EPOCH

EPOCH
Bab 47


__ADS_3

Satu tahun kemudian..


Kinza membuka matanya setelah mendengar suara tangisan Alief. Pukul dua dini hari, Alief terbangun karena merasa haus.


Kinza sontak berjalan ke arah kamar Alief. Meninggalkan suami nya yang masih tertidur lelap. Dengan langkah gontai, dan dengan kantuk yang masih bergelayut manja di mata nya.


“Alief, haus ya, Nak?” sapa Kinza seraya mengangkat tubuh Alief yang terbilang gembul. Bayi berusia satu tahun empat bulan itu langsung menyesap ASI dengan kuat.


Tak memakan waktu lama, Alief sudah kembali tertidur. Lantas Kinza menaruh Alief kembali ke dalam box bayi nya.


“Selamat bubu, sayang ku! Alief baik-baik, ya, Nak!” seru Kinza sembari mencium kening serta pipi anak nya. Setelah itu berjalan masuk ke dalam kamar nya lagi.


“Alief udah tidur, Mam?” tanya Al tiba-tiba membuat Kinza langsung terperanjat kaget.


“Ih, Mas ngagetin aja deh! Iya, dia udah tidur lagi. Mas kenapa, kok tiba-tiba bangun?” tanya Kinza sembari ikut merebahkan diri di samping Al.


Al tiba-tiba memeluk tubuh Kinza dengan gemas, “mau peluk istri Mas yang paling cantik! Tapi orang nya nggak ada tadi.” balas Al seketika membuat pipi Kinza menghangat. Kinza tersipu malu.


“Hei, udah tua kok suka nya peluk-pelukan!” cibir Kinza sembari terkekeh pelan.


Bukan nya melepas pelukan, Al justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kinza. “Nggak boleh memang nya peluk istri sendiri? Lagi pula harus semakin lengket dong, Mam. Kan mau program anak kedua!” seru Al sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kinza.


“No, sayang! Alief masih berusia satu tahun. Nanti aja lah saat dia sudah berusia empat atau lima tahun. Biar kita juga siap mengurus nya nanti.” tolak Kinza secara halus. Al cemberut.


“Keburu putih semua rambut ku, Mam!” cibir Al malas. Kinza hanya terkekeh pelan.


“Nggak apa-apa dong, sayang. Biar kamu semakin dan semakin siap. Semangat dong yang mau nambah anak!” usil Kinza menggebu membuat Al semakin merasa dongkol.


“Nyebelin banget sih, kamuuu! Mas gigit, ya?”


“Ampun sayang, ampuuun!”


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Pagi hari menjelang siang ini. Aku dan Mas Al bersiap pergi ke rumah dinas Kenzo. Pasalnya, saudara kembar ku ini akan melangsungkan acara tujuh bulanan. Yups, Claudia sedang mengandung anak pertama Kenzo. Nikah nya kapan, Buk? Gimana acara nya? Mari aku ceritakan!


Flash back on


Rumah tempat Claudia tinggal sudah di penuhi oleh orang-orang berseragam, berjas, dan berbatik. Dekorasi bunga serba putih dan hijau menghiasi rumah Claudia. Seperti istana, sangat megah dan terlihat sangat mewah.


Acara akad nikah sudah di laksanakan pukul tujuh pagi tadi. Sekarang tinggal acara resepsi dan upacara Pedang Pora.


Kenzo sudah tampan dan gagap saat mengenakan seragam PDU. Beberapa brevet dan penghargaan lain nya terpasang di dada kiri nya. Sementara Claudia, dia sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna peach senada dengan baju PDU yang kembaran ku kenakan.


Upacara Pedang Pora di mulai. Perlahan, mereka mulai berjalan melewati gapura pedang. Lantunan musik mengiringi langkah mereka berdua.

__ADS_1


Senyum Claudia tak henti nya berkembang. Wajah nya berseri-seri kendati merasa sedikit gugup. Uh, sungguh momen ini mengingatkan aku pada acara pernikahan ku lima tahun lalu.


