EPOCH

EPOCH
Bab 56


__ADS_3

Althafariz Ramaditya Dirgantara POV


Lampu di depan ruang operasi masih menyala. Tentu hal itu mengisyaratkan bahwa proses operasi masih berjalan.


Kami sekeluarga masih diam membungkam. Tak lupa aku terus memanjatkan doa-doa demi keselamatan Kinza. Memohon pada yang kuasa agar semua nya berjalan lancar dan kembali membaik.


Dari kejauhan, aku melihat Amira dan Satria yang sedang menggendong Alief datang mendekat. Air wajah Amira terlihat kacau dengan mata yang basah dan bengkak. Aku tahu, Amira pasti habis menangis.


Alief langsung diambil alih oleh Bunda, aku tahu dia juga mencemaskan cucu nya. “Terima kasih sudah menjaga Alief.” ucap Bunda sembari menimang cucu nya.


“Sama-sama, Tante.” balas Satria dengan ramah.


“Alhamdulillah Alief nggak kenapa-kenapa. Sehat-sehat, ya, Lek.” ucap ku bersyukur sembari menciumi Alief. Jujur, aku sempat merasa benar-benar cemas pada Alief. Pasalnya, dia masih berada di gendongan Kinza saat istriku menusukkan pisau ke perut nya.


“Pa - pa da - da.” (Papa, dedek) ucap Alief sambil mengusap wajah ku. Dia nampak senang. Wajar, kami sempat terpisahkan selama tiga hari.


“Izin bapak Danramil, kedatangan kami ke sini ingin meminta maaf atas semua keributan yang terjadi di rumah bapak danramil. Saya mewakili nama istri saya, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada bapak mayor dan keluarga atas kejadian yang tidak mengenakkan ini.” ujar Kapten Satria dengan tegas. Sontak aku menggeleng cepat.


“Bukan, ini semua bukan salah istri mu, Danki. Ini hanyalah kesalahpahaman. Jadi, tidak usah meminta maaf. Karena ini bukanlah kesalahan dari istri mu.” balas ku dengan cepat. Sontak Amira menatap ku.


“T - tapi, Bang. I - ini..”


“Sudahlah, Nduk. Tidak usah menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu. Yang dikatakan oleh Al itu benar, kejadian ini hanyalah suatu kesalahpahaman. Jadi, tidak usah meminta maaf dan jangan menyalahkan diri sendiri." ucap Mama mertuaku memotong ucapan Amira. Amira terdiam.


“B - baik, Tante. Maaf sebelumnya.” imbuh Amira.


“Nggak apa-apa, Nduk. Ini bukanlah salah mu, jangan salahkan diri mu lagi, ya.”


“S - siap, Tante.”


“Ma - ma a - tit." (Mama sakit) bubuh Alief membuat ku langsung menatap pada nya. Hati ku sakit.


“Iya, Nak, Mama sedang sakit. Alief doakan, ya, supaya Mama cepat sembuh, doakan Mama supaya selamat dan sehat selalu.” ucap ku seraya mengambil alih tubuh Alief dari gendongan Bunda.


Semua nya nampak iba menatap ku dan juga Alief. “Yang sabar, ya, Lek. Ini ujian buat mu dan Kinza. Semoga, Allah selalu memudahkan setiap urusan rumah tangga kalian.” Bunda memeluk tubuh ku.


“Terima kasih, Bunda. Al percaya itu.”


Tak berapa lama, lampu di depan ruang operasi mulai padam. Dokter dokter keluar dari ruangan tersebut. Juga, ku lihat brangkar rumah sakit yang di atas nya ada Kinza sedang terbaring lemah.


“Alhamdulillah operasi nya lancar dan sukses. Ibu Kinza sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap biasa. Usahakan jangan terlalu banyak gerak, sebab luka dan jahitan nya masih basah.” ucap Dokter dengan ramah.


“ Jangan di beri makan dan minuman sebelum Ibu Kinza buang angin. Operasi ini sama seperti operasi usus buntu pada umumnya. Prosedur pengobatan nya pun sama. Nah, ini resep obat nya. Bisa bapak beli langsung di apotek terdekat.” sambung Dokter itu sembari menjelaskan pantangan-pantangan dan tindakan yang boleh atau tidak boleh dikerjakan oleh Kinza. Aku mengangguk cepat.


