
Suasana restoran kepiting yang sekarang di kunjungi Kinza terbilang cukup ramai. Banyak dari mereka yang duduk menikmati makanan atau duduk menunggu makanan.
Kinza dan Al termasuk ke dalam orang yang menikmati makanan. Terlihat jelas bagaimana Kinza dengan lahap nya menyantap kepiting sambal asam manis.
Sedangkan Al masih sibuk memainkan ponsel. Kinza merasa risih saat melihat Al yang tak menggubris makanan nya sedikit pun.
"Kakak nggak suka kepiting?" tanya Kinza membuka suara. Al lantas menoleh.
"Suka." balas Al datar.
"Terus kenapa nggak di makan?" tanya Kinza lagi, Al terdiam sejenak seraya memperhatikan Kinza.
"Repot banget sih ngurusin saya? Udah deh, kamu nikmati aja makanan nya, saya masih ada urusan." bubuh Al judes.
"Urusan apa? Urusan chat sama mbak Putri?" tuduh Kinza yang seratus persen salah. Mana bisa chatting-an dengan Putri, lha wong nomor nya sudah di blokir oleh gadis itu. Bahkan semua akun sosmed nya pun sudah diblokir oleh Putri.
"Kamu tuh kenapa, sih. Saya udah bilang, kan, jangan urusin saya. Kamu nikmati aja makanan nya, gitu aja kok repot" timpal Al judes. Wajah nya terlihat tak santai.
Kinza diam sesaat, daripada mendapat tatapan tajam dari Al, Kinza memilih untuk melanjutkan menyantap makanan nya.
Setelah selesai makan, Kinza beranjak untuk pergi ke toilet. Sebelum pergi, gadis itu menatap Al yang sedang sibuk. Nggak usah izin deh, lagi sibuk kayaknya. Batin Kinza mendengus, gadis itu lantas benar-benar pergi ke toilet.
Saking fokus nya pada ponsel, Al bahkan sampai tidak menyadari bahwa Kinza pergi ke toilet. Setelah semua urusan nya selesai, Al menaruh ponsel nya di atas meja, lalu fokus nya beralih pada makanan yang sepertinya mulai dingin.
Al tak langsung makan, dia mengedarkan pandangan nya ke sekitar arah. Pria itu mencari sosok Kinza.
...---...
Kinza mencuci tangan nya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam toilet. Setelah dirasa cukup bersih, gadis itu mulai beranjak untuk masuk ke toilet wanita.
Beberapa menit kemudian Kinza sudah selesai, gadis itu keluar dari dalam toilet kemudian berniat untuk kembali menemui Al. Tapi, niat nya di urungkan seketika saat seorang pria bertubuh tegap menabrak tubuh Kinza.
"Sorry, saya nggak sengaja. Mbak tidak apa-apa, kan?" ujar pria itu seraya membantu Kinza berdiri.
Kinza mendongak, dia menatap wajah pria yang tadi menabrak nya. Dia terkejut bukan main, dada nya bergemuruh sesaat.
"Bang Arjuna?" imbuh Kinza pelan.
Arjuna tersenyum tipis, pria itu mengacak puncak kepala Kinza dengan gemas. "Maafkan Abang, ya, Abang benar-benar tidak lihat Kinza." seru Arjuna lembut.
Kinza tersenyum kecil, "Nggak apa-apa, kok." balas Kinza.
"Sama siapa ke sini?" tanya Arjuna.
"Kak Al." balas Kinza dengan cepat. Arjuna tersenyum tipis, "Ya udah, sana balik sama Al. Abang mau pulang, salam untuk suami mu." bubuh Arjuna, detik berikutnya pria itu beranjak meninggalkan Kinza.
Kinza terdiam sejenak, dia masih tak percaya akan bertemu Arjuna di sini. Dunia begitu terasa sempit, ya?
...---...
Kinza beranjak menemui Al di kursi yang tadi, sejenak dia memperhatikan Al yang lahap menikmati makanan nya. Senyum nya mengembang.
