EPOCH

EPOCH
Bab 52


__ADS_3

“Alief, badan mu panas, Nak. Ya Allah, maafkan Mama sayang. Mama minta maaf.” ucap Kinza panik saat mengetahui bahwa anak nya mengalami demam tinggi. Kinza memeluk Alief dengan erat sembari menangisi kebodohan nya. Kinza benar-benar merasa bersalah dan sangat menyesali ego nya.


Kinza buru-buru menelepon suami nya, Al. Berharap Al mau menjawab telepon nya walau hubungan diantara kedua nya masih belum membaik. Yang ada di pikiran Kinza hanya satu, yakni keselamatan Alief anak nya.


“Hallo, ada apa apa, Dek?” tanya Al di seberang telepon. Suara nya terdengar lebih lembut.


“Mas pulang sekarang, ya. Alief demam tinggi!” balas Kinza dengan wajah panik.


“Iya, Mas pulang sekarang. Kamu siap-siap, ya, begitu Mas datang kita langsung berangkat.”


Tuuut


Tanpa menunggu jawaban dari Kinza, Al langsung mematikan sambungan telepon nya saat itu juga. Dia langsung bergegas pulang dan menjemput Kinza juga anaknya untuk di bawa ke rumah sakit.


Sementara di rumah, Kinza sibuk memakaikan jaket tebal untuk Alief yang terus menangis. Kinza juga ikut menangis sekarang. Dia panik, cemas, dan merasa takut.


Beberapa saat kemudian, suara deru mobil terdengar, di barengi dengan turun nya air hujan ke permukaan tanah. Al membuka pintu dengan segera lantas memayungi Kinza juga Alief.


...---...


“Kenapa bisa kayak gini? Tadi siang Alief baik-baik saja. Kamu nggak melakukan hal-hal aneh kan?!” tanya Al dengan dingin sesampainya mereka di rumah. Alief di vonis demam tinggi karena perut nya tidak mendapatkan asupan makanan hampir lima jam.


“M - maaf, Mas. Tadi aku lupa kasih Alief makan. Aku terlalu sibuk pada dunia ku sendiri.” balas Kinza dengan takut. Tangan Al mengepal, emosi memimpin diri nya sekarang.


“Ya Allah, Dek! Kenapa sampai lupa gitu sih? Kamu tau 'kan itu adalah kesalahan fatal?! Untung saja Alief hanya demam, kalau terjadi sesuatu yang lebih parah gimana?! Kamu masih mau mengedepankan emosi mu, hah?!” Al nampak sedikit meninggikan suara nya. Dia benar-benar kecewa atas tindakan Kinza yang semena-mena menurut nya.


“Maaf, Mas. Aku khilaf, aku lupa semua hal.” ucap Kinza sambil menitikkan air mata.


“Nggak usah mengeluarkan air mata buaya mu, Dek! Kamu nangis supaya aku nggak marah sama kamu 'kan? Supaya kamu nggak bisa aku salahkan, gitu?!” tandas Al semakin emosi.


Kinza menghapus air matanya. “Nggak, Mas. Sama sekali bukan itu niatan ku! Air mata ini adalah bukti penyesalan ku karena sudah menelantarkan Alief. Aku benar-benar menyesal, Mas! Aku mengakui kesalahan ku yang teramat besar. Aku tau, aku memang salah di sini!”


“Iya, ini semua memang salah mu, Dek! Pikiran mu masih kanak-kanak. Kamu belum dewasa, belum bisa profesional dan berfikir jernih! Kerja mu hanya cemburu dan cemburu. Ini salah, Dek! Prasangka buruk mu terlalu besar pada ku! Itu nggak baik buat suatu hubungan! Ego mu hanya akan merusak kisah cinta kita!” Al mengeluarkan emosi yang berada di dalam hati nya. Mereka bertengkar di depan bayi malang yang sedang sakit demam. Keduanya larut dalam emosi masing-masing. Mereka sama-sama sedang berada di puncak emosi tertinggi.


