EPOCH

EPOCH
Bab 65


__ADS_3

Kinza Irsyania Malik POV


Ruangan serba putih adalah hal yang pertama kali aku lihat. Oh no, jangan-jangan aku sedang berada di surga seperti dalam film-film drama. Benarkah ini semua? Benarkah aku ada di surga? Tapi, kenapa suasana nya ramai seperti sedang berada di pasar?


“Alhamdulillah Ibu Kinza sudah sadar. Bagaimana keadaan nya Bu? Apa yang sakit?”


“Alhamdulillah ya Allah, untunglah Bu Kinza tidak apa-apa. Apa yang sakit, Bu?”


“Bu, apa yang sakit? Kepala nya masih pusing, ya?”


Pertanyaan demi pertanyaan berbondong-bondong datang pada ku. Aku seperti habis terkena sesuatu. Seperti orang sakit sebab, semua orang bertanya bagaimana kabar ku.


Sakit? Bukan kah aku memang sakit? Kepala?! Heh, mana kepala ku? Apakah dia baik-baik saja?


Aku mengusap kepala yang sedikit benjol dan pening. Seperti habis terkena sundulan bola yang sangat kencang. Sakit dan panas.


“Bu, saya minta maaf. Saya terlalu bersemangat memukul bola, sampai kena ibu seperti ini. Maafkan saya Bu.” ucap seseorang meminta maaf. Wajah nya memelas sambil terus memegangi tangan ku. Dia adalah,


Mbak Amira!


Mbak Amira? Oh no, jadi dia pelaku nya? Jadi, Mbak Amira yang sudah memukul bola dengan sangat kuat dan justru malah mengenai ku. Ini aku ada perasaan nggak enak. Mbak Amira sengaja kah?


Aku menggeleng lemah, “tidak apa-apa, Mbak. Saya baik-baik saja.” ucap ku berusaha menutupi semua nya. Padahal, ini kepala yang merasakan semua nya. Berat, pening, dan sakit minta ampun.


Duk duk duk, terdengar derap langkah sepatu PDL di hentakan ke lantai. Suara nya nyaring dan semakin lama semakin mendekat ke arah ku.


“Dek, ya Allah kok bisa begini?” tanya Mas Al dengan cemas. Tangan nya dengan cepat beralih ke sana kemari memeriksa keadaan ku.


Aku mengulas senyuman hangat, “nggak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja.” ucap ku mencoba baik-baik saja kendati rasa pusing terus menusuk-nusuk ke kepala ku.


“Izin, Bapak Danramil, ini semua salah saya. Saya sedang memukul bola voli namun tanpa di sengaja terkena kepala Bu Kinza. Mohon maaf, Pak.” ujar Mbak Amira merasa bersalah. Seketika, Mas Al melirik sekilas dan melihat siapa pelakunya.

__ADS_1


Dia nampak sedikit kesal. Namun, Mas Al mencoba mengontrol emosi nya. Apalagi banyak ibu-ibu di sekitar kami.


“Tidak apa-apa.” balas Mas Al dengan sangat-sangat dingin. Wes, ada ibu-ibu lho Mas, jangan sinis-sinis hi hi.


“Ya sudah, kalau begitu kami semua izin pamit, ya, Pak, Bu. Supaya Ibu Kinza bisa beristirahat dan keadaan nya kembali membaik. Sebelumnya maafkan atas kesalahan salah satu anggota saya. Sungguh, kejadian ini bukanlah suatu kesengajaan. Melainkan insiden yang sering terjadi pada saat permainan bola.” ucap Ibu Komandan seraya menyalami aku dan juga Mas Al. Beliau dan semua ibu-ibu Persit pamit undur diri.


“Izin, siap, Ibu tidak apa-apa.” ucap ku masih terdengar lemah.


“Semoga cepat sembuh, ya, Bu. Saya permisi, assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikum sallam.”


Hening. Seketika ruangan rawat di KSA menjadi dingin dan sepi. Aku di temani Mas Al. Kami hanya berdua sebab Alief di bawa oleh Ibu Yonathan.


Mas Al banyak diam. Dia tak mengatakan apa-apa. Seperti orang yang sedang menahan amarah. Entahlah, aku tidak ingin banyak bicara. Aku yakin Mas Al butuh sendiri, meskipun aku tidak tau apa penyebabnya.


“Emang nya nggak bisa absen main voli, Dek?” tanya nya super dingin dan membuat hati ku tersentil. Oh, jadi dia marah karena aku main voli. Ck ck ck, memang di sini aku yang dodol. Nggak bisa nolak permintaan seseorang, ekhm Mbak Amira.


“Sayang, Ibu-ibu nggak mungkin memaksa kamu untuk main voli 'kan? Apalagi Ibu Komandan, itu pasti nggak mungkin. Dia nggak mungkin maksa anggota nya buat tanding, dalam keadaan yang belum sepenuhnya membaik. Jujur sama Mas, pasti ada seseorang yang memaksa kamu untuk main voli 'kan?” terka Mas Al yang sepenuhnya tidak benar.


