
Kinza mengemasi barang-barang pribadi nya. Dia memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ransel besar motif Tentara. Tenang saja, Kinza tidak kabur kok. Dia hanya menyiapkan perlengkapan untuk menginap di sekolah nanti malam.
Perasaan nya masih berkecamuk. Dia masih tidak percaya pada kejadian beberapa jam lalu. Memang masih ada waktu satu minggu untuk memikirkan baik-baik jawaban yang tepat. Tapi Kinza tidak bisa, dia terus memikirkan perjodohan itu. Kinza marah pada Al orang tua nya dan juga dirinya sendiri.
Pintu kamar Kinza terbuka. Samar-samar siluet Zahra masuk. Benar saja. Itu memang Zahra-mama nya Kinza.
"Sini mama bantu." ujar Zahra menawarkan bantuan. Tapi lagi-lagi Kinza tak bergeming.
"Kinza bisa sendiri." tolak Kinza halus dan terkesan cuek. Zahra semakin mendekat pada Kinza. Dia memperhatikan lekat-lekat wajah anak gadis nya yang terlihat kesal.
"Masih marah sama mama? Padahal ini bukan ide mama lho, ini semua ide nya papa dan Om Arif." Kinza mendesis, dia pura-pura tak menghiraukan ucapan mamanya.
"Mama hanya ikut-ikutan aja. Mama setuju sebab Al itu anak yang baik, sholeh dan mama yakin dia bertanggung jawab. Dia sudah dewasa, pasti dia bisa membimbing Kinza."
"Lagi pula pernikahan nya nggak di laksanakan secepat mungkin. Kira-kira satu tahun lagi, mama tau pasti kalian butuh saling mengenal satu sama lain." sambung Zahra lembut. Kinza lantas menghentikan kegiatan nya.
"Kinza masih dini ma, Kinza gak siap buat urusin Kak Al. Urus diri sendiri aja belum benar. Kinza juga belum siap buat hamil!" decak Kinza datar. Lantas Zahra tertawa mendengar penuturan anak manja nya ini.
"Lho, memang nya siapa yang minta Kinza untuk punya anak dalam waktu cepat? Al juga bisa kok jaga diri sendiri. Ini kesempatan baik supaya Iza bisa mandiri, dan belajar jadi istri yang baik." ujar Zahra sambil terkekeh. Kinza langsung memajukan bibir nya.
"Pokoknya Kinza pikirkan baik-baik ya, mama yakin Al itu jodoh yang baik untuk kamu."
"Tapi yang terbaik buat mama, belum tentu baik buat Kinza." ujar Kinza sambil menyeka air mata yang mungkin sebentar lagi akan tumpah. Buru-buru dia menjauh untuk menghindari tatapan mama nya. Sungguh Kinza tak kuasa di tatap demikian.
"Kinza mau mandi, habis ini menginap di sekolah." sambung nya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Kinza pasrah. Dia tidak tau harus melakukan apa. Gadis itu menangis di dalam kamar mandi.
...----...
Sesampainya di sekolah, Kinza duduk termenung sambil memeluk lututnya. Sesekali gadis itu menitikkan air mata. Dan, samar-samar terdengar bunyi isakan tangis.
Tiba-tiba Claudia duduk di sebelahnya. Namun dia belum menyadari kalau Kinza tengah dilanda kebimbangan.
“Lo kenapa, Za? Kok nangis? Cerita sama gue ada apa?!” tanya Claudia setengah panik. Apalagi melihat kedua mata Kinza yang memerah dan sedikit bengkak.
“Nggak di sini, gue butuh privasi!” tawar Kinza.
“Oke, sekarang ikut gue ke pos mang Jajang!”
Mereka berdua berpindah tempat ke tempat dimana mang Jajang biasa berjaga.
"Cla, gue pengen cerita sesuatu. Gue butuh banget saran dari lo." gumam Kinza lirih sambil mencekal lengan Claudia. Mata Kinza berkaca-kaca. Claudia menoleh. Dia langsung menghentikan langkah kecil nya.
"Ikut gue, cerita di pos mang Jajang aja, di sana tempat nya sepi." Kinza mengangguk mengiyakan ucapan Claudia.
