EPOCH

EPOCH
Bab 50


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Aku izin pamit untuk menyusui Alief. Padahal kenyataannya bukan itu. Aku lebih memilih pergi dari sana, ketimbang harus diam menyimak percakapan yang tidak aku mengerti sama sekali. Aku dongkol, merasa tersingkirkan di sini. Jadi, menghindar adalah jalan yang terbaik.


Alief sudah bobo dengan nyenyak. Wajah nya damai dan hembusan nafasnya teratur. Dia begitu menikmati tidur nya. Aku ingin menyusul, namun pikiran ku terbagi kemana-mana. Rasa kantuk tidak ada yang bermunculan.


Samar-samar, ku dengar obrolan mereka terhenti. Terdengar juga suara pintu ditutup dan dikunci oleh Mas Al. Aku merasa lega, tapi ada sedikit perasaan marah di hati ku. Entah kenapa aku kesal di diamkan seperti itu.


“Lho, Dek. Kok ada di sini? Kenapa nggak nyusul Mas lagi di depan?” tanya Mas Al sambil duduk di samping ku.


“Buat apa aku ada di sana kalau cuma dijadikan kambing congek. Kalian asik ngobrol bertiga, ngomongin masa-masa di Akmil lah, ngomongin zaman-zaman pendidikan dulu lah, ngomongin kisah percintaan kalian lah. Terus aku harus apa, Mas? Diam menyimak obrolan kalian yang tidak aku pahami, gitu? Aku nggak bisa didiamkan Mas! Aku nggak mau hanya jadi pajangan kamu saja.” ucap ku sambil menitikkan air mata. Aduh, dasar Kinza cengeng, bisa nya cuma nangis dan nangis, huhu.


Mas Al memegang bahuku. Dia mengarahkan aku untuk memandang wajahnya. "Mas minta maaf ya, Dek? Mas nggak bermaksud seperti itu. Maaf kalau sikap Mas ini membuat hatimu sakit. Tapi jujur, yang kami bicarakan hanyalah seputar pendidikan saja. Saat Amira menceritakan tentang kisah percintaannya dengan Satria, Mas juga diam saja. Cuma pura-pura ketawa padahal Mas sendiri nggak ngerti. Tolong maafkan Mas, ya? Mas benar-benar nggak bermaksud mendiamkan kamu kayak gini.” Mas Al menjelaskan semua nya dengan raut wajah yang amat bersalah. Aku tau, pasti dia sudah jujur. Tapi, kenapa rasa nya tetap berbekas ya?


“Maaf, Mas, aku tetap merasa tidak enak. Aku pengen sendiri dulu. Mas bisa keluar dari kamar Alief sekarang.” ucap ku sembari melepas tangan Mas Al yang berada di bahu ku. Dia hanya pasrah dan terlihat menghela nafasnya.


“Jangan lama-lama, ya, Dek. Mas gak bisa sendirian, apalagi dengan perasaan bersalah yang terus menghantui pikiran Mas. Sekali lagi, Mas minta maaf sama kamu.” ucap Mas Al seraya pergi dari kamar Alief. Aku menangis di tempat. Tiba-tiba rasa bersalah muncul di hati ku.


Kenapa dada ku terasa sesak, ya? Kok aku tega sih mengusir Mas Al kayak gitu. Aku berdosa benget, hiks.


Ku tinggalkan Alief yang sedang tertidur pulas. Dengan sesegera mungkin aku menghampiri Mas Al yang sedang berjalan ke arah kamar kami. “Mas?!” panggil ku sambil berhenti berjalan. Mas Al juga menghentikan langkah nya.


Dia membalikkan tubuh nya, “ada apa, Dek?” tanya Mas Al membuat ku semakin merasa bersalah. Uh, pengen di peluk.


“Mas, aku minta maaf. Nggak seharusnya aku ngusir kamu kayak tadi. Jangan marah, ya, Mas?” ucap ku sambil berhamburan memeluk tubuh tegap nya. Sontak, Mas Al mendekap ku dengan terburu. Kami sama-sama menangis menyatukan penyesalan nya masing-masing.


