
Kinza Irsyania Malik POV
Aku cemberut seusai pulang dari mall. Mood hilang, nggak ada gairah mau melakukan hal apa pun. Mas Al juga diam saja. Sesekali ngajak bicara setelah itu diam. Kenapa sih jadi seperti ini? Sejak bertemu dengan Mbak Amira, Mas Al malah banyak diam. Nggak kayak biasanya. Ini sebenarnya ada apa sih? Aku curiga, sumpaaah!
“Mas, Mbak Amira ituu..”
“Sudah aku bilang, Dek. Dia itu adik letting Mas semasa AKMIL. Nggak usah di bahas, ya, sayang.” balas Mas Al tetiba memotong ucapan ku. Heh, berani benar dia! Biasa nya nggak kayak gitu. Hell no, ada apa dengan Mas Al?
“Mas kamu kenapa sih? Sikap mu jadi aneh tau, nggak?!” ucap ku sedikit emosi, Mas Al sontak mengehentikan laju kendaraan nya.
“Aneh gimana, Dek? Dari tadi juga Mas bersikap seperti ini. Mungkin pikiran mu yang terlalu berlebih.” ucap Mas Al dengan santai. Nggak tau apa kalau aku sedang cemburu. Hati ku panas, Mas!
Aku langsung diam setelah Mas Al berucap demikian. Dia kembali menjalankan mobil nya. Tiba-tiba pikiran ku melayang kemana-mana. Pertanyaan-pertanyaan tetiba bermunculan. Aku yang tak siap dengan kondisi ini hanya bisa diam.
Siapa lagi orang yang akan merusak kenyamanan rumah tangga ku bersama Mas Al. Sudah cukup Mbak Putri, kenapa sekarang nambah lagi? Mau di apakan ini hubungan? Mau di buat rusak gitu? Hih, amit-amit deh.
Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah sambil menggendong Alief. Ku tinggalkan Mas Al yang masih sibuk membawa barang belanjaan. Biar ajalah, toh dia bisa 'kan bawa semua nya sendiri? Pasti bisa!
Alief tertidur pulas, mungkin dia kelelahan menangis. Pasalnya, selama di perjalanan dia terus menerus menangis. Aku nggak tau penyebabnya apa, mungkin masih kesel sama Papa nya yang gendong anak orang lain? Bisa jadi kan?
Sedangkan Mas Al, dia langsung sibuk. Masuk ke ruangan kerja dan langsung mengunci pintu. Gelagat nya aneh betul, seperti ada yang di sebut oleh nya. Tapi apa? Tuhan, kenapa hati ku tetiba bergetar ya? Apa mungkin Mas Al punya wanita cadangan? Atau dia mau sibuk chatting-an dengan Mbak Amira? Ya Tuhan, jangan biarkan itu terjadi, hiks!
Aku juga memilih mengurung diri di kamar Alief. Pintu nya aku kunci rapat-rapat supaya Mas Al tidak bisa masuk sembarang.
Lama aku di dalam sini, tapi Mas Al tidak mencari ku sama sekali. Mengetuk atau sekedar memanggil nama ku pun tidak. Ini benar Mas Al yang ku kenal? Kenapa aneh sekali sikap dia? Aku malah semakin merasa dicampakkan oleh suami ku sendiri. Tega betul Mas Al pada ku.
“Lief, ada yang salah, ya, sama Mama? Kok Mama jadi di diamkan sama Papa? Mama salah apa, Nak?” tanya ku pada Alief yang sedang tertidur nyenyak. Tiba-tiba air mata ku berlinang. Kejadian ini sungguh membuat dada ku sesak. Mas Al keterlaluan! Bisa-bisanya dia mencampakkan aku seperti ini. Mas Al jahat!
Tok tok tok tiba-tiba pintu kamar Alief di ketuk. Mungkinkah itu Mas Al? Ya pasti, siapa lagi orang yang ada di sini selain dia?
Wajah ku berubah seketika, berbinar macam orang yang kejatuhan uang. Seneng bukan main, ternyata Mas Al peduli pada ku. Dia mencari ku 'kan sekarang? Huhu senang nya.
Aku langsung berlarian membuka pintu. Ku buka kunci nya dengan tidak sabaran,
“Bu - Bunda?” tanya ku kaget dan sedikit heran. Kenapa jadi Bunda yang ada di hadapan ku? Kenapa bukan Mas Al? Suami ku kemana, Tuhan?
