EPOCH

EPOCH
Bab 54


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Aku menatap kosong ke arah depan. Tangan ku menggenggam ponsel, niat menghubungi Mas Al, tapi aku urungkan.


Sebenarnya hati ku sudah mulai membaik. Otak ku juga sudah berfikir jernih. Aku mulai memahami keadaan. Aku mulai bisa memaafkan kesalahan Mas Al. Aku sudah bisa mengoreksi diri sendiri dan mengakui kesalahan ku. Dan, aku sudah bisa melanjutkan aktivitas ku seperti biasa nya.


Ini semua berkat Mama dan Papa. Wejangan dan bimbingan mereka telah membuat hati ku tenang dan ikhlas menerima keadaan.


Flashback on


“Kinza, makan dulu, yuk sayang. Mama masak udang asam manis kesukaan mu.” teriak Mama dari luar kamar. Sudah tiga kali berturut-turut dia mengajak aku makan. Namun, aku sama sekali tidak menanggapi nya.


Ku tolak terus-menerus, sebab nafsu makan ku hilang entah kemana.


Pikiran ku rancu. Terbagi kemana-mana. Aku terus memikirkan Mas Al. Bertanya-tanya dalam hati, apa Mas Al sudah makan? Kira-kira dia sedang apa sekarang? Bagaimana kondisi rumah saat aku tidak ada di sana? Mungkin kacau, atau malah sebaliknya? Apa Mas Al masih menjaga hati nya untuk ku? Gimana kalau dia membawa Mbak Amira diam-diam masuk ke dalam rumah? Gimana kalau mereka berbuat mesum?


Arrghhhh, sial! Berjauhan dengan nya malah membuat hati ku semakin kacau. Aku gelisah, tidak enak hati. Padahal baru tiga hari berpisah dengan nya. Oh Tuhan? Aku harus apa?


“KINZA BUKA PINTU NYA ATAU PAPA DOBRAK?!” ancam Papa dari balik pintu. Nada nya tinggi, papa seperti sedang marah pada ku. Jelas marah, orang tua sedang bicara malah tidak aku tanggapi. Durhaka sekali, hiks!


Buru-buru aku bangkit untuk membuka pintu. Mana mungkin aku ngebiarin pintu kamar kesukaan ku di rusak. Aku sudah cinta kamar ini.


“Kamu bisu, nduk? Kamu nggak punya telinga?” tanya pada dengan judes. Wajah kalem nya terlihat begitu marah. Aku menunduk bak anak kecil yang sedang diintrogasi.


“Bukan seperti ini caranya menyelesaikan masalah, nduk! Masalah itu di hadapi, bukan di hindari! Sejak kapan anak Papa berubah menjadi orang yang pengecut?!” tegas nya sembari memegangi bahu ku. Semua kalimat akhir nya di tandai dengan tanda seru. Aku diam menunduk.


“Boleh mencari ketenangan dan kedamaian, tapi apa harus mengurung diri di dalam kamar? Lupa makan, lupa minum. Ingat, nduk, ada bayi yang harus kamu beri makan. Alief butuh asupan makanan, jangan sampai dia sakit gara-gara keegoisan mu, nduk!” sambung Papa seperti Mas Al yang sedang memarahi ku. Kata-kata itu kembali terngiang di otak ku. Semua pertengkaran yang terjadi di rumah dinas seakan terbawa kesini.


“Nduk, jangan menyiksa diri seperti ini. Papa nggak berniat memarahi mu, ini bentuk kepedulian Papa terhadap kamu dan Alief. Papa sayang kalian, Papa nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kamu dan Alief. Percayalah, nduk, Papa tidak ada niatan sama sekali untuk memarahi mu.” suara Papa melembut. Dia nampak bersalah sebab sudah memarahi ku. Aku tak apa, ini memang kesalahan ku.


Mama menyenggol lengan Papa, “udah, Pa. Kinza jangan di marahi terus, kasian. Lebih baik kita ajak makan saja. Mari, nduk isi perut mu!” ajak Mama dengan lembut sembari menarik tangan ku halus. Aku di boyong ke meja makan. Di paksa mengisi perut padahal aku sedang tidak lapar. Nafsu makan ku tiba-tiba hilang.


