EPOCH

EPOCH
Bab 27


__ADS_3

Hello hai-hai, jumpa lagi dengan aku. Si gadis yang dulunya manja dan sekarang pun masih manja, wk wk wk. Eh nggak ya, aku bercanda kok.


Sekarang aku sudah menjadi pribadi yang dewasa, ya, walaupun masih suka manja sama suami he he. Tapi boleh dong aku manja sama Mas Al? Boleh lah, kami kan sudah sah!


Aku udah bisa masak, berbenah dengan gesit juga lho. Uh, perubahan yang sangat aku nantikan banget. Sedikit-sedikit aku belajar masak sama Bunda dan Mama. Sama Mas Al juga sering kok, hi hi hi.


Udah ah balik ke topik, takut nya kalian ngiler baca coretan ku, hush!


Oke, hari ini aku sedang berada di salah satu butik yang ada di Jakarta. Mau apa sih kira-kira sampai ke butik segala? Huh, ini ide nya suami ku, Mas Al! Dia ngajak aku beli baju baru buat hadir ke acara Praspa saudara kembar ku, Kenzo. 


Padahal baju ku banyak, tapi nggak ada yang muat. Kenapa? Karena aku sedang hamil besar, tadaaaa!


Nggak usah kaget, aku punya suami kok. Ini asli hamil anak dia, bukan anak orang lain!


“Yang ini gimana, sayang? Ini bagus lho, terus ukuran nya juga besar.” ujar Mas Al untuk kesekian kalinya. Eh btw, sejak kapan sih Kinza merubah panggilan nya ke Al jadi Mas? Penasaran yee? Oke, bocoran dari aku.


Sejak awal kehamilan, Bunda menyuruh ku untuk merubah panggilan pada Mas Al. Katanya, biar lebih kelihatan mesra, apalagi aku mau punya anak. Sebenarnya aku ragu, sedikit canggung juga. Tapi lama-lama kebiasaan ko, aku malah jadi suka manggil ‘mas’ ke dia.


Ngomong-ngomong, tak terasa sudah empat tahun usia pernikahan ku dengan Mas Al. Tidak ada yang berubah kok, Mas Al dan aku masih tetap bersama. Justru semakin lengket apalagi sejak kehadiran baby boy yang masih dalam kandungan ku. Auw, makin harmonis ajalah hubungan ku dengan dia. Ya, meskipun ada hal-hal yang membuat kami berdebat kecil. Tapi it's okay, itulah namanya pernikahan.


Alhamdulillah, bersyukur kuliah ku sudah selesai. Beberapa bulan lalu aku sempat kerja di sebuah perusahaan penerbitan novel, tapi Mas Al menyuruh ku untuk berhenti. Sebab, kami memutuskan untuk menjalani program kehamilan. Tapi tak berhenti disitu, aku juga menulis karya-karya saat sedang bosan. Lumayan lah sudah ada yang diterbitkan dan aku kecipratan uang, wk wk wk.


Di usia yang ke-22 tahun, aku sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandungan ku masih delapan bulan lewat dua minggu. Harus menunggu sekitaran dua minggu sebelum dia dilahirkan kedunia. Oke, aku akan menjadi mamah muda wk wk wk.


“Sayang, kok diem aja sih?” pecah sebuah suara milik Mas Al. Duh, ganggu aja ih calon Papa muda ini. Aku kan lagi asik mendongeng, hush!


“Eh, iii–iya, coba sini aku lihat, sayang.” balas ku tergugu.


“Gimana, bagus kan, sayang?” tanya nya lagi. Aku lantas mengambil alih baju tersebut dari tangan Mas Al.


“Bagus, Mas. Sebentar ya, aku mau cobain dulu, siapa tau cocok di badan ku.” ujar ku beranjak dari kursi butik. Lantas langkah kaki ku menuju ke ruang ganti.