Aku bangga menikah dengan Mas Al. Meskipun dulu tidak menikah karena cinta, tapi setidaknya aku merasa bangga. Bangga bisa menjadi pusat perhatian, apalagi menikah dengan seorang Kapten tentara. Bangga menjadi ratu seharian dengan penampilan yang sangat cantik. Bangga di puji, dan kebanggaan lain nya yang aku dapatkan karena menikah dengan Mas Al.


“Dek, senyum-senyum gitu kenapa, sih?” tanya Mas Al sembari menyenggol lengan ku. Dia nampak gagah dengan balutan seragam PDU.


“Ingat saat dulu kita seperti ini nggak, Mas? Aku bahagia banget rasanya. Walaupun cinta belum tumbuh diantara kita, tapi tetap saja aku merasa bangga. Nggak sembarangan orang bisa mengalami hal ini 'kan?” ucap ku sambil bergelayut di tangan kekar nya yang sedang menggendong Alief. Mas Al mengacak kepalaku dengan gemas.


“Iya, Dek. Mas juga bahagia mengingat nya. Mas nyesel nggak cinta sama kamu dari dulu.” ucap Mas Al membuat ku tersipu malu. Kayak nya aku juga gitu deh. Nyesel nggak cinta sama Mas Al dari dulu wkwk.


Upacara telah selesai dilaksanakan, saatnya para pengantin bersua foto dengan para prajurit. Wah, lagi-lagi aku merasa sangat bahagia melihatnya. Ingin sekali mengulang peristiwa ini haha.


“Yuk beri selamat pada Kenzo dan Claudia.” ajak ku antusias. Mas Al mengiyakan dan kami langsung naik ke pelaminan.


“Aduh beb, happy wedding ya! Gue bener-bener nggak nyangka lo bakal jadi kakak ipar gue! Selamat ya cantik! Gue doakan semoga pernikahan lo dan kembaran gue akan berjalan mulus! Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah! aamiin..” ucap ku sembari cipika-cipiki dan memeluk tubuh Claudia.


Wajah nya berseri-seri, cantik bukan main! Gaun brokat berwarna peach senada dengan baju PDU yang di pakai oleh Kenzo. Mahkota kecil dan riasan yang terbilang natural membuat kecantikan nya terpancar secara alami. Uuh, selamat ya sahabat ku! Nggak nyangka bakalan seperti ini jadinya huhu.


“Aamiin, thank you beb! Iya, gue bener-bener nggak nyangka bakalan nikah sama Kenzo. Si cowok yang dingin nya minta ampun! Berasa mimpi gue!” balas Claudia dengan heboh. Aduh, lagi jadi pengantin masih aja sama bobrok nya wkwk.


“Hati-hati sering dicuekin lho, beb! Dia kalau udah cuek kayak es batu! Dingin pakai banget!” cibir ku sembari melirik ke arah Kenzo yang sudah menatap ku horor. Haha ampun, Bang!


“Udah sana turun, ah! Datang-datang bikin rusuh aja lo!” usir Kenzo judes. Weh, minta di tendang ini kembaran.


“Sekali lagi happy wedding, ya! Aku pada mu beb! Kalau mau nanya soal Persit dan teman-temannya, lo bisa tanya ke gue aja! Insyaallah gue pasti bantu!” ucap ku mengakhiri perjumpaan di atas pelaminan. Ku biarkan saja pasangan baru ini menikmati kebahagiaan nya. Semoga, hari-hari bahagia nya tidak pada hari ini saja. Melainkan pada hari-hari selanjutnya.


Happy wedding, Abang! Walaupun lo suka galak sama gue, tapi gue tetap sayang sama lo! Tetap jadi Abang yang gue kenal meskipun lo udah nikah. Bae-bae ya sama sahabat gue! Jangan pernah sakiti dia! Lo, adalah Abang terbaik buat gue! Love you, Abang kembaran!” - batin ku sedikit alay.


Alief sudah rapi aku mandikan. Si gembul itu kupakai kan kaos tangan pendek motif Tentara lengkap dengan celana pendeknya yang senada. Maklum saja, pakai kaos lebih nyaman supaya Alief bisa bergerak bebas. Bayi berusia 1 tahun 4 bulan itu sedang senang-senangnya belajar berjalan.


