EPOCH

EPOCH
Bab 58


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


“Ma, Kinza mau keluar, pingin jalan-jalan. Sumpek di sini terus.” ucap ku pada Mama yang sedang makan nasi padang. Sontak dia menggeleng cepat. “No, sayang. Mama lagi makan ini 'lho. Tunggu dulu beberapa menit okey?” balas Mama sembari menatap Mas Al yang tak jauh berada di sampingku.


“Biar Mas yang antar, Dek? Gimana, mau nggak?” tanya Mas Al menawarkan bantuan. Aku tak langsung menjawab, berfikir sejenak.


Usulan dia boleh juga tuh. Gimana kalau sekalian ngerjain Mas Al. Hitung-hitung memberi hukuman gitu deh. Asik nggak, ya? Pasti asik dong. Mas Al bakalan marah nggak, ya? Kita lihat aja nanti. Tapi, nenurut ku sih nggak bakalan marah. Sebab, dia sedang gencar-gencarnya mendapatkan hati ku kembali. Mas Al sedang gencar-gencarnya membuat kepercayaan ku kembali utuh pada nya.


Baiklah, lancarkan aksi mu, Kinza! haha


“Boleh aja sih. Ya udah, ayo cepetan, Mas!” dia mengangguk cepat. Dengan sigap, Mas Al membantu ku pindah dari brangkar untuk duduk di kursi roda.


“Hati-hati, Dek. Mas nggak mau luka mu kenapa-kenapa.” ucap nya cemas. Mas Al sangat hati-hati saat bertindak. Setiap aktivitas yang ia lakukan, setiap ia bertidak, itu semua semata-mata untuk menjaga ku agar tidak kenapa-kenapa.


Wajah kami sangat dekat. Bahkan hembusan nafas nya bisa ku dengar dengan jelas. Bulu mata nya yang panjang, mata hitam nya yang pekat, hidung nya yang mancung seperti perosotan TK, serta bibir nya yang seksi dan membuat ku ingin terus mencicipi nya lagi dan lagi. Semua yang ada dalam diri Mas Al seperti candu untuk ku. Argh, mikir apa aku ini? Fokus ngerjain Mas Al! Jangan sampai tergoda dan gagal, hiks!


“Nggak usah sok perhatian gitu deh, Mas! Aku juga nggak akan luka kayak gini kalau nggak melihat tingkah laku mu yang tidak mengenakkan!” sembur ku membuat Mas Al diam seketika. Dia menggigit bibir nya. Oh no, aku tergoda. Jangan lakukan itu, Mas. Jangan! Aku nggak kuat, huwaa!


“Ekhm, bukan nya ini kesalahan mu, ya, nduk? Bukan nya kamu yang melukai diri mu sendiri? Kok malah menyalahi suami mu? Jelas-jelas itu salah mu!” Papa angkat bicara. Dia yang sudah selesai makan lantas menatap ku horor. Aduh, Papa malah membela Mas Al. Kesal huh!


“Lho, Pa. Papa kenapa jadi belain Mas Al. Jelas-jelas dia yang salah! Dia yang udah bikin aku cemburu, dia yang udah bikin aku emosi tingkat tinggi. Sampai-sampai aku nggak tahan dan akhirnya melukai diri sendiri. Papa masih nggak sadar, ya?” aku membela diri sendiri. Mas Al hanya diam menunduk.


Papa berdiri, “kamu itu..” Mama memotong ucapan Papa. Dia menarik Papa untuk duduk kembali.


“Stop. Jangan saling menyalahkan. Introspeksi diri adalah satu-satunya jalan yang baik untuk mengetahui siapa yang salah. Bukan nya malah saling menyalahkan seperti ini! Udah lah, Pa. Ini urusan rumah tangga Al dan Kinza. Kita hanya bisa menasehati, jangan sampai ikut campur.” Mama menengahi perdebatan antara aku dan Papa. Lantas, Papa terdiam dan duduk kembali.


“Nduk, kalau kamu mau jalan-jalan, silakan. Mama dan Papa tunggu di sini. Nanti, Alief biar Mama yang urus.” ucap Mama sembari tersenyum lembut pada ku. Aku mengangguk.


