguhkan oleh-oleh yang ia beli di Yogyakarta tempo hari.
"Mari, silakan di minum ibu-ibu. Maaf hanya ada ini saja. Maklum, saya baru datang kesini kemarin malam." bubuh Kinza seraya menyajikan cemilan dan teh untuk para ibu-ibu.
"Aduh, tidak usah repot-repot, ibu. Kami hanya ingin mengenal ibu lebih dekat. Izin memperkenalkan diri, ibu. Nama saya Windy Aribana, istri dari Serka Hasan." ujar salah satu ibu-ibu memperkenalkan diri. Di sambung ibu-ibu lain nya yang bernama ibu Chandra, ibu Wisnu, ibu Bima, dan ibu Santoso.
__ADS_1
Kinza baru paham sekarang, ternyata ibu-ibu ini adalah istri-istri dari anggota Kompi A, yang dimana Kompi A ini di pimpin oleh suami Kinza, kapten Althafariz Ramaditya Dirgantara.
Tak lama kemudian, suara adzan berkumandang. Bersamaan dengan itu, terdengar juga bunyi ketukan pintu. Kelima ibu-ibu tadi lantas menengok ke arah pintu, begitu juga dengan Kinza. Mereka lantas mendapati Al yang baru saja pulang berdinas dengan berpakaian loreng.
"Eh ada tamu ternyata, maaf rumah saya masih berantakan. Maklum baru ajak istri pindahan ke sini." sapa Al ramah tapi juga terdengar tegas.
"Izin, siap bapak Danki, tidak apa-apa. Kedatangan kami kesini ingin mengenal ibu Altha." balas ibu Dani dengan ramah.
"Iya silakan saja, izin mendahului, mari ibu-ibu semua." pamit Al lantas menghilang dari hadapan ke enam para istri prajurit yang sedang bercengkerama hangat. Menyisakan Kinza yang gelisah sebab tak tau harus berbuat apa.
...---...
"Kakak tuh kenapa sih, suka banget bikin aku sport jantung?" cibir Kinza tak suka. Gadis itu terus mencibir di sepanjang kegiatan mencuci gelas.
Al menatap Kinza sekilas. "Kamu tuh nggak di ajarkan cara menerima tamu? Saya nggak ngerti apa isi otak kamu, masa gitu aja nggak bisa sih?!" sinis Al judes.
Kinza bergidik ngeri, gadis itu menghentikan aktivitas nya sejenak. "Please deh, Kak, aku itu baru di sini. Bahkan aku nggak pernah nerima tamu. Dulu, kalau ada tamu yang datang ke rumah, ya, pasti tamu nya Papa. Orang-orang militer semua. Jadi, malas banget kalau harus berbasa-basi sama tamu. Lagi pula ada Bi Tata yang siapin semua nya." imbuh Kinza lebar. Detik berikutnya gadis itu kembali menyambung kegiatan mencuci gelas.
Al menghela nafas nya, "Kayak nya tugas saya menjadi double berat gara-gara kamu." protes Al.
"Maksud Kakak apa sih?" bingung Kinza.
Al menatap Kinza dingin. "Bukan hanya anggota yang musti diajarin disiplin, tapi juga kamu." sinis Al judes. Kinza mendengus, tak mengerti apa maksud Al.
"Dari nerima tamu nyambung ke disiplin, apa hubungan nya sih?" bingung Kinza.
"Udah deh, cukup. Ratusan kali saya menjelaskan ke kamu, otak kamu nggak akan nyampe. Ngaku nya dapat beasiswa, tapi gitu aja nggak tau. Dasar mahasiswi gadungan." alih Al judes, super menohok hati. Terbukti bahwa Kinza langsung terdiam sesaat.
"Jadi, Kakak pikir aku bodoh gitu? Nih ya, Kak, nggak ada tuh hubungan nya antara tamu, disiplin dan beasiswa. Kakak nggak usah ngaco deh." protes Kinza tak suka.
Al menghela nafas nya berat, kepala nya terasa ingin meledak. "Aduh, malas deh debat sama kamu, nggak ada untung nya juga buat saya."
Al tak membalas, pria itu malah asik menikmati cemilan yang dibeli sewaktu ke Yogyakarta. Sementara Kinza, dia fokus menyelesaikan kegiatan nya.
"Kak?" panggil Kinza membuka suara lagi.
Al menoleh singkat, "Hmm." balas Al dengan berdeham.
"Aku mau tanya sesuatu, kenapa mbak Avita langsung takut gitu pas aku bilang kalau aku istrinya Kakak." bingung Kinza polos. Gadis itu terlihat serius dengan perkataan nya.
Al lantas terbahak dan membuat Kinza semakin bingung. "Kok ketawa sih, Kak? Emang nya pertanyaan aku ada yang lucu?" sewot Kinza.
"Kamu anak tentara, kan? Masa gitu aja nggak tau sih!" cibir Al mengejek. Tawa nya masih belum berhenti bahkan terdengar semakin kencang. Kinza kesal, super kesal. Memang nya ada yang salah dengan pertanyaan Kinza? Bertanya nggak ada salahnya, kan?
"Walaupun anak tentara, tapi aku nggak tau-menau soal gituan. Malas buat cari tau." balas Kinza jujur.