“Mas sangat mencintai mu, Dek. Maafkan Mas karena telah menyakiti hati mu. Mas benar-benar tidak bermaksud seperti itu.” ucap nya di sela-sela tangisan.


Ya Tuhan, beruntung sekali mendapatkan suami seperti Mas Al. Menangisi kesalahannya karena telah membuat aku merasa sakit hati. Zaman sekarang ini sulit menemukan orang yang benar-benar tulus mencintai kita, iya bukan?


“Aku juga sangat mencintai kamu, Mas. Aku benar-benar mencintai kamu. Maafkan juga atas semua kesalahan dan keegoisan yang telah aku lakukan. Sungguh, aku menyesali nya.” ucap ku sembari memeluk nya semakin kuat. Aku benar-benar nyaman di posisi ini.


“Mas yang salah, Dek. Wajar kalau kamu bersikap demikian.” balas Mas Al dengan lembut. Satu tangan nya mengelus rambut ku dan satu nya tetap memeluk ku.


“Tapi, Mas aku yan-ftt...” kata-kata ku terpotong karena sebuah ciuman mendarat mulus di bibir ku. Bibir yang hangat dan lembut. Bibir yang paling ku sukai. Dia, ******* bibir ku dengan begitu lembut. Tidak tinggal diam, aku membalas ciuman nya. Menyatukan bibir ke bibir, mulut ke mulut, gigi ke gigi. Kamu berciuman lama dan lengket.


Ciuman kami terlepas saat nafas ini mulai habis. Mas Al lalu menatap ku dengan lembut. Sesekali dia mencium hidung dan juga kening ku. Aku suka adegan ini.


Begitu di rasa cukup menghirup oksigen, Mas Al kembali menjalankan aksi nya. Si dia mencium ku dengan rakus seperti tak ada hari esok. Memanjakan aku dengan setiap kecupan yang lembut. Rasa nya selalu sama, seperti saat pertama kali dia mencium ku. Tapi anehnya, aku selalu suka ciuman itu. Hangat, dan mendebarkan.

__ADS_1


“Mas, udah. Aku ngantuk.” ucap ku usil di sela-sela ciuman. Aksinya terhenti sejenak. Wajah nya nampak frustrasi.


“Dek, kepalang tanggung. Si dia sudah bangun.” bubuh Mas Al membuat aku merinding seketika. Oh no, jangan itu dulu. Aku belum siap hamil.


“Tapi, Mas. Aku belum siap hamil. Aku belum mau nambah anak. Kalau keluar di dalam, nggak enak.” tolak ku beralasan sama dengan sebelumnya. Bukan maksud ingin menolah gairah birahinya, namun aku terlalu takut kalau janin akan tumbuh di rahim ku. Sungguh, aku belum niat hamil lagi, huhu.


Mas Al mengusap rambut ku, menata anak rambut yang menghalangi pandangan nya. Tatapan nya berbeda dengan biasa nya, seperti nya Mas Al benar-benar ingin melakukan hal ‘itu’ dengan ku. Harus gimana dong?


Dia merogoh saku celananya, meraih bungkusan kecil berisi. Oh no, itu kan benda nista yang biasa di pakai untuk berhubungan intim. Sumpah, Mas Al memang niat. Dia benar-benar ingin melakukan hal itu dengan ku.


“Gimana? Masih ngerasa takut nggak sayang?” tanya Mas Al dengan tatapan penuh gairah. Ya Tuhan, gak bisa nolak. Aku juga mauuu!


Aku menggeleng dan langsung memburu wajah ganteng nya. Pancaran senyuman dari bibirnya membuat hati ku tersipu malu. Benar, ini akan menjadi penyatuan yang berbeda. Ada pembatas, sehingga aku tidak akan merasa takut. Tapi gimana rasanya? Mari kita coba.