Rasa sedih kembali muncul di hati ku. Rasanya sesak sebab aku berharap yang terlalu tinggi. Itu bukan Mas Al, melainkan Bunda mertua. Jadi, Mas Al sama sekali enggan bertemu dengan ku? Mencari ku pun tidak!
Aku memeluk Bunda sambil menangis, sontak Bunda di buat kaget karena ulah ku ini. “Sayang, Kinza kenapa? Kok tiba-tiba nangis? Ayo cerita sama Bunda, Nak!” tanya Bunda sembari mengusap punggung ku dengan lembut.
Aku tidak langsung menjawab, rasa nya dada ini terlalu sesak. Sulit untuk bernafas apalagi berbicara. Lagi pula, mana mungkin aku jujur pada Bunda soal masalah ini. Aku tidak mau Bunda ikut campur dalam masalah rumah tangga ku, aku tidak mau ada keributan terjadi di sini.
“Ehe, maaf, Bund. Kinza cuma kangen aja. Udah lama 'kan Kinza nggak ketemu sama Bunda?” ucap ku super ngawur.
Bunda mendelik, “lho kangen? Bukan nya baru beberapa jam lalu kita bertemu di rumah dinas Abang mu Kenzo? Kamu bohong, ya, sama Bunda? Ada yang di sembunyikan kah?” tanya Bunda mengintimidasi. Ya Tuhan, kenapa aku sebodoh ini? Sungguh tidak masuk di akal.
“A - anu, kan t - tadi Bunda sibuk bantu-bantu. Kita k - ketemu juga cuma sebentar 'kan?” ucap ku tiba-tiba gagap. Kinza bodoh, mana mungkin Bunda percaya!
__ADS_1
“Kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu 'kan, sayang? Bunda punya feeling nggak enak, nih!” ujar Bunda seakan tau semuanya yang aku sembunyikan. Aduh, gawat kalau Bunda sampai tau. Mas Al bisa-bisa dilabrak oleh beliau. Di jewer sampai kuping nya memerah. Jangan sampai, huhu.
“Nggak, kok! Bunda ngada-ngada aja deh. Yuk masuk, pasti pengen ketemu Alief kan?” ajak ku seraya menarik tangan Bunda. Sengaja aku mengalihkan pembicaraan supaya Bunda tidak merasa curiga.
“Al mana? Dari tadi Bunda nggak liat dia ada di sini? Ada kerjaan apa gimana?” tanya Bunda mulai menerka-nerka. Aku harus jawab apa coba?
“Eh, Bunda, kok nggak bilang-bilang mau ke sini? Kan Al bisa jemput Bunda di provost.” ucap Mas Al tiba-tiba. Dia bahkan datang ke ruangan ini tanpa merasa bersalah. Seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan dia mengacuhkan aku yang terus memperhatikan nya.
“Kamu ini kemana aja sih? Kok baru kelihatan? Sibuk ngapain kamu, hah?” tanya Bunda sedikit emosi. Mas Al terkekeh pelan.
“Ada kerjaan, Bun. Lagi sibuk nyiapin buat HUT Satuan. Udah mepet soalnya.” ucap Mas Al.
“Sibuk sih sibuk, tapi apa susahnya memberitahu aku? Segitu malas nya kamu bicara sama aku, Mas?" - batin ku menggebu.
“Oh ya sudah. Jangan lupa istirahat, ya, Al. Kamu kalau sedang mempersiapkan sesuatu pasti sangat fokus. Sampai lupa makan, lupa ngabarin Bunda, sampai bikin Bunda panik setengah mati.” ujar Bunda sembari mengusap punggung Mas Al. Aku terdiam seketika.
Maksud Bunda apa sih? Jadi, Mas Al benar-benar fokua kalau sedang mempersiapkan sesuatu? Bahkan sampai lupa makan dan ngabarin Bunda nya sendiri? Ini serius apa nggak sih? Kok aku di buat bingung. Selama lima tahun menjadi istrinya, kenapa aku baru tau sekarang?!
“Bunda duduk, dulu, ya. Kinza buatkan minum sebentar.” ucap ku berusaha terlihat baik-baik saja. Walaupun aslinya super penasaran dan bingung setengah mati. Tapi nggak apa-apa, pertanyaan itu aku simpan dulu.
