
Kinza Irsyania Malik POV
Mas Al keluar dari kamar mandi masih dengan handuk yang ia lilitkan di pinggang. Aroma sabun lemon menyeruak masuk, seisi kamar jadi wangi karena ulah beliau. Ekhm, dia sudah ganteng dan wangi setelah satu jam melakukan adegan uwu-uwu dengan ku. Ups, nggak usah di bahas tulung!
Beda dengan aku yang masih kusam dan berantakan. Keringat dimana-mana, rambut sudah seperti sapu ijuk, pakai baju alakadarnya tanpa memakai dalaman, di tambah sambil menyusui si kecil Alief. Hum, makin saja awut-awutan ini penampilan. Seperti habis terkena tsunami dadakan, hiks!
“Mas, pakai baju nya cepetan dong, setelah itu gantian jaga Alief. Aku mau mandi dan masak, udah gerah nih sayang. Pegal-pegal juga kaki aku.” ucap ku seraya mengibas-ngibaskan rambut. Namun tak di hiraukan oleh Mas Al. Ih bikes, bikin kesel!
“Iya sebentar, sayang. Sabar, okay!” balas Mas Al tanpa menatap ku. Dia sibuk memakai baju loreng kebanggaan nya. Iya, Mas udah kece kok! Cepetan ah, udah gerah nih! batin ku gemas.
Tak lama kemudian, Mas Al sudah rapi. Baju loreng dan celana loreng nya sudah melekat pas di tubuh tegap Mas Al. Tinggal memakai sepatu PDL saja, habis itu penampilan nya pasti oke banget.
“Sini, Dek, biar Mas yang gendong Alief. Kamu mandi sana!” ucap Mas Al sembari memburu Alief dari gendongan ku.
Aku menyerahkan Alief dan beranjak dari kasur yang super berantakan. Maklum, habis perang ranjang wkwk. *Hiraukan aja temans.
Mas Al melihat ku sambil geleng-geleng kepala. Mungkin gemas dengan tingkah ku yang seperti ABG. Iya jelas, kalau habis uwu-uwu, aku ini seperti pengantin baru. Malu-maluin tapi juga gemesin haha.
skip-skip, beberapa menit kemudian, aku sudah selesai mandi. Sudah bersih, wangi, dan rapi meskipun hanya memakai daster.
Tangan ku lihai bergerak kesana-kemari. Menggoreng, memotong dan sebagai nya. Maklum, masakan kali ini spesial, aku memasak makanan kesukaan Mas Al. Khusus untuk si Babang yang tadi terkena masalah gara-gara aku. Eh ralat, gara-gara Mbak Putri!
Udang goreng tepung keju, udang goreng balado, sayur bayam plus jagung manis, dan sambal hot buatan ku sendiri sudah tersedia di atas meja. Di tambah nasi hangat yang masih mengepulkan asap. Eh, uap panas maksudnya hehe.
“Kayak nya ada yang masak udang nih. Wangi bener, Mam.” sambar Mas Al sembari tiba-tiba duduk di bangku. Sementara Alief rebahan di kasur kecil nya.
Aku mesem singkat, “iya dong, Mas. Udang tepung keju sama udang balado aku masak spesial buat kamu. Biar makin semangat kerja nya!” ucap ku tersipu sambil menyajikan makanan nya untuk Mas Al.
Dia terlihat kegirangan dan dengan lahap memakan masakan ku. Uh, senang rasanya melihat suami sendiri makan dengan lahap. Berasa begitu di hargai rasanya. *ibu-ibu, mana suara nya? Benar nggak sih kayak gitu?
Selesai makan, Mas Al langsung bergegas dan pergi ke kantor. Aku merapikan sisa makanan dan cucian piring kotor. Sementara Alief, dia malah bobok nyenyak. Bayi tidur terus kerja nya, nih, heran wkwk.
“Drttdrtt..” ponsel ku tetiba bergetar. Notifikasi dari WhatsApp muncul. Setelah ku cek, ternyata sebuah pesan dari ibu komandan. Waduh, ada apa, ya?