Oke juga nih pilihan Mas Al. Baju nya bagus dan pas di tubuh ku. Warna nya juga cocok banget, nggak terlalu tua, dan nggak terlalu muda. Cocok sih buat mamah muda macam aku.


Aku keluar dari ruang ganti dengan baju yang melekat di tubuh ku.


“Gimana, Mas?” tanya ku meminta pendapat Mas Al. Dia yang sedang memilih pakaian langsung menoleh ke arah ku. Mata hitam pekat nya langsung terpaku melihat tubuh ku yang terbalut baju pilihan nya. Terpesona ya Mas, ha ha ha.


“Bagus sayang, cocok banget di tubuh kamu. Cantik he he he. Jadi gimana, mau ambil yang itu aja?” tanya Mas Al lembut. Aku mengangguk singkat setelah itu mengganti baju ku kembali.


Setelah beres memilah-memilih baju, akhirnya aku dan Mas Al memutuskan untuk pulang. Eh, katanya sih takut aku capek. Padahal aku seneng di ajak jalan, apalagi belanja macam ini. Jiwa sosialita ku meronta he he he. Tapi nggak apa-apalah, baju yang aku beli nggak cuma satu, tapi banyak banget.


“Beli kelapa muda dulu ya, Mas. Aku lagi kepingin itu.” ujar ku sebelum akhirnya mobil kami melaju. Mas Al yang selesai memasang sabuk pengaman nya langsung menoleh ke arah ku.


“Iya sayang, di pertigaan jalan kita beli, ya.” ujar nya super lembut sambil mengelus perut buncit ku. Aku tersenyum, seneng banget ih rasanya.


Mobil kami mulai melaju, beberapa meter dari butik. Terdapat penjual kelapa muda, sontak Mas Al menginjak pedal rem.


“Kamu tunggu disini, ya, Mas aja yang turun, kamu nggak usah.” bubuh nya seraya mengeluarkan uang seratus ribuan dari dalam dompet. Aku manut ajalah, lagi pula cuaca emang lagi panas gini. Mending aku diam di mobil dan duduk manis menunggu si babang membeli kelapa.


Eh btw, gimana sih awal kehamilan Kinza? Biasanya bumil itu rewel lho pada saat awal-awal kehamilan. Yap, aku juga sama kok. Di awal kehamilan, aku mengidam jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Hampir setiap minggu kami pergi kesana, bulak-balik Bogor–Jakarta.


Memasuki bulan ke tiga, aku suka belanja mainan dan baju-baju bayi. Untungnya suami ku orang kaya, duit nya nggak bakalan habis kalo cuma dibeliin gituan, eh sombong nya akuuuu, keplak! Tapi tak berlangsung lama, cuma sekitar dua mingguan habis itu berhenti. Tapi kalian tau? Barang-barang yang aku beli sangat lah buanyak pakai banget. Sampai tiga keranjang besar. Ck ck ck, boros kali aku, ya.

__ADS_1


Di bulan ke empat sampai sekarang, alhamdulillah sudah tidak mengidam aneh-aneh, paling cuma kepingin makan kepiting, martabak keju, dan kelapa muda macam sekarang.


Duh, ngomong-ngomong Mas Al lama sekali, ya. Dia lagi apa sih sebenarnya?


Ku tengok ke samping, dia sedang duduk sambil menunggu Abang penjual mengupas kelapa hingga tersisa sebagian kulit nya. Dia duduk manis sambil terus memperhatikan Abang penjual, fokus banget kayak nya Mas!


Selang beberapa menit, Mas Al sudah kembali ke dalam mobil sambil menenteng dua buah kelapa muda kesukaan ku.


“...Maaf lama sayang.” ujar Mas Al tetiba. Aku mengangguk paham, lagi pula aku tau kok.


“Iya nggak apa-apa, Mas, ya udah yuk pulang. Gak sabar pengin maem ini.” bubuh ku sambil menunjuk dua buah kelapa muda tersebut.


“Siaaaap, laksanakan!”


