
Kinza Irsyania Malik POV
Suasana kantor Komandan terasa berbeda. Aku hanya bisa diam menunduk sambil meremas ujung baju. Beda dengan Mas Al yang sudah mengeluarkan semua argumen nya.
Ku lirik ke samping kanan, Mbak Putri ada di sebelah Bang Arjuna. Dia terlihat sangat kacau dengan air mata yang terus berderai. Bagaimana tidak, Mas Al kali ini serius dengan ucapan nya. Dia berniat memasukkan Mbak Putri ke dalam jeruji besi. Penjara!
“Bukan hanya soal tindak kriminal pada hari ini, Ndan. Bu Arjuna juga sudah melakukan kejahatannya kemarin, dia mendorong istri saya di kamar mandi. Bisa di lihat, bagaimana kondisi istri saya. Dia bahkan mengancam istri saya. Apa bisa saya diam saja, Ndan?” lagi dan lagi Mas Al membocorkan semua rahasia kejahatan Mbak Putri.
“Apa benar Ibu Danramil?” tanya Bapak komandan, aku mengangguk lesu sambil mengeluarkan air mata. Jujur, aku tidak mau berada di posisi ini. Aku takut Mbak Putri malah semakin merasa benci pada ku.
Aku mendengar isak tangis Mbak Putri. Saat ku lihat, ternyata dia menangis sambil menundukkan kepala. Aku merasa iba pada nya, tapi tak bisa berbuat banyak. Meskipun dia sudah menyakiti ku fisik dan mental, tapi rasa kemanusiaan ku tak pernah hilang. Aku benar-benar merasa kasihan padanya.
“Bang, apa tidak bisa kita selesaikan dengan jalan damai? Saya mohon jangan libatkan polisi dalam urusan ini.” ujar Bang Arjuna memelas. Dia nampak tak berdaya karena ulah istri nya. Lagi dan lagi aku merasa iba.
“Nggak bisa! Ini sudah melewati batas! Tindakan istri mu tidak bisa di tolerir lagi! Kalau dia tetap di biarkan ada di sini. Bagaimana dengan nasib keselamatan istri dan anak saya? Siapa yang akan menjamin nya?!” tegas Mas Al dengan berapi-api. Emosi nya sudah berada si puncak tertinggi, Mas Al benar-benar marah pada Mbak Putri. Aku hanya bisa menunduk sambil meremas ujung baju. Tak kuasa melihat amarah suami ku sendiri.
“Mas, jangan terburu-buru. Kita bicarakan dulu baik-baik, ya? Pikirkan semua nya matang-matang. Mungkin ada cara yang tepat untuk menghadapi masalah ini. Ku mohon, jangan libatkan polisi.” ucap ku sembari menggoncang lengan Mas Al. Tapi, lagi-lagi dia diam saja dan masih meninggikan amarah nya di puncak tertinggi.
“Dek, cobalah kamu pikir. Apa jadi nya kalau dia masih ada di sini? Aku nggak mau mengambil resiko tinggi. Putri terlalu berbahaya buat keluarga kita!” balas Mas Al menolak usulan ku. Aku kembali menunduk, merasa gagal karena tak bisa meredam emosi suami ku.
“Bapak Danramil, benar apa yang di katakan oleh istri Anda. Kita bisa pikirkan jalan keluar yang lain. Jangan terburu mengambil resiko saat dalam keadaan marah. Itu tidak baik.” bubuh Bapak komandan menambah, dia ikutan setuju dengan saran yang aku berikan.
Mas Al memijat kening nya dengan keras. Merasa semuanya terlalu berat. “Baiklah, saya akan pikirkan ini matang-matang. Tapi ingat, kalau kamu berani macam-macam lagi, saya nggak akan segan menjebloskan kamu ke dalam penjara!” tegas Mas Al dan mengambil saran yang aku berikan pada nya. Syukurlah Mas Al sedikit tunduk.
“Izin mendahului, saya permisi, Ndan. Untuk hukuman, saya serahkan semua nya pada komandan. Saya percaya sepenuhnya bahwa hukum di militer ini bisa adil. Permisi.”