...---...
“Mas, aku mau bicara sesuatu, boleh?” tanya ku seraya menyuguhkan teh manis hangat pada Mas Al. Tapi pertanyaan ku tidak ditanggapi, dia asik menelepon seseorang.
“Iya, kalau gue sempat, gue pasti bantuin kok! Apalagi ko bakal pindah ke satuan yang sama dengan gue.”
“Iya tenang aja, udah ya gue tutup. Mau lanjut apel!”
Klik, telepon di tutup oleh Mas Al. Pindahan? Siapa yang mau pindah ke satuan ini? Mbak Amira gitu?
“Siapa tadi, Mas?” tanya ku penasaran.
“Amira, dia mau pindah ke satuan ini.” ucap Mas Al dengan sangat enteng. Dia terlihat biasa saja tanpa menyadari kalau aku sedang terbakar api cemburu.
“M - mas serius? Kok bisa?”
“Ya, bisa dong, sayang. Kalau sudah dapat perintah, tidak bisa di tolak. Ngalir aja ngikutin alur nya.” balas Mas Al semakin enteng. Beda dengan ku yang semakin merasa cemburu.
“Tapi, Mas. Aku nggak..”
“Mas berangkat, ya, Dek. Sekarang ngambil apel pagi. Love you cinta ku!” pamit Mas Al setelah menyeruput teh manis hangat buatan ku. Tanpa menghiraukan perkataan ku yang terpotong oleh nya. Sudah ku bilang, Mas Al berubah sejak bertemu dengan Mbak Amira. Dia benar-benar berubah, Mas Al bukan lah orang yang ku kenali dulu. Mas Al yang mencintai ku sepenuhnya sudah hilang, hiks.
“Iya, Mas. Hati-hati, ya. Jangan lupa kabarin aku.” balas ku dengan lirih.
Aku menatap punggung Mas Al yang menghilang dari balik pintu. Tak terasa, air mata ku menetes. Rasa sesak di dalam dada ku semakin memuncak. Aku sedih mendapat perlakuan dingin dari suami ku seperti ini. Aku benar-benar merasa sendirian sekarang.
Lagi dan lagi soal Mbak Amira. Kenapa mereka kelihatan begitu akrab sekali? Bukan kah Mbak Amira hanya adik letting Mas Al saja? Tapi kok kedekatan mereka terasa berbeda, ya?
__ADS_1
Ah sudahlah, pekerjaan ku masih banyak. Buang-buang waktu kalau hanya memikirkan masalah ini. Kalem saja Kinza. Semua nya akan baik-baik saja. Percayalah!
Aku mulai menjalankan rutinitas seperti biasa nya. Beberes rumah, belanja sayuran, membuat makanan untuk bayi gembul ku, mencuci baju, dan lain sebagainya. Yang paling penting, ikut agenda mingguan Persit. Seperti olahraga dan rapat. Apalagi sebentar lagi acara besar satuan di selenggarakan, pasti kesibukan akan melanda kami semua.
Tak berapa lama, suara tangisan Alief terdengar. Bayi dengan tubuh gembul ini meronta minta di turunkan dari box bayi. Uh, anak Mama sudah besar. Sudah suka main di luar, ya, Nak.
“Ma - ma da - da mam..” (Mama, Dedek makan) ucap Alief meminta makan. Senang sekali melihat pertumbuhan dan perkembangan nya sekarang. Alief semakin pintar.
“Iya, sayang, sebentar lagi bubur ayam dan brokoli nya matang. Alief makan biskuit dulu, ya.” ucap ku sembari menyodorkan biskuit Promina rasa susu pada nya. Dengan cepat Alief merebut biskuit itu dari tangan ku.
Alief mulai melahap sedikit demi sedikit biskuit yang ada di tangan nya. Dengan ocehan panjang yang tidak begitu aku mengerti, dan dengan gerakan-gerakan yang aktif. Alief membuat masalah yang ada perlahan hilang. Dialah matahari ku sekarang.
Bubur ayam campur brokoli sudah matang. Ku biarkan sejenak supaya panas nya mulai berkurang. Sambil menunggu, aku memandikan Alief terlebih dahulu. Agar pada saat acara Persit di mulai, Alief sudah rapi dan wangi.
