EPOCH

EPOCH
Bab 63


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Aku mencuri pandangan pada Mbak Amira dan Kapten Satria. Sesekali kami mengobrol walau tak banyak. Mama dan Papa lah pelaku nya. Mereka mengajak Mbak Amira dan Kapten Satria untuk bergabunglah bersama kami. Sontak, mereka mengiyakan ucapan Papa.


Suasana menjadi canggung. Niat nya liburan, ingin menjernihkan pikiran. Namun, malah rusak seketika karena ada si pengganggu alias Mbak Amira. Kebayang nggak sih gimana mumet nya otak ku? Pusing tujuh keliling, hiks!


“Sekarang gimana? Gagal liburan 'kan, Dek?” tanya Mas Al pelan sembari menyenggol lengan ku. Dia yang ada di samping ku merasa tak nyaman atas kehadiran Mbak Amira. Mas Al juga terganggu karena hal ini.


Aku menunduk lesu, “salah emang nya kalau aku nolong Shakira? Kok jadi aku yang kena batu nya, ya, Mas?” ucap ku lesu. Tak bisa berada di posisi ini terus menerus.


“Kita jalan-jalan aja, yuk Dek? Gimana, mau nggak?” ajak Mas Al membuat semangat ku bangkit. Ide nya boleh juga.


“Yuk, aku mau banget. Ide mu bagus banget, Mas!” aku lantas berdiri, hal itu membuat orang-orang langsung menatap ku aneh. Termasuk Mbak Amira dan Kapten Satria.


“Lho, Adek mau kemana? Sini aja gabung kali.” ajak Papa menghentikan aktivitas ku. Tapi aku tak mau terus-terusan di sini. Mumet, nggak ada pencerahan sama sekali.


“Ehe, nggak deh, Pa. Makasih, tapi Kinza dan Mas Al mau jalan-jalan. Mau ajak Alief main keliling-keliling.” tolak ku halus sembari bersiap pergi.


Ku lihat Mbak Amira dan Mas Satria saling tatap, “wah, kebetulan kalau gitu. Kami juga mau izin pamit, kami juga mau jalan-jalan, Pa, Bu. Izin mendahului.” ucap Kapten Satria lebih dulu berpamitan. Sontak aku menghentikan kegiatan beberes ku.


“Ah, buru-buru sekali, Kapt. Kenapa nggak di sini dulu aja?” tanya Papa menyayangkan. Ih, Papa apaan sih. Bikin aku bete, bete pakai banget malah!


“Izin, tidak enak berlama-lama di sini. Kami izin pamit, assalamualaikum.”

__ADS_1


“Wa'alaikum sallam, ya silakan!”


Mbak Amira dan Kapten Satria akhirnya pergi dari hadapan ku. Tapi, bukan nya aku lega, justru kepergian mereka membuat suasana menjadi canggung. Papa seakan tidak suka dengan ulah ku tadi. Pasti habis ini bakalan kena sidang dadakan. Aku salah, ya?


“Dek?” panggil Papa dengan suara lembut. Nah kah, apa aku bilang. Sidang dadakan, hell no!


“Kenapa, Pa?” tanya ku kembali duduk.


“Papa mau bicara.” ujar Papa membuat hati ku jedag-jedug nggak karuan. Ih, nada bicaranya nyeremin.


“Iya silakan, Pa.” sahut ku seadanya.


“Kamu masih marah sama Amira?” tanya Papa to the poin.


“Nduk, nggak boleh bicara seperti itu sama orang tua. Dosa, Nduk!” ucap Mama dengan lembut.


“Maaf, Ma. Aku khilaf.”


“Apa harus berwajah masam seperti itu? Apa harus berkata-kata tak mengenakkan dan menghindar sampai segitu nya? Amira nggak salah, Nduk. Dia juga korban di sini.” ucap Papa membuat ku seketika menatap wajah nya. Ini apa-apaan? Kenapa semua orang jadi membela Mbak Amira? Yakin dia benar-benar korban? Kalau aku sih nggak yakin. Pasti Mbak Amira juga punya maksud lain.


“Dari mana Papa tau kalau Mbak Amira juga korban? Wajar kalau aku kesal sama dia. Wanita mana yang rela melihat suami nya menimpa tubuh wanita lain. Walaupun itu kecelakaan dan tidak sengaja!” ucap ku getir sembari memburu gendongan Alief.