Mas Al hendak keluar dari ruangan komandan dengan keadaan kacau. Emosi nya masih tercetak jelas. Dia sangat marah namun tak bisa berbuat banyak karena aku menahan nya.
“Izin undur diri, Pak, Bu.”
“Ya, silakan.”
Kursi roda ku di dorong oleh Mas Al. Dia nampak tergesa, membuat ku sedikit khawatir.
...---...
Althafariz Ramaditya Dirgantara POV
“Mas, bisa kita bicara baik-baik? Redam emosi mu, Mas. Kalau kamu masih saja emosi, bagaimana bisa berpikir jernih. Yang ada hanya tindakan yang sia-sia.”
“Coba kamu pikir deh Mas, kalau misalkan Mbak Putri dipenjara, itu bisa mengakibatkan dendam yang teramat besar. Menurutku jangan penjarakan dia, minta saja Bapak Komandan untuk memindahkan tempat dinas Bang Arjuna. Itu jauh lebih baik ketimbang harus memenjarakan Mbak Putri. Toh, dengan dijauhkan nya dia dari keluarga kita, kita bisa hidup aman nyaman dan damai.”
__ADS_1
"Kumohon Mas jangan penjarakan Mbak Putri. hal itu hanya akan memicu timbulnya rasa dendam dalam hati Mbak Putri. Bisa saja setelah keluar dari penjara, Mbak Putri justru melakukan hal yang lebih kejam dari ini. Tentu hal itu hanya akan membahayakan keluarga kita. Terutama keselamatan Alief.”
"Pikirkanlah ini matang-matang, Mas. jangan sampai keputusan yang kamu inginkan malah membawa petaka bagi keluarga kita. Sekarang, cobalah berfikir terlebih dahulu. Pejamkan matamu lalu beristighfarlah. Kuharap, itu bisa membantu meredam emosi yang ada pada hatimu sekarang.”
Aku mengikuti usulan yang Kinza berikan. Selepas memejamkan mata dan beristighfar aku langsung mendapatkan sebuah pencerahan. Perkataan beliau ada benarnya juga, kalau aku mau memenjarakan Putri, bisa saja dendam di hatinya malah semakin memuncak. Tentu saja hal itu akan sangat berbahaya untuk keluargaku, terutama bagi keselamatan Kinza dan Alief.
Aku mengurut keningku yang terasa pening. Dilema kembali melanda pikiranku. Kemungkinannya terlalu besar untuk tidak memenjarakan Putri. disamping itu, jika Arjuna dipindahkan tugas. Bisa saja Putri menyakiti Kinza saat kami sedang keluar atau jalan-jalan. Bahkan itu akan lebih parah sebab dilakukan diluar asrama. Siapa yang akan menjamin keselamatan nya jika Kinza tidak pergi bersama ku?
“Mas mengerti, Dek. Mas juga tahu apa maksudmu, tapi bagaimana jika dia berulah saat kita sedang pergi keluar asrama? Atau, saat kita tidak sengaja bertemu dengannya dan dia malah melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Siapa yang akan menjamin keselamatan mu, Dek. Mas tidak mungkin berada di dekatmu setiap saat. Mas punya tanggung jawab dan kewajiban sebagai seorang abdinegara.” ucapku seraya memejamkan mata. Kinza nampak terdiam, mungkin dia memikirkan kan apa sedang yang aku pikirkan.
“Lalu kita harus bagaimana Mas? Memenjarakan Mbak Putri itu, hanya akan membuat dia semakin merasa benci pada keluarga kita. Aku tidak mau dendam dia semakin memuncak dan justru melampiaskannya pada Alief.” Kinza nampak ketakutan.
Baik, sudah ku putuskan sekarang. “Baiklah Dek, sesuai usulan mu, aku mau Arjuna dipindahkan tugas dari satuan ini. Dan, sebisa mungkin tempat dinas nya harus jauh dari kota ini. Aku tak mau mengambil resiko besar, kurasa ini yang paling terbaik untuk aku, untuk kamu, untuk Alif dan untuk selamatan keluarga kita!” ucap ku akhirnya mengalah.
Semoga ini adalah jalan yang terbaik. Semoga Yang Kuasa senantiasa melindungi dan menjaga keluarga ku dari marabahaya. Aamiin.
...---...