“Iya, Mas, iya. Semua salah ku! Aku memang pantas di salahkan sekarang! Kamu benar, aku salah. Kamu suci, aku banyak dosa. Sekarang mau apa? Kamu mau apa, Mas?! Kamu mau cerai? Kamu mau kita pisah?! Apa ini mau kamu, Mas?”


“Jujur, aku nggak tau lagi harus gimana. Hati ku sudah terlanjur sakit, Mas. Aku sakit hati. Sangat! Apalagi mendapatkan bentakan dari mu yang bertubi tubi. Tak berfikir kah kamu, Mas? Sikap mu bahkan lebih bisa merusak hubungan kita dengan cepat. Itu lebih fatal! Sebab, kamu sudah menyakiti hati ku. Berbicara dengan nada tinggi dan membuat ku tersentak. Aku kecewa sama kamu, Mas! Kamu sudah mengecewakan aku. Kamu jahat!” Kinza menangis tersedu. Dada nya terasa sesak. Dia merasa tak ada satu orang pun yang peduli pada nya. Kinza benar-benar merasa dunia tak adil bagi nya.


Kinza menutup wajah nya dengan kedua tangan. Dia menangis tersedu sambil menutup wajahnya yang sudah di banjiri air mata.

__ADS_1


Suara tangis menggema ke seluruh penjuru kamar. Di barengi dengan tetesan hujan dan gelap nya malam. Tentu hal itu semakin menusuk ke hati Kinza. Membuat gadis itu larut dalam kesedihan dan penyesalan.


Al terdiam. Dia bungkam setelah mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Kinza. Sekarang hati nya seperti di tusuk ratusan belati. Begitu perih dan menyakitkan.


Perlahan tubuh Al mendekat, dia jongkok di hadapan Kinza. Menggenggam tangan Kinza yang sedang berada di wajahnya. Namun, dengan cepat Kinza menepis sentuhan tangan Al.


“Jangan sentuh aku! Pergi, Mas!” usir Kinza sembari memeluk lututnya sendiri. Perempuan itu terus menangis sambil tersedu-sedu.


Al merasa bersalah karena telah menyakiti hati istri nya. Emosi nya tidak bisa di tahan sehingga menyebabkan kemarahan yang dilampiaskan pada Kinza. Al benar-benar merasa berdosa.


“Mas minta maaf, Dek. Mas nggak bermaksud berbuat kasar pada mu. Mas salah, tolong maafkan Mas.” ucap Al sembari memohon-mohon. Mata nya basah, Al menangis.


Kinza diam tak membalas, dia membisu seribu bahasa dengan tangis yang masih ada.


“Udah lah Mas, nggak perlu di bahas lagi. Hati ku udah terlanjur sakit karena kata-katamu. Sekarang apa yang kamu mau? Kamu mau pisah? Kamu mau kita cerai? Atau kamu mau yang lain, bilang sama aku sekarang!” Kinza menghapus air matanya dengan kasar. dia lalu bangkit dan duduk di atas ranjang.


“Nggak Dek. Bukan hal itu yang Mas inginkan. Mas sama sekali nggak mau pisah, Mas nggak mau kita cerai. Mas mohon, Dek jangan pernah berkata demikian. Mas benar-benar tidak ingin itu terjadi. Mas sangat mencintai mu, Dek. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu.” Al memohon di lutut Kinza. Posisi nya masih berjongkok di hadapan Kinza.


Kinza bungkam sembari membuang tatapan wajahnya ke arah lain.


“Aku butuh waktu, Mas. Aku butuh waktu untuk memulihkan hati ku yang sakit ini. Aku butuh sendiri dan jauh dari mu untuk beberapa hari. Kita harus bisa menenangkan pikiran kita masing-masing.” ucap Kinza dengan bibir bergetar hebat. Dia mengatakan hal itu sembari menetes air mata. Lagi-lagi dia menangis. Hati nya sakit.