Ku tatap udang asam manis yang sudah teronggok di meja makan. Udang itu nampak menggoda dengan bumbu yang begitu kentara. Namun, aku sama sekali tak tergoda. Biasa saja. Padahal, itu adalah makanan kesukaan ku, dan.


Mas Al.


“Di makan, nduk, jangan cuma di tatap seperti itu.” tegur Papa sembari melahap tempe goreng tepung. Aku menggeleng lemah, “Kinza nggak lapar, Pa.” balas ku seadanya.


“Mama suapin, ya, nduk. Ayolah makan, dari tadi kamu belum makan apa-apa. Mama khawatir, nduk." bujuk mama dengan lembut. Wajah beliau nampak cemas dan khawatir. Aku nggak tega.

__ADS_1


“Aaaa, buka mulut nya, sayang.” bujuk Mama sembari melayangkan satu sendok makanan berisi nasi dan udang asam manis.


Kutatap wajah mama yang cemas dan khawatir. Beliau seperti memohon agar aku membuka mulutku. Karena tak kuasa melihat wajah cantik mama yang harus murung karena aku, lantas ku buka mulut dan menerima suapan makanan berisi nasi dan udang asam manis dari mama.


Tidak ada yang berubah, rasa udang asam manis ini selalu sama dimanapun dan kapanpun. Tiba-tiba ingatanku beralih pada mas Al. Otakku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Apa Mas Al sudah makan? Hari ini dia makan apa? Siapa yang akan memaksakannya? Sungguh, aku - aku merasa bersalah karena tidak memenuhi kewajiban kamu sebagai istri.


Aku mengunyah suapan demi suapan dari Mama sambil menitikan air mata. Pikiranku terus beralih pada masa Al, aku menghawatirkan dan mencemaskan dia.


Seusai makan dan memberi Alief makan, aku langsung diboyong oleh Mama dan Papa menuju ruang keluarga. Sepertinya, sidang dadakan akan terjadi sebentar lagi.


“Nduk, sekarang jelaskan sama Papa dan Mama, apa yang terjadi pada hubungan rumah tangga kalian? Mungkin papa dan mama bisa membantu.” bujuk Papa mulai mengintrogasi aku dan masalah yang ada. Namun, aku masih bungkam.


“Nggak apa-apa Nduk, ayo ceritakan saja pada kami. Ceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal sampai akhir. Jangan ada kebohongan yang di ucapkan.” bujuk mama meyakinkanku. namun bukannya menjawab, Aku justru menangis.


Mama merangkul bahuku dan mengusapnya dengan lembut. Memberikan setiap ketenangan pada setiap sentuhan tangan nya. Tangisku semakin menjadi, menggema ke seluruh penjuru ruangan.


Mereka membiarkanku menangis dan menunggu hingga tangisku reda. Setelah dirasa cukup, aku mulai menceritakan semuanya pada mama dan Papa. Mulai dari pengamatan ku saat Mas Al dan Mbak Amira mengobrol. Perdebatan yang terjadi saat aku menyuruh Mas Al memberi susu formula pada Alief. Di lanjut dengan kesalahanku karena sudah membiarkan Alief kelaparan. Tidak, bukan aku membiarkan Alif kelaparan, tapi aku sedang tidak fokus. Itu suatu ketidaksengajaan. Sungguh.


Mama lalu merangkul ku, memberikan sandaran terbaik untuk putri nya. “Ini hanyalah soal komunikasi yang kurang baik. Nduk, semua masalah itu harus di bicarakan baik-baik. Dari mana pun asal-usul nya, sekecil apapun itu masalah nya, ya, tetap harus di komunikasikan dengan baik juga. Jangan pakai emosi, jangan membesarkan ego.” ucap Papa memberikan wejangan nya pada ku.


“Tapi, pa. Aku cemburu melihat Mas Al dekat-dekat dengan Mbak Amira, adik letting nya. Mereka mengobrol haha hihi di pinggir jalan, bahkan tidak mempedulikan aku yang terus memperhatikan mereka.” balas ku kekeuh menyalahkan Mas Al sebagai tokoh antagonis nya. Aku nggak mau kalah, nggak mau di salahkan.