“Makasih. Kinza titip Alief, ya, Ma. Aku keluar dulu, assalamu'alaikum.”


“Iya sama-sama, nduk. Wa'alaikum sallam.”


Mas Al mendorong kursi roda ku dengan hati-hati. Dia masih diam, tak bertanya atau tak berkata. Mungkin, perdebatan kecil antara aku dan Papa sedikit menyentil perasaan nya. *tersenyum puas.


“Kita mau kemana, Dek?" lama aku menunggu, dan akhirnya dia bertanya juga. Aku kelimpungan mencari tempat yang bagus dimana. “Tempat yang bagus di rumah sakit ini apa, Mas?” tanya ku cuek.


“Ini rumah sakit, Dek. Tempat orang-orang diobati dan di tangani dokter. Nggak ada tempat yang bagus.” balas nya lebih ketus. Aku diam melongo.


Aku cemberut, “lawak banget sih, Mas. Aku serius, ini!” Mas Al mesem singkat sembari terkekeh pelan.


“Mas lebih serius, Dek. Rumah sakit gini nggak ada tempat yang bagus. Oh, Mas tau. Yang bagus itu, ruangan VVIP. Iya, kan?” ucap nya garing. Nggak jelas. Ngawur kemana-mana. Iya aku tau, mungkin ini adalah salah satu upaya Mas Al untuk mendapatkan hati ku kembali. Oke Mas, selamat bekerja keras.


“Garing banget kayak bakwan.”


“Hm” dia berdeham saja.


Aku diam mengikuti kemana Mas Al mendorong kursi roda ini. Ku yakin dia pasti punya tempat yang cukup bagus untuk ku menghirup udara segar. Mau di ajak keliling-keliling rumah sakit juga boleh. Bisa berduaan dengan dia, *ups kebablasan.

__ADS_1


“Kita mau kemana sih, Mas? Muter-muter terus ini!” protes ku tak tahu diri. Namun, bukan nya menjawab. Mas Al malah bungkam. Dia terus mendorong kursi roda ini tanpa memberikan penjelasan apapun. Bikin kesel, huh.


Cukup lama kami berputar-putar, akhirnya kami berhenti di sebuah taman kecil. Aku nggak tahu jelasnya ini tempat apa. Seperti taman, ada pohon-pohon hijau yang sedap di pandang. Oksigen pun mumpuni di sini. Mas Al terbaik.


“Mas beli minum dulu gimana, Dek? Kamu pasti haus 'kan?” tanya Mas Al menawarkan aku minuman.


Aku menggeleng cepat, “nggak usah, Mas. Kan nggak lama juga di sini. Bosan kali cuma liat pohon-pohon gede yang nyeremin banget.”


“Lho, katanya tadi pengen cari udara segar. Ya udah, Mas ajak kamu ke sini dong. Tempat nya lumayan bagus, ada pohon-pohon yang enak di pandang. Pasti nya banyak udara segar. Dari pada Mas ajak kamu ke cafe, nggak etis bawa orang sakit nongkrong-nongkrong.” ucap nya kalem namun membuat ku terpana. Dia amat sangat mempedulikan kesehatan ku. Mas Al sangat peduli pada setiap aktivitas yang akan ku lalui. Dia cerewet, bawel. Beda dengan aku yang justru cuek pada nya. Aku masih kesal, tolong!


“Terserah kamu aja lah, Mas.” balas ku acuh.


“Nanti, kalau kamu sudah benar-benar pulih. Mas ajak kamu dan Alief jalan-jalan. Kita refreshing dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang ini.” ajak nya antusias sembari pindah dan berjongkok di hadapan ku. Tangan nya meraih tangan ku, dia menggenggam nya dengan erat.


“Apa sih, Mas. Kaya nya nggak bisa deh seperti dulu lagi. Hati aku udah hancur banget. Aku nggak akan bisa memaafkan kamu dan semua kesalahan mu!” Aku mengalihkan pandangan ku, serta melepas paksa tangan Mas Al yang sedang menggenggam tangan ku.