__ADS_1
Ibu Komandan
Mbak, sekarang merapat ke aula, ya. Ada agenda pemantapan untuk acara besok. Pakaian bebas asal sopan. Di tunggu kehadiran nya segera!
Woah asem, sampai lupa aku ini. Biasa nya juga selalu seperti ini kalau ada acara besar. Baiklah, bersiap secepat mungkin dan berhias sesederhana dan sesopan mungkin. Alief tunggu di sini ya, Nak. Mama siap-siap dulu.
Aku langsung ngacir ke dalam kamar. Mencari celana olahraga dan kaos yang nyaman. Ibu komandan membolehkan bukan? Ya gak apa-apa dong cuma pakai kaos aja wkwk. Tak lupa aku memoles sedikit bedak dan lipstik biar kelihatan lebih fresh. Dan tada, aku sudah siap!
Saat keluar rumah, Ibu Yonathan juga keluar dari rumah nya. Dia lantas mengajak ku untuk bersama-sama pergi ke aula.
Alief di gendong oleh Bu Yonathan, katanya dia gemas sekali dengan Alief. Maka nya kepingin terus gendong anak ku. Nggak apa-apa lah, Bu Yonathan ini baik sekali. Sudah seperti kakak ku sendiri hehe. Itu membuat aku tidak ragu untuk menitipkan Alief saat sedang merasa kerepotan.
“Izin, Bu. Tadi siang saya dengar, Bapak Danramil kena tindak oleh komandan. Apa itu betul, Bu?” tanya Bu Yonathan membuat ingatan ku berputar pada kejadian beberapa jam lalu. Aku hanya bisa mengangguk lesu.
“Iya betul, Bu.” ucap ku sekenanya. Bu Yonathan sontak merasa kaget.
“Izin, Bu. Kok bisa? Baru pertama kali nya saya dengar beliau kena tindak. Padahal Bapak Danramil itu sosok yang paling disegani di satuan ini. Izin, beliau sangat taat aturan, disiplin, dan tegas. Banyak orang-orang yang menyukai beliau karena karakter nya yang baik.” ujar Ibu Yonathan membuat ku bangga dan kecewa pada diri ku sendiri.
Pertama, aku merasa bangga karena sikap Mas Al yang baik dan tentunya menjadi orang yang paling disegani di satuan ini. Memang betul, Mas Al itu disiplin, tegas dan begitu taat kepada aturan. Dia juga menerapkan sikap disiplin nya di dalam rumah tangga. Rasa tanggung jawab nya yang membuat ku semakin kepincut dengan nya. Mas Al ini memang orang yang bertanggung jawab, beda saat pertama kali aku bertemu dengan nya.
“Iya, Bu, ada saja masalah keluarga. Mohon maaf tidak bisa di ceritakan, ini masalah pribadi.” ucap ku sungkan. Tak berani membeberkan masalah ini pada siapapun. Apapun itu alasan nya.
“Izin, siap, Ibu tidak apa-apa. Maaf sebelumnya, tapi saya tidak akan memaksa Ibu untuk bercerita. Saya mengerti ini adalah masalah pribadi ibu dan Bapak Danramil.” balas Bu Yonathan ramah, dia memaklumi aku dan masalah yang ada. Ibu Yonathan itu benar-benar pengertian, dewasa, dan tau sopan santun. Seperti yang aku bilang, dia sudah seperti kakak ku sendiri. So sweet kan? wkwk
...---...
“Ibu-ibu, saya sudah sering mengingatkan. Kalau ada tidak mengerti atau tidak di pahami dalam mengerjakan sesuatu, maka tanyakan. Jangan diam saja. Saya tidak mau ada kesalahan yang terjadi dengan alasan tidak tahu atau tidak mengerti.”
“Fungsi mulut ada dua, untuk bicara dan untuk makan. Gunakan mulut dengan baik, untuk bertanya dan mengucapkan hal kebaikan. Jangan bisa nya hanya untuk membicarakan orang lain! Paham?” tegas Ibu Komandan pada ibu-ibu Persit yang ada di aula. Sontak semua nya membalas, “Paham, buuuu!”