Sedangkan aku dan Mas Al, kami memakai baju couple. Baju gamis brokat berwarna navy senada dengan kemeja Mas Al yang berwarna navy juga. Perfect, kami siap meluncur.


“Mam, pulang dari rumah Kenzo kita ke mall dulu, ya. Ada yang mau ku beli untuk acara HUT satuan nanti.” ucap Mas Al tanpa menatapku, dia sibuk nyetir mobil. Aku mengangguk pelan. Huh, sampai lupa, ternyata sebentar lagi acara HUT satuan dilaksanakan. Maklum, terlalu fokus jaga Alief dan sibuk pada pertumbuhan anakku. wkwk


“Iya siap, sayang! Aku juga mau beli lipstik, sudah habis di pakai gambar oleh Alief.” ucap ku sembari menciumi Alief yang asik mengoceh. Ngomong apa sih anak ini? Bahasa bayi aku nggak ngerti sumpah.


Beberapa menit berlalu, akhirnya kami sampai di rumah dinas Kenzo. Sama seperti rumah dinas Tentara Angkatan Darat lainnya, rumah ini serba hijau. Terdapat pohon dimana-mana sehingga menambah kesan enak di pandang. Bikin seger mata.


Ku lihat dari kejauhan, seorang bumil yang mengenakan gamis brokat tersenyum ke arah ku. Ya, siapa lagi kalau bukan Claudia. Ekhm, btw badan nya sedikit melar ya. Beda dari biasa nya wkwk.


“Selamat siang, bumil! Anteng bener ih sampai jarang ngabarin!” cibir ku malas sembari cipika-cipiki. Dia langsung tertawa geli.


“Iya ih, sibuk banget. Jagain rumah, urusin perlengkapan suami, sibuk jaga pola makan buat calon deda bayi, sama sibuk magang. Selebihnya, sibuk uwu-uwu sama Abang lo!” ucap nya tidak berakhlak. Please, nggak usah sebut uwu-uwu. Mentang-mentang kemanten baru. Tebar keuwuwan sana-sini. Idih, geli banget!


“Iya deh, sumpah gue jijik denger nya!” ucap ku judes. Claudia terkekeh pelan.


“Kenzo dimana? Kok nggak keliatan?” tanya Mas Al. Akhirnya ini cowok ganteng buka suara juga.

__ADS_1


“Dia lagi jemput anak yatim-piatu, Bang. Sebentar lagi juga datang.” balas Claudia seadanya.


Tak berapa lama, benar apa yang dikatakan oleh Claudia. Kembaranku, Kenzo, datang bersama puluhan anak yatim piatu menggunakan truk militer. Satu per satu anak-anak menggemaskan itu turun dibantu oleh Om-om Tentara yang ada.


Melihat anak-anak ini, aku teringat pada anak yatim-piatu yang dahulu pernah datang ke rumahku. Sampai saat ini, aku tak pernah berjumpa lagi dengannya. Sedikit rindu, namun sekarang bisa terobati karena melihat anak yatim piatu yang lainnya.


Mereka menyalami kami satu persatu. Lagi-lagi rasa sedih menghampiri jiwaku.


“Ta - ta - ta..” ucap Alief tetiba mengoceh. Apa sih artinya? Kakak mungkin, ya? Huhu Mama nggak paham, Dek.


“Iya, sayang, itu ada kakak. Pintar sekali anak Papa!” balas Mas Al yang lebih mengetahui Alief berbicara apa. Uh, Dady idaman lah.


“Yuk masuk adek-adek.” ajak Claudia dengan lembut. Anak-anak tersebut langsung menurut dan mengikuti perintah Claudia.


Beberapa saat kemudian, acara dimulai dengan acara pengajian. Setelah itu di lanjut acara adat, semacam siraman atau apalah itu, aku tidak tahu nama nya. Yang pasti, acara ini terbilang sakral. Acara terakhir yaitu acara makan dan santunan kepada anak-anak yatim-piatu.


...---...


