EPOCH

EPOCH
Bab 64


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


“Papa nggak memaksa kamu untuk memaafkan dengan cepat, nduk. Papa tau semua nya butuh proses. Tapi, tetap harus yakin dan percaya. Insyaallah, semua nya akan berjalan seperti biasanya. Hati mu akan bisa menerima keadaannya, nduk.” ucap Papa dengan amat sangat lembut. Hati ku tersentuh. Rasa emosi yang tadi memuncak sekarang kian menurun. Aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa di sinilah aku yang salah. Bukan Mbak Amira, bukan juga suami ku, Mas Al.


Apa kalian setuju dengan pemikiran ku? Benarkah di sini aku yang salah. Tidak. Aku merasa bahwa ada yang tidak beres di sini. Arrghhhh, aku kacau. Pikiran ku rancu. Kata-kata Papa berhasil membuat ku merasa bersalah. Namun, disisi lain. Hati ku mengatakan bahwa, Mbak Amira lah yang salah. Dia yang sedang berusaha menggoda suami ku.


Bahkan, dengan air mata sekalipun, bisa saja Mbak Amira menipu. Seperti Mbak Putri, dua kali dia memanfaatkan kerendahan hati ku. Dia berpura-pura menjadi baik, Mbak Putri berpura-pura sudah tobat padahal kenyataannya dia adalah ratu kejahatan. Oh no, aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku harus selidiki semua sendirian. Tak ada yang boleh tau tentang hal ini. Bahkan, aku pun harus berpura-pura sudah memaafkan kesalahan nya Mbak Amira.


“Maafin Mas, ya, Dek. Liburan nya harus terganggu seperti ini.” ucap Mas Al meminta maaf saat kami sudah berada di rumah.


“No, Mas. Nggak perlu minta maaf. Kejadian ini kan nggak di sengaja. Harus nya aku yang minta maaf, karena aku sudah mengungkit masalah yang dulu sempat terjadi.” balas ku tak enak hati. Jujur, aku memang merasa tidak enak. Aku merasa sangat bodoh karena mengatakan hal itu di depan suamiku sendiri.


Mas Al meraih puncak kepalaku dan mengusapnya dengan lembut. Dia membawa tubuhku ke dalam dekapannya. “Andai waktu itu mas menolak Amira masuk ke dalam rumah. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, Dek. Pasti masalahnya tidak akan serumit ini. Tapi mas tidak enak menolaknya, apalagi, Amira datang ke sini dengan membawa kepentingan satuan. Mas tidak bisa menolak itu.” ucap Mas Al terdengar getir.


Aku yakin dan percaya, Mas Al pasti tidak ada niatan untuk melenceng. Mas Al pasti tidak akan melakukan hal-hal yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga kami. Seperti selingkuh atau yang lain nya. Dia sangat menjaga hubungan ini dengan baik.


Hingga, beberapa orang datang untuk merusak. Niatan jahat mereka tak menggetarkan semangat Mas Al untuk tetap menjaga rumah tangga nya. Dia laki-laki baik dan penuh tanggung jawab. Mas Al juga berpegang teguh pada prinsip di hidup nya. Itu lah yang ku tau. Mas Al memang lelaki yang dewasa.


“Aku mengerti, Mas. Hanya saja, peristiwa itu tak patut untuk di lihat oleh ku. Oleh perempuan manapun. Tapi, mungkin ini jalan yang terbaik. Aku yakin, Tuhan punya rencana yang jauh di luar dugaan kita. Percayalah, rahasia - Nya adalah takdir yang terbaik untuk keluarga kita. Ambil saja hikmah nya, Mas. Dengan begitu, kita bisa menjadi ikhlas. Bukan nya itu yang selalu kamu ajarkan pada ku?” ucap ku seraya memburu pelukan nya. Mas Al lantas mengeratkan pelukannya pada tubuh ku. Sangat nyaman dan hangat.


“Terima kasih karena sudah mengerti. Waktu itu Mas hampir putus asa, Dek. Mas benar-benar tidak tau arah. Karena Mas tau, kamu pasti sangat-sangat marah. Apalagi kamu berani melukai diri mu sendiri. Mas benar-benar mati rasa, Dek.” bubuh nya dengan suara parau. Mas Al nampak mengkhawatirkan keadaan ku. Oh senangnya, ternyata Mas Al sangat khawatir pada ku. Kalau kalian jadi aku, berasa beruntung nggak sih? Pasti nya dong, ha ha.


“Maaf udah bikin Mas khawatir. Sejujurnya, aku tak ingin melukai diri ku sendiri. Tak ada niatan untuk itu, Mas. Tapi, saat aku melihat sebuah pisau, tiba-tiba saja akal sehat ku menghilang. Aku seperti di butakan. Bahkan aku tak sadar bahwa perut ku sendiri sudah tertusuk pisau.” ucap ku sedikit bergidik ngeri. Aku rasakan kembali sakitnya perut ku saat pisau telah menusuk nya. Sakit, sulit bernafas, sulit bicara. Umur ku seperti tak lama lagi.