"Udah selesai ketemu sama mantan pacar? Ups, bukan mantan pacar, lebih tepat nya mantan calon pacar." sinis Al saat Kinza tiba di dekat nya. Wajah nya terlihat lempeng seusai mengatakan hal demikian.
Kinza terdiam sesaat, "Maksud Kakak apa, sih?" bingung Kinza.
Al tersenyum kecut, semacam orang yang sedang jijik, "Selain bodoh, kamu juga sok polos, ya? Ck ck ck banyak banget keahlian kamu." seloroh Al makin judes. Kinza semakin tak mengerti apa yang di maksud oleh Al. Dia benar-benar tidak mengerti.
"Arjuna, kamu ketemuan sama Arjuna, kan?" imbuh Al tak santai. Wajah nya terlihat semakin dingin.
Kinza mendelik, "Kakak ngintip aku, ya? Sejak kapan Kakak jadi kepo dan mengurusi urusan ku?" cecar Kinza. Dia baru paham apa yang di katakan Al barusan. Dan, dia baru paham apa yang menyebabkan sikap Al berubah menjadi double lebih dingin.
__ADS_1
Al gelagapan, tapi dia mencoba tenang kembali. Ekspresi yang ditampilkan pun kembali ke semula. Dingin dan terlihat cuek.
"Aku nggak ketemuan sama Bang Arjuna, kok. Tadi kebetulan aja ketemu karena dia nabrak aku sampai jatuh. Pas aku lihat wajahnya, ternyata dia Bang Arjuna." jujur Kinza apa adanya.
Perasaan Al sedikit lega, "Bisa kan kalau kemana-mana bilang dulu?" tanya Al cuek seraya menyantap kembali makanan nya.
Kinza mengangguk pelan, "Bisa kok, aku tadi nggak izin sebab nggak mau gangguin Kakak. Soalnya Kakak fokus banget sama handphone." bubuh Kinza pelan. Al lantas mendongak, dia menatap wajah Kinza lembut.
"Maaf." balas Al cepat.
"Nggak apa-apa, btw, aku mau tanya sesuatu boleh gak?" tanya Kinza. Al menoleh singkat, "Hmmm." balas Al seraya berdeham.
Kinza memutar bola matanya dengan malas. "Iya atau nggak?" ulang Kinza.
"Iya."
Kinza mengubah posisi duduk nya. Badan nya tegap bak orang yang sedang duduk siap. Sorot matanya tajam. Menatap Al dengan tatapan paling aneh.
Al menjadi bingung dibuat nya, tingkah Kinza menjadi aneh bak orang yang ingin mengintrogasi.
"Mau tanya apa sih? Gitu aja kok lama, harus gitu nanya pake ancang-ancang?" bingung Al judes. Kinza terkekeh pelan, duduk nya menjadi lebih santai.
"Bercanda kok, bercanda. Aku cuma mau tanya. Ehm, gimana yak, aku bingung mulai dari mana." ujar Kinza mulai gugup. Keringat dingin membanjiri pelipis gadis itu.
Al memutar bola matanya dengan malas, "Nggak usah muter-muter bisa gak sih?" tandas Al dingin. Nafsu makan nya tiba-tiba menghilang.
"Tapi, anu kak, itu-aduh, gimana yak. Aku, duh, Kakak mulai suka sama aku?" tanya Kinza cepat. Meskipun ragu, gadis itu berhasil melontarkan pertanyaan yang muncul di benak nya.
Seketika Al terdiam, pria itu mencerna baik-baik perkataan Kinza.
Kinza menunduk malu, dia tak berani menatap wajah Al, Kinza benar-benar gugup sekarang.
Detik berikutnya, justru sebuah tawa meledak. Al terbahak setelah mendengar pertanyaan Kinza. "Segitu percaya dirinya kamu. Apasih yang bikin kamu nanya kayak gitu ke saya?" balas Al berbalik tanya.
"Kinza liat saya." pinta Al datar.
Kinza mendongak lagi, entah kenapa atmosfer berubah menjadi canggung. "Kenapa kamu bisa nanya kayak gitu ke saya?" tanya Al dengan suara yang lembut sedikit.
