
Kinza Irsyania Malik POV
“Kamu kenapa sih dengan mudahnya memaafkan Putri seperti itu? Apa kamu tak ingat kesalahan yang pernah dia lakukan terhadap diri mu?”
“Lihat kakimu Kinza, bahkan kamu harus duduk di atas kursi roda seperti ini. Apa yang ada di pikiranmu? Aku benar-benar nggak paham!”
“Terbuat dari apa hati mu, sayang? Mengapa dengan mudah nya kamu memaafkan kesalahan orang lain?”
Hati aku terbuat dari apa? Ya, mana aku tau, aku bukan Tuhan. Kaget, ya, Mas punya istri sebaik dan secantik aku ini? wkwk
Aku menghela nafas pelan. Kenapa sih Mas Al ikutan jadi manusia pendendam? Padahal dengan kita memaafkan, semua urusan menjadi lebih mudah. Hidup aman, damai dan tentram.
Aku meraih tangan Mas Al. “Mas, nggak baik 'lho jadi manusia pendendam. Bukankah memaafkan itu adalah suatu tindakan yang mulia? Nggak sembarangan orang bisa kayak gitu, kan?” ucap ku lembut.
Beliau terdiam sesaat, “iya sih, Dek. Tapi Mas masih merasa tidak terima. Kesalahan yang sudah Putri lakukan itu terlalu fatal. Coba bayangin kalo Mas nggak cepat-cepat datang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nyawa mu bisa hilang, Dek!” Mas Al terus berargumen sendiri. Iya aku tau, aku paham. Tapi harus gimana? Aku nggak mau memenjarakan Mbak Putri.
Kalau Mbak Putri dipenjarakan, tentu hal itu hanya akan menjadi malapetaka untuk keluargaku. Masalah yang ada bisa semakin runyam, Mbak Putri bisa menjadi orang yang sangat beringas dan menjadi manusia pendendam.
Tentu aku tidak ingin hal itu terjadi. Bisa-bisa hidupku terus dihantui oleh rasa takut dan rasa bersalah seumur hidup.
Ku lirik Mas Al yang sedang merebahkan diri di atas kasur. Dia seperti orang yang sedang berfikir berat, wajahnya terlihat tak santai, pun dengan gerakan tangan yang sedang mengurut keningnya.
“Sudah ya, Mas, tidak usah dipikirkan lagi, kuyakin Mbak Putri bisa bertobat. Dan, dia tidak akan melakukan hal-hal buruk kepada keluarga kita lagi. Ikhlaskan saja Mas, dia pasti akan berubah sepenuhnya.” ucapku sembari ikut merebahkan diri di samping Mas Al.
Mas Al terlihat nampak pasrah. Dia sepertinya setuju dengan ucapan yang baru saja aku katakan. Ya mau dikata apa? sepertinya usulan ku adalah jalan yang terbaik untuk keselamatan keluargaku. Semoga saja, setelah ini tidak ada masalah yang terjadi lagi akibat ulah Mbak Putri. Aamiin.
“Hukuman untuk Bang Arjuna? Apa Mas sudah tahu? menurut Mas, kira-kira hukuman apa yang akan diberikan oleh Komandan kepada Bang Arjuna?” tanyaku disela-sela keheningan.
"Bapak Komandan tidak akan memberikan sembarangan hukuman kepada prajurit nya, Dek. Beliau pasti berpedoman penuh pada undang-undang militer. Karena, undang-undang militer akan mengadili Arjuna seadil-adilnya. Sesuai dengan apa yang sudah istrinya lakukan terhadap dirimu.” ucap Mas Al nampak santai. Aku terdiam sejenak. Mungkinkah Bang Arjuna dan Mbak Putri akan dipindahkan dari satuan ini tanpa aku minta. Atau, akankah Bang Arjuna dilepas jabatannya dari tentara?
Kalau sampai dia dicopot jabatannya, kasihan sekali. Usahanya untuk menjadi seorang tentara itu tidak mudah. Bang Arjuna berjuang mati-matian, akulah salah satu orang yang beruntung, yang bisa menjadi saksi perjuangan Bang Arjuna dalam meraih kesuksesannya sebagai seorang tentara. Bahkan, dulu aku sering menemaninya latihan olah fisik sampai dia akhirnya lolos tes.
