
Kinza Irsyania Malik POV
Sreekk, Mbak Putri menarik tangan ku dengan cepat. Aku langsung terkesiap dan hampir terjatuh.
“Jangan karena kamu punya dua ajudan, kamu bisa seenaknya sama, Mbak! Kamu pikir, Mbak bakalan nyerah gitu? Nggak akan, Dek!”
“Dengan semua orang berpihak pada mu, Mbak semakin merasa benci. Hal itu justru membuat semangat Mbak membara. Mbak akan semakin gencar menghancurkan kamu, Dek!”
“Brak!”
Dia mendorong tubuh ku dengan cepat. Aku langsung meringis sebab ulah beliau. Tubuh ku membentur tembok dengan sangat kencang, alhasil ku pastikan akan ada bekas memar di sana.
Sedangkan Mbak Putri, dia langsung pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sedikit pun. Benar-benar keterlaluan, ini nggak bisa aku biarkan saja. Aku harus lapor sama, Mas Al.
Tapi, ada yang aneh saat aku mencoba berdiri. Kaki ku terasa nyeuri, tangan dan badan ku juga sakit semua. Dengan susah payah aku berusaha untuk berdiri, namun sia-sia saja. Seperti nya kaki ku terkilir, sebab terlalu sakit dan begitu susah untuk di gerakkan.
Hari semakin gelap, sunyi dan sepi. Tak ada orang di sini. Hanya ada aku dan suara-suara jangkrik. Tuhan, aku takut sekali. Bantu aku.
Sudah hampir tiga puluh menit aku berusaha keluar dari sana, namun tak ada hasil apapun. Aku tetap tidak bisa berdiri. Rasanya terlalu sakit dan ngilu.
Tanpa sadar, air mata ku mulai mengalir. Aku benar-benar tak tau harus bagaimana. Rasa sakit hati, rasa nyeuri di kaki, dan rasa putus asa bercampur menjadi satu. Ini benar-benar membuat ku terpuruk. Aku benar-benar pasrah.
Sayup-sayup terdengar suara Mas Al meneriaki nama ku. Semangat ku tetiba membara.
“Dek? Kamu dimana?!!” teriak Mas Al dengan kencang. Suara nya semakin dekat, aku yakin dia berada di sekitar sini.
“Mas, aku di toilet wanita, kamu masuk aja ke sini. Nggak ada orang!!” aku membalas dengan suara kencang. Meskipun terdengar serak sebab aku habis menangis.
“Dek, pintu nya terkunci. Kamu kok bisa ada di dalam sendirian? Kunci nya dimana, sayang?!” tanya Mas Al dan langsung membuat ku melongo. Demi apa Mbak Putri mengunci aku di dalam toilet ini? Sendirian pula! Benar-benar kejam sekali, ancaman Mbak Putri benar-benar nyata.
“Dek, kok diam? Kamu baik-baik aja 'kan, sayang?” tanya Mas Al untuk ke dua kali nya. Aku tersadar sembari mengingat letak kunci cadangan dimana.
“Mas, di toilet ujung ada kunci cadangan. Kamu coba cek, ya!” ucap ku teringat pada kunci cadangan toilet ini. Ku dengar Mas Al berlarian, sangat jelas terdengar sepatu PDL nya yang di hentakan.
Tanpa menunggu lama, Mas Al sudah berhasil menemukan kunci cadangan. Dia langsung membuka toilet yang di dalam nya ada aku sedang kesakitan.
Brakk Mas Al membuka pintu nya dengan tidak sabaran. Alhasil menimbulkan bunyi yang cukup keras.
“Ya Allah, Dek! Kamu kenapa bisa kayak gini? Kamu jatuh? Atau ada orang yang melakukan hal ini sama kamu? Bilang aja sama, Mas. Nggak usah takut!” tanya Mas Al terdengar begitu cemas. Aku Lang menangis dan memeluk nya erat. Pertanyaan ini terlalu sulit untuk di jawab.
__ADS_1
“Jangan karena kamu punya dua ajudan, kamu bisa seenaknya sama, Mbak! Kamu pikir, Mbak bakalan nyerah gitu? Nggak akan, Dek!”