Dia diam. Bisa ku dengar helaan nafas berat keluar dari mulut nya. Mas Al seperti sudah cukup merasa terpuruk karena sikap ku yang cuek dan acuh.


“Kinza?” panggil Mas Al yang tidak ku tanggapi.


“Dek?” panggil Mas Al lagi dengan sangat lembut dan hati-hati. Namun, aku tetap memalingkan wajah.


“Sayang?” aku diam membeku. Perkataan itu melunakkan hati ku. Lantas, aku menengok ke arah nya.


“Apa?!” balas ku acuh tak acuh. Namun dia tetap sabar.


“Mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini, Dek? Kalau terus memalingkan wajahmu dari Mas, kalau kamu terus-terusan menghindar dari Mas, kalau kamu terus-terusan menutup telinga untuk mendengarkan penjelasan dari Mas. Lalu, sampai kapan hubungan kita akan terus meregang seperti ini?" ucap nya lirih dan sedu. Hati ku melunak.


Aku diam, tak bisa berkata-kata. “A - ak - aku. A - ku ng - nggak tau, Mas.” ucapku tetiba gagap.


Sebenarnya, aku sangat ingin mengatakan pada Mas Al bahwa aku sudah mendengar semua penjelasan darinya. Aku sudah tahu kebenaran nya. Waktu dulu Mas Al masuk ke kamarku secara diam-diam. Yang iya tahu, Aku sedang tertidur. Padahal kenyataannya, aku tidak tidur seutuhnya. Telinga ku masih bisa menangkap suara Mas Al dengan jelas. Hanya saja, sekarang aku ingin melihat seberapa besar usaha Mas Al untuk berusaha menjelaskan semuanya kepadaku.


Tapi, aku sudah tidak tahan. Sejak pengakuan nya beberapa hari lalu, hatiku sudah melunak dan sudah bisa melihat bagaimana perjuangan Mas Al untuk mendapatkan hatiku kembali. Mungkinkah ini saat yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya pada Mas Al?


“Mas?” panggil ku halus seraya memegang tangan kekar nya. sontak Mas Al langsung menatapku dengan tatapan sendu. “Ya? Kamu mau sesuatu?” tanya nya lembut.


Aku menggeleng cepat. “Nggak, Mas. sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Mas Al mengerutkan keningnya. “Apa itu, Dek? Katakan saja.”


“Sebenarnya aku sudah tahu kebenaran yang sesungguhnya, Mas. Aku sudah tahu kejadian yang sebenarnya terjadi di dalam rumah dinas mu.” Mas Al semakin mengerutkan keningnya. Heran.


“D - da - dari mana kamu tau? Bahkan Mas belum mengatakan apa-apa padamu.” tanya nya gagap. Mas Al benar-benar merasa bingung dan terkejut.


“Tiga hari yang lalu. Saat aku sedang terbaring tidur di atas brangkar. Saat kamu masuk ke kamar ku secara diam-diam. Saat kamu menangis sembari memegang tangan ku dengan erat. Aku, sudah tau semuanya dari mu. Aku, sudah mendengarkan penjelasan dari mu. Semuanya.” ucap ku sedu sambil berkaca-kaca.


Tak ku sangka, Mas Al juga sama. Mata nya sudah memerah dan berkaca-kaca. Dia menangis sembari tenggelam di pangkuan ku.


“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, Dek? Mas benar-benar merasa bersalah. Mas sampai mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi, Mas tidak tahu kalau kamu sudah mendengar semuanya dari mulut Mas sendiri. Kenapa kamu nggak bilang, Dek? Kenapa kamu nggak jujur sama Mas dari awal?” Mas Al semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pangkuanku. Dia menangis. Mungkin kesal padaku karena tidak jujur. Pengen ngakak, tapi aku juga merasa bersalah.

__ADS_1


Tangan ku mengusap kepalanya dengan lembut. Jujur aku merasa bersalah dan kasihan padanya. Mas Al pasti kecewa pada ku.


“Mas, jangan nangis ah. Malu di lihat banyak orang.” ucap ku lembut. Dia menggeleng.