...---...


Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


Fyuh, lega sekali rasanya. Aku benar-benar bersyukur sekali atas semua yang ku punya. Orang tua, istri, jabatan yang tinggi, serta calon bayi yang sekarang masih ada di perut istriku, Kinza.


Empat tahun kami menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh lika-liku, suka dan duka, serta rasa-rasa yang lain nya. Hidup ku menjadi lebih berwarna, udah kayak pelangi. Apalagi sejak kehadiran calon bayi kami yang masih berada di dalam kandungan Kinza. Uuuh, rasa-rasanya kebahagiaan kami meningkat pesat.


Usia ku sudah tiga puluh empat tahun, dan sebentar lagi akan menjadi ayah dari bayi yang di kandung Kinza. Di usia ini pula, pangkat ku sudah naik menjadi mayor. Alhamdulillah, senang sekali rasanya aku. Bersyukur sangat-sangat bersyukur.


Siang ini kami baru saja menyelesaikan kegiatan berbelanja pakaian. Niat utamanya sih membelikan baju untuk pergi ke acara Praspa Kenzo kakak ipar sekaligus adik buat ku. Tapi bukan manusia namanya kalau tidak punya nafsu. Yap, aku dan istri ku malah membeli baju lain padahal baju kami sudah banyak, wk wk wk.


Oh iya, ngomong-ngomong soal Kenzo. Alhamdulillah dia sudah menyelesaikan pendidikan nya di Akmil, Magelang. Tentu suatu kebanggan juga buat ku, ya karena rerata keluarga kami adalah angkatan. Termasuk juga Kenzo yang sebentar lagi akan di lantik.


Maka dari itu, hari ini kami memutuskan untuk membeli baju baru. Maklum lah, istri ku sedang hamil. Baju-baju dia mana ada yang pas di tubuhnya dengan perut yang kian membuncit.


Sembari berucap terima kasih, senyum di wajah nya mengembang bak adonan bolu. Aku lantas mencium tangan nya dengan lembut.


“Makasih juga ya, sayang. Selama ini kamu selalu sabar menghadapi sikap ku yang nyeleneh ini, kadang judes, galak, dan nggak romantis.” balas ku disela kecupan bibirku pada tangan nya.


Dia mesem, pipinya merah merona membuat ku kepingin cium. Ah, dasar aku ini.


“Iya, mas, nggak apa-apa kok. Harusnya aku yang bilang makasih ke kamu. Kamu juga sudah sabar menghadapi aku, mendidik aku menjadi pribadi yang lebih dewasa. Aku nggak manja lagi, nggak cengeng lagi, dan aku jadi manusia yang lebih telaten.” ujar nya manis.


Eh, emang bener sih. Dia berubah menjadi seperti itu karena berkat aku juga. Bukan sombong atau tinggi hati, emang kenyataan nya macam itu, kok.


Kinza memang banyak berubah, gadis yang dulu manja, sekarang sudah bisa masak enak, berbenah dengan rapih dan cekatan, nggak gampang nangis. Ya pokoknya dia jadi manusia yang tahan banting dan multitalent deh. Salut aku sama kerja keras nya kepingin berubah, apalagi saat belajar masak. Melihatnya berjuang macam itu membuat ku semakin dan semakin jatuh hati padanya.


“Turun yuk, mas, aku pingin nyobain iniii...” buyar nya membuat aku terkejut. Kebanyakan mendongeng jadi gini kan aku.


“...Yuk sayang, sini kelapa nya mas yang bawain.”


Kami lantas turun dari mobil, tak lupa aku bukakan pintu untuk Kinza. Kasian dia, kemana-mana bawa bayi di dalam perut. Apalagi semakin lama semakin membesar. Huft, kadang aku merasa tak tega. Kepingin rasanya gantiin dia, biar aku ajalah yang hamil. Tapi gimana dong, aku bukan perempuan!