Sementara itu, di ruangan komandan suasana semakin tegang. Arjuna dan putri di sidang oleh Bapak dan Ibu komandan setelah kepulangan Al dan Kinza.
Putri hanya bisa menunduk sambil menangis tangannya meremas ujung baju dan sesekali isakan terdengar.
sementara suaminya, dia disidang habis-habisan oleh Bapak Komandan. dia dimarahi dicaci dan bahkan ditendang. Bapak Komandan terlihat sangat marah, bisa dilihat dari perlakuannya pada Arjuna salah.
“Ss-siap, salah.”
Braakk
“Tindakan ini sudah mencoreng nama satuan! Untung saja KASAD sudah pergi dari sini, kalau tidak kita semua akan terkena masalah! Mayor Al bisa saja memberikan tuntutan kepada polisi tentang hal ini. Untung saja Ibu Kinza baik. Kalau tidak, istrimu sudah dipenjara saat ini juga!!”
“Ss-siap salah!”
“Kamu tahu tidak, ini tindakan kriminal Lettu Arjuna!”
“Siap!”
“Esok hari adalah keputusannya. Soal di penjara atau tidak, itu urusan kalian dengan Mayor Al! Saya hanya menindak kamu sesuai dengan peraturan militer yang ada. Dan, kamu akan saya pindahkan tugas keluar kota, tentunya jauh dari kehidupan Mayor Al dan istrinya! terima atau tidak, suka atau tidak, Itu sudah menjadi resiko kalian berdua!”
Putri hanya bisa menangis sambil terus mencengkram ujung bajunya kuat-kuat. dia begitu menyesali perbuatan jahat nya yang sudah ia lakukan pada Kinza dan Al. tentunya Dia benar-benar sangat merasa bersalah.
“Sekarang pergilah, persiapkan dirimu untuk hukuman nanti. Kamu akan saya penjarakan selama 14 hari, denda untuk biaya pengobatan Mayor Al dan juga istri nya, serta lari keliling lapangan 10 kali dalam 1 minggu dengan peralatan tempur yang lengkap. Jelas?!"
__ADS_1
“Siap, jelas!” Balas Arjuna dengan tegas walaupun sesuatu di dalam diri nya bergejolak.
“Keluar sekarang!” usir Bapak komandan dengan amarah yang masih memuncak.
Arjuna dan Putri keluar dari ruangan komandan dengan perasaan teraduk. Arjuna benar-benar sudah murka pada istrinya, Putri. Sementara itu, Putri hanya bisa menangis dan terus menangis sembari mengejar langkah Arjuna yang cepat dan sudah berada jauh di depan nya.
Ketika sampai rumah, pintu langsung digebrak oleh Arjuna dengan kasar. Dia langsung mendudukan Putri di atas kasur secara paksa. Putri hanya bisa pasrah dan menurut pada Arjuna. Dia menerima apapun yang akan dilakukan Arjuna kepada dirinya.
“Kamu tahu 'kan apa sudah kamu perbuat, Put?! Hal ini benar-benar membuat aku merasa malu! Kamu tahu itu?! namaku sudah tercoreng karena ulahmu karena perbuatan buruk mu, bahkan nama kita berdua sudah jelek di mata orang-orang! Perbuatanmu ini sangat salah, Put! Kamu sudah melakukan tindakan yang merugikan diri mu dan juga orang lain!”
“Selama ini aku mencoba menutupi kesalahanmu, Put. Aku tahu tindakan yang sudah sejak dulu kamu perbuat, tapi aku mencoba diam! Itu semua supaya kamu tetap aman berada di sini. Tapi apa yang kamu perbuat sekarang, hah? Kamu menghancurkan semuanya! Bahkan karirku sudah rusak karena ulah mu!”
“Aku sudah berusaha mencintai mu, dan itu berhasil. Aku mencintaimu walau belum sepenuhnya. Tapi kamu? Sedikit pun tidak ada perasaan untuk ku! kamu justru hampir mencelakakan orang orang lain, demi kepuasan nafsumu semata. itu hal yang salah Putri!”
“Sekarang belajarlah untuk mencintaiku! Lupakan masa lalu yang terus menghantui mu, bahkan memaksa kamu untuk melakukan suatu tindakan kejahatan!!”
