
Sepuluh hari sudah Al tak sadarkan diri. Ternyata perkiraan dokter meleset. Buktinya, sampai detik ini dia belum juga sadar. Hal itu tentu membuat Kinza takut. Gadis itu sampai tidak ingin makan, wajahnya pun terlihat pucat sebab belum memakan apapun sejak kemarin sore, hanya sebotol air mineral saja. Kinza tetap setia menunggu Al sadar. Padahal dia telah menyakiti tubuh nya sendiri.
Dengan ditemani Sada, perempuan berusia delapan belas tahun itu tetap setia berada di sebelah Al. Dengan wajah pucat, bibir kering, dan mata membengkak akibat menangis membuat penampilan nya terlihat begitu kacau. Berkali-kali Sada memaksa Kinza untuk makan dan istirahat, tapi gadis itu bersikeras untuk tetap berada di samping Al. Kecuali hanya untuk solat dan mandi.
"Assalamualaikum.." sebuah ucapan salam membuyarkan lamunan Kinza. Gadis yang sedang menggenggam tangan Al itu lantas mendongak. Tak hanya Kinza, mertua dia pun ikut menengok, melihat siapa yang datang. Dan orang itu adalah Zahra.
"Wa'alaikum sallam, mari masuk bu." balas Sada seraya menyuruh Zahra masuk. Kinza yang sedang duduk lantas berhamburan memeluk mama nya.
"Eh, Kinza kenapa sayang?" tanya Zahra seraya membalas pelukan anaknya.
"Kak Al, ma, dia belum sadar juga. Kinza takut banget." imbuh Kinza seraya mengadu. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.
Zahra mengulum senyum nya, serta merta membelai kepala Kinza dengan sayang. "Sabar ya, sayang. Sadar dari kecelakaan itu biasanya lama. Tapi, semoga saja hal ini tidak terjadi sama Al. Doakan dia terus, ya, jangan patah semangat." balas Zahra lembut. Kinza melepas pelukan mama nya perlahan.
"Tapi kak Al akan sadar kan, ma? Dia akan baik-baik aja, kan?"
Zahra tersenyum lembut, "Pasti sayang, sekarang Kinza makan ya. Mama sudah masak makanan kesukaan kamu." balas Zahra sembari menunjukkan kotak makan tupperware yang berisi udang asam manis.
"Kinza nggak lapar, ma." tolak Kinza halus.
"No, no, mama sudah masak buat kamu. Hargai mama dong." desak Zahra. Kinza cemberut karena nya.
"Ya udah deh, tapi suapi sama mama, ya?" pinta Kinza manja, dengan senang hati Zahra mengiyakan permintaan anak perempuan nya.
Sada lantas tersenyum, akhirnya Kinza ingin makan juga. Ya, walaupun sedikit sulit membujuk menantu satu-satunya itu.
...---...
Kinza Irsyania Malik POV
Sepuluh hari sudah aku menunggu kak Al yang tak kunjung sadar. Mana nih yang katanya akan sadar dalam waktu satu minggu? Nyatanya sampai sepuluh hari pun belum juga ada tanda-tanda bahwa kak Al akan sadar. Memang sih kata dokter akan ada perubahan, tapi tulung, kalau begini ceritanya aku malah takut pakai banget!
Emang luka kak Al separah itu, ya? Iyalah dodol, jelas banget dari luka-luka nya yang ada dimana-mana, terutama bagian kepala. Terus apa dong yang harus aku lakuin? Ngerti dunia medis aja nggak! Hiks, udahlah diam aja Kinza!
Gegara masalah ini, alias insiden kecelakaan ini. Aku jadi susah makan, minum, bahkan buang air besar. Idih apaan sih jorok banget aku, udahlah biarin. Emang gitu kenyataan nya, kok. Bukan hanya itu, aku juga sulit tidur, sering melamun, bahkan sering terjaga malam. Seperti malam-malam kemarin. Yang parahnya lagi, mama dan bunda mertua ku sampai ikutan begadang gegara aku. Maaf ya ma, bun, aku emang dodol gini sih.
Tapi mau gimana lagi dong, aku sulit tidur sebab menunggu kak Al yang tak kunjung sadar. Apalagi perkiraan dokter meleset, padahal aku udah seneng sewaktu dokter bilang tentang keadaan beliau. Oke baiklah, aku nggak boleh mudah percaya gitu aja. Lantas bagaimana dengan perkataan mbak Putri? Apa aku harus masa bodo dan nggak percaya dia? Percaya sih, ya, walaupun belum sepenuhnya!