Ku rasa Mas Al tidak melihat aku, ya jelas, dia 'kan sibuk mengobrol dengan mbak Amira. Tertawa haha hihi tanpa batasan.


“Nggak, Pa. Dia nggak ngeliat ke arah Kinza. Dia asik mengobrol." balas ku seadanya.


“Nah, di situ salah mu. Kamu bilang, Al itu tidak mempedulikan kamu. Lah gimana mau peduli, dia saja tidak melihat kamu, kok. Ya terus salah nya di mana? Jadi, siapa yang salah di sini?” tandas Papa seakan menyalahkan aku. Aku bringsut, tidak terima.


“Lho, kok papa jadi belain Mas Al, sih? Gini, ya, pa. Seharusnya Mas Al sadar 'kan ada aku di lokasi yang sama. Aku satu tim dengan Mbak Amira, masa dia nggak ngeliat aku sih? Mustahil 'kan, Pa? Dia itu asik bicara dengan Mbak Amira, sampai-sampai lupa dengan ku, padahal kami ada di satu lokasi yang sama.” tegas ku tersulut emosi. Nggak mau disalahkan.


“Nah ini yang jadi masalah. Apa kamu tau isi pembicaraan mereka itu seperti apa? Kamu berfikir, kalau Al itu asik mengobrol sambil tertawa haha hihi, tidak memedulikan mu. Nduk, kalau kamu mencari tahu apa isi pembicaraan itu, pasti kamu akan mengerti 'kan? Mungkin ada sebab nya mereka bisa tertawa seperti itu. Ingat nduk, meskipun suami mu adalah seorang prajurit, tetap saja saat berbicara dengan ibu Persit itu harus bisa menyesuaikan. Kan nggak mungkin Al bicara dengan kaku seperti sedang bicara dengan komandan? Nggak mungkin, to?” ucap Papa masuk akal. Aku mencerna baik-baik sembari menelaah kejadian beberapa hari lalu. Aku diam dan merasa bersalah.


Oh no, satu kesalahan fatal sudah aku lakukan!


“Tapi, Pa. Apa cemburu itu salah?” papa menggeleng cepat.


“Tentu tidak, itu justru sangat bagus. Cemburu bisa menggambarkan betapa sayangnya kita pada seseorang. Sampai-sampai, kita takut kehilangannya, takut dia di rebut oleh orang lain. Cemburu itu bagus, nduk. Tapi, kita harus bisa mengontrol nya, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Tidak boleh menyalahgunakan rasa kecemburuan sebagai awal perpecahan, itu nggak baik. Cemburu boleh, tapi sewajarnya saja.” ujar Papa lagi-lagi memberikan wejangan nya yang amat berharga. Aku terdiam, meresapi setiap perkataan yang di lontarkan oleh Papa.


Jadi, cemburu ku terlalu berlebihan, ya? Apalagi sampai menyakiti seseorang yang sangat berharga buat ku. Dan, yang lebih penting, cemburu ku ini sudah membuat hubungan ku dan Mas Al semakin memburuk. Lantas, gimana cemburu yang sewajarnya? Tolong ajarkan aku temans.

__ADS_1


“Gimana? Udah kepikiran sekarang, to, nduk? Mulai sekarang, belajar lah mengoreksi diri sendiri dengan benar. Jangan salahkan orang lain jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, tapi, tengoklah dirimu sendiri. Sudah kah melakukan suatu kebenaran? Atau justru malah membuat suatu kejahatan. Nduk, musuh terbesar manusia adalah diri nya sendiri. Ingat itu!” Aku semakin larut dalam penyesalan. Jadi, selama ini aku yang salah? Aku yang sudah membuat masalah ini terjadi? Lalu, bagaimana dengan sakit hati ku? Apa mungkin ini karma buat ku? Oh no, jangan lagi.


“Aku ngerti sekarang, pa. Tapi, tetap hati ku sakit karena mendapat bentakan keras dari Mas Al. Hati ku sakit, Pa. Tetap saja Kinza butuh menyendiri.” ucap ku setelah menyadari bahwa semua ini salah ku sendiri. Bermula dari rasa cemburu yang terlalu berlebihan. Merangkak pada pertengkaran di rumah selepas mengerjakan tugas dari satuan. Di lanjut dengan kemarahan Mas Al karena mengetahui anak nya sakit gara-gara aku. Dan yang terakhir, kami harus melakukan perpisahan sementara. Tuhan, maafkan aku yang egois ini. Aku terlalu sibuk mencari kesalahan seseorang, padahal kesalahan itu ada pada diri ku sendiri. Lantas sekarang aku harus apa?