“Kinza sakit hati, Pa! Kejadian ini nggak sekali dua kali. Tapi tiga kali berturut-turut. Mas Al kepergok berduaan dengan Mbak Amira. Apa bisa hati ku menerima nya begitu saja? Jelas nggak!” vonis ku emosi. Ya Allah, maafkan hamba mu ini. Maafkan atas semua ucapan ku yang kasar. Pa, maafin Kinza.

__ADS_1


“Papa mengerti, nduk. Papa mengerti. Tapi, kamu harus bisa jaga sikap. Nama Al ada di pundak mu. Itu harus kamu jaga, nduk. Dan lagi, cobalah untuk memaafkan. Dengan kamu berbicara seperti tadi, apa tidak menyinggung perasaan suami mu?” ucapan Papa bagaikan tamparan keras yang menggoncang hati ku. Perkataan Papa benar. Aku mengatakan hal itu di depan suami ku sendiri, Mas Al. Bagaimana perasaan nya Tuhan?


Ku lirik Mas Al yang diam menunduk sembari meremas jari-jarinya. Emosi ku yang tadi memuncak berubah menjadi rasa bersalah yang amat sangat tinggi. Masalah, baru muncul kembali. Hubungan ku dan mas Al bisa kacau, hiks.


“Jo, bawa istri mu jalan-jalan, ya? Ajak Alief juga.” ucap Mama memburu gendongan Alief. Lantas aku membiarkan Kenzo membawa anak ku. Aku yakin, Mama hanya tak ingin Alief menjadi sasaran nya.


“Siap, Ma. Yuk, Lek, kita jalan-jalan.” ajak Kenzo seraya meninggalkan aku, Mas Al Mama dan Papa. Lantas, debat kusir ini di lanjutkan kembali.


“Mas, maaf. Aku nggak bermaksud menyinggung perasaan mu. Maafkan aku, Mas.” lantas aku meraih tangan Mas Al dan menggenggam nya dengan erat.


“Nggak apa-apa, Dek. Mas mengerti.” ucap nya dingin, sedingin es yang langsung membekukan hati ku. Jadi gini rasanya di campakkan oleh suami di depan orang tua sendiri? Sakit sekali. Tapi ini juga kesalahan ku.


“Mas, maaf. Maafkan perkataan ku, Mas.” ulang ku sekali lagi. Lantas Mas Al tersenyum tipis dan mengusap puncak kepala ku. “Nggak apa-apa, Dek. Mas mengerti keadaan nya kok. Nggak apa-apa, gak usah merasa bersalah gitu.” balas Mas Al dengan nada lebih lembut dari sebelumnya. Namun, bukan nya melegakan, hal itu justru membuat ku semakin merasa bersalah. Mas Al saja bisa dengan cepat memaafkan kesalahan orang lain. Kenapa aku tidak? Ya Allah, memalukan!


“Dek, sudah paham sekarang? Belajarlah memaafkan kesalahan orang lain. Hal itu akan membawa kedamaian dan ketentraman. Apa kamu mau hidup dengan berteman kekesalan? Pastinya nggak 'kan, nduk? Kamu akan terus menerus dihantui kegelisahan. Percayalah, itu hanya akan menyiksa diri mu sendiri. Dampak nya, pernikahan kalian akan terus-menerus terganggu. Papa nggak mau itu terjadi pada rumah tangga kalian. Papa hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kalian.” imbuh Papa memberikan wejangan nya pada ku. Sungguh, hati ku tersentil. Jadi selama ini perbuatan ku salah besar. Salah besar temans, hiks.


“Tapi, Pa. Rasanya sulit memaafkan kesalahan orang lain. Sebab luka itu masih membekas di hati ku. Kinza nggak yakin bisa memaafkan nya dengan cepat. Pasti butuh waktu lama.” aku mulai menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Tak lama, ku rasakan usapan lembut mendarat di pundak ku. Ini pasti Mas Al.


“Papa nggak memaksa kamu untuk memaafkan dengan cepat, nduk. Papa tau semua nya butuh proses. Tapi, tetap harus yakin dan percaya. Insyaallah, semua nya akan berjalan seperti biasanya. Hati mu akan bisa menerima keadaannya, nduk.” ucap Papa dengan amat sangat lembut. Hati ku tersentuh. Rasa emosi yang tadi memuncak sekarang kian menurun. Aku mulai bisa menerima kenyataan bahwa di sinilah aku yang salah. Bukan Mbak Amira, bukan juga suami ku, Mas Al.


**Maaf baru update sekarang hihi. Aku ada projek baru soalnya. Yuk mampir ke karya kedua aku “MIRACLE OF LOVE”


See you temans!✨**

__ADS_1


__ADS_2