Ngomong-ngomong soal mbak Putri, sejak kedatangan nya ke rumah ku. Eh ralat, rumah dinas kak Al maksudnya. Dia jadi sering berkunjung, berdua bersama bang Arjuna. Sejak sepuluh hari lalu, ya kira-kira sudah tiga harian dia mengunjungi aku.
Pingin ku usir, tapi nggak enaklah. Ini bukan rumah aku, lagi pula semua kelakuan ku bakal disorot oleh orang-orang asrama. Masa iya sih, istri nya bapak Danki A ngusir tamu. Idih, bisa hancur berantakan deh image suami ku. Yauda lah, menurutja aku. Toh mbak Putri sudah punya bang Arjuna, kok. Siapa Arjuna? Mantan orang yang aku sayangi!
Eh apasih aku, ngapain coba jadi bahas manusia itu? Pikiran ku malah jadi kemana-mana ini. Hadeuh, sepertinya aku butuh istirahat. Iya tidur lah!
Lantas ku letakkan kepala ku di samping tubuh kak Al. Tangan kekarnya yang terlihat lemas selalu aku genggam.
Tak sampai satu menit aku merebahkan diri, tiba-tiba sebuah gerakan kecil dari tangan beliau membuat aku tersentak. Wait, ini beneran tangan kak Al? Eh kok dia gerak-gerak sih, ih ini kenapa?
"...Dokter, dokter!" panggil ku dengan segera. Mama dan bunda yang sedang mengobrol lantas menyongsong datang kepada ku.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Ada apa?" tanya mama dengan wajah cemas. Aish, aku bikin heboh ternyata.
Aku langsung bangkit saat dokter datang, dengan lihai mereka memeriksa kondisi kak Al.
"Tangan kak Al gerak-gerak, ma." balas ku sekenanya.
Selang beberapa menit, akhirnya dokter selesai memeriksa keadaan kak Al. "Alhamdulillah, sudah ada tanda-tanda bahwa Kapten Al akan segera sadar. Kita tunggu sekitaran satu atau dua jam lagi." ujar sang dokter yang membuat hatiku super lega. Air mata bahagia ku lantas runtuh begitu saja. Aku sungguh bahagia, akhirnya suami tercinta akan sadar dari komanya. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih banyak.
Mama merangkul aku dengan erat, begitu juga dengan Bunda mertua ku. Mereka juga sama seperti ku, menangis bahagia. "Ya Allah, terima kasih sudah mengabulkan permohonan kami, terima kasih sudah mengabulkan doa-doa kami, dan terima kasih sudah menghadirkan kak Al kembali." ucap ku dalam hati sambil menyeka air mata yang hendak runtuh.
Oke sudah saling merangkul nya, kali ini aku kembali duduk di samping kak Al. Menunggu dengan sabar kak Al membuka matanya. Kulirik sekilas jam dinding yang bertengger, pukul 17.00. Wah, berarti dia akan tersadar sekitar pukul 18.00 atau pukul 19.00. Hem, baiklah, aku akan menunggu mu sadar, kak!
"Za, kamu pulang aja gih. Ganti bajumu dan istirahat sejenak. Habis itu kamu boleh kembali lagi. Jangan nolak ya, sayang. Penampilan mu harus terlihat cantik saat Al membuka matanya nanti." ujar mama seraya memegang bahu ku. Aku terdiam sejenak. Eh, bener juga sih perkataan mama. Penampilan ku yang sekarang berantakan pakai banget. Apalagi wajah ku, asli macam zombie. Kak Al bakalan koma lagi deh kayaknya saat lihat aku.
Tapi peduli amat sih sama penampilan, biarin ajalah aku kek apa. Yang penting beliau bisa sadar kembali, dan aku bisa lihat dia membuka matanya. "Nggak deh, ma, biarin aja Kinza begini. Nggak masalah, kok." tolak ku halus.
Mama mesem, "Sayang, bukan hanya penampilan kamu saja yang diperhatikan. Tapi juga kesehatan, udahlah mama minta kamu pulang sekarang. Mandi, ganti baju, makan, dan solat. Habis itu kamu balik lagi kemari." sambung mama lagi. Serta merta membuat aku berfikir dua kali.