“Nduk, Mama paham, mama mengerti. Nggak apa-apa kalau kamu masih mau disini. Tapi hanya satu pesan mama, jangan terlalu berlama-lama. Kasian Al yang menjadi korbannya, kasian suami mu karena harus berpisah dengan istri dan anak nya. Apa kamu tega membiarkan Al sendirian? Apa kamu tega membiarkan dia di bunuh kerinduan? Nggak 'kan, nduk?” ucap Mama menambahkan wejangan nya.


“Nggak baik membiarkan suatu masalah terlalu lama. Hal itu justru hanya akan memicu pertengkaran lebih hebat. Mumpung pikiran mu sudah terbuka, maka cepat-cepat bicarakan lah dengan baik. Sebelum penyesalan itu datang menghantui diri mu.” sambung Mama membuat aku merinding seketika. Aku kalut dalam pikiran ku sendiri. Bergelut antara hati dan pikiran. Otak ku sudah bisa berfikir dengan jernih, dia juga sudah bisa mengontrol emosi nya. Tapi beda dengan hati ku, dia masih enggan menerima keadaan. Hati ku terlanjut sakit di buat oleh keadaan.


Aku tak tau harus berbuat apa. Satu sisi ada keinginan untuk menemui Mas Al, satu sisi ada keinginan untuk menolak bertemu dengan nya. Sungguh, ini pilihan yang sulit menurut ku. Aku tidak bisa memutuskan pilihan ku saat ini.


“Terus aku harus gimana, Ma? Apa harus menemui Mas Al di kala hati masih lebam? Aku nggak janji bisa menyelesaikan masalah ini dengan segera, Ma. Hati ku terlanjur sakit.” aku terisak sembari memburu dekapan Mama. Kurasakan tangan halus nya mengusap punggung ku dengan lembut.


Papa ikut memeluk tubuh ku, kami saling berpelukan. Di iringi dengan isak tangis yang keluar dari mulut ku dan mulut mama.


Flashback off


“tes” air mata ku tumpah mengingat percakapan hari itu bersama Mama dan Papa.


“Alief, kita pulang ke asrama yuk, Nak. Pasti Alief kangen kan sama Papa?” ajak ku antusias sembari menggendong tubuh Alief. Sekarang sudah bisa ku putuskan, aku akan pulang ke asrama dan menemui Mas Al kembali. Aku rindu pada nya.


Sengaja tak ku telepon, biar menjadi suprise. Mas Al pasti terkejut dan senang melihat aku dan Alief yang akan kembali pulang.


Mama masuk ke dalam kamar, dia duduk sembari melipat pakaian bayi Alief. “Mama seneng denger nya, Alhamdulilah putri mama sudah bisa berdamai dengan keadaan.” Aku tersenyum.


“Ini semua berkat Papa dan Mama, kalian berdua sudah membuka jalan pikir ku lebar-lebar. Makasih banyak, ya, Ma.”


“Sama-sama, sayang. Semoga kedepannya, kamu bisa lebih dewasa lagi.”


“Aamiin.”


...---...


Nuansa rumah serba hijau sudah berada di hadapan Kinza. Senyuman manis tak henti nya mengembang. Kinza benar-benar senang karena pada akhirnya sudah bisa kembali pulang ke rumah dinas suami nya.


Dari kejauhan, rumah itu nampak sepi, pintu nya tertutup rapat. Tetapi ada suara obrolan yang seperti nya sedang terjadi di dalam sana. Juga, ada suara gaduh dan suara tangisan anak kecil.


Brugh suara gemuruh terdengar lagi. Kinza sontak membuka pintu dan melihat siapa pelaku nya.


“M - mas Al, M - mbak Amira?” lirih Kinza dengan suara bergetar. Ketakutan nya benar-benar terjadi sekarang.

__ADS_1


__ADS_2