“Dengan semua orang berpihak pada mu, Mbak semakin merasa benci. Hal itu justru membuat semangat Mbak membara. Mbak akan semakin gencar menghancurkan kamu, Dek!”
Oh, jadi ini yang di rencanakan Mbak Putri. Dia membuat ku sulit untuk mengatakan yang sejujurnya. Dia benar-benar picik, aku benar-benar di buat merasa sendiri.
Kedua pilihan itu mempunyai resiko yang sama besarnya. Pertama, jika aku memberitahu Mas Al, maka kebencian Mbak Putri akan semakin meningkat. Dia bahkan tak segan untuk mencelakakan aku dan orang-orang terdekat Mas Al. Tentu hal ini membuat ku memilih untuk diam. Memendam semua kebenaran yang ada.
Kedua, jika aku tidak memberitahu Mas Al, maka aku benar-benar menghadapi semua nya sendirian. Tak bisa berbuat apapun sebab ancaman Mbak Putri yang terlalu besar. Ya Allah, kenapa rasanya sesulit ini menghadapi suatu pilihan. Aku harus memilih pilihan yang mana. Aku benar-benar merasa bingung dan putus asa sekarang.
“Dek, jawab Mas sekarang! Kamu kenapa bisa kayak gini? Kaki mu sampai sakit, bahkan tidak bisa di gerakkan. Pintu toilet sampai terkunci, dan kamu terjebak di dalam nya. Mas yakin, pasti ada yang telah melakukan hal jahat kepada mu. Iya 'kan, Dek?!” Mas Al memojokkan aku. Aku benar-benar dilema harus mengatakan hal apa. Rasanya semua terlalu sulit untuk ku.
“Ng-nggak, Mas. Aku cuma jatuh kepleset. Terus nabrak pintu dengan kencang. Alhasil pintu tertutup sendiri dengan sangat keras. Nggak ada unsur kesengajaan, ini murni kecelakaan,Mas!” Ya Allah, maafkan aku berbohong pada suami ku sendiri. Ini demi kebaikan bersama, terutama demi kebaikan keluarga kecil ku dan Mas Al.
“Terus kenapa kamu bisa sendirian di sini sekarang? Mana Putri, mana yang lain nya? Bukankah kalian bekerja sama untuk membersihkan ini semua? Lalu, kemana perginya Putri? Dia nggak bantuin kamu? atau jangan-jangan dia pergi ninggalin kamu dengan sengaja?” Mas Al terus memojokkan ku. Ingin rasanya berkata jujur, tapi aku tidak mampu. Rasa takut ini terlalu besar.
“Mbak Putri sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya, Mas. Dia di toilet ujung sana. Toilet ini bagian ku. Aku nggak tau dia ada dimana sekarang. Mungkin karena sudah bersih, makanya dia kembali tanpa memberi tahu aku. Yang pasti, kami baik-baik saja, kok.” ucap ku sedikit masuk akal. Semoga dia percaya dan menyudahi pertanyaan nya yang semakin membuat ku merasa dilema. Bagaimana tidak? Mas Al terus menghujam ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan aku untuk menjawab jujur. Tapi aku masih bisa beralasan. Tak ingin semua nya makin runyam. Tak ingin Mas Al harus berurusan dengan Mbak Putri.
Sekarang, aku harus bisa membuat Mas Al tidak pernah bertemu Mbak Putri lagi. Bagaimana pun, jika pertemuan itu terjadi, bisa saja hal yang tidak pernah aku ingin kan terjadi. Dan, bisa saja Mbak Putri melakukan hal yang lebih nekat dari pada sekarang. Tidak ada yang tau bukan?
“Mas tau kamu bohong, tapi Mas akan menunggu kamu berkata jujur. Apapun itu alasan nya, ceritakan lah Dek! Mas pasti akan membantu mu.” ucap Mas Al membuat ku ingin pingsan saja. Boleh nggak sih pingsan sekarang? Huhu
“Bantu aku berdiri, Mas. Kaki ku sakit banget.” aku mengalihkan pembicaraan. Malas juga lama-lama berada di tempat ini. Pengen cepat-cepat pergi.