“Mas masih mau kayak gini. Biarkan orang lain berkata apa. Mas nggak peduli.” ucap nya kekeuh seperti anak kecil. Aku tersenyum lembut.


“Uh, manja. Kayak anak kecil kamu, Mas!”


“Biar saja, Mas terlalu lelah. Lelah menahan untuk tidak mengatakan hal yang sejujurnya pada mu. Mas lelah, Dek!” ujar nya sambil mengencangkan tangis. Fix, aku beneran ngakak. Aku nggak tahan pingin ketawa karena tingkah nya yang menggemaskan. Yang tadinya aku merasa sedih dan bersalah, sekarang malah di buat ngakak oleh kelakuan nya. hahaha tulung.


“Ya udah, aku minta maaf, Mas. Niat nya emang pengen ngerjain kamu. Pengen kasih kamu pelajaran, biar jutek sama orang!” tekan ku sembari menciumi rambut nya yang super wangi.


“Tega kamu, Dek! Beneran tega! Mas di kerjain sampai batin dan di buat lelah seperti ini. Sekarang gantian Mas yang hukum kamu!” Mas Al menggelitik perut ku.


“Sakit, Mas!” ucap ku merasakan ngilu di perut. Oh no, lupa kalau ada bekas jahitan di sana.


Mas Al langsung berhenti, dia menatap ku dengan raut wajah yang sangat cemas dan panik. “Maaf, Dek. Mas lupa kalau kamu habis operasi. Sekarang kita masuk, ya? Periksa lagi luka mu.” Mas Al benar-benar panik, ah lucunya.


“Nggak, Mas. Nggak apa-apa. Nggak usah cemas gitu ah.” Aku menahan tangan nya yang hendak memutar balik kursi roda ini.


Mas Al mengerutkan keningnya. “Kenapa? Bukan nya perut mu itu sakit, Dek? Mas benar-benar cemas. Mas khawatir, Dek. Mas takut kamu kenapa-kenapa.” brondong Mas Al sangat cemas. Ampun, pusing kalau dia sudah begini. Lebih baik turuti saja. Apalagi memang benar perut ku ini kembali sakit. Aku juga khawatir ada luka yang tergores atau apapun itu.


“Ya udah iya. Pelan saja, ya, Mas. Jangan terlalu terburu.”


“Iya, Dek.”


Sesampainya di ruangan tempat aku di rawat, Mas Al langsung memanggil dokter jaga. Lalu dengan cepat aku di periksa oleh dokter tersebut. Mas Al, Mama dan Papa terlihat begitu cemas. Apalagi saat dokter memeriksa luka nya.


“Gimana, Dok? Istri saya baik-baik saja, kan?” tanya Mas Al begitu cemas.


“Tidak apa-apa, Pak. Luka Bu Kinza kembali terasa karena terpegang dengan tekanan yang sedikit tinggi. Jadi itulah yang membuat luka nya kembali merasakan sakit. Selebihnya tidak apa-apa, karena sudah saya berikan antibiotik.”


“Saran saya, jangan melakukan hal-hal berat dulu. Seperti mengangkat barang yang terlalu berat. Hal itu akan menyebabkan tekanan otot perut nya mengeras. Tentu itu berpengaruh besar pada luka jahitan nya.” sambung sang dokter membuat ku sedikit ngeri. Jadi, sampai kapan aku harus seperti ini?


“Baik dok, terima kasih saran nya."


“Sama-sama, kalau begitu saya permisi,Pak."


“Silakan, Dok.”


Mama langsung memburu ke hadapan ku. “Nduk, kenapa sih bisa seperti ini?”


“Maaf, Ma. Ini salah saya. Tadi, Al bercanda sama Kinza. Al minta maaf, Ma.” vonis Mas Al menyalahkan diri sendiri.


“Lain kali jangan di ulangi ya, Lek. Mama benar-benar khawatir."


“Siap, Ma.”

__ADS_1


Aku ngakak melihat mereka berdua. Mama seperti ingin marah. Namun di tahan pastinya. Nggak enak sama menantu nya, tapi begitu khawatir dengan anak nya. wkwk


Di tunggu Vote dan komentar nya✨


__ADS_2