“Menurut Mas, apakah Bang Arjuna akan dicopot jabatannya dari tentara?” tanyaku super penasaran kendati aku merasa kasihan kepada Bang Arjuna.
__ADS_1
“Menurut Mas sih nggak, Dek. Asal masalah ini kita tutupi serapat-rapatnya. Kalau sampai masalah ini tersebar kemana-mana dan sampai terdengar oleh KASAD, tentu Arjuna akan dicopot dari jabatannya. Jika Mas hendak memperkarakan ini, bisa saja saat inj juga Arjuna langsung di copot dari jabatan nya. dan Putri akan langsung mendekap di penjara. Memangnya kenapa sih, Dek? Kenapa kamu jadi kepo seperti ini? Kayanya kamu kasihan, ya, sama Arjuna?” tanya Mas Al yang seratus persen benar. Aku merasa kasihan bukan berarti aku masih mencintainya. Aku hanya merasa ina, karena tentunya Bang Arjuna merasa sangat terpukul sebab karirnya harus berhenti sampai di sini.
Aku mengangguk lesu. "Kasihan sekali ya Mas, kalau itu sampai terjadi. Dia pasti sangat sangat kecewa pada Mbak putih. Sebab, perjuangan untuk menjadi seorang prajurit itu tidak mudah. Perlu persiapan yang sangat matang dan tentunya perjuangannya tidak setengah-setengah. Jadi tentara itu susah kan Mas?” tanya yang dibalas anggukan oleh Mas Al.
"Yups, itu memang benar Dek. Arjuna akan sangat terpukul jika karirnya harus terhenti karena istrinya sendiri. Mas tahu dia sudah mencintai Putri. Walaupun belum sepenuhnya karena cintanya masih ada padamu. Meskipun demikian, mas tidak akan marah pada Arjuna. Sebab cinta itu tidak bisa disalahkan. Tapi, di sini yang menjadi perkara adalah Putri. Mas juga kasihan pada Arjuna, setelah ini pasti dia akan mendapatkan hukuman yang begitu berat. Hukuman militer itu sangat berat, Dek. apalagi jika kesalahan yang dilakukannya menyangkut keselamatan sesama warga asrama. Arjuna bisa dipenjara, bisa dihukum lari keliling lapangan menggunakan ransel seperti orang yang ingin berperang. Dan yang lebih parah, Arjuna bisa saja diberhentikan dari jabatannya sebagai seorang tentara." ucap Mas Al panjang lebar membuatku semakin merasa iba pada ada Bang Arjuna.
Aku mengubah posisi menjadi duduk. "Mas, enggak bisa ya hukumannya kita saja yang menentukan? Pasti tadi Bang Arjuna dan Mbak Putri sudah mendapatkan sentakan dan cacian dari Bapak komandan. Kurasa itu sudah menjadi hukuman untuk keduanya. Mbak Putri pasti sudah cukup merasa kapok."
“Tidak bisa lah, Dek. kita tidak bisa melakukan penghakiman sendiri. Semua kesalahan yang sudah dilakukan oleh istri maupun prajurit itu sendiri, pasti perbuatannya akan ditindak dan diadili oleh peraturan militer yang ada di satuan ini. Kamu tahu? Semua perbuatan pasti akan mendapatkan balasannya. Dan inilah balasan yang tepat untuk mereka berdua terutama untuk Putri. Tidak usah merasa kasihan, karena ini memang sepatutnya terjadi. Dan inilah hukuman yang pantas untuk perbuatan yang sudah mencoreng nama baik satuan." ucap Mas Al. Lagi-lagi Aku hanya bisa terdiam sembari membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Bisa kubayangkan, betapa hancurnya hati bang Arjuna dan betapa terpukulnya hati Mbak Putri karena harus melihat suaminya dicopot dari jabatannya sebagai seorang tentara.