Sedikit lega rasa nya. Akhirnya aku bisa keluar dari tempat ini. Tetapi, keheningan terjadi seketika. Mas Al langsung diam tak berkata apa-apa lagi. Tidak bertanya apa-apa, dan tidak menjawab apa-apa lagi.
Rasa sesal seketika muncul. Kenapa aku tidak jujur saja. Bagaimana pun juga, Mas Al adalah suami ku. Sudah menjadi kewajiban untuk berbagi setiap masalah. Tuhan, mengapa aku sebodoh ini. Mengapa aku tak jujur langsung saja pada Mas Al. Maafkan aku, Ya Allah. Aku benar-benar merasa menyesal. Rencana yang di buat oleh Mbak Putri benar-benar sukses membuat hati dan pikiran ku teraduk. Sekarang kamu menang, Mbak! Tapi kita lihat ke depannya. Aku tak ingin kamu merebut dan menghancurkan semua nya. Nggak akan aku biarkan Mbak!
...---...
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
Kinza mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi, tidak dengan aku, suami nya! Sengaja aku terus memojokkan nya supaya dia berkata jujur, namun begitu sulit bagi Kinza untuk mengatakan yang sebenarnya.
Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi bisa ku pastikan, Putri telah berbuat sesuatu. Bahkan dia sudah mencelakakan istri ku sampai tidak bisa berdiri. Luka memar tercetak jelas di kaki nya, aku yakin pasti benturan yang di alami Kinza cukup keras.
Setelah kegiatan tanya jawab selesai, aku langsung memapah nya keluar dari toilet. Meski jawaban yang aku dapatkan bukanlah jawaban yang aku inginkan, tapi aku semakin saja yakin, pasti telah terjadi sesuatu antara Putri dan Kinza. Diantara mereka pasti terjadi cekcok hebat bahkan sampai bermain fisik.
Aku nggak bisa terus-terusan mendiamkan saja masalah ini, aku harus bertindak tegas pada Putri! Wanita itu harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah ia lakukan kepada istri ku.
__ADS_1
Aku membawa Kinza pulang ke rumah. Izin pulang duluan pada Bapak dan Ibu Komandan. Mereka sangat terkejut dengan kejadian ini. Bukan hanya para tetua, tapi semua anggota ku pun merasa terkejut dan iba. Beda dengan Putri, dia hanya diam dan pura-pura tidak tahu. Sudah bisa aku pastikan, ini semua pasti ulah nya!
“Kenapa sih kamu nggak jujur aja, Dek? Kalau kamu menyembunyikan sesuatu, itu tanda nya kamu nggak percaya pada sebuah hubungan pernikahan. Kita sudah menjalani pernikahan ini selama empat tahun. Kita sudah melewati satu-persatu masalah yang ada. Tapi, kenapa sekarang kamu tak membagi nya dengan, Mas? Apa kamu tidak yakin kita bisa menghadapi nya sama-sama?” lagi dan lagi aku membahas masalah di toilet. Rasanya sudah benar-benar kepo, penasaran akut. Sengaja aku terus mendesak nya, bukan karena aku kejam, tapi aku hanya ingin semua nya baik-baik saja. Tak mau ada yang di sembunyikan. Masalah apapun dan sekecil apapun itu.
“Mas, bisa gak, nggak usah bahas dulu masalah ini? Aku capek, Mas. Pengen istirahat dulu.” balas Kinza dengan ketus. Dia lagi-lagi menghindari pertanyaan ku. Ya sudahlah aku pasrah. Lagi pula, sepertinya dia benar-benar capek. Di tambah dengan kaki nya yang sakit dan memar.
Aku membiarkan dia istirahat, tak tinggal diam, aku meminta bantuan Mak Ijah untuk mengurut Kinza. Kebetulan rumah nya ada di belakang asrama. Sementara Alief, dia di jaga oleh Ibu Yonathan. Satu-satunya anggota Persit yang paling aku percaya.