Ku lirik Mbak Putri yang duduk di deretan istri perwira. Dia terlihat nampak kesal dan menahan malu. Bagaimana tidak, Ibu komandan sedang menyindirnya saat ini.
Agenda briefing selesai, berganti dengan acara pemantapan dan pemantauan kesiapan. Semua sudah siap, mulai dari karangan bunga, souvernir, buah-buahan, minuman, dan kue-kue tradisional. Kalau prasmanan, besok pagi di antar oleh katering. Nah, sekarang ngapain? Berbenah dong! Iya, kami Korve bersama dengan anggota. Fix, aku kelelahan.
__ADS_1
Aku kebagian membersihkan toilet, sedangkan Mas Al bagian mantau di depan sembari menggendong Alief. Sial nya, aku bersama Mbak Putri lah yang membersihkan toilet. Sumpah, bikin kesel kan temans?
Sreekk, dia menarik tangan ku dengan kasar. Berani-beraninya dia bertindak demikian.
“Mbak mau nya apa sih? Nggak puas sudah bikin suami sendiri kena tindak, Mbak nggak merasa bersalah dengan tindakan Mbak ini?!” tanya ku dengan tegas. Namun aku masih bisa mengontrol emosi.
“Kamu nggak usah sok dewasa, Dek! Mentang-mentang pangkat suami mu lebih tinggi daripada pangkat Mas Arjuna! Mbak tegaskan, ya, Dek, jangan bersikap seperti penguasa! Kita di sini sama saja!” cecar Mbak Putri menghakimi aku. Lha, dimana letak songong nya aku? Emang ada di luar sana aku menyombongkan diri bahkan bertindak seperti penguasa? Wah, ngarang-ngarang cerita ini!
“Tunggu, Mbak. Siapa, ya, yang bertindak seperti penguasa? Apa Mbak tadi bilang? Aku sok dewasa? lho, bukannya kita di didik di Persit untuk menjadi manusia yang berfikiran logis, selalu berfikir positif dan berkata-kata baik. Memang salah kalau aku bersikap layak nya seorang pendamping prajurit? Mbak nggak ingat kata-kata ibu komandan? Kita harus apa dan bagaimana. Jadi, dimana letak sok penguasa dan sok dewasa nya, Mbak?” bubuh ku membalikkan perkataan nya. Mbak Putri langsung terdiam seketika, namun wajah nya terlihat begitu marah.
“Makin kesini kamu makin kurang ajar, Dek! Nggak ada sopan-sopannya sama, Mbak. Harus, ya, Mbak berbuat kasar sama kamu?!” ujar Mbak Putri tersulut emosi. Wah, pertanyaan sudah tidak masuk di akal. Dia belum tau apa gimana ini?
“Mbak, please nggak usah ngarang cerita! Aku nggak sopan dimana nya, Mbak? Bukankah aku selalu sopan seperti biasa nya? Mbak kenapa sih aneh sekali?”
Mbak Putri membanting lap pel yang ada di genggaman tangan ku. Tentu hal itu membuat ku meringis seketika. “Aww.” aku memekik kesakitan.
“Ini yang Mbak gak suka! Kamu ini sok dewasa, sok penguasa, sok paling mengerti semua nya! Kamu juga pandai membalikkan fakta!” ucap Mbak Putri makin ngawur. Sumpah demi apapun, bukan nya dia yang selalu membalikkan fakta? Kenapa sekarang jadi menuduh aku sembarangan?!
“Mbak, stop! Selama ini aku berusaha sabar, aku diam saja saat Mbak menginjak-injak aku. Tapi, makin ke sini, Mbak makin kelewatan! Aku tanya, siapa yang pandai membalikkan fakta? Siapa yang sudah memfitnah aku di depan Bapak dan Ibu Komandan, bahkan di depan suami aku dan suami mu, Mbak! Nggak sadar kondisi nya seperti apa. Mbak justru membalikkan fakta nya!”