“Mas, enak memang nya pakai ginian?” tanya ku pada Mas Al yang sedang memakai benda nista itu. Oh no, terlihat dengan jelas milik nya yang ingin segera memasuki inti ku.


“Mana, Mas tahu, Dek. Baru pertama kali Mas pakai benda ini. Agak ribet, ya, mau penyatuan juga.” ucap nya di balas kekehan pelan. Aku mesem singkat sembari membuang padangan ke arah lain.


“Mas, aku cek Alief sebentar, ya. Mau bikin susu formula supaya pas bangun langsung minum susu.” bubuh ku sambil melipir pergi. Dengan langkah terburu, dengan pakaian yang sudah berantakan, dan dengan nafsu yang sudah melambung tinggi aku berjalan ke kamar Alief. Ih, kenapa sekarang jadi aku yang kebelet pengen 'itu'? Ngakak banget!


Beberapa menit kemudian, selesai sudah acara membuat susu. Kini aku kembali ke kamar dan mendapati Mas Al yang sedang duduk memainkan ponsel.


“Mas, udah pake nya?” tanya ku sambil menggigit bibir. Sumpah, aku sudah seperti wanita murahan. Tapi suka, gimana dong? Murahan sama suami gak apa-apa kan? Sah-sah aja karena aku adalah istri nya.


“Are you ready?”


“Yeah!”


Mau uwu-uwu aja pake nanya segala. Pakai bahasa Inggris pula. Mau mulai tapi ngakak dulu haha.


Oke, malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk aku dan Mas Al. Seperti kegiatan uwu-uwu pada biasanya. Kami akan tertidur saat sudah merasa benar-benar kelelahan. Makanya, sekali uwu-uwu bisa dua atau tiga jam. Udah ah kelamaan, dah teman. Kami butuh berduaan. Jangan iri hehe.


...---...


“Ma - ma da - da cu - cu..” (Mama, dedek minum susu). Alief sudah heboh pagi-pagi sekali. Jam empat pagi dia sudah terbangun. Nangis dan tentu membangunkan aku yang masih tidur lelap di atas tubuh Mas Al. Masih nyatu ini, tulung!


Kusibakkan selimut yang menutupi tubuh kami berdua. Lalu ku tutup kembali si dia yang masih tertidur pulas. Oh My God, Mas Al ganteng banget. Di tambah genteng dengan tubuh yang kekar dan terlihat tanpa sehelai benang pun. Mengingat kejadian semalam, membuat ku merinding uhuy. Aku malu tapi malu. *ups


Aku buru-buru menemui Alief, niat membuatkan susu formula. Sebab, susu yang semalam sudah basi. Hanya pakaian seadanya tanpa memakai dalaman apapun, aku menghampiri Alief dengan tergopoh-gopoh. Kesayangan ku sudah bangun, nangis dan duduk di box bayi sembari garuk-garuk kepala. Aduh, lucu banget anak ku.

__ADS_1


“Ma - ma da - da cu - cu.." (Mama dedek minum susu). Ulang nya sekali lagi. Rupanya dia sudah tidak sabaran.


Aku menggendong Alief, membawa ia ke dalam kamar. Tadi nya mau pakai susu formula, tapi kasian dia sudah nangis-nangis. Mendingan kasih ASI aja lah. Lebih praktis dan cepat.


Setelah puas menyusu, Alief akhirnya kembali tidur dan kini sudah berada di kamarnya. Kini tinggallah aku dengan setengah kantuk yang masih bergelayut. Mau tidur lagi, sudah tanggung. Bisa-bisa kesiangan, yang ada bablas sampai jam tujuh pagi huhu.


Mas Al bergerak, dia membuka matanya dan mengerjapkan nya beberapa kali. “Dek, udah bangun kamu, hm?" tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur. Uwu, seksi sekali Mbok!


“Udah, Mas. Jam empat pagu Alief bangun minta susu.” ucap ku sembari membereskan pakaian yang berserakan dimana-mana. Kelakuan kalau habis uwu-uwu, kamar super berantakan seperti habis diterjang tsunami. Kacau balau.