Kinza duduk di bangku kayu depan rumah, sementara aku mencari pisau untuk membuka kelapa muda kesukaan Kinza.


“Tadaaa, kelapa muda sudah siap untuk dinikmati..” ujar ku setelah mencungkil sedikit bagian kelapa muda tersebut.


Dia kegirangan, dengan cepat mengambil alih kelapa tersebut dari tangan ku. Serta-merta mulai menikmati nya.

__ADS_1


“Pelan-pelan sayang, semua nya buat kamu. Nggak akan di ambil orang juga, kok.” tekan ku lembut. Kinza nyengir malu.


“He he he maaf ya, mas, abisnya ini enak banget.” balasnya menahan malu. It's okay lah buat ku, lagi pula aku nggak apa-apa kok.


“Iya sayang..”


...---...


“...Kenapa aku nggak dibangunin dari tadi sih, mas”


“...Ya ampun, mana belum setrika baju.”


“... Udah jam berapa ini, bisa telat kita mas.”


“...Eh baju ku kemana ini, kok nggak ada di lemari. Sayang, mana ini baju ku?”


Bisa kalian tebak apa yang terjadi pada kami?telah kah? Sebenarnya nggak sih. Aku hanya sengaja membuat dia bangun siang, tenang aja, semua nya sudah siap tanpa Kinza ketahui.


Omelan-omelan yang keluar dari mulut nya membuat ku kepingin ngakak. Ya jelas baju nggak ada di lemari, kan aku gantung di belakang pintu, wk wk wk.


Melihat dia gelagapan seru juga. Tapi nggak seru saat melihat perut nya yang besar, kasian harus jalan kesana-kemari. Udahlah, aku menyudahi saja.


“Disini sayang, kamu tinggal mandi aja, ya. Semua nya sudah mas siapkan.” ujar ku seraya mendekati nya.


Dia cemberut, kayaknya marah sih ini. Ngambek gitulah, tapi tolong, sumpah dia lucu pakai banget!


“Mas apa-apaan sih, suka ya bikin aku panik pagi-pagi gini?”


“Nggak lihat aku jalan kesusahan sebab ada bayi ini?”


“Mas tega banget sih.”


Racau Kinza sambil terisak. Ya ampun, aku salah ya? Salah banget gitu? Iyalah jelas, bisa-bisa nya aku bercanda sampai segitunya.


Kinza terduduk di atas ranjang, kedua tangan nya menutupi wajah yang dibanjiri air mata. Alamak, aku nggak enak hati sumpah.


“Sayang, hei, mas minta maaf ya? Niat mas nggak gitu kok.” ujar ku lembut sambil mendekap Kinza kedalam pelukan ku.


“Terus apa? Suka banget sih ngerjain istri nya. Bikin dia nangis sama tingkah konyol mu.” ujar nya semakin merajuk.


“Mas minta maaf ya, sayang, tolong maafkan mas. Mas janji nggak akan mengulangi nya lagi. Jangan nangis lagi,ya sayang, mas betul-betul minta maaf.”


“...Janji ya, Mas, jangan bikin aku panik lagi. Jangan kerjain aku kayak gitu lagi, aku nggak suka!”


Aku mengangguk sambil terus mengusap punggung nya.


“Iya sayang, mas janji, udah ya jangan nangis. Sekarang kita bersiap buat ke acara nya Kenzo. Jangan sampai telat, ya.”


Dia mengangguk pasrah, setelah itu melepas pelukan ku dengan perlahan.


“Kamu mandi dulu ya, biar mas yang siapin sarapan nya. Oh iya, baju nya mas gantung di balik pintu, sudah rapih disetrika.” ujar ku lembut.


“Iya mas, makasih banyak, ya.” ujar nya seraya berjalan ke arah kamar mandi sambil menenteng handuk pink di tangan nya.

__ADS_1


Duh, merasa bersalah banget deh aku. Maafin mas, ya, Kinza?


__ADS_2