“Aku nggak pernah mengejek, Mbak sedikit pun. Aku nggak pernah memaksa untuk merebut pekerjaan membungkus cinderamata! Tapi, kenapa Mbak bilang kalau aku mengejek Mbak, kenapa Mbak bilang kalau aku memaksa merebut semua pekerjaan itu?!”
“Mbak sadar kan sekarang, siapa yang pandai membalikkan fakta!” ucap ku tak mau kalah. Biarlah aku mau di bilang apa. Yang jelas aku tak mau di fitnah seperti kejadian beberapa jam lalu. Aku sudah muak dengan perilaku Mbak Putri terhadap ku. Bahkan, aku sampai tida dipercaya oleh suami ku sendiri. Sakit sekali rasanya!
“Kenapa, Dek? Nggak suka kamu? Mbak tau kamu sudah mendengar semua nya 'kan? Mbak tau kamu sudah mendengar percakapan antara Mbak dan Mas Arjuna. Kamu pasti kaget 'kan sekarang? Kamu takut 'kan sekarang?!” aku diam, terpojokkan sekarang. Aku tak mau terlihat takut, karena, itu bisa membuat Mbak Putri semakin gencar menyakiti dan berbuat hal yang tida pernah aku ingin kan.
“Ng-nggak! Aku nggak pernah merasa takut sama sekali. Lingkungan militer sudah cukup membuat ku merasa lega. Tidak ada yang perlu di takutkan. Semua nya akan baik-baik saja saat aku berada di sini. Apalagi Mas Al selalu berada di samping ku! Mbak nggak usah macam-macam! Kalau Mbak berani menyakiti dan berani berbuat hal kejahatan, aku nggak segan-segan buat laporkan semua nya pada komandan!” ancam ku tegas. Sungguh aku tidak main-main kali ini. Ancaman ku benar-benar pasti.
Kalau Mbak Putri berani macam-macam, aku tak segan-segan melaporkan nya pada komandan. Bahkan tak segan untuk memenjarakan nya. Memasukkan nya ke dalam penjara.
“Kamu pikir Mbak takut dengan ancaman mu, Dek?! Mbak nggak takut sama sekali! Ancaman kamu nggak akan mempan buat Mbak. Kamu tau? Mbak sudah punya rencana yang luar biasa untuk menghancurkan keluarga kalian. Mbak akan melakukan apapun untuk merebut Mas Al kembali. Tak peduli resiko apapun yang akan datang pada Mbak! Mbak nggak takut, Dek!” ujar Mbak Putri membuat nyali ku ciut. Aku kembali merasa takut. Benar-benar merasa takut.
Tolong aku Tuhan, tolong lindungi aku dari bahaya apapun. Aku tak mau sesuatu terjadi pada keluarga kecil ku ini. Jangan biarkan Mbak Putri menyakiti ku, terutama menyakiti Alief.
__ADS_1
“Silahkan saja, Mbak! Sebesar apapun usaha Mbak buat merebut Mas kembali, hal itu tidak akan pernah terjadi. Mas Al mencintai ku seutuhnya, Mas Al tak akan pernah berpaling dari ku. Bahkan, suami mu sendiri yang menjamin nya. Bang Arjuna tak akan pernah membiarkan itu kembali! Jadi, akan ku pastikan semua rencana yang sudah Mbak susun berantakan. Semua nya akan hancur, Mbak! Ingat itu!” ucap ku penuh kemenangan, Mbak Putri langsung diam tak berani menjawab.
Aku pergi detik itu juga. Untunglah pekerjaan sudah selesai, alhasil aku bisa terbebas berduaan dengan manusia perusak ini. Sungguh, aku benar-benar muak. Rasanya ingin sekali memberontak, tapi sadar posisi, sadar kewajiban, sadar akan status dan sadar akan tugas. Maka dari itu, untuk sementara waktu aku memilih diam. Kita lihat, bagaimana Mbak Putri melancarkan aksi nya!