"Okay, pelajaran pertama yang kamu dapat. Gini Kinza, pangkat saya itu sudah kapten, sedangkan suami nya mbak Avita itu baru Serda. Jalur kami masuk tentara pun beda. Wajar kalau mereka lebih sopan ke kamu walaupun usia mu jauh lebih muda dari mereka. Kalau sudah menikah dengan tentara, maka kamu harus bisa jaga nama baik suami kamu. Harus sopan sama yang lebih tua, dan harus bisa mengayomi pada yang lebih muda. Status kamu di sini itu sebagai Ny. Dirgantara, maka semua yang ada pada saya, itu juga punya kamu. Pun, sebaliknya seperti itu." balas Al dengan luwes, rinci, dan sangat pelan hingga membuat Kinza terpana. Demi apa, gadis itu malah menatap Al lekat dengan mulut yang menganga.
"Hoy, kamu dengerin saya nggak sih? Itu lho, mulut mu kenapa menganga macam itu?!" sewot Al dengan nada jijik. Kinza langsung tersadar, wajah nya memerah bak kepiting rebus.
"A-anu, dengerin kok, Kak." gugup Kinza gelagapan.
"Coba sebutin apa yang barusan saya jelasin ke kamu." suruh Al judes.
"Ya intinya pangkat suami mbak Avita lebih bawah dibandingkan pangkat kamu, makanya dia langsung gugup gitu. Terus, aku juga harus sopan sama senior dan jaga nama baik kamu." bubuh Kinza semangat.
"Okay, good, besok-besok kita belajar lagi. Masih banyak hal-hal yang pingin saya kasih tau ke kamu." imbuh Al pelan.
__ADS_1
"Siap, Kak."
...---...
Kinza merogoh ponsel nya dari dalam tas. Sejak semalam, gadis itu tak sempat memegang ponsel. Bukan tanpa sebab, Kinza dan Al sibuk berbenah rumah.
Saat menyalakan ponsel, notif dari berbagai chat dan aplikasi langsung membanjiri ponsel Kinza. Satu-persatu dia membuka pesan yang diterima.
From: Claudia sepimooo
Kinza sayaaaaang, maaf ya gue nggak bisa datang ke pernikahan lo. Sorry banget, tugas gue seabrek, sumpah ga bohong.
Kinza tersenyum geli, jemari nya lantas mulai membalas pesan dari Claudia.
From: Intanaaa
Jangan cuti lama-lama woy, gue sendiri nih.
Lagi-lagi Kinza tersenyum. Pesan dari Intan membuat Kinza rindu kampus. Ngomong-ngomong soal kampus. Hari senin dia harus sudah masuk kembali. Kinza hanya diberi cuti selama satu minggu, setelah itu harus kembali berkuliah. Itu berarti, masih tersisa satu hari untuk bermalas-malasan di rumah.
From: KIM 1
Lo baik-baik ya, disana. Sorry, gue nggak bisa nemenin lo selama tiga bulan. Soalnya, sebelum berangkatan ke Magelang gue harus binjas dan siapin semua nya.
Kinza tersenyum kecil. Hati nya menghangat saat membaca pesan dari Kakak nya. Kinza senang lantaran Kenzo benar-benar orang yang paling peduli pada Kinza.
^^^From: Kinza Irsyania Malik^^^
^^^Iya nggak apa-apa, Jo. Semangat buat semua nya, semoga berhasil!^^^
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan Kinza. Gadis itu meletakkan ponsel nya di atas nakas lalu bergegas membuka pintu kamarnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Kinza pada Al.
"Ganti baju, kita makan diluar sekarang." ujar Al tiba-tiba. Kinza bingung sesaat.
"Maksud Kakak makan di halaman rumah?" bingung Kinza.
Al menghela nafas nya dengan kasar, bicara dengan Kinza hanya membuat kesabaran Al habis. "Makan di restoran, lho. Tolong ya, otak mu di pakai. Nggak usah berlagak polos terus deh, sumpah saya jijik." geram Al sambil melipat tangan nya di dada.
Kinza mendelik, "Tumben banget, Kak, pasti ada udang di balik batu!" cecar Kinza sok serius.
"Udah deh, terserah kamu aja. Yang jelas sekarang saya mau makan di restoran, terserah kamu mau ikut atau nggak!" pasrah Al, dia lantas melengos meninggalkan Kinza yang tertawa tanpa dosa.
Kinza mencekal lengan Al, menahan agar pria itu tak meninggalkan Kinza. "Iya aku ikut, Kakak tunggu sebentar ya, lima meniiiiit." balas Kinza seraya ngacir ke dalam kamar. Dia lantas memakai cardigan panjang serta celana cream selutut. Rambut nya dia gelung tinggi-tinggi supaya tak mengganggu saat bersantap malam nanti.
"Yuk." ajak Kinza. Al yang duduk di sofa sambil memainkan ponsel lantas menengol, memperhatikan penampilan Kinza dari atas ke bawah.
"Ganti pakai celana panjang, ini sudah malam. Angin malam nggak baik buat bocah seusia kamu." suruh Al dingin.
Kinza mencebikkan bibirnya malas. Dengan berat hati dia masuk kembali ke dalam kamar, lalu mengganti celana pendek nya dengan celana tidur panjang.
"Udah, yuk, keburu malam nanti Kak." seru Kinza setelah mengganti celana nya. Al terdiam sesaat, pria itu kembali memperhatikan dandanan Kinza yang sekarang mirip dengan anak kecil.
"Hmm."
__ADS_1
Al bangun dari duduk nya dan beranjak pergi memasuki mobil nya. Sementara Kinza mengikuti Al dari belakang dengan perasaan senang