EPOCH

EPOCH
Bab 46


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Satu bulan sudah berlalu. Selama satu bulan ini, hari-hari ku berjalan lancar tanpa ada nya keributan dan pertengkaran.


Mbak Putri sudah meninggalkan satuan ini sejak dua minggu yang lalu. Meskipun aku pernah disakiti olehnya, tapi kepergiannya membuat kehampaan tersendiri di hatiku. Entah kenapa, aku merasa seperti ada yang hilang. Dunia seperti sunyi dan sepi.


Lebay nggak sih aku ini?


"Dek, kok bengong? Ayo lah bersiap, sebentar lagi acara lamaran Kenzo dan Claudia akan dimulai.” tegur Mas Al yang sudah rapi dan ganteng. Oh no, sangking fokus nya pada Mbak Putri dan Bang Arjuna, aku sampai lupa. Hari ini, adalah hari dimana Kenzo akan melamar Claudia tepat di hadapan kedua belah pihak keluarga. Kenzo akan dengan resmi melamar sang kekasih, Claudia. Sahabat ku sendiri!


Aku terkesiap, sedikit tersentak sebab tadi terlalu fokus memikirkan sesuatu. Oh, come on Kinza! Fokus!


“I - iya, Mas. Aku udah siap, tinggal pake sepatu aja, kok.” ucap ku sedikit gagap di awal. Dengan segera aku memakai sepatu dan menyusul Mas Al yang sudah ada di dalam mobil. *kaki sudah sembuh wkwk.


Perlu kalian ketahui, dua minggu yang lalu, acara pelepasan dinas Bang Arjuna terasa begitu menyedihkan. Diiringi dengan isak tangis dan ucapan maaf yang tidak henti-hentinya keluar dari mulut Mbak Putri.


Aku sampai menangis sesenggukan. Sebab, tak kuat menahan perasaan haru dan sedih yang melanda jiwaku saat itu juga. Bahkan, Mbak Putri sempat bersujud di bawah kaki ku. Aku langsung merasa begitu tersentuh.


Flash back on


Aula dipenuhi oleh para pejabat satuan, para prajurit, beserta para istrinya. Aku dan puluhan ibu-ibu lainnya sudah siap dengan mengenakan seragam Persit KCK. Momen ini, seperti momen pelepasan dinas para prajurit saat bertugas. Begitu haru dan menyedihkan.


Seperti perpindahan satuan pada umumnya. Acara dimulai dengan upacara pelepasan. Aku terus menatap Mbak Putri dari kejauhan sana, dia terus mengeluarkan air mata. Mungkin sedih atau merasa bersalah karena harus pindah dari satuan ini.


Setelah upacara pelepasan selesai, para prajurit saling menyalami Bang Arjuna dan Mbak Putri. Di samping itu, Bapak Komandan dan ibu komandan memberikan wejangannya pada Mbak Putri dan Bang Arjuna. Tidak bisa dipungkiri, Bapak Komandan dan ibu komandan juga ikut meneteskan air mata. Sebab, Bang Arjuna adalah salah satu prajurit yang paling dibanggakan. Prestasinya sudah melejit tinggi dan sudah membawa nama baik satuan ini. Dia sangat disiplin dan bertanggung jawab atas semua tugas-tugasnya.


“Lettu Arjuna, jadikan perpindahan satuan ini sebagai modal awal untuk membina hubungan rumah tangga yang baik. Tetaplah menjaga nama baik satuan ini. Masalah yang sudah terjadi, lupakan dan jadikan pembelajaran agar tidak terjadi di kemudian hari. Selain harus bisa memimpin pasukan, kamu juga harus bisa memimpin istrimu dan membawanya ke jalan yang benar. Teruskan perjuanganmu di satuan ini, Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkati kamu dan keluargamu!” ucap Bapak Komandan sembari memeluk Bang Arjuna dengan erat. Tangannya menepuk-nepuk punggung Bang Arjuna yang ikut menangis dengan perasaan teraduk.


“Izin, ss-siap Ndan!”


Sementara para istri, kami semua menyalami dan memeluk Mbak Putri satu per satu. wajahnya sudah terlihat kacau, bibirnya pucat dengan air mata yang terus berderai. Sungguh aku tak kuasa menyaksikan perpindahan satuan ini. Menyedihkan!