“Terima kasih banyak, Dokter.” aku berterima kasih.


“Sama-sama, Pak. Kalau begitu, saya permisi.”


“Silakan, Sus.” bubuh dokter itu pada empat orang suster dan satu mantri. Petugas kesehatan itu sontak bergegas melaksanakan perintah. Membawa brangkar yang diatasnya terdapat Kinza. Dia terbaring lemah dengan infus dan selang oksigen yang terpasang di tangan dan hidung Kinza.


Aku merinding seketika. Melihat Kinza seperti ini membuat ku teringat pada kecelakaan beberapa tahun lalu. Dan benar, itu memang sakit sekali. Walaupun Kinza tak separah yang aku alami, tapi percayalah. Kalau sudah masuk ruang operasi, dampak setelah nya benar-benar terasa nyeuri.


“Saya permisi, ya, Pa, Bu. Insyaallah sebentar lagi Ibu Kinza akan segera sadar.” Dokter itu akhirnya pamit. Berganti dengan kami sekeluarga yang ingin tau bagaimana kondisi Kinza.


Bunda terlihat cemas. Tak bisa di tutupi. Sebab, sedari tadi pandangan nya tak beralih sedikitpun dari Kinza. Mungkin hati nya teriris sebab, melihat kondisi menantu yang sudah di anggap sebagai anak nya sendiri terbaring lemah tak berdaya.

__ADS_1


Pun dengan ku. Mata ku tak beralih sedikitpun dari wajah cantik nya yang pucat. Mata nya bengkak dan basah, hidung nya memerah. Bibir nya pucat dan sedikit kering.


Perlahan, kelopak matanya terbuka. Mata coklat terang nya terlihat sedikit demi sedikit. Istriku masih menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatan nya.


Kami yang ada di dalam ruangan itu sontak terkejut. Semua pandangan tertuju pada istri ku.


“ A - Alief dimana?” tanya nya dengan suara lemah. Sontak Bunda yang sedang menggendong Alief langsung maju ke dekat Kinza.


“Ini, Nduk. Alief ada sama Bunda. Kamu nggak usah khawatir, ya, Nduk. Alief baik-baik saja.” ucap Bunda sembari menimang Alief. Kinza tersenyum lemah.


“Bunda kapan datang?” tanya Kinza penasaran.


“Tadi siang, Nduk. Mungkin sekitar jam sebelas siang. Bunda lupa, nggak lihat jam karena terlalu cemas. Takut kamu kenapa-kenapa, nduk.” balas Bunda sembari mengelus rambut Kinza.


“Bunda, Kinza minta maaf, ya. Maafkan Kinza karena sudah membuat Bunda khawatir. Apalagi Ayah dan Bunda jauh-jauh datang dari Yogyakarta ke Jakarta. Maaf, ya, Bunda.” bubuh Kinza tak enak hati. Dia nampak merasa bersalah karena nya.


“Suut, nggak boleh bilang gitu, nduk. Bunda nggak apa-apa kok. Nggak masalah buat Bunda. Yang terpenting kamu selamat, kamu sehat!” Bunda mencium kening Kinza.


“Terima kasih banyak, Bunda. Maaf sekali lagi.”


“Sama-sama, sayang. Udah, ya, jangan bilang gitu lagi. Bunda nggak apa-apa, yang penting nduk sehat!”


“S - siap, Bunda.” Kinza berganti menatap ku. Lalu dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Mas Al dan Mbak Amira bisa keluar sekarang? Aku lagi nggak mau lihat mereka, Ma.” ucap Kinza dingin. Aku tertegun sesaat, namun kembali seperti biasa.


Mama dan Bunda langsung menatap ku iba. Aku tau, mereka pasti kasihan padaku. Aku paham, aku mengerti pasti Kinza masih merasa marah pada ku dan juga pada Amira.


“Al?” panggil Mama dengan suara sedu. Aku lantas mengangguk cepat. “Nggak apa-apa, Mas ngerti kok, Dek. Mas akan keluar sekarang juga.”


Pun dengan Amira dan Satria. Mereka ikut keluar bersama ku. “Bang, ini bagaimana? Sepertinya Mbak Kinza marah besar pada kita. Gue takut, Bang.” ucap Amira ketakutan. Dia kembali menangis sembari memeluk tubuh tegap milik Kapten Satria.