Sesuai dengan permintaan Mas Al, setelah pulang dari rumah Kenzo dan Claudia Kami pergi ke mall terlebih dahulu. Sepertinya ada beberapa barang yang ingin dibeli oleh Mas Al untuk acara HUT satuan. Kira-kira apa sih? Entah lah, nggak mau kepo.


Sementara aku dan Alief, kami sibuk memilah dan memilih lipstik. Sibuk mencari mainan yang cocok untuk Alief supaya tidak memakai lipstik ku untuk menggambar, aku bisa rugi kalau gini terus. Selain itu, aku juga membeli beberapa potong pakaian bayi. Baju nya lucu-lucu dan menggemaskan. Maklum, ibu-ibu kalau lihat baju anak gini pasti ngebet kepingin beli. wkwk


Aku berpisah dengan Mas Al. Sudah hampir setengah jam, namun beliau tak kunjung di temukan. Perasaanku, tadi Mas Al sedang memilah dan memilih topi serta tas lelaki. Tapi saat aku cek, kenapa dia tidak ada? Kemana suami ku? Kok tiba-tiba hilang gini?


Perlahan aku mulai bergerak, tidak tinggal diam. Penasaran kemana Mas Al pergi nya. Tidak ada tanda-tanda nya pula.


Beberapa saat kemudian, aku menemukan sosok Mas Al tengah menggendong seorang bayi perempuan. Di samping Mas Al, ada seorang wanita cantik yang sedang mengais gendongan.


Siapa perempuan itu?


“Mas?” sapa ku pelan. Mas Al langsung membalikkan badan dan menatap semringah ke arah ku.


“Uh, kebetulan, Dek. Mas mau kenalin kamu sama seseorang. Dia adik letting Mas sewaktu AKMIL dulu. Amira namanya.” ujar Mas Al mengenalkan ku pada wanita bernama Amira ini. Sontak, wanita itu menjulurkan tangan nya ke arah ku.


Aku membalas nya dengan cepat, “Kinza, istri nya Mas Al.” ucap ku berusaha ramah. Wanita itu tersenyum.


“Amira, adik letting Mayor Al yang juga pernah naksir pada nya.” balas nya membuat wajah ku kuyu seketika. Demi apa ini orang berbicara macam tadi? Berani bener? Dan, maksudnya apa coba?!


“Huhs, ngawur kamu!” ucap Mas Al judes. Mbak Amira terkekeh pelan.


“Haha Maaf, Bang! Tapi jujur, gue pernah suka sama lo dulu!” ucap nya membongkar masa lalu. Sedang aku hanya di buat dongkol.


“Bukan nya lo naksir sama Satria? Suami lo sekarang kan? By the way, nugas dimana dia? Terus lo tinggal dimana? Masih jadi Kowad?” tanya Mas Al mulai mengulik urusan pribadi Mbak Amira. Aku di diemin macam kambing congek! Sumpah bikin kesel!


“Dia nugas di Malang, tapi bulan depan pindah ke Jakarta. Belum tau lebih jelas nya dimana. Masih rahasia katanya. Kalo gue pribadi, ya masih jadi Kowad dong. Ini lagi bebas dinas, kebetulan lagi di undang pesta di Jakarta. Ya, sekalian jalan-jalan aja.” balas Mbak Amira.


“Wah, gitu toh. Semangat terus lah, apalagi sekarang udah punya bayi. Lucu banget, ini Shakira.” bubuh Mas Al seraya mencubit gemas pipi Shakira, anak nya Mbak Amira.

__ADS_1


Tiba-tiba Alief nangis, mungkin nggak setuju karena Papa nya gendong anak orang lain. Bagus, Nak! Mama suka gaya mu!


“Aduh, anak Papa nangis. Nggak suka, ya, liat Papa gendong orang lain? Uh, cup cup cup sayang.” ucap nya membuat ku pingin salto. Ya iya dia nangis Mas, secara aku aja nggak suka kamu dekat-dekat dengan Mama nya Shakira. Lagi pula kenapa kamu se-akrab itu sih sama Mbak Amira? Ngobrol santai tanpa mempedulikan aku yang sudah dongkol. Aku disini nggak di anggap. Kaya patung!


__ADS_2