“Sudahlah, Dek. Semua sudah ada yang mengaturnya, kita hanya perlu menjadikan ini sebagai pelajaran untuk kita semua. Jangan sampai hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya. Bersyukur, kita masih dilindungi dari perbuatan keji yang dilakukan oleh Putri. Itu sudah cukup membuat Mas lega.” aku mengangguk lesu sembari memeluk tubuh Mas Al. Tak ada yang harus aku pusing kan sekarang, yang terpenting semua masalah yang ada sudah terselesaikan dan tidak ada kejahatan yang akan terjadi lagi.
...---...
Persidangan kedua dilanjutkan esok harinya. Ruangan Bapak komandan sudah dipenuhi oleh orang-orang penting yang ada di satuan ini. Seperti Komandan, Pasintel, dan pejabat-pejabat penting yang ada di satuan ini.
Dengan wajah buram dan takut Mbak Putri duduk di tengah-tengah persidangan. Disampingnya ada Bang Arjuna yang sudah lengkap menggunakan seragam tentara. Dan, tentunya ada Mas Al dan aku yang masih duduk di atas kursi roda.
Persidangan dimulai, suasana menjadi semakin tegang dengan Mbak Putri yang terus mengalirkan air mata. Rasa iba tiba-tiba muncul di dalam hatiku, Aku benar-benar tidak tega melihat sepasang pasutri diadili di hadapan banyak orang. Ingin rasanya menghentikan acara persidangan ini, tetapi tidak bisa. Keadilan harus tetap ditegakkan.
“Sesuai peraturan yang ada ada, Lettu Arjuna Bima Nusamalima akan dikenai hukuman lari keliling lapangan sebanyak 100 kali memakai peralatan tempur yang lengkap. Selain itu, beliau akan dipenjara selama 14 hari. Yang terakhir, Lettu Arjuna Bima Nusamalima beserta istrinya akan dipindahkan ke satuan Yonif Infanteri Raider di provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya di kota Kupang.”
duk duk duk palu diketuk oleh Komandan.
Aku menitikkan air mata. Bersamaan dengan itu, terdengar isak tangis Mbak Putri yang memenuhi ruangan. Dia terlihat begitu lemas dan tidak berdaya. begitu juga Bang Arjuna, Dia terlihat pasrah tetapi masih saja berdiri dengan tegap.
Bang Arjuna langsung melaksanakan hukuman, dia langsung disuruh lari keliling lapangan dengan membawa ransel khas prajurit tempur. Namun, ketika Bang Arjuna hendak keluar ruangan, Mbak Putri tiba-tiba saja pingsan ditempat dan langsung tidak sadarkan diri. Semua orang langsung panik terutama aku yang masih saja terus menangis.
Mbak Putri langsung dibawa ke KSA. Hukuman yang seharusnya dijalankan oleh Bang Arjuna saat ini, akhirnya tidak jadi dilaksanakan sebab beliau harus mengantar istrinya ke KSA.
Aku dibantu Mas Al ikut mengantar Mbak Putri ke KSA. Hati nuraniku langsung berdesir. Tak kuasa melihat pemandangan yang ada di depanku saat ini.
“Mas, aku benar-benar merasa bersalah pada Mbak Putri. Kalau dia kenapa-napa bagaimana? Aku benar-benar merasa kasihan padanya, Mas." ucapku dengan tubuh yang bergetar hebat. Namun Mas Al terus mengingatkan bahwa ini bukan kesalahanku.
__ADS_1
“Tidak ada yang salah pada dirimu, Sayang. Ini sudah menjadi takdir bagi kita semua, terutama bagi Arjuna dan Putri. Tentu kita tidak bisa disalahkan, sebab yang menjadi biang masalah di sini adalah Putri sendiri. Dia pantas mendapatkan semuanya karena ulah yang dia perbuat sendiri. Sudahlah, biarkan saja ini terjadi, karena Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk umat nya, begitu juga untuk kita.” ucap Mas Al dengan lembut sembari mengelus punggung ku.
Ya Allah, sungguh aku tak kuasa melihat semua nya terjadi. Tolong lindungi Mbak Putri, tolong berikan dia kekuatan untuk menjalankan semuanya. Aamiin..