“Nggak, lu nggak usah takut. Kinza masih tidak enak hati. Makanya dia menghindari kita. Gue bisa atasi. Lu tenang aja, nggak usah khawatir.” ucap ku nampak tenang.


“Mendingan lu balik aja. Gue nggak apa-apa, kok. Gue yakin setelah Kinza membaik. Dia akan bisa menerima semua penjelasan dari gue. Udah, lu tenang aja." sambung ku tak ingin membuat orang lain merasa bersalah.


“S - siap, Bang.”


“Kami permisi, Mayor. Izin mendahului, Assalamualaikum..”


“Wa'alaikum sallam, ya, silakan!”


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


Aku terbangun dengan di kelilingi orang-orang terkasih. Ada Bunda, Ayah mertua, Mama, Papa, Mas Al dan Alief. Tapi, tak ku sangka ada Mbak Amira dan suami nya juga.


Malas memikirkan Mas Al dan Mbak Amira. Hati dan tubuh ku terlanjur sakit. Iya sih, memang ini semua karena ulah ku sendiri. Menusukkan pisau ke perut tanpa memikirkan dampak nya. Aku salah. Tapi, waktu aku melakukan nya, aku tak sadar sedikit pun. Setan telah menguasai diri ku sepenuh nya.


Aku tak memikirkan siapa-siapa, tidak memikirkan apa-apa. Seperti tersihir, bahkan Alief pun masih ada di dalam gendongan ku. Ya Allah, Alief. Dimana dia?


“A - Alief dimana?” tanya ku dengan suara super lemah. Perut bagian bawah ku masih tak terasa apa-apa. Kaku.


“Ini, Nduk. Alief ada sama Bunda. Kamu nggak usah khawatir, ya, Nduk. Alief baik-baik saja.” ucap Bunda sembari menimang Alief. Bayi gimbul ku terlihat baik-baik saja. Dia tidak terluka sama sekali.

__ADS_1


Aku bersyukur dalam hati.


“Bunda kapan datang?” tanya ku penasaran kendati aku merasa bersalah. Pasti Bunda dan Ayah terburu untuk bisa datang ke Jakarta. Pasti di perjalanan mereka mencemaskan dan mengkhawatirkan aku. Maaf, Bunda, Ayah, aku sudah membuat hati kalian tidak tenang


“Tadi siang, nduk. Mungkin sekitar jam sebelas siang. Bunda lupa, nggak lihat jam karena terlalu cemas. Takut kamu kenapa-kenapa, nduk.” balas Bunda sembari mengelus rambut ku dengan lembut.


“Bunda, Kinza minta maaf, ya. Maafkan Kinza karena sudah membuat Bunda khawatir. Apalagi Ayah dan Bunda jauh-jauh datang dari Yogyakarta ke Jakarta. Maaf, ya, Bunda.” bubuh ku tak enak hati. Aku benar-benar merasa bersalah sekarang.


“Suut, nggak boleh bilang gitu, nduk. Bunda nggak apa-apa kok. Nggak masalah buat Bunda. Yang terpenting kamu selamat, kamu sehat!” Bunda mencium kening ku. Hangat.


“Terima kasih banyak, Bunda. Maaf sekali lagi.”


“Sama-sama, sayang. Udah, ya, jangan bilang gitu lagi. Bunda nggak apa-apa, yang penting nduk sehat!”


“S - siap, Bunda.” Aku berganti menatap wajah Mas Al yang terlihat sangat khawatir. Aku tau, dia pasti mencemaskan ku. Sebab, dia sendiri yang menyaksikan bagaimana pisau tajam itu menembus ke dalam perut ku.


Padangan ku beralih. “Mas Al dan Mbak Amira bisa keluar sekarang? Aku lagi nggak mau lihat mereka, Ma.” ucap ku dingin sembari mengadukan nya pada Mama.


Mama dan Bunda langsung menatap ke arah Mas dengan iba. Bukan maksud ku menyakiti hati nya. Tapi hati ku pun sakit karenanya.


Melihat wajah Mbak Amira dan Mas Al, aku langsung teringat bagaimana tubuh tegap suami ku menimpa tubuh wanita lain, tubuh Mbak Amira. Sakit rasanya!


