
Kinza Irsyania Malik POV
Hamparan rumput hijau menjadi tujuan kami. Mas Al menggelar tikar yang sudah di siapkan. Setelah itu, kami membereskan satu per satu makanan dan minuman yang kami bawa.
Claudia asik bermain bersama Alief. Dia mengajak keponakan nya berjalan-jalan di hamparan rerumputan hijau. Asik nya melihat mereka berdua.
“Aunty, udah dulu main nya, ya. Sekarang makan dulu, okay!” ucap ku sembari melambaikan tangan pada Claudia dan Alief. Refleks Baby A tersenyum sambil berjalan ke arah ku.
“Da - da ma - m na - k.” (Dedek makan enak) ucap Alief sudah tidak sabaran. Seperti biasa, tangan gimbul nya merusak apapun yang ada di hadapan nya. Lincah sekali tangan gimbul mu, Lek!
“Jo, foto dulu dong sebelum makan. Biar Papa bisa eksis eksis gitu.” ujar Papa saat makanan sudah selesai disiapkan oleh mama. Mama cemberut karena kesal.
“Udah tua, Pa. Ingat umur, ingat uban di kepala!” cetus Mama tajam. Kami semua tertawa.
Memang, pertengkaran Papa dan Mama sangat menarik minat untuk tertawa. Kisah percintaan mereka unik. Patut di acungi jempol.
Kisah mereka tidak berjalan mulus. Dulu, sewaktu awal pernikahan, banyak sekali masalah demi masalah pelik datang menghampiri. Mama sampai masuk rumah sakit, dia mengalami peristiwa mengenaskan. Tertabrak mobil saat masalah diantara Papa dan Mama sedang berada di puncak.
Ah, speechless mendengar penuturan Mama waktu itu. Aku sampai nangis. Sempat kesal juga dengan Papa. Sungguh, kisah percintaan mereka seperti sebuah drama. Penuh liku-liku.
“Ekhm, biarpun kita sudah tua. Setidaknya kita senang-senang dong, Mam. Menikmati masa-masa tua yang indah. Bukan begitu, Lek?” sahut Papa menyenggol lengan Mas Al. Lantas pria berprofesi sebagai Tentara itu mengangguk cepat.
“Harus dong, Pa. Masa-masa tua itu tinggal enak-enakan. Tapi, jangan lupa banyakin ibadah. Biar selamat dunia akhirat.” Mama tertawa puas.
“Tuh, Pa. Banyakin ibadah. Jangan petantang-petenteng sana-sini. Malu sama uban.” cibir Mama dibarengi tawaan. Sontak semua nya ikut mentertawakan nya.
“Aku ke toilet dulu, ya. Mau mengganti pakaian Alief. Kasihan kalau pakai kemeja, kegerahan dia.” aku pamit seraya membawa Alief menjauhi yang lain nya.
__ADS_1
“Bisa sendiri, Dek? Mas antar, ya?” ucap Mas Al menawarkan bantuan. Namun aku menolak. “Sendiri aja, Mas. Deket kok toilet nya, itu di sana.” aku menunjuk musholla kecil yang tak jauh dari tempat kami piknik.
“Ya sudah, hati-hati, ya, Dek.”
“Siap, Mas!”
“Lief, cuci tangan dulu, yuk. Di sana ada musholla kecil. Yuk, Lek. Let's go!” ajak ku sembari menggendong tubuh gimbul Alief. Tak lupa aku membuka baju Alief, mengganti nya dengan baju kaos yang lebih santai. Supaya Alief bebas gerak.
“Ma - ma ra - ra.” (Mama, Rara) ucap Alief sembari menunjuk-nunjuk ke arah belakang. Rara? Siapa yang dimaksud oleh Alief? Lantas aku mengikuti kemana arah tangan Alief. Ku lihat bayi perempuan sedang berjalan-jalan sambil menangis. Hah, itu kan. Itu kan, Shakira. Anak nya Kapten Satria dan Mbak Amira. Sedang apa dia di sini? Kemana Ibu dan bapak nya? Malang sekali bayi cantik ini.
Aku mendekati Shakira dan berjongkok di hadapannya. “Shakira, kamu ngapain di sini, Nak? Papa sama Mama kemana?” tanya ku lembut. Dia tak menjawab, Shakira malah menangis.
“Ikut sama Tante, yuk.” ajak ku lembut sembari menuntun Shakira menuju tempat piknik kami. Ku yakin, Mama, Papa dan Mas Al akan sangat terkejut dengan keputusan ku.
“Lho, Dek, kenapa ada Shakira di sini? Kenapa kamu ngajak dia ke sini? Kemana orang tua nya?” tanya Mas Al dengan kening yang mengkerut.
“Aku nemuin Shakira di jalan sendirian, Mas. Dia nangis, mungkin Shakira terpisah dengan kedua orang tua nya.” ucap ku sembari mengusap kepala anak malang ini. Mas Al terlihat tidak nyaman. Iyaa lah jelas tidak nyaman, lah wong aku bawa anak nya Mbak Amira.