"Gue mau di jodohkan sama om-om tua itu." ujar Kinza setibanya di pos satpam. Claudia langsung membelalakkan kedua matanya. Terkejut bukan main dengan ucapan Kinza barusan.
"Kok bisa? Terus-terus gimana, lo nerima?"
"Gue belum tau, bingung banget." ujar Kinza memelas. Kenapa pertanyaan untuk nya seakan menuntut? Hei, sadar Kinza, semua orang memang akan bertanya demikian sama kamu. Lirih gadis manja itu dalam hati.
"Gue saranin ya, mendingan lo iyahin aja. Tapi, lo kudu bikin syarat." kata Claudia menyeringai. Sumpah gadis ini serem juga kalau bicara serius. Sadis bener.
"Apa?"
"Syaratnya yaitu..." Claudia lantas membisikkan sesuatu pada Kinza. Gadis itu berkata seakan tak ingin orang tau dengan rencana nya. Kinza mengangguk pelan. Dia mengerti harus apa.
__ADS_1
"Ngerti?"
"Iya gue ngertii, makasih banyak Claudiaaa!" ujar Kinza dengan wajah sumringah. Dia yang tadi murung, sekarang sudah kembali membaik. Benar-benar gadis ajaib kan?
...---...
Hari ini Kinza mengikuti perlombaan, sejak pagi tadi dia beserta pasukan dan official nya sudah sampai di Stadion gelora bung Karno, Jakarta.
Sore ini, gadis itu beserta pasukan nya sudah di make-up sedemikian rupa. Baju kebanggaan berwarna hitam dan merah yang sudah di hias telah melekat pas di tubuh nya, celana hitam ketat, sepatu pantople serta embel-embel lain nya membuat kesan gagah dan cantik pada wajah tirus Kinza.
Beberapa menit lagi Kinza akan tampil. Gadis itu gugup bukan main. Sudah puluhan kali menjadi artis lapangan, tetap saja tak mengurangi rasa gugup nya ketika akan tampil kembali. Dari kejauhan, seorang pria berkaos navy dan celana cream selutut menghampiri gadis yang sekarang sedang dilanda kegugupan. Senyum tipis terlihat di bibir pria itu-Juna.
"Jangan pingsan, yaa, abang rela datang untuk melihat Kinza tampil." seru suara berat milik Juna. Dia berdiri di samping Kinza yang sedang duduk manis di bangku DP-2.
"Abaaang, kok baru datang sekarang sih!" dengus Kinza malas. Dia pikir Juna tak akan menepati janji, tapi ternyata? Juna benar-benar datang meskipun sedikit telat.
"Maafkan Abang ya, tadi macet banget soalnya." balas nya sambil terkekeh dan tersenyum lebar. Sumpah demi apapun bang Juna cakeep banget!
"Akang Teteh mari ikut saya ke DP-1 (Daerah persiapan ke satu)." tutur seorang panitia berjenis kelamin laki-laki. Semua nya lantas berdiri dan mengikuti arahan yang di maksud.
Kinza tampil pada sore hari. Lebih tepatnya kedua dari terakhir. Bisa di bayangkan banyak nya penonton yang menyaksikan SMAN 38 Bogor tampil di lapangan. Anak Paskibra pasti paham betul bagaimana suasana nya. Kinza memejamkan mata nya perlahan. Dia harap rasa gugup nya bisa hilang.
"Semangat Kinzaaa, Abang dukung kamu!" ujar Juna berteriak saat pasukan Kinza menggebrak lapangan dengan sangat gagah dan berwibawa. Suara tepuk tangan, teriakan dan lainnya membanjiri lapangan. Para penonton berteriak histeris layaknya melihat seorang artis. Iya artis. Paskibra SMAN 38 memang terkenal juga dengan ekstrakurikuler Paskibra yang prestasi nya melejit tinggi!
Mereka lantas mengikuti instruksi komandan. Mulai dari gerakan statis, dinamis serta variasi dan formasi. Nyaris sempurna!