Al mengerutkan keningnya. Dia terlalu terkejut dengan keinginan Kinza yang tidak masuk akal baginya. “Dek, maksud mu masing-masing itu gimana, ya?” tanya Al sedikit kalut dengan pemikiran nya. Mungkinkah apa yang ada di pikiran nya sama dengan yang akan Kinza inginkan.


...---...


Kinza Irsyania Malik POV


“Ya Allah, Dek! Kenapa sampai lupa gitu sih? Kamu tau 'kan itu adalah kesalahan fatal?! Untung saja Alief hanya demam, kalau terjadi sesuatu yang lebih parah gimana?! Kamu masih mau mengedepankan emosi mu, hah?!”


“Nggak usah mengeluarkan air mata buaya mu, Dek! Kamu nangis supaya aku nggak marah sama kamu 'kan? Supaya kamu nggak bisa aku salahkan, gitu?!”


“Iya, ini semua memang salah mu, Dek! Pikiran mu masih kanak-kanak. Kamu belum dewasa, belum bisa profesional dan berfikir jernih! Kerja mu hanya cemburu dan cemburu. Ini salah, Dek! Prasangka buruk mu terlalu besar pada ku! Itu nggak baik buat suatu hubungan! Ego mu hanya akan merusak kisah cinta kita!”


“Mas minta maaf, Dek. Mas nggak bermaksud berbuat kasar pada mu. Mas salah, tolong maafkan Mas.”


“Nggak Dek. Bukan hal itu yang Mas inginkan. Mas sama sekali nggak mau pisah, Mas nggak mau kita cerai. Mas mohon, Dek jangan pernah berkata demikian. Mas benar-benar tidak ingin itu terjadi. Mas sangat mencintai mu, Dek. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu.”


Sakit hati ku mengingat percakapan ini. Rasanya dunia sedang memusuhi ku. Tak ada siapapun yang peduli pada perasaan ku.

__ADS_1


Aku memang salah, namun haruskah mendapatkan bentakan yang bertubi-tubi dari Mas Al? Apa aku memang pantas mendapatkan perlakuan itu? Apa aku emang pantas di kasari? Apa aku serendah dan sehina itu?


“Aku mau pergi dari rumah ini untuk sementara waktu. Aku ingin menenangkan hati dan pikiran ku, Mas. Jadi, biarkan aku pergi dari rumah ini untuk sementara. Alief biar aku yang membawa nya!”


Benarkah seorang Kinza Irsyania Malik mengatakan hal itu? Benarkah dia benar-benar siap menghadapi semua nya sendirian meski hanya bersifat sementara? Benarkah Kinza akan melakukan hal itu?


Ya, benar. Tekad ku sudah bulat untuk pergi meninggalkan rumah ini. Meskipun bersifat sementara, tapi keinginan ku begitu bisa berguna. Sangat berguna. Pikiran ku bisa tentram dan damai tanpa memandang si pembuat onar.


Aku pergi bukan semata-mata menghindari Mas Al, bukan hanya ingin menenangkan pikiran. Tapi juga, untuk menyembuhkan luka hati yang tergores oleh ucapan Mas Al. Rasa nya begitu menyakitkan di bentak oleh suami sendiri. Sakit bukan main!


Mas Al menatap ku tak percaya. Dia sangat terkejut dengan ucapan ku yang dianggap main-main oleh nya. Padahal aku serius, tekad ku sudah bulat akan meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu. Tentu nya Alief akan aku bawa bersama ku.


“Kamu bercanda 'kan, Dek? Kamu hanya pura-pura 'kan?” tanya nya memastikan. Aku menggeleng.


“Nggak, Mas. Kali ini aku serius. Aku benar-benar ingin pergi dari rumah ini untuk sementara. Aku ingin menjernihkan pikiran dan hati ku.” ucap ku kekeuh akan tetap pergi. Namun wajah Mas Al nampak gusar.


“Dek, kamu mau pergi kemana? Bisakah aku ikut saja? Bisakah tempuh jalan lain saja? Ku mohon, jangan lakukan ini.” racau Mas Al memohon kepada ku supaya aku tetap di sini. Namun, lagi-lagi aku sudah membulatkan tekad dan ingin tetap pergi.