__ADS_1


Tapi, Tuhan berkata lain. Alhamdulillah aku masih hidup sampai sekarang. Aku masih bisa bernafas, aku masih bisa berdekatan dengan orang-orang terkasih ku.


Sejak saat itu aku berjanji, aku tidak akan berbuat nekat. Sudah cukup luka tusukan di perut ku ini. Jangan sampai ada luka lain lagi. sedikit mengingatkan, tetaplah mengingat Allah dalam keadaan apapun. Sebab, setan selalu mengintai kita. Dia hanya akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang sesat. Ini pelajaran untuk kita semua, khususnya untuk ku pribadi. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang buruk.


“Itu namanya tipu daya setan, Dek. Dia sudah membisikkan mu sesuatu yang buruk, sampai-sampai kamu tidak mengingat Allah dan pada akhirnya melukai dirimu sendiri.” ucap Mas Al dengan lembut.


“Iya Mas, aku nggak mau kejadian itu sampai terjadi lagi. Karena, bukan hanya aku yang jadi korban, tapi juga orang-orang terdekat ku yang paling aku sayangi. Seperti Alief dan kamu.” Mas Al mengacak puncak kepala ku dengan gemas.


“Pandai nya istri ku, sudah dewasa, sudah mengerti juga. Sepertinya, kamu sudah siap nambah anak, iya kan sayang?” tanya Mas Al dengan nada jahil. Oh no, ini sepertinya Mas Al memberi aku kode. Belum siap nambah anak, hu hu.


“Nggak, Mas. Belum siap ke arah sana!” imbuh ku dengan malas. Mas Al terkekeh kecil. “Kapan siap nya, sayang? Harus nunggu Mas naik jabatan dulu? Mau nunggu rambut Mas sampai putih semua gitu?” sindir nya cuek. Aku ngakak tolong!


“Ih nggak juga, nunggu Alief usia lima tahun. Kan dia udah dewasa tuh, Mas.” ucap ku sembari menciumi wajah tampan nya.


“No, Mas. Pokok nya kalau usia Alief sudah lima tahun. Sekarang kan usia nya menginjak 1 tahun 5 bulan. Nah, kira-kira nunggu 3 tahun setengah baru kita nambah bayi. Gimana, setuju kan Mas?”


“Baiklah cinta. Terserah apa kata kamu. Tapi semoga saja rencana Tuhan berbeda dengan yang kamu inginkan. Kalau di kasih rezeki nya tahun depan, kamu nggak bisa nolak tentu nya. Iya, 'kan, Dek?” ucap nya membuat nyali ku ciut. Memang betul, rencana Tuhan tidak ada yang bisa menebak. Bisa jadi, tahun depan, bulan depan, atau bahkan minggu depan rezeki itu telah datang pada ku.


Maybe yes maybe no.


...---...


Agenda hari Selasa, biasanya kami bermain voli. Tentu saja, mau tak mau, suka tak suka, aku harus ikut serta dalam olahraga tersebut. Untung nya, luka ku sudah tidak terasa nyeri lagi. Kondisi ku sudah cukup baik, dan sepertinya sudah bisa mengikuti permainan bola voli.

__ADS_1


“Izin, Mbak, mari silakan bergabung dengan Tim Ibu Joni. Kebetulan Tim nya Ibu Joni kurang personil.” ucap Mbak Amira. Masuk Tim Bu Joni? Itu tandanya, Mbak Amira adalah lawan ku?


Sempat ingin menolak, tapi tidak enak. Aku takut Mbak Amira malah mikir macam-macam. Bisa-bisa gagal rencana ku untuk menyelidiki nya.


“Siap, saya bersiap dulu, ya. Mau titipin Alief sebentar.” ucap ku seraya melipir dari lapangan. Seperti biasa, aku titipkan Alief pada Ibu Yonathan, kebetulan tim nya sedang istirahat.


“Dek, kalau masih sakit tidak usah di paksakan, ya? Saya tidak mau mengambil resiko, saya takut Mbak kenapa-kenapa.” ucap ibu komandan penuh kekhawatiran. Ku ulas senyuman semanis mungkin.


“Izin siap, Mbak. Saya sudah sehat, kok. Mbak tenang saja.” ucap ku pelan. Lalu, langkah kaki ini mulai memasuki lapangan.


Pertandingan di mulai. Bisa di bilang cukup sengit, sebab, kedua tim bekerja sama dengan baik.


Baru sepuluh menit, tetapi nafas ku mulai tersengal. Mungkin kah ini efek luka tusukan di perut? Karena biasanya aku tidak pernah selemah ini.


Fokus ku mulai hilang karena pandangan mulai buram. Aku lantas menundukkan kepala sejenak. Entah kenapa rasa sakit menusuk ke kepala ku. Sampai-sampai aku tak mendengar beberapa ibu-ibu meneriaki aku.


“Bu Kinza, awaass!!”


Bugh, sebuah pukulan keras mendarat mulus di kepala ku. Rasa nya panas dan nyeuri hingga membuat kesadaran ku hilang.


“BU KINZAAA!!!”


Lalu, dunia ku mulai gelap.

__ADS_1


__ADS_2