Kalau di pikir-pikir iya juga sih, aku kan belum mandi, mana wajahku berantakan gini. Ah, yaudahlah aku pulang aja.
"Hem, yaudah ma aku pulang sekarang. Tolong kabarin apapun itu yang terjadi sama, kak Al." jawab ku sekenanya. Mama manggut-manggut Oke aku pamit saudara-saudara!
...---...
Aku membuka pintu dengan langkah pelan. Sore-sore gini banyak anak-anak kolong macam aku yang bersepeda atau main disekitaran komplek. Apalagi rumah dinas ini dekat dengan taman bermain, ya ramai ya berisik juga pasti nya.
Setelah kembali segar, wangi, rapih dan bersih, aku melanjutkan dengan melaksanakan ibadah solat magrib. Aku mengakhiri solat ku dengan doa-doa dan membaca dua halaman kitab suci Al-quran.
Fyuh, legah sekali aku. Berasa nememukan ketentraman tersendiri. Ya maklum saja, kemarin-kemarin aku stres berat sampai-sampai lupa segalanya kecuali solat. Badan ku yang kurus semakin kurus. Ah, nanti juga berisi lagi kok, wk wk wk.
Setelah semua siap, aku bergegas untuk kembali ke rumah sakit. Dengan cekatan memakai sepatu dan sesegera mungkin mengunci pintu.
"...Ibu danki?!!" teriak seseorang memanggilku, serta merta membuat ku langsung diam terpaku. Langkah ku terhenti, buru-buru aku membalikkan badan dan menjumpai si pemilik suara.
"Izin bu, tolong antarkan saya ke klinik. Anak saya sakit demam. Suami saya sedang dinas keluar kota. Tolong saya bu, kasian Aruni." imbuh nya tergesa. Wajahnya yang cantik kemayu terlihat cemas dan panik sambil menggendong bayi bernama Aruni. Si cantik yang dulu pernah memecahkan pot di rumah dinas kak Al.
Aduh, mana bisa aku nolak. Kasian Aruni menggigil dengan bibir pucat. Terus gimana sama kak Al? Ah yaudahlah, aku tolong Aruni dulu.
"Mari naik mobil saya, bu." tawar ku lembut. Ih ikutan panik deh aku. Apalagi liat wajah Aruni yang sepertinya menahan sakit. Dia menggigil tapi suhu badan nya tinggi.
Lantas aku mulai mengendarai mobil yang diberikan papa kepadaku. Lha kok tiba-tiba Kinza punya mobil? Eits, rahasia, nggak boleh sombong right?
...---...
"Alhamdulillah, izin bu, terima kasih banyak sudah menolong saya. Saya nggak tau lagi harus gimana, tadi saya benar-benar bingung bu. Untunglah ada ibu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan maaf sudah merepotkan ibu." ujar ibu Avita panjang lebar. Aku mengulas senyum ku lembut.
"Ah nggak apa-apa bu, saya senang bisa membantu. Semoga nak Aruni cepat sembuh ya." balas ku sekenanya. Huh alhamdulillah aku sudah mengantarkan bu Avita dengan selamat kembali ke rumah nya. Syukurlah Aruni tidak apa-apa, hanya demam biasa.
"Ini ada sedikit buah tangan untuk Aruni, anggap saja saya sedang menjenguk beliau." ujar ku sembari memberikan buah, susu, biskuit dan roti untuk Aruni. Ibu Avita terlihat sungkah, mungkin tidak enak dengan pemberian ku barusan.
__ADS_1
"Izin bu, tidak usah repot-repot." balas beliau canggung.
"Ah nggak apa-apa bu, tidak usah sungkan begitu. Ini untuk Aruni, tolong terima, ya?" desak ku halus. Ibu Avita lantas menganggukkan kepala pelan.
"Izin siap bu, terima kasih banyak." balas bu Avita dengan pasrah. Alhamdulillah diterima, semoga Aruni cepat sembuh ya. Kasian dia, nggak tega aku melihat wajah cantik dan mungil nya terlihat pucat dan kesakitan.
"Kalau begitu saya pamit ya, bu. Mau menemui suami di rumah sakit." pamit ku undur diri.
"Izin siap ibu, semoga bapak danki cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan ibu."