“Mas mau susu juga, dong." ucap nya mulai usil. Hoy, nggak puas apa sama kegiatan semalam. Tubuh ku habis di kuasai oleh nya.


“No, sayang! Waktu nya bangun, udah pagi lho ini! Siap-siap sholat subuh, kan belum mandi besar.” ucap ku sembari pergi membawa setumpuk pakaian kotor. Dia hanya mesem singkat.


“Mandi bareng yuk, Dek?” ajak nya usil.


“No, kelamaan sayang ku! Udah deh kamu mandi aja sana, biar aku siapin pakaian kamu, oke!” Aku minggat dari hadapan nya. Kelamaan berdebat dengan nya bisa bikin gagal fokus. Badan nya itu lho, ups.


...---...


“Pagi ini ngapain aja, Mas? Sibuk, ya?” tanya ku sembari mengoleskan selai kacang coklat pada roti. Mas Al mengangguk cepat.


“Iya sayang, seperti biasa. Laporan-laporan sudah menjadi teman Mas setiap hari. Apalagi sebentar lagi HUT satuan dilaksanakan, makin sibuk. Emang kenapa, sayang? Kok tumben nanya gitu?” Mas Al meminum susu vanilla yang aku buat.


“Nggak ada, Mas. Aku cuma tanya aja, kok.” Mas Al mengangguk.


“Kalo kamu gimana, Dek? Ada kesibukan apa hari ini?” tanya Mas Al.


“Seperti biasa, beberes rumah, mandiin Alief, masak terus ikut kegiatan Persit. Hari ini rencananya mau buat laporan keuangan sama Mbak Amira dan Ibu Yonathan. Sekalian mendata anak-anak yatim yang ada di sekitar asrama.” ucap ku menjelaskan. Mas Al mengangguk kepala nya lagi sembari melahap roti.


“Bukan nya kamu jealous sama Amira.” bubuh Mas Al super resek. Aku cemberut malas.


“Ya mau gimana lagi, Mas? Ini perintah komandan. Aku nggak mungkin nolak 'kan? Nurut ajalah, Mas. Gini-gini juga aku menjaga nama baik mu, tauuu!” balas ku dengan jujur. Ya memang sudah harusnya seperti ini. Mau menolak pun nggak bisa. Sekarang cukup terima dan jalankan tugas nya dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab. Karena benar, nama Mas Al ada di pundak ku. Jadi aku harus melakukan yang terbaik, apapun dan bagaimanapun kondisi nya.


Mas Al mengacak puncak kepala ku dengan gemas. “Istri Mas pinter sekali. Jadi makin nambah rasa cinta nya. Bikin pengen cepet-cepet nambah anak, ha ha ha.” ucap nya di barengi dengan tawa kencang. Aku mendengus. Kesal dengan ucapan Mas Al. Kenapa sih pagi-pagi sudah bahas mau nambah anak? Nggak ada bahasan lain apa? Tulung!


“Stop bahas anak, Mas. Masih pagi ih. Nggak bosen kamu bahas nya itu-itu terus? Kuping ku panas, sayang!” tegas ku sembari ngacir ke kamar Alief, dia sudah bangun dan menangis kencang. Sebenarnya nggak cuma ke kamar Alief semata. Aku juga menghindari perkataan Mas Al soal nambah anak. Udah pusing, udah nggak tau lagi harus gimana. Mas Al bener-bener ngebet pengen cepet-cepet punya anak lagi. Mana siap aku, Mbok!


“Jangan menghindar dong, sayang. Apa salah nya nambah anak sih? Seperti kata pepatah, banyak anak banyak rezeki juga.”

__ADS_1


“Bikin nya juga mudah kan, sayang. Come on, pulang Mas kerja kamu siap-siap oke. Kita usaha lagi.” sambung Mas Al semakin ngaco. Tepuk jidat dengan semua kata-kata Mas Al.


“Sesukamu aja lah, Mas. Yang jelas aku gak mau sekarang!”


__ADS_2