"Karena Kakak udah bersikap baik sama aku. Kakak juga perhatian, ya, walaupun belum sepenuhnya. Aku pikir Kakak udah mulai suka sama aku." jujur Kinza sedikit gugup. Al terdiam sejenak, lalu kembali tertawa.
"Segitu yakin nya, ya, kamu. Padahal cuma perhatian kecil. Hei, denger, ya. Saya melakukan itu hanya di depan orang-orang asrama. Saya nggak mau nama saya jelek karena bersikap buruk sama kamu di hadapan mereka. Image saya nggak boleh turun sedikit pun. Ingat Kinza, pernikahan ini hanya settingan, nggak ada cinta diantara kita, dan nggak akan pernah ada!" simpul Al tajam. Begitu tajam sampai menusuk hati Kinza.
Kinza terdiam, mulutnya terasa kelu untuk berbicara. Matanya mulai memanas, mungkin sebentar lagi akan menangis.
"Di depan orang-orang, kita seperti pasangan yang saling mencintai. Tapi kalau berdua, ya seperti biasa, anggap tidak pernah saling kenal." sambung Al semakin tajam.
"Tapi kenapa Kakak bersikap lembut beberapa hari kemarin? Kakak baik sama aku, padahal nggak di depan orang-orang? Maaf kalau aku lancang bertanya seperti tadi, maaf karena aku terlalu percaya diri. Tapi apa salah nya kalau Kakak beneran suka sama aku? Apa itu salah?" lirih Kinza mulai berani.
Al menatap Kinza dengan tatapan dingin. "Ah, jadi perbuatan saya kemarin-kemarin bikin kamu baper? Maaf ya, saya nggak bermaksud."
Mata Kinza semakin memanas, bagaimana bisa Al bersikap seakan ini adalah permainan. Al benar-benar kejam.
Kinza menghela nafas nya panjang, pikiran nya kacau sekali. Dia gugup sekaligus malu. Pingin rasanya menghilang detik ini juga.
"Aduh, bahasan nya jauh banget. Sekarang kamu tunggu di mobil, saya mau bayar makanan dulu." pinta Al judes, pria itu lantas beranjak dari tempat duduk nya. Menyisakan Kinza yang masih terdiam.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Gadis itu buru-buru menghapus dan pergi menuju mobil.
...---...
Al berjalan menuju mobil, pikiran nya menerawang pada kejadian beberapa menit lalu. Dia juga tiba-tiba teringat perkataan Kenzo empat hari yang lalu. Al merasa bersalah, mungkin perkataan nya pada Kinza akan menyakiti hatinya. Tapi lagi-lagi gengsi nya terlalu tinggi.
__ADS_1
Jauh di lubuk hatinya, Al sangat peduli pada gadis itu. Dia berusaha semampunya untuk membuat Kinza bahagia. Tapi sekarang? Dengan mudah nya Al meruntuhkan kerja keras nya sendiri. Al gagal lagi, Tuhan.
Perlahan mobil Al melaju. Entah hanya perasaan Al saja, dia merasa Kinza menjadi pendiam. Biasanya Kinza selalu tak tahan untuk bertanya atau sekedar mengatakan hal-hal yang kurang penting. Al terdiam sejenak, rasa bersalah menyeruak ke dalam hatinya.
"Maafkan saya." imbuh Al tiba-tiba. Dia melirik sekilas ke arah Kinza, tapi lagi-lagi gadis itu tak bergeming sedikit pun.
"Kinza, kamu marah sama saya?" tanya Al dengan lembut.
Tak ada tanggapan dari Kinza, hal ini membuat Al semakin bringsut. "Kinza kamu denger saya, kan?" tanya Al dengan suara sedikit meninggi, pria itu juga memegang tangan Kinza.
Kinza tersentak, lamunan nya buyar seketika. "M-maaf, Kak, aku nggak dengar tadi." gugup Kinza.
Al menarik nafas nya gusar, pria itu melepas genggaman tangan nya pada tangan Kinza. "Kamu mikirin apa, sih?" tanya Al datar.
"Kakak." jujur Kinza polos. Al menoleh singkat.