Ibu Komandan tidak memaksa aku untuk ikut tanding. Justru beliau mewanti-wanti supaya aku memikirkan dengan matang sebelum terjun ke lapangan. Tetapi, aku juga tidak di paksa sedemikian rupa. Seseorang hanya mengajak aku untuk tanding, tidak ada paksaan di dalamnya. Dialah Mbak Amira. Bukankah aku yang mengiyakan dengan cepat? Lantas, di sini memang aku yang salah. Aku yang ceroboh.


“Nggak, Mas. Nggak ada yang maksa aku. Ini semua keinginan ku, Mas. Aku yang ceroboh.” ucap ku mencoba meyakinkan Mas Al supaya tidak berburuk sangka.


“Lantas, kenapa bisa kebetulan Amira yang mukul bola nya terus kena kamu?” ucap Mas Al kembali dingin. Hem, aku tau kemana arah pembicaraan ini. Mas Al rupanya mencurigai Mbak Amira. Hadeuh stop, aku tidak mau ada urusan apa-apa lagi dengan nya. Apalagi sampai melibatkan Mas Al di dalam nya. Cukup aku saja.


“Nggak, Mas, aku serius. Tadi tuh aku pusing banget, mendadak sulit bernafas juga. Alhasil, aku menunduk dan tidak tau ada bola datang menghampiri ku dengan sangat kencang. Ya, bola nya menghantam kepala aku begitu saja. Setelah itu aku pingsan dan pas bangun udah ada di sini.” ucap ku terus mencoba menenangkan hati Mas Al. Come on, jangan sampai Mas Al tersulut emosi. Rencana ku untuk menyelidiki Mbak Amira bisa gagal.


“Udah, Mas, jangan terlalu di pikirkan. Yang penting aku nggak apa-apa 'kan?” ucap ku sembari meraih tangan kekar nya.


“Hem, baiklah. Tapi Mas bingung, kenapa kamu tiba-tiba sakit gitu? Kamu belum makan atau gimana, Sayang? Atau jangan-jangan, kamu..?” bubuh Mas Al menggantungkan kalimat terakhir ku. Lantas, aku bertanya-tanya. Jangan-jangan aku apa? Aku kenapa emang nya?

__ADS_1


“Kamu hamil, Dek?” tanya Mas Al dengan wajah berbinar. Tentu hal itu membuat ku langsung terkejut. Aku bengong sembari mengusap perut ku yang datar.


“Hamil? Nggak mungkin lah sayang. Kita kan nggak pernah berhubungan selama dua minggu. Mas iya bisa hamil gitu aja?” ucap ku menerka-nerka. Bingung dan takut juga sih. Rasa-rasanya, ini mustahil.


Tapi, gimana kalau aku beneran hamil? Aku belum siap untuk punya bayi lagi. Alief masih terlalu kecil, hiks.


“Dek, mulai sekarang jangan capek-capek! Jangan ikut kegiatan Persit apapun itu. Nanti biar Mas yang izin sama ibu komandan!” tegas Mas Al sembari mengusap-usap perut ku yang rata ini. Lalu, dengan perlahan kepalanya mendekat ke arah perut ku.


“Nak, sehat-sehat, ya? Terima kasih sudah hadir di sini. Papa senang sekali.” ucap Mas Al sembari mengusap lembut perut ku. Hell no, Mas Al apa-apaan sih? Emang nya aku hamil apa?


“Mas, tunggu dulu, deh. Aku belum tentu hamil. Jangan gini lah, Mas. Lagi pula kalau aku hamil, pasti dokter nya sudah memberitahu. Iya 'kan, Mas?” ucap ku tak enak hati. Aku benar-benar hampir gila. Mas Al aneh tolong!


“Kita buktikan saja sekarang, gimana Dek? USG saja supaya Mas bisa lihat calon anak kita.” ajak nya penuh semangat.


“No, beli testpack aja lah Mas. Lagi pula aku pengen pulang aja.” ucap ku dan langsung diiyakan oleh Mas Al.


...---...


Sore harinya, aku sudah diizinkan untuk pulang. Mas Al langsung berubah menjadi suami siaga. Dia tak membiarkan aku melakukan aktivitas apapun kecuali makan dan menyusui Alief.


“Ini, Dek, Mas sudah belikan alat nya. Sekarang kamu periksa dulu. Mau mas bantu?” ujar nya sembari menyerahkan lima buah testpack pada ku. Mantep, kan temans?


“Mas, kalau hasil nya satu garis gimana? Mas jangan kecewa, ya?” ucap ku sembari mengelus pipinya.


“Nggak apa-apa, Dek. Mungkin belum rezeki.” balas nya penuh kelembutan. Aku terkesima hu hu.


“Baiklah, aku cek dulu, ya? Mas tunggu di sini.”


Aku lantas berjalan ke arah kamar mandi. Sebenarnya agak sedikit ragu. Jujur aku takut kalau hasilnya positif. Tapi, kuserahkan saja semuanya pada yang kuasa.


“Dek, ko lama? Udah setengah jam lho ini? Gimana hasil nya?” tanya Mas Al dari balik pintu. Bahkan tanpa aku sadari, sudah setengah jam lamanya berada di dalam kamar mandi. Lantas aku terkesiap sembari memandangi hasil uji testpack yang kelima nya menunjukkan hasil yang sama.

__ADS_1


“M - mas, a - aku...”


__ADS_2