Aku menyalakan mesin motor, dari kejauhan tampak Putri datang mendekat. Dia membawa sekeranjang buah-buahan, seperti orang mau menjenguk.
“Izin, Mas, aku mau menjenguk Kinza. Boleh atau tidak, ya?” tanya nya membuat ku menatap jijik.
“Mas-mas, kamu bukan siapa-siapa saya! Nggak pantas manggil saya dengan sebutan akrab kayak gitu! Saya ini senior suami kamu!” ucap ku membenarkan perkara. Benar, aku memang tak suka di panggil “Mas” oleh sembarang orang. Hanya Kinza yang patut memanggil ku dengan sebutan itu.
Putri tergugu, dia langsung diam sembari menahan malu. Bisa di lihat dari wajah nya yang memerah dan dia langsung menunduk. Ini belum apa-apa, Put! Jangan di pikir aku nggak tau kebusukan mu!
“Ma-maaf, Mas.., ah maksudnya Bapak Danramil.” ralat Putri membetulkan ucapan nya.
“Boleh saya jenguk, Ibu Danramil?” tanya nya membuat ku semakin merasa jijik. Aku, tau, pasti dia akan melakukan hal-hal aneh lagi. Tentu ini tak akan aku biarkan!
“Nggak bisa, dia lagi tidur. Lagi pula kaki nya terkilir, jadi nggak bisa berdiri. Ini semua karena ulah mu juga 'kan!” ucap ku sinis.
“Udah sana kamu pulang aja, aku sibuk. Kinza juga lagi istirahat! Aku peringatkan, jangan pernah kamu berbuat hal aneh lagi. Kalau nggak, saya tindak kamu, Put!” ancam ku judes sembari meninggalkan wanita yang masih diam tergugu di sana. Masa bodo dengan perilaku aku yang kurang sopan. Putri memang pantas mendapat perlakuan seperti ini! Sebab perilaku nya sudah terlewat batas.
...---...
“Aww, sakiiit, Mak. Huhu sakit sekali, Mas!” Kinza terus menjerit-jerit. Sebab malam ini juga kaki nya di pijat oleh Mak Ijah. Kalau di biarkan lama-lama bisa menjadi masalah. Tentu saja aku tak ingin hal itu terjadi pada istri ku.
Kinza menggenggam erat tangan ku. Sesekali dia menjambak dan mencakar aku. Sungguh sadis, ini lebih parah dari pada saat melahirkan dulu.
“Sayang, tahan, ya. Habis ini selesai, kok.” ucap ku memberi nya semangat. Kasihan juga Kinza, dia di pijat sambil mengeluarkan air mata. Nangis berat.
“Aduuh sakiit, Mak. Pelan-pelan, Mak.” Kinza meringis lagi. Aku hanya diam melihat, ya ngakak ya kasihan. Dasar, suami macam apa kamu ini, Al! Istri sedang kesakitan kok malah ingin tertawa.
“Sedikit lagi selesai, Neng. Diam dulu, ya, takut salah urat. Soalnya dari tadi Eneng nggak bisa diam.” ucap Mak Ijah sembari mengoleskan minyak kletik atau minyak apalah itu pada kaki Kinza. Sementara itu Kinza hanya bisa mengangguk lesu dan kembali menahan isakan nya. Aku jadi kasihan pada nya.
“Alief dimana, Mas?” tanya Kinza datar.
“Di rumah ibu Yonathan. Udahlah kamu nggak usah pikirkan Alief dulu, dia baik-baik saja. Percaya sama, Mas. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan dan kesembuhan kamu. Kamu harus sembuh, Dek!” balas ku dengan lembut. Dia hanya diam, tak menjawab apa-apa lagi.
__ADS_1
“Iya, Mas. Maaf, ya, aku nggak bisa layani kamu dulu untuk sementara waktu. Kaki ku belum pulih, masih sedikit ngilu.”
“Iya nggak apa-apa, sayang. Itu nggak jadi masalah buat Mas. Yang terpenting kamu sehat dan sembuh!” ucap ku lembut sembari mencium kening nya. Maafkan kemesraan kami, ya, Mak Ijah! wkwk