"Aamiin, makasih bu. Saya pamit ya, mari bu." imbuh ku undur diri. Lantas aku mulai mengendarai mobil menuju rumah sakit. Aish, harusnya sampai jam tujuh malam. Tapi ini sudah hampir jam setengah sembilan malam. Yaudalah nggak apa-apa, senang juga bisa membantu sesama.
Skip!
Hampir setengah jam diperjalanan, akhirnya aku sampai di RSPAD. Dengan langkah tergesa aku ingin cepat-cepat menemui kak Al. Uh, semoga saja dia sudah membuka matanya. Semoga kak Al sudah sadar, aamiin.
Aku membuka pintu ruang rawat nya, dengan hati-hati seakan tak ingin mengganggu siapun. Mata ku mulai mengedar ke sekitar, menelisik setiap sudut di ruangan ini.
Setelah pintu terbuka, nampaklah bunda, mama, ayah, papa dan kak Al. Mereka duduk-duduk di sofa sambil mengobrol pelan. Kecuali kak Al, suami ku itu nampak belum membuka matanya. Hem, dia belum sadar juga?
"....Assalamualaikum." ucap ku loyo sembari mendekati para ibu dan bapak ku. Lantas aku mencium mereka semua dan menyodorkan makanan yang dibeli sewaktu mengantar ibu Avita.
Aku ikut nimbrung dengan mereka, "Kak Al belum sadar juga, ma?" tanya ku lesu.
Mama mengusap punggung ku sambil tersenyum, "Belum sayang, sabar ya. Kita tunggu saja. Coba aja sana kamu duduk di samping Al. Ajak bicara, siapa tau dia merangsang." balas mama sekenanya.
Aku manut ajalah, kepingin juga cium kening dia. Uh, aku rindu aku rindu!
"Kak, kapan sadar nya sih? Betah banget kayaknya nutup mata. Kakak nggak pingin liat wajah cantikku? Kakak marah ya sama aku?" tanya ku ngawur dan terdengar loyo. Mereka semua tertawa, iyalah jelas. Omongan aku barusan nggak masuk akal. Lagi pula nggak etis bicara macam itu. Owalah, dasar Kinza dodol, bisanya bikin malu diri sendiri!
Eits, tunggu-tunggu, ini kenapa tangan beliau gerak-gerak lagi? Apa kak Al bakal sadar? Apa dia mendengar ucapan ku barusan? Jadi dia merespon aku?
Batin ku terus bertanya-tanya tatkala merasakan pergerakan kecil dari tangan kak Al. Langsung saja aku panggil dokter, dengan cepat mereka datang dan memeriksa kak Al.
Aku terus berdoa, sambil terus melihat wajahnya. Semoga dia membuka matanya, hu hu hu.
"...Alhamdulillah capt Al sudah sadar dari koma nya." ujar sang dokter dan membuat ku lemas seketika. Ya seneng, ya terharu. Tapi berbeda sama mama, papa, bunda dan ayah. Mereka terlihat lempeng saja. Aelah bodo amatlah, yang terpenting buat ku adalah kesadaran kak Al.
Dan betul, perlahan kelopak mata beliau terbuka. Meskipun belum sempurna, aku bisa melihat dengan jelas mata hitam pekat yang seperti bangun tidur. Alhamdulillah, aku tak henti-hentinya berucap syukur. Akhirnya kak Al sadar, akhirnya aku bisa melihat mata hitam pekat milik nya lagi.
Aku menggenggam erat tangan kak Al. Mengusap dan terus mencium tangan nya dengan lembut.
"Alhamdulillah kakak udah sadar, apa yang sakit, kak?" tanya ku pelan-pelan.
Perlahan, tangan nya terangkat dan memegangi kepala nya sendiri. Mungkin sakit kepala ya? Dia kan terbentur lumayan kerasa juga. Semoga dia baik-baik aja, ya teman?
"Kakak kenapa? Apa yang sakit?" ulang ku bertanya. Kak Al sontak menengok ke arah ku.
"Kamu siapa?" tanya kak Al dan membuat kedua mata ku membola sempurna. Maksudnya apa ini? Dia bertanya aku siapa? What, apasih ini? Kenapa dada ku tiba-tiba sesak, ya? Kak Al hilang ingatan gitu? Sumpaaaaah, mo pingsan aja aku, hiks!
__ADS_1