“Mas, Shakira hanya kenal kita. Bahkan, tadi Alief terus memanggil nama Shakira yang terus-menerus menangis. Kamu nggak kasihan padanya, Mas? Anak sekecil ini terpisah jauh dari orang tua nya. Kamu tega ngebiarin Shakira sendirian? Kalau dia di culik gimana? Kalau ada orang yang berbuat jahat sama Shakira gimana?” tegas ku kekeuh.
Sebenarnya, aku juga tak ingin membawa Shakira bersama ku. Sedikit merasa kesal karena ulah Mbak Amira masih membekas di hati ku. Tapi, aku tidak tega melihat anak ini sendirian, menangis sambil menggigit jari tangan nya. Sungguh mengiris hati. Sebab, aku juga punya bayi. Yang ada di pikiran ku saat itu adalah Alief. Aku membayangkan dia yang ada di posisi Shakira. Ya Allah, nggak bisa ngebiarin Alief sendirian rasanya.
“Iya, Lek. Nggak apa-apa Shakira sama kita dulu. Mama juga khawatir lho, takut dia kenapa-kenapa. Kasian, mana bayi perempuan.” ucap Mama menyetujui perkataan ku. Lantas, Mas Al mengangguk dan akhirnya setuju.
Ku lihat Alief nampak senang karena punya teman baru. Dia tertawa sambil sesekali menjahili Shakira. Kedua bayi itu asik bercanda. Bahkan, Shakira yang sedari tadi menangis pun, akhirnya bisa reda juga. Dia langsung di ajak main oleh anak ku, Alief.
“Da - da a - in da - da a - in.." (dedek main, dedek main) ucap Alief kegirangan sembari terus mengganggu Shakira. Aku hanya tertawa melihat tingkah nya yang menggemaskan. Pingin cubit hi hi hi.
__ADS_1
“Dek, Mas coba nelpon Kapten Satria, ya. Siapa tau nomor nya aktif.” ucap Mas Al sembari memainkan ponsel nya. Dia mencari-cari nama Kapten Satria di grup WhatsApp. Aku mengangguk setuju.
“Iya, Mas, silahkan. Aku juga baru kepikiran sekarang.” balas ku sekenanya.
“Hallo, Kapt. Iya, ini anak mu ada sama saya.”
“.....”
“Iya, tadi istri saya yang menemukannya di jalan. Dia sedang menangis sendirian."
“.....”
“Oke, sekarang saya ada di lapangan dekat air mancur. Kamu ke sini saja.”
“.....”
Tuuut, telepon di matikan oleh Mas Al. Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi aku akan bertemu dengan perempuan ‘itu’ lagi. Kuat, Kinza pasti kuat! Tapi nggak bisa, tiba-tiba ingatan ku berputar pada kejadian beberapa minggu lalu. Rasanya terlalu sakit untuk di ingat. Hati ku kian hancur.
“Dek Iraaa, Ya Allah Ya Robbi, Mama nyariin kamu kemana-mana sayang.” teriak Mbak Amira sambil menangis. Ibu dan anak itu akhirnya di pertemukan kembali. Aku terharu, tapi juga terluka.
“Izin, Bapak Danramil, saya sangat berterima kasih pada Bapak. Syukur Alhamdulillah anak saya bisa ketemu lagi. Terima kasih banyak, Pak!” ucap Kapten Satria sembari memeluk tubuh Mas Al.
“Bukan saya yang menemukan Shakira, tapi istri saya, Kinza. Berterima kasihlah pada nya, Kapt.” balas Mas Al meralat ucapan dari kapten Satria. Sontak, Mbak Amira dan Kapten Satria langsung menatapku dengan haru biru.
“Mbak, terima kasih banyak, ya. Saya nggak tau lagi harus membalas nya dengan apa. Saya punya hutang budi sama, Mbak. Terima kasih sekali, Mbak.” ucap Mbak Amira seraya memeluk erat tubuh ku. Aku terkesiap, tak punya aba-aba untuk sebuah pelukan mendadak ini.
“S - sa - sama-sama, Mbak. Saya juga tidak sengaja bertemu dengan Shakira. Maaf kalau sempat membuat Mbak mencari-cari Shakira.” balas ku gagap. Hoy, demi apa di peluk sama orang yang nggak kita sukai sama sekali? Demi apa di peluk langsung sama orang yang sudah menyakiti hati kita? Rasanya pingin di lepas paksa. Tapi, nggak enak. Hu hu gimana, dong?
__ADS_1
“Nggak, Mbak. Saya sangat berterima kasih.” ucap nya seraya melepas pelukan ku. Huh, akhirnya lega juga!
Tapi tunggu, kok bisa sih kami bersamaan pergi ke tempat yang sama juga? Padahal rencana ini dadakan. Aku juga nggak membocorkan nya ke siapapun. Nah loh, ada apa sebenarnya?