Semua istri prajurit sudah menyalami Mbak Putri. Tinggal aku yang belum, dan, Mbak Putri lantas menghampiriku yang terus menitikkan air mata.


"Dek, maafkan semua kesalahan yang pernah mbak lakukan kepadamu. Sungguh Mbak menyesali semua perbuatan itu. Mbak benar-benar minta maaf kepadamu, tolonglah ampuni dosa-dosa Mbak terhadapmu, Dek!” ucap Mbak Putri memohon-mohon sambil memeluk erat tubuhku. Aku masih terdiam dan hanyut dalam kesedihan. Merasa tak mendapat jawaban, Mbak Putri malah berlutut di bawah kakiku. Sontak aku langsung menyuruh dia berdiri.


“Mbak, jangan seperti ini. Aku sudah memaafkan semua kesalahan Mbak kepada ku. Aku sudah memaafkan semua yang terjadi. Mbak tidak boleh seperti ini, ya! Aku sudah ikhlaskan semua nya, Mbak. Aku hanya berpesan kepadamu Mbak, hilangkan rasa dendam yang ada di hati Mbak. Aku yakin, dengan mengikhlaskan, Mbak bisa sedikit merasa lebih tenang.” ucap ku sambil membawa tubuh Mbak Putri ke dalam pelukan. Sungguh, aku benar-benar tidak tahan melihat ini.

__ADS_1


Di samping itu, Bang Arjuna sedang bersalaman dengan Mas Al. Aku bisa melihat, tidak ada kebencian yang muncul di mata Mas Al. Justru hanyalah padangan kesedihan yang ada di dalam nya. Aku tau, Mas Al juga pasti merasa sedih. Tidak bisa di pungkiri, Bang Arjuna bekerja sangat baik dan bertanggung jawab atas semua tugas-tugas nya sebagai seorang Tentara.


"Lettu Arjuna, saya di sini ingin menyampaikan salam perpisahan. Bukan berarti saya membenci kamu, bukan berarti saya tidak peduli kepadamu. Tetapi, saya sayang padamu sebagaimana Saya sayang pada adik saya sendiri. Kamu adalah prajurit yang bertanggung jawab, prajurit yang hebat dan prajurit yang kuat. Mulai sekarang, bimbinglah istrimu ke jalan yang benar. Bantu dia menghilangkan rasa dendam yang ada di dalam hatinya. Saya yakin, setelah ini hubungan rumah tangga kalian akan semakin erat.” bubuh Mas Al dengan tulus sembari memeluk tubuh Bang Arjuna.


"Siap, terima kasih, Bang. Tolong maafkan semua kesalahan saya dan kesalahan istri saya yang telah melukai Abang dan juga istri Abang. Saya begitu menyesali semua perbuatan yang telah dilakukan oleh istri saya. Saya janji, setelah ini saya akan membimbing dia ke jalan yang benar. Saya akan membantu istri saya untuk menghilangkan dendam nya. Izin, sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada abang dan keluarga, terutama pada istri Abang.” balas Bang Arjuna dengan suara lemah. Aku sudah memaafkan Mbak Putri, Bang. Tidak usah bicarakan itu lagi - batin ku getir.


Runtutan acara sudah selesai dilaksanakan. Dengan perasaan sedih, dengan hati yang rapuh, dan dengan perasaan bersalah dari Mbak Putri dan Bang Arjuna, mereka akhirnya pergi dari satuan ini. menyisakan aku yang menangis sesenggukan sembari di peluk oleh Mas Al.


“Sudahlah Dek, ikhlaskan saja Putri dan Arjuna pergi dari satuan ini. Doakan saja supaya mereka di beri keselamatan sampai tempat tujuan. Dan, yang paling penting, doakan Putri supaya bisa bertaubat dengan sepenuh hati.” ucap Mas Al sambil mengusap punggung ku dengan lembut. Namun, aku masih saja terus menangis.


Nggak nyangka, benar-benar nggak nyangka. Harusnya pertemuan ku dengan Mbak Putri menjadikan hubungan kami lebih erat. Tapi ini sebaliknya, Mbak Putri justru sempat menjadi musuhku beberapa tahun lalu. Sejak dia pindah ke satuan ini, aku mulai bisa menerima kehadirannya kembali. Namun, setelah apa yang dia perbuat padaku dan keluargaku, rasa kebencianku muncul lagi. Tapi setelah beliau pergi dari satuan ini, aku malah merasakan kesedihan yang mendalam. Tak menyangka kami harus terpisah lagi karena alasan kebencian. Sungguh pelik, teman.