“Al?” panggil Mama dengan suara sedu. Mas Al antas mengangguk cepat, seperti nya dia mengerti. “Nggak apa-apa, Mas ngerti kok, Dek. Mas akan keluar sekarang juga.” ucap Mas Al sedu.


“Sehat-sehat, ya, Dek. Semoga lekas membaik. Kalau ada apa-apa, bisa panggil Mas di luar. I love you.” ucap nya lirih sembari pergi meninggalkan orang-orang yang masih diam membisu. Termasuk aku.


Lalu, ruangan berubah menjadi sunyi. “Nduk, nggak baik bicara sepeti itu. Al itu suami mu, dosa nduk hukum nya. Apalagi sampai memalingkan wajah seperti itu. Dosa besar, nduk.” Papa memberikan wejangan. Begitu menusuk ke dalam hati ku.


“Al itu mencemaskan keadaan mu. Sedari tadi dia setia berada di sini, menunggu kamu sampai proses operasi nya selesai. Dia menangis, menyesali semua peristiwa yang terjadi padahal itu semua bukanlah kesalahan nya. Ini salah paham, nduk. Ini tidak benar. Semua yang kamu pikirkan itu salah!” tegas Papa terdengar kecewa pada tindakan ku. Aku terdiam.


“Pa, jangan di marahi dulu Kinza nya. Dia perlu istirahat. Sudahlah, masalah ini kita bahas nanti saja. Kita tunggu dulu sampai Kinza sembuh, jangan terlalu terburu.” balas Mama sembari mengusap punggung Papa. Air wajah Papa sudah tidak bisa aku gambarkan. Dia kecut.


“Tapi, Ma. Nggak enak sama besan, dia jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk melihat anak nya di usir. Papa malu.” tegas Papa sambil mengurut kening nya. Dia pusing.


“Tidak apa-apa, pak Zein. Kami mengerti. Saya dan istri memaklumi nya.” balas Ayah dengan sangat lembut. Aku malah merasa bersalah.


“K - kin - za, minta maaf Bu - bun - da, A - ayah.” ucap ku terbata sembari menitikkan air mata. Bunda lalu menyentuh tangan ku.


“Nggak apa-apa, nduk. Bunda nggak apa-apa. Jangan nangis, ya, nduk. Ini juga pelajaran buat Al, supaya dia bisa menjadi lebih tegas dan bertanggung jawab. Bunda yang minta maaf, karena kelakuan Al. Kamu jadi tersakiti seperti ini.” Bunda mencium tangan ku. Dia ikut menangis.


“Nggak, Bunda. Ini semua salah Kinza. Semua nya salah Kinza, Bunda. Bahkan Kinza terluka pun, ini semua ulah Kinza sendiri. Bukan salah Mas Al.” vonis ku tegas. Aku memang salah. Tapi aku juga tersakiti.


“Sudah, nduk, sudah jangan menangis. Kamu istirahat saja, ya, nduk. Kami semua akan menjaga mu. Sudah, jangan pikirkan masalah ini dulu. Mama mu benar, kita selesaikan saat kondisi tubuh mu sudah membaik.”


“S - siap, Bunda. Bunda nggak marah 'kan? Bunda nggak marah 'kan sama Kinza?” Bunda menggeleng cepat.


“Tidak, Bunda sama sekali tidak marah. Bunda sayang sama kamu, nduk. Sehat-sehat, ya, sayang.”


“Terima kasih, Bunda. Kinza janji, Kinza akan segera sembuh. Kinza janji masalah ini akan cepat-cepat berakhir. Doakan Kinza, ya, Bunda.”


“Siap, Nduk. Bunda selalu mendoakan kamu dan kebaikan rumah tangga kalian. Bagi Bunda, melihat kamu dan Al rukun adalah suatu kebahagiaan yang tidak terhingga. Bunda sayang kalian.”


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Bersyukur mendapatkan mertua yang hati nya sebaik malaikat. Aku bersyukur dikelilingi orang-orang yang sangat sayang dan peduli pada keluarga ku.


“Terima kasih, Ya Allah.”

__ADS_1


Bantu Vote ya temas. Kalau menang, lumayan buat jajan hehe😊


__ADS_2