"Kakak beneran nggak suka sama aku? Atau nggak ada rencana buat suka sama aku? Padahal aku udah suka sama Kakak." ujar Kinza sangat-sangat polos. Al tersentak, pria itu terdiam.
Kinza kembali menunduk, dia menggigit bibirnya. Rasa malu kembali datang menghampiri Kinza. "Nggak apa-apa, itu kan namanya jujur." batin Kinza mendengus.
"Kamu suka sama saya?" tanya Al memastikan. Kinza mengangguk cepat, tapi masih tak berani menatap wajah Al.
"Kalau Kakak nggak suka sama aku, dan nggak ada rencana suka sama aku, nggak apa-apa kok. Tapi aku minta sama kakak..." ujar Kinza menggantungkan kalimat terakhir nya.
"Apa?" tanya Al cepat.
"Berhenti bersikap baik sama aku, jangan ikut campur masalah aku, dan berhenti mengurusi kehidupan aku." sambung Kinza.
Al terdiam sejenak, gadis ini selalu bisa membuat Al takjub. "Mana mungkin saya bisa, Kinza. Kamu itu istri saya, tanggung jawab saya. Mana mungkin saya bisa bersikap seperti itu." bubuh Al tak suka. Dia menatap Kinza dingin, sorot matanya tajam.
Kinza semakin menunduk, dia takut ditatap demikian oleh Al.
"Kak, aku mohon, berhenti bersikap baik sama aku. Buat apa sih Kakak melakukan itu semua? Buat image Kakak? Aku rasa masalah itu nggak perlu dikhawatirkan, karena aku tau harus bersikap dan berbuat apa di depan orang-orang Asrama. Aku suka sama Kakak, dan aku nggak mau Kakak ngasih harapan palsu. Aku tau, yang Kakak inginkan. Tapi aku mohon Kak, berhenti bersikap baik sama aku." imbuh Kinza memelas.
"Apa ada cara lain supaya saya nggak melakukan itu semua?" tanya Al cepat, Kinza menatap Al dengan lekat.
"Ada."
"Apa?"
"Kakak harus ada rencana buat suka sama aku. Kalau nggak bisa, ya Kakak harus berhenti bersikap baik sama aku." tandas Kinza mantap.
"Bodo amatlah dibilang murahan, yang jelas aku nggak bisa tenang hidup dengan semua perhatian Kak Al. Aku gak bisa Tuhan, hiks." batin Kinza protes.
Lagi-lagi Al terdiam. "Oke." balas Al cepat membuat Kinza bingung.
"Oke apa?" bingung Kinza.
"Yang tadi."
"Apa, Kak?"
"Saya ada rencana buat suka sama kamu, jelas?!" simpul Al dingin membuat Kinza diam sesaat. Gadis itu masih mencerna baik-baik perkataan Al, dia tak percaya ini semua.
"Mak-maksud Kakak, Kakak suka sama aku?" tanya Kinza antusias. Perubahan di wajah nya drastis, wajah yang tadi ditekuk-tekuk sekarang sudah tidak lagi. Benar-benar gadis ajaib.
Al memutar bola matanya dengan malas, "Itu baru rencana, Kinza. Tolong otak mahasiswi mu di pakai!" tandas Al judes.
"Maaf, Kak. Tapi Kakak serius, kan? Kakak nggak bohong, kan?" heboh Kinza. Senyum nya merekah seketika.
"Hmm." balas Al berdeham.
__ADS_1
"Makasih banyak, Kak. Jangan judes-judes, ya, sama aku." imbuh Kinza, senyum di wajah Kinza tak pudar sedikit pun.
Al tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat oleh Kinza. "Saya akan berusaha membuat kamu bahagia, jujur saja Kinza, hati saya sedih melihat mu menangis. Saya tidak tau kapan rasa itu muncul. Ini memang aneh, tapi saya tidak tau apa yang terjadi pada diri saya sendiri. Yang jelas, tetaplah sabar menghadapi saya, sikap dan sifat dingin saya. Saya menyayangi mu, Kinza." batin Al hangat. Andai Kinza tau, pasti dia sangat senang. Tapi lagi-lagi Al menutupi nya.