Mbak, semoga semuanya kan baik-baik saja. Maafkan aku juga karena sempat membenci dirimu. Tapi ku harap, setelah peristiwa ini terjadi, Mbak akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Flash back off


...---...


Aku sudah berada di tempat kediaman Claudia. Dekorasi bunga serba putih dan hijau menghias ruang tamu dan ruang keluarga serta halaman depan. Ku tengok Mas Al yang dengan cepat mendatangi Kenzo. Dia nampak senang dengan acara yang akan segera dilangsungkan inim


Setelah itu dilanjutkan dengan pertukaran cincin antara Kenzo dan Claudia. Tak lupa ada juga sambutan dari kedua calon mempelai. Tentu hal itu membuat aku, mama, dan mamanya Claudia menitikkan air mata.


Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Kenzo dan Claudia akan menikah 1 bulan mendatang, lebih tepatnya tanggal 20 Desember.


"Gue nggak nyangka akhirnya lu bakal nikah juga. Apalagi nikahnya sama sahabat gue sendiri. Nggak sabar pengen cepet-cepet hari-H!” ucap ku sumringah sembari mengguncang-guncang bahu Kenzo.


Kenzo memutar bola matanya dengan malas, “Idih apaan sih lu lebay banget. kenapa lu yang ngebet pengen cepet-cepet hari-h?” nyinyir Kenzo sembari menatapku aneh. Huh pengen ku colok itu matanya.


Aku mendengus sebal sembari melipat tangan di dada, sementara Mas Al hanya tertawa melihat tingkahku yang konyol. “Haduh udah dong! Masih sempet-sempetnya aja kalian ribut acara masih berlangsung 'lho ini!” lerai Mama dengan sewot sembari mencubit tanganku dan tangan Kenzo dengan gemas.


Aku meringis pelan, ”aduh Mama sakit dong! ampun ampun!”


Acara diakhiri dengan memanjatkan doa dan makan bersama. Tak lupa acara foto keluarga dan foto bersama dengan kerabat-kerabat yang dekat dengan mereka.


"Mas, Alief di mana, Mas?” tanya ku pelan sembari mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Bukan nya menjawab, Mas Al justru memasukkan kue lapis legit ke dalam mulutnya dengan santai. Tentu hal itu membuatku gemas dan dongkol terhadapnya.


“Aduh, Adek nggak usah khawatir, ya. Alief sedang diperebutkan oleh ibumu dan ibuku. Mereka lagi sama sama jagain Alief. Udahlah kita santai aja, saat nya menikmati kebersamaan saat Alief sedang tidak berada di tengah-tengah kita. Jarang-jarang loh, Dek, kita kayak gini. Itu mereka ada di sana!” ucap Mas Al sembari menunjukkan tangannya kearah pojok ruangan. Bisa dilihat, disana ada mama dan juga bunda mertua serta papa dan juga ayah mertua ku.

__ADS_1


"Dek, gimana kalau kita program untuk adiknya Alief? Nggak kasihan melihat orang tua kita saling berebutan cucu macam itu? Nggak mau nambah satu anak lagi, Dek?” usul Mas Al mulai usil. Aku hanya bisa nyengir kuda sembari meringis. Apa katanya tadi? Mau program untuk adiknya Alief? Hello, Alief saja baru berusia 4 bulan. Masa sudah ingin menambah anak? Aduh-aduh tepuk jidat deh aku.


Aku mencubit lengan Mas Al dengan gemas, “Mas kok mikir macam-macam! Lihat dong anak kita masih terlalu kecil. Usia nya saja baru mau menginjak empat bulan. Masa tega udah mau bikin anak aja? Nanti kalau dia terlantar gimana sayang?” ucap ku sinis sembari mencubit tangan kekarnya.


"Tenang, Dek, Nggak usah khawatir. Orang tua kita kan ada, justru mereka sering berebut untuk bisa menggendong cucunya. Makanya, biar nggak berebutan aku mau kita tambah anak lagi. Satu saja sudah cukup." aku melongo lebar-lebar. Bisa-bisanya Mas Al berbicara ngawur macam itu. Dikira bikin anak dan mengurus anak itu gampang apa? Huh sebal.