“Nggak, Mas. Nggak ada cara lain. Ini adalah satu-satunya cara supaya bisa membuat ku merasa lebih baik. Kamu mau setuju atau nggak, aku gak peduli. Yang jelas aku akan tetap pergi dari sini!” aku tetap bersikeras untuk menjauh dari Mas Al. Dia nampak kacau, wajah nya terlihat frustrasi.


“Tapi kamu mau pergi kemana, Dek? Berapa lama? Mas antar, ya, sayang? Mas nggak akan ngebiarin kamu pergi sendirian.” ucap Mas Al sambil memohon pada ku. Namun aku tak menghiraukan nya. Aku bangkit dari duduk dan berjalan mendekati lemari pakaian. Memasukkan beberapa potong pakaian untuk ku bawa nanti. Tak lupa juga memasukkan beberapa pakaian bayi untuk Alief. Ku satukan semua nya ke dalam satu koper.


Mas Al terus mengikuti langkah ku sembari terus memohon. Namun tak ku pedulikan sama sekali. Hingga pada akhirnya, sreekk, dia menarik tangan ku dengan paksa sehingga aktivitas ku terhenti.


“Stop, Dek! Mas mohon kamu berhenti! Bilang sama Mas kemana tujuan mu sekarang? Kalau nggak, Mas nggak akan pernah ngebiarin kamu pergi. Mas nggak akan kasih izin ke kamu sedikit pun. Ingat, Dek, melanggar perintah suami itu hukum nya dosa!” tegas Mas Al sembari mencengkram bahu ku dengan kuat. Aku nyaris kesakitan karena tindakan nya.


“Aku mau pergi ke rumah Mama. Di sana sudah ku pastikan hati dan pikiran ku akan merasa tenang. Ketentraman dan kedamaian akan ku dapatkan di sana Mas! Bukan di batalyon ini, apalagi di rumah ini!” tandas ku cepat sembari memberontak. Aku melepaskan cengkraman tangan Mas Al yang kuat itu. Meskipun kalah tenaga, tapi aku terus memaksa nya dan pada akhirnya bisa.


“Biar ku antar, ya? Biar Mas antar kamu sampai rumah Mama. Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa Dek. Apalagi ini sudah malam.” Mas Al menawarkan bantuan. Ingin ku tolak, tapi nggak bisa. Aku yakin, Mas Al nggak akan pernah ngebiarin aku keluar dari rumah ini sendirian tanpa pengawasan.


Aku menggeleng lemah, “Ya!”


Aku memburu tubuh Alief yang sedang tertidur pulas. Tidur nya damai karena baru saja di beri obat demam. Alief nampak menikmati tidurnya tapi harus terganggu karena ulah ku.


Maafkan Mama, ya, Nak. Mama benar-benar harus melakukan ini supaya Alief nggak kena batu nya. Maafkan keegoisan Mama. Sungguh, Mama tidak bermaksud membuat Alief kelaparan. Mama sangat merasa bersalah. Tolong maafkan dosa-dosa Mama, ya, Lief. Mama mencintai mu! ucap ku sedu sembari memeluk tubuh Alief yang masih sedikit panas. Dia nampak terganggu, namun tidak sampai menangis.


Setelah itu aku keluar rumah. Di luar sudah ada Mas Al yang berada di dalam mobil, serta satu koper dan tas susu kepunyaan Alief.


Aku menatap rumah dinas Mas dengan seksama. Memperhatikan tiap inci rumah yang akan ku tinggalkan ini. Meskipun sementara, namun tentunya aku akan merindukan nya. Setiap saat.

__ADS_1


Selamat tinggal rumah serba hijau. Selamat tinggal kenangan pahit. Baik-baik, ya. Jaga Mas Al. Jangan sampai ada mata jahat yang masuk ke rumah ini.


Sampai jumpa di lain hari.


__ADS_2