Ku buka baju nya satu per satu. Perut gendut nya menyembul keluar. Sesekali aku cium membuat dia kegelian, huhu lucu sekali anak Mama!
“Da - da di - di. Da - da di - di.” (Dedek mandi, dedek mandi)
“Iya, sayang, dingin ya nak?”
“Da - da di - di.” (dedek mandi) ucap Alief berulang-ulang. Maklum, bayi usia 14 bulan ini lagi senang-senangnya mengoceh. Lagi senang-senangnya belajar berjalan dan berlari. Dan, lagi senang-senangnya membuat keusilan.
Selesai dimandikan dan di pakaian baju. Alief aku suapi bubur ayam plus brokoli kesukaan nya. Dia lahap sekali, sangat suka bubur ayam dan brokoli buatan ku.
“Sekarang siap-siap ikut kegiatan Persit, Nak. Jangan nakal, ya, jangan buat ulah lagi. Jangan gangguin Nadia terus, okay!” ucap ku di balas tawa oleh Alief. Hu hu, masih kecil suka usil. Merebut makanan orang lah, melemparkan mainan orang lah, atau mendorong bayi lain yang seusia dengan nya. Sungguh kreatif anak ku ini.
Tok tok tok pintu rumah ku di ketuk oleh seseorang. Paling juga Ibu Yonathan, dia kan rajin sekali hehe.
“Iya sebentar, Bu.” ucap ku setengah berteriak. Aku mendorong kereta bayi yang di dalam nya ada Alief. Kalau di gendong bakalan berat, Alief kan gimbul.
Aku membuka pintu rumah, nampak lah seorang perempuan cantik berseragam olahraga. Perempuan itu tengah menggendong bayi perempuan yang sama cantik nya. Dia adalah,
“M - mbak Amira?” ucap ku sedikit gagap. Tak ku sangka dia ada di sini. Tau dari mana?
“Iya, mohon izin sebelum nya. Saya ingin mengajak Ibu pergi ke aula bersama-sama. Saya kurang hapal jalan menuju tempat itu. Mohon maaf sebelumnya, Bu.” ucap Mbak Amira sungkan. Aku tersenyum kikuk.
“Iya, sebentar saya ambil biskuit untuk Alief dulu.” aku ngacir ke dalam rumah. Tiba-tiba perasaan ku nggak karuan. Mau marah, tapi nggak bisa karena dia anggota baru. Bisa di amuk Ibu Komandan kalau urusan pribadi di sangkut pautkan dengan urusan Persit. Sesama Persit harus bisa mengayomi dan saling mengasihi 'kan?
“Yuk, Mbak." ajak ku sesaat setelah mengambil biskuit.
Jujur, aku merasa canggung. Tapi untunglah Ibu Yonathan datang dan membuat suasana menjadi lebih nyaman. Dia lebih sering mengajak Mbak Amira berbicara ketimbang pada ku. Iya jelas, sebab aku menyerahkan semua nya ada Ibu Yonathan. Dia seperti tau. Kaya cenayang, ya?
“Mbak Amira, kata nya pindah ke sini satu bulan lagi. Kok sekarang sudah tinggal di sini, sudah ikut kegiatan pula.” tanya ku ikut nimbrung. Supaya tidak menimbulkan kesan jutek atau judes.
“Izin, Ibu. Saya juga kurang tau. Izin, saya cuma ikutin perkataan suami dan ibu komandan aja.” balas Mbak Amira. Aku mengangguk singkat.
“Oh gitu, sayang ya, suami saya nggak bisa ikut bantu.” ucap ku seramah mungkin. Pura-pura merasa tidak enak.
__ADS_1
“Izin, Bapak Danramil ada di rumah saya, Bu. Beliau dan beberapa anggota ikut membereskan barang-barang. Saya di suruh Ibu Komandan untuk ikut acara ini, sekalian perkenalan. Untuk acara peresmian nya nanti menyusul.” ucap Mbak Amira membuat ku serasa terhuyung. Demi apa Mas Al ikutan beberes di rumah Mbak Amira? Bukan nya dia ambil apel pagi? Itu tanda nya sibuk dong? Wah, ini ada yang tidak beres. Mas Al mulai banyak berbohong pada ku!