Kurang lebih sembilan menit lewat empat puluh lima menit, mereka sudah selesai tampil. Claudia memegangi Kinza supaya tidak jatuh pingsan di lapangan. Dia tau, Kinza akan pingsan setelah tampil. Matanya mulai sayu, badan nya mulai lemas, kepala nya memberat dan nafas nya terengah-engah.
"Satu."
"Ti...."
Brughh!!
Benar saja, gadis itu pingsan di lapangan. Tentu hal itu membuat orang lain langsung panik.
"Kinzaaa!" teriak Juna kencang. Lantas pria itu berlari ke arah Kinza dan langsung mengangkat tubuh Kinza masuk ke dalam UKS. Tak peduli dengan petugas kesehatan, para senior dan purna yang sudah stand by di tepi lapangan.
Para petugas kesehatan yang ada di UKS lantas memboyong Kinza. Mereka langsung menangani Kinza dengan gesit. Selang oksigen di pasang di hidung gadis itu. Satu-persatu kancing baju, sepatu, topi, evolet serta perlengkapan lainnya di lepas dari tubuh Kinza. Nafas gadis itu terengah, mungkin asma nya kambuh lagi. Tangan nya mengepal kuat nyaris tak bisa di buka, juga mata yang mulai basah sebab mengeluarkan air mata. Gadis itu menangis.
Para purna dan senior langsung berhamburan mendatangi Kinza di UKS. Mereka membantu untuk menangani Kinza. Sementara Juna, dengan setia pria itu memegangi tangan Kinza. Membantu nya untuk segera pulih seperti semula. Tapi nihil setelah mencoba kurang lebih dua jam.
"Punten Kang, Teh kayaknya harus di bawa ke rumah sakit. Teteh ini kayaknya punya penyakit yang serius." ujar salah satu petugas kesehatan, semua langsung panik. Mereka tau Kinza punya penyakit Anemia dan Asma.
"Biar saya aja yang bawa kerumah sakit. Tolong ya barang-barang Kinza di kemasi." tutur Juna pelan. Pria itu lantas mengangkat tubuh Kinza ala bride style dan membawa nya masuk ke dalam mobil. Salah satu teman Kinza-Annisa, menyerahkan tas ransel motif tentara pada Juna. Dia lantas memboyong Kinza kerumah sakit tanpa di temani siapapun. Juna sudah besar. Dia bisa mengurus ini sendirian.
Cukup lama bergelut dengan stir. Akhirnya mereka berdua sampai di RSPAD, Jakarta. Rumah sakit ini memang khusus untuk pejabat-pejabat serta untuk Tentara juga Instansi Kenegaraan lain nya. Mungkin juga ada untuk umum.
Kinza langsung di larikan ke ruang ICU dan di tangani dokter. Sementara itu, Juna menunggu di luar ruangan. Rasa panik seketika menjalar ke tubuh nya. Entah kenapa Juna benar-benar merasa cemas. Dia takut terjadi apa-apa pada Kinza.
Drttdrttdrtt
Ponsel Kinza berdering, sontak Juna mencari letak suara tersebut di tas ransel motif Tentara. Benar saja, seseorang menelepon Kinza tapi nomor nya belum di ketahui.
"Nanti malam saya jemput kamu, kirim alamat penjemputannya dimana!" ujar seseorang di seberang sana. Tubuh Juna langsung menegang seketika. Siapa kah pria ini?
__ADS_1
"Saya Juna, Kinza sedang di tangani dokter di rumah sakit." balas Juna datar.
"Rumah sakit mana? Kasih tau gue sekarang!"
"RSPAD, Jakarta."
Tuuut.
Sambungan terputus. Juna menautkan alisnya. Pikiran nya langsung bertanya-tanya. Siapakah pria tadi? Kenapa nomor nya tidak di save? Lalu kenapa dia mau menjemput Kinza? Arrgghh kacau!
Juna masih tetap sabar menunggu Kinza. Sudah hampir dua puluh menit belum juga ada tanda-tanda yang di berikan Dokter. Dari kejauhan, nampak seorang pria berbaju loreng berlari ke arah Juna dengan tergesa.
"Kondisi Kinza gimana?" tanya pria itu-Al. Juna langsung mendongakkan wajah nya. Dia melihat manik hitam pekat milik Al-senior nya waktu di AKMIL dulu.