“Bahkan setelah perbuatan keji mu ini, aku masih terus mencintaimu! Aku tahu sulit bagimu, bagi kita untuk saling berbagi perasaan cinta. Tapi cobalah, berusaha lah, Put! Aku yakin kamu pasti bisa, aku yakin kamu pasti bisa mencintaiku seperti kamu mencintai Al. Kumohon, lupakan Al dan cintai aku! bukalah hati kamu untukku, tutup masa lalumu dengan Al. Dan kita buka lembaran baru.”
Arjuna mengeluarkan semua isi hatinya. Dia bahkan menangis di hadapan Putri sambil memegang erat tangannya. Arjuna sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Dia tidak tau harus berbuat apa lagi.
Putri semakin mengencangkan tangis nya. Dia benar-benar merasa sangat bersalah. Terutama pada Arjuna yang sudah berusaha mencintai nya. Walau Arjuna tahu, kalau Putri masih mencintai mantan kekasihnya.
Dia benar-benar merasa sangat bodoh, dia sudah menyia-nyiakan orang yang sudah berusaha mencintainya. Putri benar-benar sangat merasa bersalah.
Putri bersimpuh di hadapan Arjuna, dia langsung memeluk Arjuna dengan erat dan dengan perasaan yang hancur.
“Maafkan aku Mas Arjuna, Aku sungguh menyesali perbuatanku ini. Aku siap menanggung semuanya. Aku akan menebus semua kesalahanku pada Al dan Kinza. Semua keinginan mereka akan aku penuhi. Aku berjanji akan mencoba mencintaimu lagi dan akan mencoba menutup hati untuk Al. Kumohon tetaplah mencintaiku, tetaplah berusaha mencintaiku dengan sepenuh hatimu. Aku benar-benar menyesal, Mas.” ucap Putri di sela-sela tangisnya. dia terus memeluk Arjuna dengan erat walau tubuhnya bergetar hebat.
Arjuna tak menjawab, yang terdengar hanyalah suara isak tangis dari mulut nya.
“Sekarang aku harus apa, Ar? Aku harus gimana? Aku merasa putus asa, aku benar-benar merasa putus asa, hiks.” ucap Putri sambil terus menyesali perbuatannya.
Lagi-lagi tidak ada jawaban, Arjuna masih terus diam membisu dan terus menangis.
Perlahan Arjuna bergeming dia melepaskan pelukan Putri pada tubuhnya, berganti dengan dia yang memeluk Putri. Arjuna mendekap erat Putri ke dalam dadanya. dia mengelus lembut rambut Putri dan berusaha menenangkan pikirannya.
“Belajarlah mencintaiku, Put. Ikhlaskan Al untuk Kinza. Tutup ruang masa lalumu bersama dengan Al, buka hatimu dan mulai terimalah aku. hanya itu yang bisa kamu lakukan sekarang.” ucap Arjuna dengan lembut.
“Aku tidak meminta apa-apa lagi. Aku hanya ingin itu darimu, Put. Percayalah suatu saat nanti, kamu akan bisa mencintaiku seutuhnya. Seperti layaknya kamu mencintai Al. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Teruslah berusaha dan jangan menyerah, aku yakin kamu pasti bisa!” sambung Arjuna.
Putri tidak menjawab, Dia masih menangis sembari menyesali perbuatannya.
__ADS_1
“Aku takut mengecewakanmu lagi, Ar. Dulu, aku sudah berjanji untuk mencintaimu dan melupakan Al, tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku justru mengikuti nafsuku untuk merusak rumah tangga Al dan Kinza. Dosaku terlalu besar, Ar. Aku malu pada diriku sendiri, aku malu padamu, dan aku malu pada Kinza dan Al. aku tak berani menatap wajahmu, wajah Al dan wajah Kinza. Karena dosaku terlalu besar, salahku terlalu banyak pada mereka.”
“Terutama padamu, Ar. Aku malu karena telah menyia-nyiakan orang yang benar-benar tulus mencintaiku dan terus berusaha mencintaiku. Kumohon Maafkan Aku.” ucap Putri sambil menangis. Keduanya masih sama larut dalam tangis dan air mata.