Kami semua menunggu Mbak Putri diperiksa. Dengan perasaan cemas,ndengan raut wajah yang memburam, dan dengan doa-doa yang terus dipanjatkan.
Kulirik ke samping, Bang Arjuna begitu terlihat cemas. Dia tak henti-hentinya dia memanjatkan doa sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sementara aku terus didekap oleh Mas erat-erat. Sungguh aku merasa sedih dan merasa kasihan padanya. Ingin rasanya mencabut hukuman terhadap Bang Arjuna. Namun, ini sudah menjadi peraturan militer dan tentunya tidak akan bisa dicabut kembali.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang periksa. Dia langsung menghampiri Kami bertiga. "Dengan Lettu Arjuna?" tanya sang dokter.
"Ya Dok, saya sendiri Lettu Arjuna. Bagaimana keadaan istri saya, apa dia baik-baik saja?" tanya Bang Arjuna tidak sabaran. Maklum saja, dia sudah terlewat cemas.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu Putri hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran saja, apalagi karena usia kandungannya yang masih muda. Hal itu membuat beliau akan mudah lelah dan bila sudah parah akan pingsan seperti ini. Saya sarankan, jangan terlalu membebani pikiran Ibu Putri. Perbanyak istirahat dan minum vitamin untuk memperkuat kandungan nya. Nanti saya akan berikan resep obatnya.”
Bang Arjuna terlihat kaget dan terlihat tidak percaya. Begitupun dengan aku dan Mas Al. Kami tidak percaya bahwa Mbak Putri sudah mengandung anak Bang Arjuna. Tapi, perasaan bersalah kembali muncul dalam hatiku. Kalau terjadi apa-apa pada kandungan Mbak Putri, tentu aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Sebab hal ini pasti ada kaitannya dengan ku.
Bang Arjuna mengucapkan syukur dan berterima kasih pada dokter. Setelah itu, dia masuk ke dalam ruangan Mbak Putri di susul oleh aku dan Mas Al.
Mbak Putri terlihat pucat dan lemas. Dia terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Matanya masih terpejam, kesadarannya belum pulih seutuhnya.
Perlahan Bang Arjuna mendekati Mbak Putri dan duduk di kursi yang berada di samping nya. Tangan Bang Arjuna dengan lembut menggenggam tangan Mbak Putri. Di cium nya berkali-kali sembari tak henti nya mengucap syukur.
Kulihat mata Mbak Putri mulai terbuka. Dia mengerjapkan mata beberapa kali tanda menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata nya.
"Put, selamat ya, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Kamu hamil, sayang.” ucap Mas Al dengan semringah. Ketegangan yang tadi terjadi berganti dengan haru biru di dalam ruangan ini. Aku turut mengucap syukur, berbeda dengan Mas Al yang masih terdiam dengan wajah yang sedikit terkejut. Mungkin dia tak percaya bahwa Mbak Putri bisa mengandung anak dari Bang Arjuna.
"Aku ikut senang mendengar berita ini, Bang, Mbak. Selamat atas kehadiran buah hati yang ada di dalam perut Mbak Putri. Semoga bayinya selalu sehat.” ucapku memberikan selamat pada Mbak Putri dan Arjuna dengan sangat tulus. Mbak Putri tersenyum sambil sesekali menatap wajah bang Arjuna dengan tidak percaya.
“Terima kasih, Dek.” ucap Mbak Putri lemah.
“Ar, Aku beneran hamil anakmu? Anak kita? Aku benar-benar tidak menyangka si kecil akan tumbuh di sini."ucap Mbak Putri sembari mengelus perutnya yang masih datar.
__ADS_1
Suasana tegang sedikit demi sedikit mulai mencair. Aku mulai menyayangkan kejadian yang telah terjadi. Seandainya Mbak Putri tidak melakukan hal ini, pasti aku akan melihat bagaimana anak nya nanti terlahir. Pasti begitu lucu dan menggemaskan. Tapi sayang, itu hanyalah khayalan semata.
Dimana pun Mbak Putri berada, semoga selalu dalam perlindungan Yang Kuasa.