"Lho Bang Al, kok bisa ada di sini?" tanya Juna penasaran.
"Memang nya salah? Saya di sini mau bertemu Kinza!" ujar Al datar.
"Duduk Bang." ujar Juna sopan. Al menurut. Pria itu ikut duduk di ruang tunggu bersebelahan dengan Juna.
"Kamu siapa nya Kinza?" tanya Al datar tanpa menoleh ke arah Juna.
"Senior nya Kinza yang sebentar lagi akan jadi kekasih nya." ujar Juna dengan mantap. Mendengar penuturan Juna sontak Al langsung menoleh dan tersenyum kecut.
"Jangan harap! Kinza sudah di jodohkan dengan saya!"
Jleb!
Juna membelalakkan matanya. Dia terkejut bukan main. Jadi Kinza sudah di jodohkan? Apakah dia menerima perjodohan ini? Kenapa dia tak mengatakan nya pada Juna? Kenapa dia harus tau berita ini dari orang lain? Arghss!! lirih Arjuna tak terima. Dia mengepalkan tangan nya kuat-kuat.
"Jangan bercanda Bang, jelas-jelas waktu Makrab abang bawa Mbak Puput ke acara itu. Mau mengelak Bang?" desis Juna judes. Meskipun terkesan tak sopan, tapi Juna harus meluruskan ini semua.
"Berani sekali kau sama senior! jangan sampai sepatu PDL ini melayang ke wajah mu, Arjuna!" ujar Al dengan sinis. Tatapan nya berubah tajam. Sorot matanya menyiratkan kemarahan yang begitu besar.
"Lantas apa yang salah? Abang memang sudah punya pacar kan? Dengar baik-baik ucapan saya, Bang. Jangan pernah menyakiti Kinza. Putuskan Mbak Puput sekarang juga atau tak usah ada perjodohan! Ah satu lagi, kalau abang tak mengindahkan ucapan saya maka saya akan adukan semua nya pada orang tua Kinza!"
"Berani nya kamu mengancam saya?" desis Al sembari mencengkeram kaos navy Juna. Tapi lagi-lagi Juna tak bergeming. Tekad nya sudah bulat untuk menjaga Kinza. Lantas pria itu menepis tangan Al dengan Kasar.
"Saya tidak akan main-main dengan ucapan saya! Ingat Bang, seorang Prajurit tidak pernah di ajarkan untuk saling menyakiti pada siapapun itu kecuali musuh!"
"Lancang sekali kamu!"
Bugh!
Al langsung membogem mulut Juna dengan keras. Sudut bibir Juna sobek dan mengeluarkan darah segar. Juna tak membalas, dia hanya tersenyum getir.
"Saya makin nggak yakin sama abang dan perjodohan itu." ujar Juna sambil tertawa hambar. Al kembali ke posisi semua. Pandangan nya menerawang sesuatu dan lurus ke depan. Dia mencerna baik-baik ucapan Arjuna. Tiba-tiba sekelebat bayangan Papa, Mama dan Putri muncul bersamaan. Al semakin merasa gelisah. Dia harus apa sekarang? Memilih orang tua atau kekasih nya?
Al merasa menjadi seorang pengecut sekarang. Arjuna benar. Dia harus bisa memilih Kinza atau Putri. Tapi lagi-lagi kedua nya mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan Al. Al bingung. Dia benar-benar bingung sekarang.
"Kalau abang memilih langkah yang salah. Maka selangkah saya akan maju. Ingat ucapan saya bang. Putuskan Mbak Puput atau terima Kinza dengan baik! Jangan pernah abang sakiti fisik apalagi mental nya. Sekarang saya serahkan semua nya pada abang. Semua pilihan ada pada diri abang sendiri." ancam Arjuna seraya pergi meninggalkan Al sendirian.
Sementara Al, pria itu semakin terdiam dan merasa terpojokkan karena pilihan yang begitu menyulitkan. Al tidak tau harus apa dan memilih siapa.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, bom like dan komentar nya aku tunggu. jangan lupa vote aku juga yaps!🥰
__ADS_1