"Ngaco kamu, Mas. Dikira bikin anak gampang, susah tahu Mas. Apalagi ngurusnya ituloh, kalau nangis dua-duanya gimana? Kalau sakit dua-duanya gimana? Aku yang repot.” ucapku dibalas tawaan olehnya. Benar-benar bikin pusing tujuh keliling ini suami. bikin otak ku mikir kemana-mana.


"Bikin anak gampang lah, Dek. Tinggal masukin aja terus goyang-goyang dikit udah 'kan selesai.” ucap Mas Al semakin dan semakin ngawur. Aduh gustiii, maafkan pikiran suami ku yang nakal ini, huhu. Sontak aku memukul lengannya dengan pelan sambil melemparkan tatapan tajam. Ya malu, ya kesel.


Mas Al meringis kesakitan, "aduh sakit dong, Dek, kalau masih kesakitan gini nggak bisa bikin anak dong.” Mas Al mengaduh.


"Tau, Mas nyebelin banget sih. Habis ini Kamu tidur di luar, ya. Jangan mesum mesum makanya!” ucapku sembari pergi dari hadapannya. Mendingan menyingkir daripada harus membahas hal-hal yang intim. Aku tak mau pembicaraan ini sampai terdengar oleh orang lain. Malu sampai ubun-ubun!


Aku menghampiri Claudia yang sedang mengobrol bersama Kenzo. Mereka terlihat akrab dan terlihat sangat begitu mencintai satu sama lain. Gangguin calon pengantin boleh dong? B**oleh banget!


“Boleh ikut gabung nggak? Pusing gue dengerin obrolan suami yang bahas soal nambah anak! Kriting otak gue, Cla!” ucapku suntuk sambil mengadu pada pasangan calon mempelai ini. Mereka berdua sontak tertawa.


"Halah baru segitu aja udah ngeluh lo! Tanya sama Claudia, kita bakalan program anak berapa!" ujar Kenzo ikut-ikutan ngawur sumpah, kupingku pengang ada di sini lama-lama. Mendingan aku menghilang aja deh! Kabuuuur!


“Udah lah suka-suka kalian aja! Mau punya anak satu kek, mau punya anak dua kek, mau punya anak 10 pun terserah! Yang jelas, buat saat ini gue nggak mau nambah anak dulu!” ucapku sambil berlalu pergi dari hadapan mereka. Mereka hanya tertawa terbahak mendengar ucapanku barusan.


Samar-samar terdengar suara tangisan Alief, sontak aku langsung menghampiri dia yang yang sedang berada dalam gendongan Bunda mertua.


“Duh duh, Alief pengen cucu, ya? Sebentar, ya, sayang! Cup cup cup jangan nangis, ya Nak.”


Bunda mertua menyerahkan Alif padaku, karena sedang berada di keramaian. Aku lantas pergi menjauh dari ruangan ini dan menuju ruangan yang lebih sepi. Tak disangka, Mas Al mendekat ke arah ku dengan senyuman-senyuman jahil.


“Muu dipompa atau dikasih langsung, Dek?” tanya Mas Al pelan.


“Langsung saja Mas. Kasihan Alief sudah nangis. Sepertinya dia kelaparan." ucap ku sembari memberi nya ASI. Dan benar saja, si kecil Alif langsung terdiam dan khusyu menyedot susu.


"Pelan-pelan ya, Nak, masih banyak kok airnya. Ini semua khusus buat Alif! Mama nggak akan membaginya pada siapa-siapa. Sampai Alif puas, sampai Alif bosan!” ucapku sembari menyindir seseorang. Kalian tahu, Mas Al langsung menatap aku dengan tatapan horor.


"Alief, tenang aja, Alief nggak akan kekurangan susu kok. Satu untuk Alif, satu lagi untuk adik Alief. Kalian harus bisa berbagi, ya! Tanamkan jiwa korsa sejak kecil!” ucap Mas Al ngawur. Dia seperti orang yang sedang berbicara pada kedua anaknya. Padahal, anaknya itu cuma satu, hanya Alief dan belum bertambah!


Aku cengo!

__ADS_1


__ADS_2